
Kyra bangun dari tidurnya, dia pergi ke tempat donor untuk menemani Dinda. Namun di tengah perjalanan sedang melihat Ibob, Rafa dan Aiden yang sedang menarik-narik tangan Luki.
“Mereka ngapain sih?” tanya Dinda sembari menunjuk empat orang di depannya.
“Entah,” Kyra mengangkat kedua pundaknya.
“Samperin yuk,” Dinda menari tangan Kyra.
“Ai, please jangan bawa gue ke sana,” Luki memohon. Dia takut sama jarum suntik.
“Masa lo nggak mau mendonorkan darah demi kemanusiaan. Gimana nanti kalau lo lagi butuh orang lain nggak mau bantuin lo,” bujuk Rafa.
“Kan ada kalian, masa kalian nggak mau bantuin gue,” ujarnya enuh ketakutan.
Luki berusaha sekuat tenaga untuk lolos dari ketiga sahabatnya yang terus memaksanya agar dia mendonorkan darah.
“Nggak sakit Luk, cuma kayak digigit semut,” bujuk Ibob.
“Iya, semut api tapi,” sahut Aiden.
“Tuh kan, pasti sakit banget. Ogah, ah, gue nggak mau.” Luki berusaha melepaskan diri lagi.
Aiden yang tertawa renyah mendengar Luki yang merengek. Ibob mendengus, dia menabok punggung Aiden.
“Lo gimana sih Ai, sini sudah susah-susah bujuk malah di takut-takutin,” omel Ibob.
Aiden memegangi tubuh Luki sembari tertawa puas, kapan lagi bisa ngerjain anak yang garang sampai ketakutan.
“Segitu menakutkannya kah,” ucap Dinda yang sejak tadi menonton dramanya Luki.
“Perasaan juga nggak berasa apa-apa deh,” tambah Kyra.
Merasa kasihan Dinda pun menarik Luki hingga berada di sisinya.
“Jangan digangguin kenapa sih Kak,” ujar Dinda.
“Siapa yang gangguin Luki, kita itu membantu Luki biar menjadi pemberani,” jelas Rafa.
“Benar, masa cowok takut sama jarum kecil,” tambah Ibob.
“Yah begitulah kalau orang cupu, orang yang cuma menag fisik tapi nggak punya nyali,” Kris datang dengan mulutnya yang menye-menye. Mungkin kurang afdhal kalau nggak ngerecokin Aiden cs.
“Maksud lo apa?” Luki tersulut emosi.
__ADS_1
“Ya kalau lo memang beneran cowok tulen, tunjukin kalau lo berani donor darah,” tantang Kris.
“Cowok tulen atau bukan tidak dilihat dari segi itu. Tapi di lihat dari cara bicara dan tingkah lakunya. Kalau lemes mungkin juga belum termasuk cowok tulen. Macam lo,” Aiden membalikan ucapan Kris. Bisa di bilang sekor mereka satu sama.
“Sudahlah, nggak usah banyak omong. Buktikan saja kalau lo memang cowok sejati,” Kris masih terus menyerang Luki.
“Ok, siapa takut,” ujar Luki.
Gara-gara gerah dengan tantangan Kris dia mau melakukannya meskipun sangat ketakutan. Mereka langsung pergi ke tempat pengambilan darah.
“Rilex ya, jangan tegang,” kata petugas.
Dinda menggenggam tangan kanan Luki. “Biar Dinda temani.”
Nyes, rasanya adem ketika tangannya di genggam erat oleh Dinda. Jiwanya akan terbang melayang ke angkasa. Entah mimpi apa semalam dia bisa digandeng dengan kesadaran Dinda.
“Oke sudah, selanjutnya.” kata petugas.
“Sudah?” tanya Luki. Dia bingung, padahal belum merasakan apapun tiba-tiba sudah selesai saja.
“Nggak sakit kan?” Dinda membantu Luki bangun.
“Iya,” jawabnya malu. Dia sudah sangat ketakutan ternyata sama sekali tidak ada rasanya.
Luki sudah terlalu takut sama pemikirannya sendiri, apalagi semenjak tahu Luki takut sama jarum Aiden terus menggodanya.
Mereka berdua nyengir, salah tingkah gara-gara gandengan banyak di lihatin orang banyak.
