
Anita berlari
sekuat tenaga sampai dia tak tahan lagi, dia bersimpuh di jalan. Dadanya benar-benar
sesak rasanya dia sudah tidak ingin hidup lagi. Dia tidak bisa tanpa Bayu tapi
dia juga tidak sudi jika dimadu. Meskipun dia dijanjikan istri satu-satunya
namun itu tidak akan mejamin semuanya benar.
“Anita!” Teriak
Fara.
“Nit..Anita
lo dimana?!” Panggil Gita.
Gita dan
Fara terus menyusuri jalan perumahannya, dia tidak bisa mengejar Anita.
“Git, gimana
kalau Anita kenapa-kenapa?” Fara cemas.
“Lo jangan
bikin panik deh, kita buruan saja cari dia.” Kata Gita sambil menarik tangan
Fara untuk kembali berlari mencari Anita.
“Gita..Fara
tunggu.” Panggil Vian sembari mempercepat larinya agar bisa sejajar dengan Gita
dan Fara.
Mereka bertiga
berlari sembari memanggil nama Anita, sampai mereka berhenti di taman komplek.
Anita sedang duduk sembari memukuli perutnya.
“Itu Anita.”
Tunjuk Gita sambil berlari mendekatinya.
Anita diam
terpaku, menatap kosong dengan air mata yang terus mengalir. Tangannya tak
henti memukuli perutnya.
“Anita apa
yang lo lakukan?” Gita memegang tangan Anita supaya menghentikan pukulannya.
“Gara-gara
dia, gue jadi di tinggalin. Kenapa sih gue harus mandul kenapa?” Katanya dengan
tatapan yang masih kosong.
“Anita, lo
nggak boleh ngomong seperti itu.”
“Git, Far lo
nggak tahu kan rasanya jadi gue. Gue di tinggalin, di campakin, di tinggal
nikah karena gue itu nggak sempurna. Gue perempuan yang gagal, tidak bisa
memberikan keturunan.” Anita marah. Dia kesal sama dirinya sendiri kenapa harus
dia yang mengalami semua ini.
“Anita
dengerin gue, bukan lo yang gagal tapi Bayu. Dia bukan suami yang baik buat lo.”
Gita menenangkan Anita.
“Bukankah
wajah kalau dia ingin memiliki keturunan, tapi kenapa gue marah. Kenapa gue
egois seperti ini.” Anita menangis sejadinya.
Vian tak
tega melihat Anita, dia langsung memeluk erat Anita.
“Dengarkan
gue baik-baik, lo bukan perempuan gagal. Di dunia ini tidak ada yang tidak
mungkin Anita, kita bisa berusaha agar lo bisa sembuh. Lo bisa mempunyai
keturunan.” Kata Vian.
“Tapi gue
mandul, gue nggak bisa punya anak Vian. Siapa yang bakalan sama gue, gue
bakalan hidup sendirian di dunia ini.” Tangis Anita di pelukan Vian.
__ADS_1
“Tidak
Anita, lo punya gue,Gita, Fara, Gilang dan juga Raka. Kita anak selalu ada untuk
lo. Dokter di dunia sudah canggih, pasti akan ada jalan untuk menyebuhkan lo.”
“Iya Anita,
lo jangan patah semangat seperti ini dong. Kita semua sayang sama lo.” Gita
ikutan memeluk Anita.
“Lo jangan
seperti ini, kita cemas tahu.” Fara tak mau ketinggalan.
“Gue bakalan
jadi janda tahu.” Katanya sambil mengusap air matanya yang menetes terus di
pipi.
“Nggak
masalah apa status lo, yang penting lo bahagia.” Kata Vian.
“Dengerin
tuh Vian, janda nggak buruk kok. Lo harus kuat.” Gita mengusapkan air mata
Anita.
“Iya, lo
lebih baik hidup sendiri daripada bersama orang brengsek. Dan keluarga yang
sama sekali tidak menghargai lo. Kalau aja undangan sampai sini gue bakalan
hancurin itu pernikahan. Biar malu keluarganya tujuh turunan.” Ujar Fara.
“Benar, itu
ibu mertua lo gue bikin tuh nggak keluar rumah setahun biar di gosipin di gank
arisannya.” Kata Gita.
