
...Fara...
...Guys, kita mau menjalankan rencana yang mana dulu? Kak Bayu atau Lia?...
...Gita...
...Terserah aja sih, mau Lia atau Kak Bayu dulu nggak masalah gue mah...
...Fara...
...Nit, gimana?...
...Anita...
...Ya gue ngikut aja...
...Gita...
...Memangnya sekarang Kak Bayu dimana? Disini apa di jogja?...
...Anita...
...Masih di jogja...
...Gita...
...Brati kita harus keluar kota donk?...
...Fara...
...Iyalah......
...Gita...
...Gimana gue izin sama Kak Gilang coba? Emang Raka bakalan kasih izin Far?...
...Fara...
...Iya juga, mau alasan apa coba?...
...Anita...
...Mending kita batalin aja, terlalu merepotkan kalian. Biarin aja begini....
...Fara...
...Ya jangan gitu juga, lo kan sahabat kita mana bisa begini saja kita harus tahu apa penyebab dari semua ini...
...Gita...
...Iya, nanti gue carikan ide gimana caranya kita bisa ke jogja...
...Anita...
...Makasih ya, kalian memang sahabat terbaik gue...
...Gita...
...Jangan pernah sungkan untuk minta tolong. Kita kan sahabat ya kan."...
Gita mulai memutar otak agar dia mendapatkan ijin untuk pergi ke jogja.
__ADS_1
"Sayang..." Gita mendekati Gilang yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai di kantirnya.
"Iya sayang." katanya sambil melihat kearah Gita sambil tersenyum. Gilang mengusap pipi Gita dengan tangan kanannya lalu kembali fokus ke laptopnya.
"Sayang, kitakan udah lama nih nggak jalan-jalan. Aku pingin deh kita liburan kemana gitu." Gita memeluk Gilang dari belakang.
"Memangnya kamu mau liburan kemana?"
"Kemana ya? Bali, jogja, atau labuan bajo?" Gita mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu yakin mau berpergian jauh?" Gilang memutar kursinya hingga berhadapan dengan Gita.
"Yakin, memangnya kenapa?"
"Kamu kan udah hamil tua, gimana kalau kamu capek atau kenapa-kenapa?" Gilang mengelus perut Gita.
Memang benar apa yang di katakan Gilang, dia juga was-was kalau saja dia melahirkan di jalan. Namun dia juga tidak bisa melihat sahabatnya sedih.
"Ok." Gita berjalan ke tempat tidur. Meskipun dia sadar kalau Gilang melakukan itu semua demi kebaikan dirinya namun tetap saja dia merasa kecewa.
Gilang pun merasa menyesal mengatakan kepada Gita, sudah lama mereka berdua tidak pergi liburan. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Gilang beranjak dari tempat kerjanya, dia mendekati Gita.
"Kamu marah?" Gilang duduk di samping Gita sembari mengusap rambut Gita.
Gita menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak, kamu melakukan semua ini demi aku bukan?"
"Kamu selalu tahu apapun yang terbaik untuk Aku." Gita tersenyum.
"Aku tahu, pasti kamu sangat kecewa. Senyumu hanya untuk menutupi kekecewaan kamu terhadapku." Batin Gilang.
"Em.. Aku tiba-tiba merasa lapar. Makan yuk." Ajak Gilang.
"Kamu mau apa?" tanya Gilang balik.
"Kan kamu yang lapar, kok malah tanya aku."
"Memangnya kamu nggak mau makan?"
"Em.. pingin yang pedes-pedes."
"Apa?"
"Em seblak atau ayam geprek." Gita meringis.
"Ok, kita cari."
"Tapi kerjaan kamu gimana?"
"Udah selesai, sekarang kita dinner sambil jalan-jalan malam biar kamu nggak jenuh." Gilang mengambilkan jaket untuk Gita.
...----------------...
"Fara... Anita..." Panggil Gita.
"Hai.." Anita dan Fara melambaikan tangannya.
"Mau ketemu Kak Gilang ya?" Tanya Anita.
"Nggak, mau ketemu kalian."
