Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Berkelahi


__ADS_3

Aiden menaruh satu kotak coklat kecil di meja Kyra. Kyra yang sedang merenung mengangkat wajahnya hingga saling bertatapan dengan Aiden. Aiden tersenyum dan berlalu, Kyra mengambil coklat lalu menatapnya bingung.


Dinda menatap Kyra yang wajahnya tampak murung, bahkan wajahnya lebih murung dari hari-hari biasanya.


“Kyra, lo baik-baik saja?” tanya Dinda.


Kyra tersenyum sebentar sembari menganggukan kepalanya, pagi ini dia sudah tidak mood unntuk menjalankan aktivitasnya.


“Kenapa sekarang lo dianterin sama nyokap lo?” bisik Dinda.


“Kemarin Kak Kris datang ke rumah gue, nggak tahu apa yang di katakan sama mama sampai akhirnya gue dianter jemput sama mama,” jelasnya.


Dinda menghela napas pendek, dia mulai tidak menyukai Kris yang dulunya sempurna dimatanya.


“Kenapa jadi nyebelin sih dia, kayaknya dia suka sama lo deh,” tukas Dinda.


“Gue rasa juga, mungkin kesal karena gue menolak beberapa kali ajakannya,” curhat Kyra.


“Bisa jadi.”


“Kyra, Dinda kalian berdua maju ke depan,” perintah Bu Intan.


Kyra dan Dinda saling berpandangan, mereka berdua perlahan berjalan menuju ke depan kelas.


“Kalian berdua berdiri di sini sampai pelajaran selesai,” kata Bu Intan.


Kyra merasa sial sekali hari ini, mood yang sedang tidak bagus malah di tambah hukuman dari Bu Intan.


“Lo sih banyak tanya, di hukum kan kita,” Kyra manyun.


“Lah, kok gue yang di salahain. Kan lo juga yang mau cerita,” jelas Dinda tidak mau di salahkan.


“Nanti kalau nggak di jawab lo ngambek sama gue.”


Bu intan melirik kearah Dinda dan Kyra yang masih saja ngobrol meskipun sudah di hukum berdiri di depan kelas. Bu Intan mendatangi mereka berdua langsung menutup mulutnya dan berdiri dengan tegak.


“Kalian memang nggak ada kapoknya ya, sekarang kalian berdiri di luar sampai pelajaran ibu selesai.” Bu Intan menunjuk ke arah pintu.


“Buk maaf, jangan di hukum diluar dong,” Dinda memohon.


“Iya Buk, hukum kami yang lain saja. Mengerjakan seratus soal juga nggak apa-apa buk,” Kyra juga ikut memohon.


“Gurunya itu siapa? Kok malah pada ngatur. Sudah buruan keluar atau ibu tambah hukuman kalian.”


“Iya buk,” Kyra dan Dinda bergegas keluar.


Kris yang sedang menuju kelas Kyra langsung bergegas menghampirinya. Baru kali ini dia melihat Kyra di hukum.

__ADS_1


“Kyra, lo dihukum?” tanya Kris.


“Di sini juga ada Dinda Kak, kenapa yang di tanya cuma Kyra,” celoteh Dinda.


“Maksud gue kalian berdua kenapa bisa dihukum?” tanya ulang Kris.


“Kita ngobrol di kelas,” jawab Kyra dengan malas. Semua permasalahan yang menimpa dirinya sekarang adalah Kris.


“Kyra lo kenapa harus ngobrol di kelas sih, kan,” Kris menasehati Kyra.


“Bukanya seseorang sudah membuat Kyra tidak bisa ngobrol selain di luar kelas,” jawab Dinda dengan kesal.


“Maksud lo gimana Din?” Kris tidak senang mendengar ucapan Dinda yang ketus.


“Lebih baik Kakak balik saja ke kelas, sebelum kita di tambah hukumannya karena ngobrol lagi,” ujar Kyra. Secara halus dia mengusir Kris agar cepat-cepat menjauh dari hadapannya.


“Ok,” jawabnya sembari melanjutkkan jalan ke kelasnya.


*****


Kyra memijat kakinya yang pegal, hampir dua jam dia berdiri di depan kelas.


“Nggak lagi-lagi deh,” ucapnya pelan.


Aiden duduk di samping Kyra sembari memberikan es teh. “Minum dulu.”


“Lancar jaya,” celoteh Ibob.


“Apanya yang lancar?” tanya Kyra.


