
Vian meminta Raka tukeran mobi, sehingga dia hanya bersama Anita saja. Dia ingin menenangkan hati Anita dulu.
"Kalau gitu kita balik dulu ya, lo hati-hati." Nasihat Raka.
"Ok. Thanks ya Raka."
"Jagain tuh Anita, lo bisa ambil libur besok sama Anita. Kalian bisa pulang kapan saja." Gilang memberikan keringanan untuk Vian.
"Ok, thanks. Kalian memang sahabat gue yang the best.
Vian dan Gilang berjalan bersama tapi beda tujuan. Kali ini Vian mau mengajak Anita jalan-jalan dulu.
Anita terdiam, dia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya diam terpaku menatap depan.
Vian pun hanya mengemudi dengan tenang, dia tidak bertanya dan juga bicara apapun. Membiarkan dia merenungi apa yang terjadi padanya.
Sampai akhirnya Vian parkir ke pantai, dia mengajak Anita turun.
"Kita ngapain kesini?" tanya Anita.
"Jalan-jalan saja, biar lo lebih rilex." Kata Vian sambil menggandeng tangan Anita untuk lebih mendekat ke tepi pantai.
"Yang lain mana?" tanya Anita sambil menoleh kanan-kiri mencari Gita, Fara, Gilang dan Raka.
"Mereka pulang duluan." Kata Vian.
Anita duduk di pasir, menikmati deburan ombak yang menggulung-gulung.
"Lo, kalau mau nangis, mengeluarkan unek-unek keluarkan saja. Jangan di tahan." kata Vian.
"Gue benar-benar tidak menyangka Vian, Kak Bayu sama sekali tidak membela gue sedikitpun meskipun aku di permalukan seperti itu. Hatinya memang sudah tidak ada untuk gue." Anita menangis sejadinya.
"Dasar jahat... Kenapa dia jahat banget. Dia melupakan janjinya. Ini semua gara-gara gue yang tidak hamil. Ini memang salah gue."
"Dengar, lo nggak salah. Dia yang salah karena telah menyia-nyiakan orang seperti lo. Dia pasti akan menyesal dan datang lagi menemui lo percaya sama gue. Gue kan sering bilang kalau dokter-dokter sudah canggih lo bisa hamil asal lo mau berusaha."
"Benarkah?"
"Iya, gue pastikan itu."
"Tapi.."
Vian menarik dari Anita dalam pelukannya, "Sudah cukup jangan katakan apa-apa lagi. Menangis saja sampai air matamu habis. Setelah itu lo di larang menangis." Bisik Vian.
Dan Anita pun nurut, dia menangis sejadinya sampai rasa di dalam hatinya itu plong.
"Vian, maafkan gue." Katanya sambil melepaskan pelukannya Vian. Dia pindah menyandarkannya di bahu Vian.
"Minta maaf kenapa?" tanya Vian.
"Karena lo sudah mau membela gue di depan orang banyak. Bahkan lo bilang mau menikah sama gue." Kata Anita dengan rasa bersalah.
"Kenapa harus meminta maaf kayak sama siapa lo, untung tadi gue aja yang angkat bicara kalau Gita sama Fara ikutan ah... Bisa hancur itu tempat pernikahan." Vian terkekeh.
"Benar juga, gue kok nggak mendengar mereka bersuara." Anita baru ingat kedua sahabatnya tidak melakukan apa-apa.
"Gue sudah bilang sama Gilang dan Raka untuk jaga mereka. Lo tahu sendiri kan kegilaan mereka berdua kayak apa." Vian tidak bisa membayangkan bar-barnya mereka.
"Benar juga." Katanya tiba-tiba kembali terdiam.
"Ada apa? Lo sedih lagi?" tanya Vian.
Anita menganggukan kepala, "Tidak mudah melupakannya Vian, gue bersama juga bukan sebulan dua bulan tapi sudah bertahun-tahun gimana cara gue melupakannya coba."
"Ingat gue, ganti semua yang lo tahu tentangnya menjadi gue." kata Vian dengan mantap, jelas dan padat.
Anita tertawa tiba-tiba, "Lo bercanda ya."
"Tidak Nit, gue tidak bercanda. Lo bisa jadikan gue pelampiasan lo. Asal lo lupa sama Bayu gue bakalan bantuin itu." Vian rela menjadi sekedar pelampiaaan Anita supaya dia cepat move on.
__ADS_1
Anita menatap Vian lekat, dia mendapatkan tatapan tulus dari Vian. Entah kenapa setelah masalah ini ada Vian berubah menjadi orang yang bijaksana, cool saat bersamanya. Tidak petakilan, jail seperti saat bersama Gita dan Fara.
"Gue tidak bisa Vian, gue bisa kok melewati ini." Anita tidak enak, Vian berhak mendapatkan perlakuan yang layak bukan hanya pelampiasan.
