Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Ngadu


__ADS_3

Tok...tok...


"Pak Raka, permisi ada orang yang mencari bapak. Katanya adik bapak." kata sekretaris Raka.


"Suruh saja langsung masuk, sama tolong belikan dua ice cream coklat ya." Pinta Raka.


"Baik Pak."


 Gita nyelonong masuk setelah di persilahkan sama asisten Raka.


“Raka..” Panggi Gita dengan nada sangat


manja.


Raka beranjak dari kursi dan langsung


memeluk adik yang sekarang jarang dia jumpai.


“Ada apa Ta?” tanya Raka.


“Gue kangen sama lo.” Ujarnya sambil


membalas pelukan Raka.


“Ada masalah apa?” tanya Raka. Dia langsung tahu, kalau Gita manja-manja sama dia pasti ada masalah yang ingin dia


curhatkan. Gita melepaskan pelukannya lalu duduk di sofa.


“Ini jam makan siang sudah mau habis


loh, dan lo masih disini?”


“Biarin aja, bosnya nggak ada di kantor


juga.” Kata Gita.


“Lo tuh ya jangan mentang-mentang


bekerja di perusahaan Gilang jadi seenaknya begini. Nggak bagus tahu, lo harus profesional.” Kata Raka sembari duduk di samping Gita.


“Toh dia sendiri yang bikin peraturan


buat gue, dia membebaskan gue datang dan pulang sesuka gue.” Jawab Gita dengan santainya. Dan memang benar Gita kerja seperti main-main bebas sebebasnya.


“Maaf permisi Pak Raka, ini ice cream


pesanan bapak.”


“Terima kasih Sari.”


“Sama-sama Pak.”


“Wah.. lo tahu banget kesukaan gue.”


Gita langsung mengambil ice cream dari tangan Raka. Dia pun langsung


melahapnya.


“Ada masalah apa?” tanya Raka


pelan-pelan.


“Kak Gilang cuek sama gue.” Gita manyun,


dia menaruh ice creamnya. Dia tiba-tiba tidak mood lagi makan ice cream. Dia mendekatkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di pundak Raka.


“Lo bikin ulah apa lagi Ta, sampai dia


cuekin lo?” tanya Raka. Gilang cuek pasti ada alasanya.


“Gue nggak bikin masalah, justru Kak


Gilang yang bikin masalah.” Gita kekeh kalau yang salah itu Gilang bukan dirinya.


“Masa sih?” Raka tidak percaya kalau

__ADS_1


Gilang bikin masalah, yang ada pasti Gita yang cari gara-gara terus sama Gilang. Dia sudah khatam banget sama kelakuan Gita.


“Beneran, tanya saja sama Fara kalau


nggak percaya.” Ujar Gita.


“Haduuh.. dua orang ini kalau udah


bersatu pasti nggak akan pernah bener ceritanya. Pasti semaunya mereka berdua.” Batin Raka.


“Memangnya apa yang Gilang lakukan?”


“Kemarin tuh ada asisten kliennya Kak


Gilang, dia maki-maki gue tapi malah Kak Gilang belain dia terus katanya


salahpaham lagi. Kan gue jadi kesal.”


“Ah.. dan lo pasti kan cuekin Gilang


duluan.” tebak Raka.


“Iyalah, dia justru belain perempuan


lain daripada istrinya sendiri.” Omel Gita.


“Ya itu salah lo sendiri, pasti Gilang


itu mengikuti kemauan lo. Jadi ya lo jangan kesal.”


“Ya kan harusnya dia minta maaf,


bukannya malah cuekin gue balik.” Gita manyun.


“Gue rasa Gilang juga udah berkali-kali


minta maaf, lonya aja pasti yang riweh. Makanya Gilang capek sama lo terus dia


ikutin saja kemauan lo biar puas. Hati-hati lo, nanti kalau Gilang beneran


tidak akan pernah berbuat itu karena sudah cinta mati sama Gita. Dan lagi


ancama sejak SMA akan terus berlaku buat Gilang. Kalau saja dia melukai Gita,


menduakannya Raka pasti akan menghajarnya sampai mati.


“Ihh.. lo kok gitu sih.” Gita mengambil


ice cream yang milik Raka yang baru saja di bukannya.


“Eh...ice cream gue tuh..”


“Bodo amat.” Kata Gita sambil pergi


meninggalkan Raka.