“Ibob.” Aiden melirik tajam ke arah Ibob.


Ibob menutup mulutnya, lalu menarik tangannya dari kiri ke kanan di depan mulutnya. Mengisyaratkan kalau dia menutup mulutnya rapat-rapat.


“Kalian jadi pindah?” tanya Kyra.


“Tentunya tidak, kan sekarang Ai sudah punya gebetan disini,” jawab Ibob sembari duduk di samping Kyra.


“Oiya, siapa?” Kyra penasaran.


Kyra penasaran siapa orang yang bisa menaklukan orang seperti Aiden yang sangat tidak bisa di tebak. Dia akan merasa kehilangan kenyamanan yang baru saja di rasakan olehnya.


“Kyra.” Kris menarik tangan Kyra sampai dia berdiri di sampinya.


“Lo apa-apaan sih main tarik-tarik tangan orang kalau sakit bagaimana?” protes Ibob.


“Kyra, lo kenapa masih bareng sama mereka. Kan nyokap lo bilang jangan dekat-dekat sama dia,” ujar Kris.

__ADS_1


“Yang nggak boleh itu mamanya Kyra atau lo,” Aiden menarik tangan Kyra sampai dia pindah di sebelahnya.


“Heh, orang miskin. Lo budeg apa, nggak dengar tadi tante Selfi ngomong apa sama lo?” Kris ingin merebut Kyra lagi namun di tahan sama Ibob dan Aiden.


Luki dan Rafa bertepuk tangan mendengar ocehan Kris.


“Wah, sungguh luar biasa ketua osis kita ini,” ujarnya Luki.


“Benar, sungguh orang kaya yang sangat teladan,” tambah Rafa.


“Kalian semua itu memang sampah, kenapa nggak terima?” Kris bekacak pinggang.


“Harusnya dulu waktu pemilihan ketua osis persyaratannya itu punya otak sama tata krama. Jangan yang asal-asalan semacam ini.” Luki menepuk pundak Kris.


Emosi Kris sudah sampai ubun-ubun, dia tak tahan lagi dan langsung melayangkan pukulannya kepada Luki. Dia melakukan pukulan sapai tiga kali, Rafa dengan sigap langsung menolong Luki.


Luki mengangkat tangannya agar Rafa tidak mendekaat. “ Ayo pukul lagi, biar hati lo semakin puas.”


Kris tidak basa-basi, dia kembali memukul Luki dan ketiga temannya tidak melerrainya karena permintaan Luki.


“Ai, bagaimana ini. Kasihan kan Luki,” Kyra cemas.


Aiden menyeret kerah belakang Kris, dia kemudian melepskannya sampai terjatuh di lantai.


“Masalah lo apa sebenarnya?” tanya Aiden.


Kris bangun, dia belagak sombong karena sudah bisa mengalahkan Luki dengan sangat mudah. Bahkan dia beranggapan kalau Aiden cs itu tidak ada apa-apanya dengan dirinya.


“Kenapa, lo juga mau menjajal pukulan gue?” ujarnya angkuh. Aiden tersenyum, lucu saja mendengar perkataan Kris.


Anak- anak yang sedang istirahat langsung berkumpul, untuk melihat perkelahina antara Luki dan sang ketua osis. Selama ini mereka tidak pernah melihat orang yang berani dengan ketua osis. Biasanya mereka cenderung takut karena anggota osis itu paling dekat dengan guru, dan mereka bisa megadu kapan saja.


Aiden menoleh kearah Luki. “Luk, lo mau kasih dia atau gue saja?” tanya Aiden.


“Biar gue sajalah. Sayang nanti ngotorin tangan lo.” Luki maju berdiri di samping Aiden.


“Oo, kalian mau ngeroyok gue. Dasar cemen!” ejek Kris.


“Bacot!” Satu pukulan dari Luki melayang di hidung Kris sampai berdarah-darah.


Kyra shock melihatnya, baru juga sekali pukul Kris sudah tidak berdaya. Sedangkan dia tadi melakukan beberapa pukulan Luki masih tampak kuat.


“Bagaimana? Itu baru pukulan tangan kiri gue. Mau yang kanan, atau mau merasakan pukulan Ai?” tanya Luki yang terdengar mengejek di telinga Kris.


Kris berdiri, dia menutup hidungnya yang luka karena malu di lihat banyak orang.


“Tunggu pembalasan gue,” ucapnya sambil berlari.

__ADS_1


__ADS_2