Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Barbeque


__ADS_3

Gita dan Anita belanja untuk barbeque, sedangkan Gilang lebih memilih menunggu di mobil.


"Mau pakai apa aja?" tanya Gita.


"Daging, sosis, bakso." kata Anita.


"Pakai sayap ayam mau nggak?" Gita mengangkat sayap ayam.


"Boleh."


"Ok, gue mau pakai cumi-cumi. Lo mau apa lagi?" tanya Anita.


"Pakai jagung enak juga kayaknya." Anita menunjuk jagung.


"Ok, ambil jagung." Gita memasukan ke keranjang.


Gita kemudian mengambil saus, dan bahan-bahan lainnya untuk bumbu barbequenya. Tah hanya itu, Gita mengambil cola, sprite, dan beberapa minuman lainnya. Tak lupa Gita memborong cemilan.


"Ada lagi nggak yang lo mau beli?" tanya Gita.


"Kayaknya sudah cukup." kata Anita.


"Ok, lo tunggu di sini dulu. Gue keluar sebentar." kata Gita.


"Ok." Jawab Anita sambil mengantri di kasir.


Gita mengetuk jendela mebil Gilang pelan.


"Ada apa?" tanya Gilang sambil menurunkan kaca mobilnya.


"Minta uang." Gita menadahkan kedua tangannya sambil tersenyum. Gilang memngbil kartu ATMnya di dompot lalu memberikan kepada Gita.


"Terima kasih yang mulia." Kata Gita setelah menerima ATM. "Sayang, sini deh." Gita meminta Gilang mendekat.


"Apa?"


"Sini."


Gilang pun langsung mendekat,dan Gita memberikan ciuman kilat di bibir Gilang.


"Hadiah, karena mau di porotin sama aku." Katanya sambil lari. Gilang hanya menggeleng kepala sambil tersenyum dengan kelakuan istrinya.


...----------------...


Sesampai di rumah yang lain sudah berkumpul, Gita turun mobil langsung lari memeluk Rafa.


"Hey, anak ganteng." Gita mencium Rafa.


"Hai tante jelek." Raka menjawab mewakili anaknya.

__ADS_1


"Bapak kamu tuh yang jelek." Gita manyun.


"Vian, bantuin gue bawa belanjaan." seru Gilang.


"Oke."


Mereka langsung menyiapkan segala sesuatunya. Vian, Gilang dan Raka bagian memanggang. Sedangan Gita, Fara dan Anita menhiapkan minuman sembari bermain dengan anak-anak.


"Kenapa jadi kita-kita yang masak." Keluh Vian sambil mengipasi jagung.


"Yaelah gitu saja ngeluh lo Vian." Kata Raka.


"Iya, kali-kali jangan tinggal makan doang." Sahut Gilang.


"Lagian buat calon istri pakai perhitungan segala."


"Calon istri?" Vian berhenti mengipasi jagung dan melihat kearah Raka.


"Ya, Anita calon lo kan?" kata Raka dengan santai.


"Siapa bilang, ngaco lo." Vian kembali mengipasi jagung sambil mebolak-balik agar tidak hangus.


"Ah.. Ini pasti kelakuan bini-bini lo kan. Jujur deh kalian." Vian menunjuk dengan capitan. "Emang mereka berdua itu doyan banget siksa dan fitnah gue." tambahnya lagi.


"Vian, gue tanya lo sejujurnya lo ada rasa nggak sih sama Anita."


"Iya benar, mungkin kemarin-kemarin gue diam karena Anita masih sah istri Bayu. Kalau sekarang kan sudah jelas Anita akan bercerai dengan Bayu." Gilang pun ikut menanyakan perasaan Vian terhadap Anita.


"Gue paham, lo pasti bingung kan dengan pertanyaan ini. Cuman kan lo jomblo, Anita pun sebentar lagi lajang. Daripada Anita sama orang lain yang belum tahu juga juntrunganya mending sama lo yang jelas. Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya kalau sering bertemu nanti." Raka menasehati Vian.


"Tapi kalau lo memang nggak suka jangan pernah di paksa. Dan jangan pernah memberikan harapan sedikitpun untuk dia. Cukup jadi teman sewajarnya, jangan sampai berlebihan karena kasian." Tambah Gilang.


"Siap pak guru." Jawab Vian.


Vian menoleh kearah Anita, dia menatap dengan lekat gadis yang dulunya sedikit gemukan kini terlihat tirus.


