Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Pindah Sekolah 2


__ADS_3

Aiden menatap makanan yang sudah tertata rapi dimeja makan, sesekali ia menatap ke arah Gita lalu Gilang. Ia bingung caranya mau bilang untuk pindah sekolah.


“Ai, kamu mau makan sama apa?” tanya Gita.


“Ayam,” jawabnya cepat.


Gita mengambilkan nasi lalu ayam goreng, setelah itu mengambilkan nasi ke piring Gilang.


“Ai, ada yang ingin kamu katakan nak?” tanya Gilang saat melihat gelagat yang aneh dari putra semata wayangnya itu.


Aiden menarik napas dalam, “Ma, Pa, Ai mau pindah sekolah boleh?”


Aiden menatap kedua orang tuannya yang langsung melebarkan kedua matanya.


“Kenapa, apa ada yang membuly kamu?” Gita menaruh sendok, ia tidak jadi melahap nasinya.


“Nggak ada.”


“Terus kenapa kamu mau pindah?”


“Pa, sekolah di sana nggak seru. Ai pingin pindah ke sekolahan mama sama papa dulu,” ujarnya.


“Nggak seru, memangnya kamu mau sekolah yang seperti apa?” Gita menggelengkan kepala.


“Ai, jujur saja sama papa. Nggak mungkin kan kalau nggak ada masalah kamu mendadak mau pindah. Dulu kamu juga yang mau sekolah di sana,” Gilang masih mengejar jawaban yang masuk akal dari Aiden.


“Kamu membuat masalah?” Gita menatap tajam putranya itu.


“Nggak Ma, Aiden cuma mau menghindari cewek yang terus mengejar Ai,” jelasnya jujur.


Gilang dan Gita langsung menghela napas lega, mereka takut kalau putranya membuat masalah besar, dan ingin lari dari tanggung jawabnya.


“Itu bukannya hal wajar,” Gilang mulai memasukkan makannya lagi.


“Ternyata anak mama sudah ada yang mulai suka,” ujar Gita dengan bangga.


“Tapi Ai risih Ma, orang yang pertama kenalan kan Rafa, dan juga Rafa yang suka malah dia memilih Ai,” Aiden kesal jika mengingatnya.


“Aduh, berat juga ya.”


“Makanya Ma, boleh ya Ai sekolah di sana?” Aiden harap-harap cemas.


“Nggak, itu jauh dari rumah. Nanti rumah pasti bakalan sepi,” Gita tidak mengizinkan Aiden untuk pindah.


“Ma, Ai kan mau belajar mandiri juga. Ai sudah gede Ma,” rengek Aiden.


“Sayang, biarkan saja Ai sekolah di sana. Benar kata Ai, kalau dia harus mandiri,” Gilang paham perasaan Aiden.


"Tapi-" Gita menghentika ucapanya.


Aiden mendekati Gita lalu memeluknya, "Ma, Ai bisa jaga diri. Kalau memang Ai nggak boleh kos, Ai bakalan tidur di rumah nenek Wanda," Ujar Aiden.


"Baiklah," ucap Gita dengan berat hati.


"Beneran Ma?" Aiden melepas pelukannya.


"Iya, tapi janji ya jangan bikin repot nenek, apalagi bikin cemas."


"Iya mama sayang," Aiden mencium pipi Gita kanan kiri bergantian.

__ADS_1


"Ma, biar mama nggak kesepian mending bikin adik lagi," Peluk Aiden.


"Kamu pikir segampang itu bikin adik," ujar Gita sembari mengacak-acak rambut Aiden.


"Ya nggak tahu, kan Ai belum pernah mencoba," Aiden merenges.


"Awas ya, jangan macan-macam kamu."


"Nggak Ma."


"Nanti deh Papa gas terus biar kamu punya adik," goda Gilang.


"Sayang, apaan sih kamu," wajah Gita memerah. Ia malu Gilang menggodanya di depan Aiden.


...ΩΩΩ...


Mobil sudah siap untuk mengantar Aiden dan ketiga sahabatnya ke rumah mamanya.


"Ma, Ai mau bawa motor itu aja ya," Aiden ingin membawa motor kesayangannya.


"Nggak usah biar dianterin Pak Beni, motornya kapan-kapan mama kirim kesana," Gita melarang Aiden mengendarai motor jarak jauh.


"Kenapa sih Ma," rengek Aiden.


