Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Masalah 2


__ADS_3

Aiden membawa teman-temannya menuju ke kelas, ia tidak mau mereka tersulut emosi dan membawa masalah pada mereka berempat.


“Ai, lo kenapa sih pakai acara membawa kita pergi segala,” ujar Luki. Luki adalah teman Aiden yang paling jago berantem diantara mereka berempat. Selain itu dia juga yang memiliki emosi paling besar.


“Kalian nggak usah macam-macam, atau gue yang bakalan di skors sama nyokap gue,” ujar Aiden.


Aiden duduk lalu menaruh kepalanya di meja, langkahnya itu di ikuti oleh luki dan Rafa. Ibob yang duduk di samping Aiden orang yang paling rajin jadi memilih untuk tetap bertahan di era gempuran teman-temannya yang tukang molor di sekolah.


“Luk, Fa, kalian berdua kenapa molor mulu sih?” Ibob menendang kursi kaki yang di duduki Luki.


“Berisik, noh si Ai juga molor,” protes Luki.


“Hey, dia mah genius nggak masuk sebulan juga dia bakalan fine-fine saja. Emangnya kalian yang otaknya tinggal seperempat masih berani tidur,” cerocos Ibob yang hanya di jawab Luki dan Rafa nyenye-nyenye.


“Udah, biarin saja. Lo tulis yang benar nanti gue kalis lo les pelajaran,” Aiden mengusap punggung Ibob.


“Janji,” Ibob menoleh kearah Aiden.


“Janji.”


“Sumpah?”


“Sumpah,” jawab Aiden jengah.


“Ok.”


Aiden meregangkan kedua tangannya saat mendengar bel istirahat berbunyi, ia menutup mulutnya saat menguap dengan tangan kirinya.


“Kantin yuk guys, lapar ini,” Aiden berdiri meninggalkan kursinya yang diikuti dengan yang lain.


Aiden menghentikan langkahnya melihat Dimas dan teman-temannya berada di lorong depan kelasnya.


“Kita lewat sana saja,” ajak Aiden. Ia sedang menghindari masalah.


“Kenapa memang?” tanya Rafa.


“Udah, nggak usah banyak tanya,” Aiden segera menyeret ketiga sahabatnya sebelum terlihat oleh Dimas.


“Lo takut sama Dimas?” tanya Rafa yang menyadari kenapa ia  memilih memutar jalan.


“Ai, lo nggak usah takut kan ada Luki,” Ibob sesumbar.


“Gue nggak takut, gue cuma nggak mau punya masalah sama mereka.”


“Memangnya apa sih sebenarnya yang terjadi diantara kalian?” Luki penasaran apa yang sebenarnya membuat Dimas mecari masalah dengan Aiden.


“Nggak terjadi apa-apa, Dimas cuma minta gue pindah parkir saja,” jelasnya.


“Itu doang?” Ibob melongo.


“Iya, gue sudah pindah juga.”

__ADS_1


“Aih, anak itu memang keterlaluan perlu diberi pelajaran. Mancing-mancing ikan arwana tidur,” ujar Ibob.


“Kenapa ikan arwana?” Luki heran.


“Ya kan biar serem, kalau ikan lele nanti bisa jadi pecel lele,” jawabnya dengan santai.


“Dahlah, ngomong sama Ibob bisa gila gue,” Luki nyelonong jalan duluan.


“Gue benar kan?” Ibob masih membahasnya, Aiden hanya tersenyum.


*****


“Hey, boleh gabung?” tanya Sila karena sudah tidak ada tempat duduk yang kosong.


“Boleh dong,” Ibob langsung berdiri pindah di sebelah Luki.


Wajah Rafa langsung merah merona, dia berubah salah tingkah. Aiden mengangkat mangkok berisikan soto dan es tehnya.


“Lo mau kemana?” tanya Sila heran kenapa ia mengangkat makanannya saat ia duduk di sebelahnya.


“Agak panas, gue sebalah Ibob biar dekat dengan ac,” ujarnya sambil pindah. Sebenarnya Aiden pindah supaya Rafa bisa duduk lebih dekat dengan Sila.


Sila tersenyum tipis, ia merasa sedikit kecewa karena Aiden memilih pindah.


“Kalian terlihat cocok lo, kenapa nggak pacaran saja?” ucap Aiden yang membuat Rafa langsung membulatkan kedua matanya.


“Benar, sangat cocok. Gue ambil foto dulu,” Ibob mengambil ponselanya lalu memfoto Rafa dan Sila.