“Udah deh
jangan pada konyol, lagian masih bisa kalian mikirin sampai segitunya.” Vian
geleng kepala.
“Maksih ya
kalian, udah ada untuk gue.” Katanya lemah.
selalu ada buat lo, jadi lo jangan pernah untuk melakukan hal yang merugikan
lo. Ngerti?!” Gita mewanti-wanti Anita.
“Iya, gue
pasti bakalan jaga diri kok. Nggak macam-macam, kalau gitu gue pulang dulu ya.”
Anita pamit pulang. Dia ingin menangis lebih kencang lagi di rumah. Dia mau
merenungkan semua hal yang sedang terjadi padanya.
“Gue
anterin.” Kata Vian.
“Nggak usah,
gue bisa pulang sendiri naik taksi.” Anita menolak.
“Nggak, gue
nggak bakalan biarin lo pulang sendiri.” Vian kekeh mau mengantar Anita.
“Anita, lo
biar diantar Vian saja. Gue juga lebih tenang kalau lo pulang sama Vian.” Kata
Gita.
“Atau lo
malam ini menginap saja disini, lo pasti nanti di rumah bakalan tambah galau.”
Kata Fara.
“Nggak
apa-apa far, gue perlu sendiri.”
“Ya sudah,
lo tunggu disini saja biar gue ambil mobil dulu.” Vian berlari ke rumah Gita
untuk mengambil mobil.
Gita dan
Fara duduk menyender di sofa, mereka masih tak habis pikir dengan kejadian
malam ini.
__ADS_1
“Brengsek
benar emang Kak Bayu, tadi nih kalau Anita tidak kabur udah gue pukulin tuh
wajah tanpa dosanya.” Fara kembali di buat geram.
“Benar, gue
juga mau cakar-cakar dan jambak-jambak rambutnya. Bisa-bisanya dengan enteng
mengatakan hal seperti itu.” Tambah Gita.
“Heh..heh..
jangan pada ngedumel aja.” Kata Raka.
“Raka kenapa
nggak lo hajar aja sih tadi Kak Bayu, ngeselin banget.” Kata Gita.
“Apaan sih
sayang, main hajar-hajar.” Gilang tidak suka Gita ngomong seperti itu.
“Kenapa
masih belain teman kamu yang kurang ajar itu.” Gita mendengus sembari membuang
muka dari Gilang.
“Bukan
belain, tapikan bisa diomongin nggak usah pakai kekerasan juga.” Kata Gilang.
“Orang kayak
dia sudah tidak bisa dibilangin baik-baik, jangan-jangan kamu bakalan ngelakuin
hal yang sama kalau disuruh nikah lagi sama mama.” Gita memutar tubuhnya hingga
berhadapan dengan Gilang. Gita melipat kedua tangannya di dada.
“Kamu
ngomong apaan sih, mana mungkin mama menyuruh aku menikah. Mama sangat sayang
sama kamu, bahkan mama lebih sayang kamu daripada aku.” Kata Gilang.
Fara menoleh
ke arah Raka, “Nggak usah aneh-aneh. Adik ipar kamu bakalan bunuh aku terlebih
dahulu sebelum itu terealisasi.” Kata Raka.
“Bagus deh,
awas aja kalian berdua macem-macem.” Ancam
Fara.
“Hah..
sekarang gue lapar banget.” Kata Gita sambil mengusap perutnya.
“Gue juga,
emosi membuat tenaga gue terkuras.” Fara ikutan mengusap perutnya.
“Kalau gitu
ayo sekarang kita makan di luar saja.” Ajak Gilang.
“Gue setuju.”
Sahut Raka.
“Baby Ai
gimana?”
“Biar sama
Bibik dulu. Kita makan sebentar saja.”
“Bik...”
Panggil Gita.
“Iya Mbak.”
“Tolong
jagain baby Ai sebentar lagi ya. Kita mau makan di luar dulu sebentar.”
“Siap Mbak.”
“Bibik mau
di bawain apa?” tanya Gita.
“Nggak usah
Mbak.”
“Ya udah,
kita jalan dulu ya Bik.”
__ADS_1
“Iya Mas.”