“Ta..Ta.. lo masih saja tidak berubah,


lo itu sudah jadi seorang ibu kenapa masih saja kayak bocah.” Raka


menggelengkan kepalanya.


Meskipun begitu Raka bersyukur saat dia


ada masalah dengan Gilang, dia lah yang akan dicari. Bukan cowok lain yang akan


membuat semakin runyam masalahnya.


...----------------...


"Bik, Kak Gilang belum pulang ya?" Gita melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul dua belas malam.


"Belum Mbak, cuman tadi pesan sama saya katanya lembur dan nggak tahu pulang jam berapa. Jadi bibik tidak harus tungguin gitu." Jelas Bik Siti.


"Oh gitu, ya udah bibik tidur saja. Sudah malam."

__ADS_1


"Mbak Gita nggak tidur?"


"Sebentar lagi Bik."


"Bibik temani ya Mbak." Bik Siti tidak tega melihat Gita menunggu sendirian.


"Nggak usah, Bik Siti buruan tidur saja pasti capek kan seharian udah kerjain rumah, merawat Aiden."


"Beneran Mbak, bibik tinggal?"


"Iya Bik Siti."


"Kalau gitu bibik duluan ya Mbak, kalau butuh apa-apa bangunin bibik ya."


"Siap."


Jam sudah menunjukan pukul satu malam, Gilang juga belum kunjung pulang. Gita mengecek ponselnya dia ingin sekali menghubungi Gilang. Namun kembali lagi ke gengsinya, dia tidak mungkin menghubungi dulu.


Semakin malam mata Gita semakin tidak kuat lagi. Dia pergi ke kamar tamu dan langsung merebahkan badannya.


"Kak Gilang kemana sih? Jangan-jangan benar yang di katakan Raka. Kalau Kak Gilang mulai bosan dan kecantol sama cewek lain." gumamnya dengan mata tertutup. Semakin lama kesadaran Gita semakin memudar, dia tertidur dengan lelap.


Menjelang pagi Gita bangung langsung mengecek kamarnya yang sekarang dia sebut menjadi kamar Gilang.


Bantal, selimut masih tertata rapi, Gita menghela napas.


"Pasti Kak Gilang tidak pulang." katanya lemas.


Gita turun untuk menemui Aiden, dialah obat segala obat.


"Pagi gantengnya mama." Gita mencium Aiden lalu menggendongnya.


"Sudah bangun Mbak."


"Iya, Bik Kak Gilang udah berangkat pagi-pagi ya?" tanya Gita.


"Sepertinya Mas Gilang tidak pulang Mbak."


"Benar brati Kak Gilang tidak pulang, dia tidur dimana? Jangan-jangan.." Pikiran Arumi pun langsung negatif. Dia menjadi overthingking sama omongan Raka.


Gita bergegas mengambil ponselnya, dia menelpon Lila untuk mencari tahu.


"Halo Mbak Lila."


"Iya halo Git, ada apa ya?"


"Maaf Mbak, gue telpon pagi-pagi gini." Sebenarnya Gita tidak enak telpon pagi-pagi tapi dia penasaran juga.


"Iya, nggak apa-apa. Ada apa nih?"


"Kemarin meetingnya sampai jam berapa?" tanya Gita hati-hati.


"Oh, gue sih pulang jam dua belas. Tapi kalah Pak Gilang kayaknya sampai pagi soalnya langsung ke kantor lagi." Jelas Lila.


"Ok kalau gitu makasih Mbak."


"Iya sama-sama." Gita memutus sambungan telponnya.


Gita sedih, dia mulai gelisah dengan Gilang yang tidak pulang.


"Bik, bisa minta tolong." Gita mendekati Bik Siti.


"Iya, apa Mbak?" tanya Bik Siti. Dia mengecilkan kompor.


"Telpon Kak Gilang sekarang ada dimana, terus tidur dimana? Tapi jangan bilang Gita yang suruh ya." pinta Gita.


"Siap Mbak." Bik Siti mencoba menghubungi Gilang dengan telpon rumah namun tak ada jawaban.


"Gimana Bik?"


Bik Siti menggelengkan kepala pelan, "Nggak ada jawaban Mbak."


"Coba sekali lagi ya Bik." Pinta Gita. Bik siti pun langsung mencoba menelpon lagi. Namun masih saja tidak bisa di hubungi.


"Kemana sih sayang kamu?" batin Gita resah.

__ADS_1


__ADS_2