Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Dia miliku 2


__ADS_3

Rafa di bawa ke ruang Bk, dia akan menjadi saksi atas perkelahian antara Erina dan Sila.


"Ada apa buk panggil saya?" tanya Rafa.


"Pakai berlagak, lo kan yang buat mereka berdua berantem. Nggak usah sok ganteng lo pakai deketin dua cewek lagi," cerocos Kris.


"Jaga omongan lo, Rafa itu cuma milik gue. Dia saja yang gatel pakai segala deketin Rafa," Erina tidak terima Rafa di jelek-jelekkan.


"Kok gue, eh Erina penghianat. Rafa itu dulu sukanya sama gue. Dan lo itu cuma pelampiasannya," ujarnya.


"Alah lo saja perempuan plin-plan, kemarin suka Ai, sekarang suka Rafa besok suka tukang siomay. Sebenarnya lo itu cewek apa?!" ejek Erina.


Sila melayangakan tangannya, dia siap menampar pipi Erina gara-gara mulutnya yang tajam.


Namun dengan sigap Rafa langsung menahannya dan menepis dengan keras.


"Ibu lihatkan siapa biang masalah di sini," ujar Rafa.


"Baiklah ibu akan membuat keputusan saat ini. Sila karena kamu anak baru ibu akan berikan hukuman membersihkan toilet seluruh sekolahan selepas pulang. Dan kamu Erina, buat permintamaafan sebanyak dua folio," Bu Ariyani memutuskan hukuman ringan kepada keduanya karena masih anak baru dan belum ada penilaian buruk.


"Buk, kenapa Erina lebih ringan dari saya?" Sila protes.


"Karena kamu yang memulai perkelahian. Kamu sengaja memicu keributan ini."


"Tapi buk --,"


"Mau bersihin toilet atau saya skors?" Bu Ariyani memberikan dua pilihan.


"Bersihkan toilet buk," jawabnya sambil menunduk.


...ΩΩΩ...


Rafa merangkul Erina namun di tepisnya, dia ngambek karena Rafa dicium sama Sila.


"Kenapa?" tanya Rafa.


"Nggak usah gandeng-gandeng. Gandeng aja cewek yang cium kamu," Erina manyun. Dia berjalan meninggalkan Rafa sendiri.


"Lihat kan cewek yang lo banggakan, dia itu nggak suka sama lo. Nggak punya rasa percaya sama lo. Masih mau lo pertahankan. Kalau gue sih lebih milih yang lain," Sila mengompori Rafa agar putus dengan Erina.


"Mau lo komporin sampai meledak pun gue nggak akan terhasut. Dasar cewek frek," Rafa menatap Sila bergidik. Dia semakin jijik melihatnya. Bahkan dia sangat bersyukur tidak jadi dengannya.


"Lo yang frek!" teriak Sila.


...ΩΩΩ...


Aiden membalikan badan, dia mengerutkan keningnya karena saat berpapasan tak melihat dirinya yang sudah menegurnya.


"Kenapa dia buru-buru amat sih?" tanya Aiden pada dirinya sendiri.


"Ai, lo kenapa bengong kayak gitu?" Ibob menyentuh pundak Aiden.


"Rafa kenapa lari-lari, ketemu gue nyelonong aja," ujar Aiden.

__ADS_1


"Samperin yuk takutnya ntar ada masalah lagi," ajak Ibob.


Aiden dan Ibob bergegas mengejar Rafa tidak biasanya dia seperti itu.


"Ai, Bob, mau ke mana?" tanya Kyra.


"Iya, kalian berdua kok buru- buru banget ada apa?" tambah Dinda.


"Kalian lihat Rafa nggak?" Aiden tanya balik bukannya menjawab pertanyaan yang di lontarkan sama Kyra maupun Dinda.


"Ke sana," Dinda menunjuk kearah taman.


"Ok, thanks." Aiden dan Ibob berlari cepat.


Karena penasaran Kyra dan Dinda pun mengikuti mereka berdua.


"Kalian ngapain sih di sini?" tanya Kyra yang baru saja sampai di belakang Aiden dan Ibob.


"Ssst, jangan berisik." Aiden menaruh jari telunjuknya di bibir.


"Lihat." Ibob menunjuk depan di mana ada Rafa dan Erina yang sedang berbincang.


"Hey,hey kalian ngapain kayak maling," ujar Luki yang baru saja datang.


Dinda menarik tangan Luki sampai dia jongkok. Dia menaruh jari telunjuknya dibibir lalu menunjuk ke depan. Luki ngangguk-angguk tandanya mengerti .


"Sayang, kamu kenapa sih?" Rafa bingung dengan perubahan sikap Erina.