“Eh, kalian itu ya nggak sopan banget. Kan harus izin dulu sama Sila,” kata Rafa malu-malu.


“Sil, bagus banget loh. Kalian memang sangat serasi,” oceh Erina.


“Pacaran,pacaran,pacaran,” seru Ibob yang di ikuti Aiden, Luki dan Erina.


Wajah Sila dan Rafa langsung memerah, mereka sangat malu. Namun orang yang sebenarnya Sila mau adalah Aiden bukan  Rafa.


Perhatian Sila langsung tersita saat melihat Aiden, bukan Rafa bahkan dalam harapanya yang menyukainya itu Aiden bukan Rafa.


Rafa menempelkan jari telunjuknya di bibir agar mereka diam, “Jangan seperti ini lah, kasian kan Sila.”


Sila memegang tengkuknya, “Kalian jangan seperti ini, malu tahu.”


Sila mengedarkan pandangannya, untung saja anak-anak sibuk makan jadi tidak terlalu memeperhatikan mereka.


“Malu-malu kucing ih,” Erina menyenggol lengan Sila.


*****


Lima menit setelah bel berbunyi Aiden berjalan keluar menuju ke parkiran bersama ketiga sahabatnya. Dimas dan Revan bersama teman-temannya duduk di motor milik Aiden.


“Permisi, gue mau ambil motor,” kata Aiden.

__ADS_1


Mereka sepertinya memang sengaja, pura-pura tidak mendengar omongan Aiden. Luki yang dari kejauhan langsung turun kembali dari motornya mendekati Aiden.


“Kalian tuli, teman gue mau ambil itu motor,” kata Luki sengak.


“Biasa saja kali, motor butut saja,” ucap Revan turun dengan menendang motornya.


“Memang kenapa kalau motor butut,” Luki sudah tersulut emosi. Ia mendekatkan tubuhnya dengan Revan.


“Luki, sudah,” Aiden menarik mundur Luki.


“Dengar, motor sama orangnya itu sama-sama butut,” ujar Dimas semakin memancing amarah Luki.


“Sombong sekali,” sahut Rafa dari belakang.


“Memangnya kenapa, nggak terima?” jawab Dimas dengan nada mulai meninggi.


Suasana di parkiran mulai memanas, Aiden pun sudah tidak bisa menahan Luki dan Rafa. Dimas menarik kerah baju Aiden, dia siap melayangkan pukulan ke wajah Aiden.


“Ada apa ini?” seru Sila yang baru saja tiba di parkiran.


Dimas langsung melepaskan kerah baju Aiden dan merapikannya.


“Hai Sila, ini sedang ngobrol saja. Biasa anak laki-laki,” ucap Dimas seolah dia tidak melakukan apa-apa.


Sila adalah anak kelas X yang langsung menjadi banyak incara para cowok-cowok di sekolahnya. Cantik dan pintar menjadi daya tariknya, sehingga dia menjadi sangat pepuler.


Sila melihat ke arah Aiden, mengecek benar Dimas tidak melakukan apa-apa dengannya.


“Sila mau pulang, biar gue anterin yuk?” kata Dimas lembut.


“Makasih Kak Dimas, tapi Sila sudah ada janji sama mereka,” Sila menolak ajakan Dimas.


Wajah Dimas berubah seram, ia pergi dengan menabrakkan tubuhnya di badan Aiden. Ia ingin sekali memukul wajah Aiden berserta ketiga sahabatnya namun ada Sila jadi dia menahannya.


“Lo nggak apa-apa?” Sila perhatian dengan Aiden.


“Gue baik-baik saja, Bob, Luk ke rumah yuk. Kita jangan ngikutin mereka berdua yang ada jadi nyamuk lagi,” Aiden merangkul Luki dan Ibob.


“Benar juga, Erina lo mendingan pulang dari pada jadi setan,” kata Ibob sembarangan.


“Kok setan?” Erina mendelik.


“Kalau orang ketiga itu sering di sebut apa?” tanya Ibob.


“Setan,” jawab Erina polos.


“Tuh tahu,”  kata Ibob yang buat Aiden dan Luki geleng-geleng kepala.


“Kalian ikut saja biar seru,” Sila berharap mereka ikut, dia akan canggung banget kalau pergi hanya berdua dengan Rafa.


“Benar, Ai ikut dong,” ajak Rafa.

__ADS_1


“Sorry, gue ada rapat dewan sore ini,” katanya sambil naik motor tuannya.


“Benar, kita juga ikut berpartisipasi,” Ibob membonceng Aiden. Ibob melambaikan tangannya saat motor Aiden di jalankan.


__ADS_2