Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Pisah II


__ADS_3

Anita berlari


sekuat tenaga sampai dia tak tahan lagi, dia bersimpuh di jalan. Dadanya benar-benar


sesak rasanya dia sudah tidak ingin hidup lagi. Dia tidak bisa tanpa Bayu tapi


dia juga tidak sudi jika dimadu. Meskipun dia dijanjikan istri satu-satunya


namun itu tidak akan mejamin semuanya benar.


“Anita!” Teriak


Fara.


“Nit..Anita


lo dimana?!” Panggil Gita.


Gita dan


Fara terus menyusuri jalan perumahannya, dia tidak bisa mengejar Anita.


“Git, gimana


kalau Anita kenapa-kenapa?” Fara cemas.


“Lo jangan


bikin panik deh, kita buruan saja cari dia.” Kata Gita sambil menarik tangan


Fara untuk kembali berlari mencari Anita.


“Gita..Fara


tunggu.” Panggil Vian sembari mempercepat larinya agar bisa sejajar dengan Gita


dan Fara.


Mereka bertiga


berlari sembari memanggil nama Anita, sampai mereka berhenti di taman komplek.


Anita sedang duduk sembari memukuli perutnya.


“Itu Anita.”


Tunjuk Gita sambil berlari mendekatinya.


Anita diam


terpaku, menatap kosong dengan air mata yang terus mengalir. Tangannya tak


henti memukuli perutnya.


“Anita apa


yang lo lakukan?” Gita memegang tangan Anita supaya menghentikan pukulannya.


“Gara-gara


dia, gue jadi di tinggalin. Kenapa sih gue harus mandul kenapa?” Katanya dengan


tatapan yang masih kosong.


“Anita, lo


nggak boleh ngomong seperti itu.”


“Git, Far lo


nggak tahu kan rasanya jadi gue. Gue di tinggalin, di campakin, di tinggal


nikah karena gue itu nggak sempurna. Gue perempuan yang gagal, tidak bisa


memberikan keturunan.” Anita marah. Dia kesal sama dirinya sendiri kenapa harus


dia yang mengalami semua ini.


“Anita


dengerin gue, bukan lo yang gagal tapi Bayu. Dia bukan suami yang baik buat lo.”


Gita menenangkan Anita.


“Bukankah


wajah kalau dia ingin memiliki keturunan, tapi kenapa gue marah. Kenapa gue


egois seperti ini.” Anita menangis sejadinya.


Vian tak


tega melihat Anita, dia langsung memeluk erat Anita.


“Dengarkan


gue baik-baik, lo bukan perempuan gagal. Di dunia ini tidak ada yang tidak


mungkin Anita, kita bisa berusaha agar lo bisa sembuh. Lo bisa mempunyai


keturunan.” Kata Vian.


“Tapi gue


mandul, gue nggak bisa punya anak Vian. Siapa yang bakalan sama gue, gue


bakalan hidup sendirian di dunia ini.” Tangis Anita di pelukan Vian.

__ADS_1


“Tidak


Anita, lo punya gue,Gita, Fara, Gilang dan juga Raka. Kita anak selalu ada untuk


lo. Dokter di dunia sudah canggih, pasti akan ada jalan untuk menyebuhkan lo.”


“Iya Anita,


lo jangan patah semangat seperti ini dong. Kita semua sayang sama lo.” Gita


ikutan memeluk Anita.


“Lo jangan


seperti ini, kita cemas tahu.” Fara tak mau ketinggalan.


“Gue bakalan


jadi janda tahu.” Katanya sambil mengusap air matanya yang menetes terus di


pipi.


“Nggak


masalah apa status lo, yang penting lo bahagia.” Kata Vian.


“Dengerin


tuh Vian, janda nggak buruk kok. Lo harus kuat.” Gita mengusapkan air mata


Anita.


“Iya, lo


lebih baik hidup sendiri daripada bersama orang brengsek. Dan keluarga yang


sama sekali tidak menghargai lo. Kalau aja undangan sampai sini gue bakalan


hancurin itu pernikahan. Biar malu keluarganya tujuh turunan.” Ujar Fara.


“Benar, itu


ibu mertua lo gue bikin tuh nggak keluar rumah setahun biar di gosipin di gank


arisannya.” Kata Gita.


