
Kyra keluar ke tenda lebih dulu karena Dinda masih tertidur, dia mau mengabadikan keindahan pagi hari di tempat camping. Kyra mengambil beberapa selfi dan foto pemandangan.
Dia tidak menyesali untuk ikut camping ini, dia merasakan ketenangan. Bahkan dia bisa melupakan semua pelajaran yang membuatnya pusing.
Saat sedang asyik mengambil foto tiba-tiba ada orang yang nyamperin Kyra.
“Ini beneran Kyra?” tanyanya membuat Kyra membalikan badan.
“Randi?” gumamnya pelan.
“Siapa dia sayang?” tanya cewek yang menggandeng Randi.
“Mantan,” jawabnya dengan senyuman yang mebuat Kyra kesal.
Kyra buru-buru meninggalkan tempat itu, Kyra merasa dunia itu sangat kecil kenapa bisa bertemu dengan mantanya. Di tempat yang indah, dan harusnya dia bisa tenang kini kembali gusar.
“Mau ke mana, kok buru-buru sekolahmu belum mengajak lo pulang kan.”
Kyra menghentikan langkahnya, dia merasa terhina dengan ucapan Randi.
“Sorry, gue datang ke sini bareng teman-teman gue. Jadi lo jangan meremehkan gue,” kata Kyra ketus.
“Oiya, tumben. Nggak sayang tuh buku-buku lo dianggurkan?” ejeknya.
“Buku?” pacar baru Rendi bingung.
“Tentu saja sayang, gue putus sama dia karena dia itu kutu buku. Dan nggak bisa diajak kemana-mana. Kencan diajak ke perpustakaan, toko buku. Ya paling mending sih ke rumahnya itu saja di kasih cemilan buku,” cerita Randi kepada ceweknya.
Ceweknya langsung tertawa mendengarnya, “Kalau gitu mending pacaran saja sama buku, atau penjaga perpustakaan pasti cocok.
“Gue mau pacaran di mana dan sama siapa juga bukan urusan kalian. Lagian gue bersyukur putus dari cewek play boy macam lo,” ujarnya.
Alasan pertengkaran Kyra dan Rendi dulu karena Kyra susah diajak jalan. Sekalinya jalan pasti masih berhubungan dengan belajar. Dan yang kedua karena Rendi ketahuan selingkuh.
“PLay boy, harusnya lo sadar gue cari yang lain karena pacaran sama lo itu, sama saja kayak tukang ojek saja. Tiap hari antar jemput tanpa melakukan apa-apa,” ujar Rendi.
“Siapa nama lo?” tunjuk pacar Rendi.
”Kyra,” jawab Rendi.
“Kyra, mana ada cowok yang bakalan suka sama lo kalau modelan lo beginian, sudah cupu, terlalu over, daripada lo ke toko buku mendingan lo ke salon deh. Takutnya lo jadi perawan tua nggak laku-laku,” ejek cewek Rendi.
__ADS_1
“Iya, lo itu hanya akan menjadi perawan tua, lagian lo capek-capek seperti ini juga ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga doang.”
“Gue mau jadi apapun nggak itu terserah gue,” Kyra nyolot.
“Dih, di kasih tahu malah nyolot.” cewek Rendi kesal.
“Kata siapa dia bakalan jadi perawan tua?” sahut Aiden yang sedang berjalan mendekati Kyra.
“Ai,” lirih Kyra.
“Lo siapa?” tanya Rendi tidak suka melihat kehadiran Aiden, dia belum puas membuat Kyra panas melihatnya dengan cewek barunya.
“Gue pacarnya dia,” Aiden menggandeng tangan Kyra.
Kyra menatap Aiden, yang mendapat kedipan mata dan senyuman dia yang manis. Mengisyaratkan kalau semua bakalan baik-baik saja.
“Bro, gue kasih tahu sama lo. Mending lo tinggalin dia sekarang dari pada menyesal,” Rendi membujuki Aiden agar meninggalkan Kyra.
“Gue menyesal?” tunjuk Aiden dengan jari telunjuknya.
Aiden tertawa kecil, “Gue nggak pernah menyesal menjadi pacarnya, yang akan menyesal itu lo. Karena sudah meninggalkan cewek begaik dan sepintar dia.”
“Apa gunanya pintar kalau tidak bisa diajak kemana-mana, lo pacaran sama manusia apa patung,” ujar cewek Rendi.