"Lo harusnya tertawa seperti itu, tidak boleh memangis. Sahabat-sahabat gue harus bahagia." batinnya.


"Hayooo.. Lihatin Anita terus." Vian ketahuan Gita saat memandangi Anita.


"Apaan sih lo, sono lo pergi rusuh amat." Vian mendorong Gita pelan agar menjauh darinya.


"Sayang, Vian mendorong aku." Gita mengadu kepada Gilang dengan suara manja.


"Vian... Jangan macam-macam lo." kata Gilang tanpa melihat Vian.


"Apa.. Gue nggak ngapa-ngapain. Git, finah saja terus gue. Bahagia banget lo fitnah gue." Vian mendengus, Gita terkekeh senang sekali bisa menjaili Vian.


"Pada cengengesan saja, mana makannya udah jadi belum?" Tanya Fara.

__ADS_1


"Iya nyonya bentar." kata Vian.


"Vian minta satu dulu sini, buat anak gue." kata Fara.


"Anaknya apa mamanya."


"Ih.. Pelit amat sih lo." Gita mengambil jagung satu lalu memberikan kepada Rafa.


Pesta pun di mulai, mereka makan sambil bercerita hal-hal lucu yang membuat Anita bahagia dan melupakan masalahnya.


"Kita ambil foto yuk." Ajak Gita.


"Ayo..ayo..." mereka setuju. Gilang memasang kamera lalu berlari kembali berpose bersama yang lain.


Hari mulai malam, makanan tinggal sedikit. Anita memilih duduk sendiri untuk menikmati malam yang sunyi namun sangat indah. Bintang-bintang di langit sangat banyak.


"Sayang, bintangnya bagus ya. Banyak banget, langit malam ini sangat indah." Kata Anita sambil menyenderkan kepalanya di pundak Bayu.


"Benar, sama seperti kamu. Meskipun tidak selalu terlihat tapi selalu ada. Selalu bersinar menerangi hidupku. Dan kalau kamu tak ada hidupku pasti kayak langit malam. Gelap gulita."


Anita mengingat ucapan Bayu sewaktu dulu masih bersama. Bayu dulu sangat manis dan mencintainya.Dulu dia selalu di perlakukan seperti ratu.


"Ehmm..melamun aja." Vian duduk si sebelah Anita.


"Nggak melamun kok, gue sedang menikmati bintang. Sangat indah kan malam ini, cerah." senyum Anita kecut.


"Dan lo seperti langit saat ini, sangat gelap tapi di balik kegelapan itu ada bulan bintang yang selalu menemaninya. Sehingga kegelapan itu tesamarkan oleh cahaya-cahaya bintang." Kata Vian.


Anita tersenyum, "Vian makasih ya untuk tadi. Lo udah mau membantu gue pura-pura menjadi pasangan gue."


"Sama-sama, kita kan sahabat harusnya saling bantu kan. Lo jangan sungkan kalau mau minta bantuan sama gue. Lo bisa hubungin gue kapan pun." Vian bsrusaha membuka jalan untuk lebih dekat dengan Anita meskipun tanpa sengaja.


Namun semua itu dia lakukan karena Anita itu masih sahabatnya. Bukan karena hal lain.


"Lo mau datang ke pernikahan Bayu?" tanya Vian.


"Gue nggak tahu, apa gue bakalan bisa melihatnya bersama yang lain." Anita masih belum mampu melepas Bayu sebenarnya.


"Kalau lo tidak mampu jangan paksakan diri untuk datang. Tapi kalau lo mau datang gue siap membantu lo, menjadi pasangan pura-pura lo. Gue bantu bungkam mulut Vivi dan mertua lo." kata Vian.


Anita masih terdiam, dia memikirka. Ucapan Vian.


"Gue mau datang kok, bantuin gue ya jadi pasangan pura-pura gue." Anita memilih untuk datang.


"Bagus, lo datang dandan yang cantik. Harus lebih cantik dari Vivi. Tunjukan kalau lo baik-baik saja dan lebih bahagia. Buat perpisahan lo sama dia sangat berkesan buat dia." Kata Vian.


"Caranya?"


Vian membisiki Anita cara perpisahan yang tidak akan pernah di lupakan Bayu seumur hidup.

__ADS_1


"Yakin?" Tanya Anita. Dia lumayan kaget mendengar ide Vian. Vian mengangguk, dia yakin seratus persen.


__ADS_2