"Kamu kenapa kesini sih, pergi sana jauh-jauh dari aku. Dekat sana sama cewek yang cium kamu," Erina mendorong tubuh Rafa agar menjauh.


"Tapi kan senang, dicium cewek yang dicintai dulu. Cinta pertama kan emang susah di lupakan," omel Erina.


"Wah ini prahara rumah tangga, susah selesainya. Nunggu seminggu dulu," bisik Ibob.


"Iya, cewek kalau udah cemburu nyerocos nggak berhenti-henti. Mana nggak maundengerin lagi penjelasannya," sahut Aiden pelan.


"Udah gitu, suka menangnya sendiri. Nggak mau kalah, nggak mau salah. Kita mulu yang disalahin," tambah Ibob.


"Ehem," Kyra dan Dinda dehem barengan.


Mereka bertiga nyengir saat melihat dua cewek mode bacok.


"Kita saksikan lagi yok," kata Ibob sembari menarik Aiden dan Luki menghadap ke depan lagi. Dari pada masalahnya semakin panjang.


Rafa mendengus, susah sekali membujuk Erina. Baru kali ini dia ngambek yang nggak bisa diajak bicara. Dia terus mendapatkan jawaban yang memojokkan dirinya.


"Sayang," panggil Rafa halus.


"Panggil saja Sila, lagian ak hanya pelampiasan kamu saja kan."


Rafa menghela napas pendek, dia gemas banget Erina terus berputar di situ. Tak habya Rafa, penonton pun gemas kenapa susah banget Erina memaafkan Rafa.


"Kenapa diam, benar kan kalau aku itu hanya pelampiasan kamu. Kamu masih suka sama dia. Ngomong saja, aku nggak apa-apa," ocehnya dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Karena sudah tidak mempan semua bujuk ranyunya, Rafa mengecup pipi kanan Erina.


Erina mendelik kaget, tak hanya dia Kyra dan Dinda pun langsung berpandangan. Benar-benar di luar prediksi kalau Rafa bakalan cium Erina.


"Eeh, kok cium," Kyra menutup matanya.


"Iya nggak sopan banget, ciuman di depan para jomblo."


Aiden tersenyum melihat Kyra yang menutup matanya.


"Lo mau?" bisik Aiden ditelingan Kyra. Kyra membuka matamya lebar-lebat.


"Ngaco!" Kyra menepuk lengan aiden. Aiden terkekeh, wajah Kyra berubah merah.


"Sudah jangan ngambek-ngambek lagi, aku itu cuma suka sama kamu. Dia itu masalalu yang pait nggak perlu diungkit-ungkit lagi. Hanya membuat penyakit." Rafa menarik Erina dalam pelukannya.


Erina menangis, dia begitu karena takut di tinggalkan oleh Rafa. Takut Rafa berpaling dengan Sila lagi. Dia sudah terlanjur cinta.


"Aku takut kamu balik lagi sama Sila, kamu tinggalkan aku sendiri."


"Kamu jangan khawatir, Sila itu tidak sebanding dengan kamu. Kamu itu segalanya." Rafa mengecup kening Erina.


Kyra dibuat mendelik lagi, ini adalah hari yang indah dibalik badai yang menyerang hati Erina.


Erina dan Rafa melepaskan pelukannya saat mendengat suara riuh.


"Lo sih ah dorong-dorong jatuh kan," omel Dinda.


Melihat Rafa yang kembali mencium Erina membuat mereka heboh dan lepas kendali. Akhirnya mereka berlima jatuh.


"Ibob tuh, nggak bisa diam. Ketahuan kan kita," Kyra berdiri sambil membersihkan roknya yang kotor.


"Kalian pada ngapain?" tanya Rafa sambil geleng kepala.


"Ngintipin lo pacaran," jawab Aiden jujur.


"Fa, kenapa nggak itu sekalian," Luki memperagakan ciuman dengan tangannya.


"Heh!" Dinda menepuk punggung Luki keras-keras.


"Apaan sih, lo lama-lama kasar banget ya. Ngeti gue," Luki bergidik.


"Mana boleh seperti itu. Ciuman itu hanya untuk orang yang sudah menikah. Nggak boleh masih SMA." Dinda membuat tanda silang dengan tangannya.


"Kalau lo mau nggak?" Luki menatap bibit Dinda sembari senyum-senyum menggodanya.


"Jangan macam-macam gue gaplok lo!" Dinda siap memukul wajah Luki.


"Yakin nggak mau," goda Luki terus sampai membuat Dinda salting.


"Sok pura-pura nggak mau lo. Padahal dalam hati bang cium aku," celoteh Ibob.


"Nggak, gue mau tetap seteril sampai menikah."

__ADS_1


"Lah, lo tadi minum bekas Luki," Aiden ikut menggoda Dinda.


__ADS_2