__ADS_1
"Ah.. Gue tahu pasti mau bahas masalah rencana kita ya." Ujar Fara.
Gita mengangguk, Fara pun langsung mencari tempat yang enak buat ngobrol.
"Gimana?" tanya Fara.
"Gue nggak bisa pergi ke jogja, Kak Gilang tidak memberikan izin. Maafin gue ya Anita." Kata Gita dengan wajah menyesal karena tidak bisa membantu sahabatnya.
"Kalau Gita tidak pergi bearti gue juga dong, sorry ya Nit."
"Tidak apa-apa, kepedulian kalian saja sudah membuat gue bahagia. Kita memang bukan anak sma lagi yang bisa bebas kesana kemari." Kata Anita sambil tersenyum.
"Kalau rencana satu gagal bukan bearti rencana kedua juga gagal kan?" kata Anita sambil melihat ke arah Gita dan Fara.
"Rencana kedua?"
"Iya Far, bukannya kita mau memberi pelajaran si cewek ganjen itu."
"Ah benar, Git lo tahu nggak alamat cewek ganjen itu?" tanya Fara.
"Nggak, tapi coba deh nanti gue tanya sama Mbak Lila alamat kantornya." Kata Gita.
"Eh..eh... pucuk di cinta ulam pun tiba. Noh orangnya yang sedang kita bicarain nongol, pasti dia mau godain kak Gilang Git." kata Fara.
"Biar gue ajak bicara dia nanti."
"Jangan nanti lah Git, sekarang." Fara gemas.
"Ini kan di kantor nggak enak lah, mana gue kesini nggak izin sama Kak Gilang, bisa di marahin gue." Ujar Gita.
"Yaelah Git, bilang saja suprize gitu. Udah buruan gih, kita ada di belakang lo kalau ada apa-apa nanti kita maju." Fara menyuruh Gita agar segera berbicara sama Lia.
"Tunggu." panggil Gita.
Lia menoleh wajahnya kaget melihat Gita ada di belakangnya.
"Gita."
"Lo benar-benar tidak tahu diri ya masih saja ngejar suami gue." kata Gita kesal.
"Bukan gue yang tidak tahu diri, tapi lo udah nyusahin masih saja bertahan. Lepasin Gilang, buat dia bahagian tanpa beban."
"Pede kali lo ngomong seperti itu, yang jadi beban itu lo. Kalau saja semua orang tahu kalau lo pelakor, apa nggak pengaruh untuk perusahaan lo." Gita tertawa jahat.
Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Gita.
"Jaga omongan lo ya, gue bukan pelakor!"
"Lalu apa?" Gita menarik rambut Lia, begitupun Lia tidak mau kalah. Dia menarik rambut Gita, keributan pun semakin jadi. Anita dan Fara langsung berlari untuk membantu Gita.
Anita dan Fara ikut menjambak Lia, terjadilah satu lawan tiga.
"Kalian semua berhenti!" teriak Gilang. "Kalian malu-maluin, kalau mau berantem jangan disini!" bentak Gilang.
"Wah.. Tiga sekawan sudah jadi satu bahaya ini." Celetuk Vian sambil terkekeh.
"Pak Gilang, saya kesini mau ngobrol soal kerja sama perusahaan kita. Namun Bu Gita langsung menyerang saya." Kata Lia dengan nada sedih.
"Lo datang kesini kan mau ganje bukan mau membahas kerjaan. Ngaku lo!" teriak Fara.
"Memangnya selama ini gue nggak tahu, lo telpon suami gue dengan alasan ini itu hanya untuk kepentingan lo. Cewek nggak ada harga dirinya."
__ADS_1
"Cukup kalian, Gita masuk keruangan. Fara, Anita kalian balik ke ruangan kalian." Kata Gilang. Fara dan Anita menatap Gita, Gita mengangguk menberikan isyarat kalau dia bakalan baik-baik saja.
"Kamu ngapain masih disini, masuk." kata Gilang dengan nada lumayan meninggi. Gita pun langsung masuk, dia kesal karena di bentak oleh Gilang.