“Gimana pak ketua osis?” ejek Ibob.
Kris kesal karena tentangannya di libas sama Luki, dia gagal ingin mempermalukan Luki.
“Kyra, ayo kita pergi,” Kris menarik tangan Kyra, dia mau membawa pergi Kyra jauh-jauh dari Aiden cs.
Aiden menarik tangan kiri Kyra sampai langkah Kyra dan Kris terhenti.
“Ai, lepasin tangan Kyra,” perintah Kris.
“Lo saja yang lepasin,” Aiden tidak mau mengalah melepaskan tangan Kyra.
“Gue nggak mau,” jawabnya.
“Ai, gue ini sudah dikasih amanah sama mamanya untuk jaga Kyra. Agar jauh-jauh dari lo,” Kris menepis tangan Aiden sampai tangan Kyra terlepas.
__ADS_1
“Kak, Kyra itu bukan anak kecil yang harus di jagain. Dan Kyra juga tahu mana yang baik dan buruk untuk Kyra.” Kyra melepaskan tangannya.
“Ky, tapi ini perintah nyokap lo. Nanti lo bisa dimarahin sama nyokap lo,” Kris berusaha menggandeng tangan Kyra namun langsung di tepisnya. Kyra menaruh tangan kirinya di belakang tubuhnya.
“Soal mama biar gue yang atasin, lo nggak usah repot-repot mikirin itu. Sekali lagi Kyra mohon sama Kak Kris jangan urusih Kyra.”
Kyra menarik tangan Dinda dan segera meninggalkan tempat. Dia tidak mau terus-terusan ngobrol sama Kris yang sangat tidak berfaedah.
Kyra kesal dan tidak enak dengan Aiden dan yang lain karena terus dijelek-jelekkan sama Kris. Terlebih lagi dia selalu menggunakan nama mamanya untuk menjauhkan Kyra dari sahabat-sahabatnya itu membuat dia semakin jijik.
“Lo mau bawa gue ke mana?” tanya Aiden.
Kyra menoleh mendengar suara Dinda berubah. “Eh, kok lo?” Kyra berhenti mendadak saat melihat orang yang dia gandeng bukannya Dinda melainkan Aiden.
“Lo modus ya sama gue?” tuduhnya.
“Lo yang tarik tangan gue, lo yang bawa sampai sini kenapa gue yang dituduh modus. Nggak salah?” Aiden menatap lekat-lekat kedua mata Kyra yang membuat dia menjadi salah tingkah.
Kyra melepaskan tangan Aiden, dia mengusap tengkuknya karena malu banget.
“Sekarang lo mau kemana?” tanya Aiden.
“Pulang,” jawabnya.
“Mau gue anterin?” Aiden menawarkan diri.
Kyra diam, dia berpikir sebentar untuk menjawab pertanyaan Aiden yang sebenarnya sangat mudah. Jawabanya pun hanya iya dan tidak.
“Nggak mau?”
“Eh, mau kok,”
Ini adalah kesempatan agar bisa semakin lebih dekat dengan Aiden. Dia akan mencari tahu apa kesukaan dan juga yang tidak disukai sama Aiden. Maka dengan begitu dia akans segera menerima tiket ke Singapurnya.
“Tapi gue cuma pakai motor butut?” ujar Aiden.
“Nggak masalah kok,” jawabnya dengan wajah sumringah.
Dalam hati mau naik apa saja yang penting sama lo gue nggak akan keberatan. Meskipun saat ini dia mendekati Aiden hanya untuk satu buah tiket, namun jauh di lubuk hatinya paling dalam dia mulai memiliki perasaan yang beda.
Semenjak Aiden membantu mengatasi mantannya itu, dia mulai memperhatian Aiden. Menemukan sesuatu yang berbeda dari Aiden.
“Ayo, kok malah bengong,” Aiden mengandeng tangan Kyra membawanya menuju ke parkiran.
__ADS_1
Duh, kalau begini bisa gue yang baper beneran sama Ai. Gimana kalau gue yang nggak bisa lepas dari Ai, batinnya.
Kyra justru takut jatuh cinta beneran sama Ai, dia takut kalau patah hati lagi. Hatiya masih belum sembuh, masih saja terigat oleh mantanya yang brengsek itu.