"Udah nurut sama mama atau kamu nggak jadi pindah," ancam Gita.


"Ya Ma."


"Kalau gitu kalian hati-hati ya, mama sama papa ke kantor dulu," Gita mencium Aiden dan Rafa. Sedangkan Luki dan Ibob langsun cium tangan.


Aiden melambaikan tangan, saat mobil mamanya meninggalkan rumah.


"Kalian mau kemana?" Erina bingung melihat keempat orang yang baru saja menjadi sahabatnya pagi-pagi sudah menghampirinya.


"Kita mau liburan," jawab Ibob.


"Ini kan belum libur?" Erina mengerutkan kening.


"Lo jaga diri ya, kita sebenarnya mau pindah sekolah," jelas Rafa.


"Pindah?" Erina mendelik.


"Iya, kita mau pindah sekolah," jawab Ibob.


Wajah Erina langsung berubah muram, baru saja dia memiliki teman sudah ditinggal saja.


"Kenapa?" tanya Erina pelan.


"Nggak kenapa-kenapa, kita cuma mau mandiri saja jauh dari orang tua."


Wajah Erina memerah, "Kok mendadak sih?"


"Lo jangan sedih gitu, kita tetap bisa berteman. Ya nggak Ai," tutur Rafa.


"Iya, cari teman yang baik jangan mau di tindas," pesan Aiden.


"Iya."


"Kita pergi dulu ya," kata Rafa.

__ADS_1


Erina membalas lambaian tangan keempat cowok itu. Ia langsung menangis ketika mobilnya berlalu.


...ΩΩΩ...


Satu jam perjalanan mereka sudah sampai di rumah Wanda.


"Nenek," Aiden dan Rafa berlari mendekati Wanda. Mereka bergantian mencium tangan lalu memeluknya.


"Cucu-cucu nenek sudah besar," Wanda membalas pelukan Aiden dan Rafa.


"Kalian jadi pindah ke sini?" tanya Wanda lagi.


"Iya Nek, mama sudah telepon kan?" ujar Aiden.


"Sudah, nenek seneng banget rumah ini jadi rame lagi."


"Oiya nek, yang tinggal di sini nggak cuma Rafa sama Ai. Kita bawa teman boleh kan?" tanya Rafa.


"Ya tentu saja dong, sini," Wanda meminta Ibob dan Luki mendekat.


"Kenalin nek ini yang lumayan gembul namanya Ibob, makanya banyak. Dan yang garang ini Luki," Aiden memperkenalkan kedua sahabatnya.


"Ai," seru Ibob dan Luki bersamaan.


"Kalian mau satu kamar apa beda kamar nih?" tanya Wanda.


"Satu kamar aja Nek," jawab Rafa.


Wanda berjalan menuju kamar di lantai dua. Kamar dengan kasur tingkat.


"Tapi kasurnya cuma tiga," kata wanda sembari membuka pintu kamar yang dulu di gunakan Raka dan Genta kakak Gita.


"Biar Ai, tidur di kamar bekas mama saja Nek," ujarnya.


"Iya boleh, kalau nggak itu kasur yang bawah luas bisa buat berdua." wanda menarik kasur.


"Ya Nek," jawab serentak.


"Ya sudah, sekarang kalian istirahat. Nenek buatkan makan siang dulu ya," Wand a meninggalkan anak-anak untuk beristirahat.


"Wah, tempatnya bagus ya," ujar Ibob sembari menjatuhkan ke kasur.


"Benar, suasananya adem, tenang," Luki membuka jendela yang pemandangannya langsung jalan raya komplek.


Meskipun komplek, namun masih sangat asri.


"Ai, kita nggak ada yang bawa kendaraan lo. Besok kita sekolahnya naik apa?" tanya Rafa.


"Benar juga, " Luki baru menyadari kalau mereka tidak ada yang membawa kendaraan.


"Naik angkot saja, atau kalau nggak nanti biar dianterin sama sopirnya nenek.


"Nggak sabar gue mau ketemu Dinda," kata Luki malu-malu.


"Jangan terlalu berekspetasi terlalu tinggi, takutnya dia udah punya cowok," Aiden mengingatkan.


"Betul, ntar sakit hati mewek lagi," goda Ibob.


"Sialan, nggak bisa dukung teman yang lagi bahagia sih kalian," Luki merengut.

__ADS_1


__ADS_2