“Lalu apa kabar dengan lo, cewek kok mau di bawa ke mana-mana, punya harga diri nggak. Atau jangan-jangan lo cewek gampangan ya,” ujar Aiden yang membuat Rendi murka.
“Jaga omongan lo ya!” bentak Rendi sambil menunjuk-nunjuk Aiden.
“Nggak usah tunjuk-tunjuk, lo dulu yang ngatain pacar gue,” Aiden mendorong jari telunnjuk Rendi.
“Sayang ayo pergi,” ajak cewek Rendi.
“Awas ya, urusan kita belum selesai,” ancam Rendi.
“Gue tunggu,” jawab Aiden tanpa rasa takut.
Kyra menatap Aiden dengan nanar, ada rasa haru yang muncul tiba-tiba. Kenapa dia selalu datang disaat dia membutuhkan seseorang untuk melindunginya.
“Kalau mau nangis-nangis aja, nggak usah di tahan-tahan,” kata Aiden yang membuat Kyra tersadar dari bengongnya.
Kyra manarik tangannya dari genggaman Aiden, matanya sudah semakin berkaca-kaca. Aiden tak tega, dia menarik Kyra ke dalam pelukannya.
__ADS_1
“Udah nangis saja, anggap saja nggak ada orang. Gue itu tidak ada,” ucapnya lagi.
Kyra menumpahkan air matanya, di dalam pelukan Aiden. Rasa nyaman menangis di pelukan Aiden. Setelah menangis sekitaran sepuluh menit Aiden menarik Kyra dalam pelukannya.
“Udah berhenti, jangan pernah menangisi cowok macam dia, nggak penting. Lagian lo cewek pinter kan, kenapa mendadak bodoh. Bukannya masih banyak cowok yang lebih berkompeten dari pada dia,” tutur Aiden.
Kyra mengusap air matanya, benar yang di katakan Aiden. Bisa-bisanya dia menangisi cowok yang tidak berguna seperti Rendi.
“Kalau lo di katain sama dia jangan nangis, bales jangan mau diinjak-injak.”
“Kak Ai, lo apain lagi Kyra sampai nangis begitu?” Dinda berkacak pinggang.
“Gue nggak melakukan apa-apa,” jawab Aiden.
“Kalau nggak melakukan apa-apa kenapa Kyra bisa nangis. Kak, jangan jahat-jahat dong. Kasihan Kyra, kan dia nggak punya salah apa-apa sama Kakak,” cerocos Dinda.
“Din, gue -,”
“Tenang saja, gue bakalan belaiin lo kok. Meskipun kita kenal lama bukan berarti Dinda bakalan membela yang salah ya,” Cerocos Dinda tidak mau mendengarkan penjelasan Kyra.
“Kak Ai, sekarang minta maaf sama Kyra,” tambah Dinda.
Aiden menghela napas panjang, “Sorry,” ujar Aiden.
Aiden langsung pergi ke tenda sebelum keadaan semakin parah karena kesalahpahaman dari Dinda.
“Lo jangan segan ngomong sama gue, kalau Kak Ai atau sama yang lain membuly lo. Gue bakalan belain lo sampai titik penghabisan,” kelakar Dinda.
“Dinda dengerin gue, Ai kali ini nggak salah,” Kyra mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi anatara Dinda dan Aiden.
“Lo gimana sih, kok malah belain Kak Ai. Ah, jangan-jangan lo udah mulai suka sama Kak Ai, ngaku,” Dinda mendekatkan wajahnya, mau melihat dengan jelas di wajah Kyra kalau dia sedang jatuh cinta.
Kyra mendorong tubuh Dinda, “Jangan ngaco, gue nangis tadi karena ketemu mantan gue. Bukan karena Ai.”
“Rendi?”
“Ya, dia datang membawa pacar barunya.”
“Yah, kenapa lo nggak panggil gue sih. Kan gue bisa cakar-cakar wajahnya yang ngeselin itu,” Dinda sudah menunggu momen ketemu sama Rendi, malah sekarang terlewatkan.
“Tenang saja, dia sekarang juga sudah kena mental kok,” jawabnya sembari merangkul Dinda mengajaknya kembali ke tenda.
__ADS_1
“Kok bisa, memang lo apain?”
“Rahasia,” kata Kyra yang buat Dinda berdesis.