“Udah deh


jangan pada konyol, lagian masih bisa kalian mikirin sampai segitunya.” Vian


geleng kepala.


“Maksih ya


kalian, udah ada untuk gue.” Katanya lemah.


selalu ada buat lo, jadi lo jangan pernah untuk melakukan hal yang merugikan


lo. Ngerti?!” Gita mewanti-wanti Anita.


“Iya, gue


pasti bakalan jaga diri kok. Nggak macam-macam, kalau gitu gue pulang dulu ya.”


Anita pamit pulang. Dia ingin menangis lebih kencang lagi di rumah. Dia mau


merenungkan semua hal yang sedang terjadi padanya.


“Gue


anterin.” Kata Vian.


“Nggak usah,


gue bisa pulang sendiri naik taksi.” Anita menolak.


“Nggak, gue


nggak bakalan biarin lo pulang sendiri.” Vian kekeh mau mengantar Anita.


“Anita, lo


biar diantar Vian saja. Gue juga lebih tenang kalau lo pulang sama Vian.” Kata


Gita.


“Atau lo


malam ini menginap saja disini, lo pasti nanti di rumah bakalan tambah galau.”


Kata Fara.


“Nggak


apa-apa far, gue perlu sendiri.”


“Ya sudah,


lo tunggu disini saja biar gue ambil mobil dulu.” Vian berlari ke rumah Gita


untuk mengambil mobil.


Gita dan


Fara duduk menyender di sofa, mereka masih tak habis pikir dengan kejadian


malam ini.

__ADS_1


“Brengsek


benar emang Kak Bayu, tadi nih kalau Anita tidak kabur udah gue pukulin tuh


wajah tanpa dosanya.” Fara kembali di buat geram.


“Benar, gue


juga mau cakar-cakar dan jambak-jambak rambutnya. Bisa-bisanya dengan enteng


mengatakan hal seperti itu.” Tambah Gita.


“Heh..heh..


jangan pada ngedumel aja.” Kata Raka.


“Raka kenapa


nggak lo hajar aja sih tadi Kak Bayu, ngeselin banget.” Kata Gita.


“Apaan sih


sayang, main hajar-hajar.” Gilang tidak suka Gita ngomong seperti itu.


“Kenapa


masih belain teman kamu yang kurang ajar itu.” Gita mendengus sembari membuang


muka dari Gilang.


“Bukan


belain, tapikan bisa diomongin nggak usah pakai kekerasan juga.” Kata Gilang.


“Orang kayak


dia sudah tidak bisa dibilangin baik-baik, jangan-jangan kamu bakalan ngelakuin


hal yang sama kalau disuruh nikah lagi sama mama.” Gita memutar tubuhnya hingga


berhadapan dengan Gilang. Gita melipat kedua tangannya di dada.


“Kamu


ngomong apaan sih, mana mungkin mama menyuruh aku menikah. Mama sangat sayang


sama kamu, bahkan mama lebih sayang kamu daripada aku.” Kata Gilang.


Fara menoleh


ke arah Raka, “Nggak usah aneh-aneh. Adik ipar kamu bakalan bunuh aku terlebih


dahulu sebelum itu terealisasi.” Kata Raka.


“Bagus deh,


awas aja kalian berdua macem-macem.”  Ancam


Fara.


“Hah..


sekarang gue lapar banget.” Kata Gita sambil mengusap perutnya.


“Gue juga,


emosi membuat tenaga gue terkuras.” Fara ikutan mengusap perutnya.


“Kalau gitu


ayo sekarang kita makan di luar saja.” Ajak Gilang.


“Gue setuju.”


Sahut Raka.


“Baby Ai


gimana?”


“Biar sama


Bibik dulu. Kita makan sebentar saja.”


“Bik...”


Panggil Gita.


“Iya Mbak.”


“Tolong


jagain baby Ai sebentar lagi ya. Kita mau makan di luar dulu sebentar.”


“Siap Mbak.”


“Bibik mau


di bawain apa?” tanya Gita.


“Nggak usah


Mbak.”


“Ya udah,


kita jalan dulu ya Bik.”

__ADS_1


“Iya Mas.”


__ADS_2