"Nah gitu, itu baru Anita yang keren."
"Gue juga akui lo keren banget loh, kalau ada penghargaan sahabat paling the best itu buat lo. Lo tanpa ragu membela gue bahkan mau menikahi janda yang tak bisa punya anak ini di depan orang banyak. Lo keren banget pokoknya gue terharu tahu." Kata Anita sambil menepuk pundak Vian.
"Bagiaman kalau gue serius dengan ucapan gue?" Kata Vian yang membuat Anita langsung melongo.
"Maksus lo?"
"Ya, gue serius bakalan menikahi lo sama menjaga lo sampai akhir hayat." Kata Vian menatap Anita sekilas lalu menatap pantai lagi.
"Lo bercandanya nggak lucu Vian. Lo pasti ngomong begini sekedar menghibur gue kan." Anita memaksa tertawa, untuk menutupi hatinya yang bingung.
Vian memegang tangan Anita, tatapanya semakin dalam.
"Gue sungguh-sungguh Anita. Gue mau menikahi lo menjaga lo sampai maut memisahkan kita. Gue tahu ini terlalu buru-buru, tapi gue hanya mau menjaga lo saja. Lo boleh kok memutuskan hubungan kapan pun saat lo menemukan orang yang benar-benar akan membahagiakan lo nanti." Katanya dengan tulus.
"Lo gila, itu sama saja gue menyakiti hati lo Vian."
"Tidak, gue pasti bahagia bisa membuat lo seperti Anita yang gue kenal lagi."
"Gue tidak tahu Vian, gue tidak bisa memutuskan apa-apa." Katanya sambil melepaskan tangan Vian.
"Baiklah, kita jalani saja sesuai alurnya. Oiya.. Gue punya obat mujarab lagi buat hati lo plong." Vian kembali menggandeng Anita ke pantai.
"Aaaaaa......!!" Vian tiba-tiba teriak membuat Anita kaget.
"Lo kenapa?"
"Coba deh, teriak sekencang mungkin. Hati lo pasti akan enakan."
"Aaa... Gue benci sama Kak Bayu..!!"
"Gue mau move on..!!"
"Benar Anita.. Lo harus bahagia. Lo harus kuat menjalani hidup yang memang kejam. Gue nggak janji tapi gue akan usahakan lo bahagia." Batin Vian.
Vian menatap Anita yang mulai asik bermain air. Kesedihanya mulai teralihkan.
"Vian, ngapain sih bengong disitu. Buruan kesini." Anita mengajak Vian untuk ikutan bermain air.
"Baiklah." Vian berlari menuju Anita.
Mereka bermain bersama, tertawa bersama seperti tak ada masalah apapun.
"Rasanya udah lama banget gue nggak main air." Katanya sambil meguyur air ke tubuh Vian.
"Eh.. berani ya." Vian mengejar Anita. Mereka berdua pun asyik bermain air.
"Lihat, sun setnya bagus. Mau nggak lo gue fotoin?" tanya Vian.
"Boleh.. Fotoin yang bagus tapi. Nanti gue post di instagram gue." Anita menberikan ponselnya.
"Ok, janga lupa pose ya." Vian mulai membidik dengan kamera ponsel milik Anita. Dia pun mengambil secara diam-diam menggunakan ponsel miliknya.
"Boleh nggak kita fto berdua?" tanya Vian. Sekarang Vian merasa lebih aneh kalau mau apa-apa tidak ijin dulu.
"Boleh lah, pakai acara izin segala."
"Mas, bisa minta tolong fotoin nggak?" kata Vian saat ada pelancong lain.
"Boleh Mas." Orang itu mengambil beberapa foto.
"Terima kasih ya mas."
"Sama-sama."
__ADS_1
Vian tersenyum melihat hasil jepretan orang itu, hasilnya lumayan bagus. Vian langsung menutup ponselnya dan menyimpan di saku celananya.
"Mana gue lihat?" kata Anita.
"Nggak ada yang bagus, gue hapus semua." Vian bohong. Dia ingin menyimpan sendiri foto yang bersama Anita.
"Beneran?"
"Masa gue bohong, nanti kalau ada orang kita minta tolong foto lagi." Kata Vian.
"Ok. Vian gue lapar sekarang."
"Let's go cari makan. Ganti baju dulu gih."
...----------------...
Vian mengajak Anita makan di cafe yang ada live musicnya. Jadi saat menunggu makanan mereka bisa menikmati musik.
"Tempatnya bagus ya, asyik pula. Gue seumur-umur di jogja baru kali ini makan di tempat begini." Ujar Anita sambil menggelengkan kepala sesuai alunan musik.
"Lo sih mainnya ke mall mulu." kata Vian.
"Ya nggak juga, cuma sering menghabiskan waktu di rumah saja." Katanya.
"Bagus dong anak rumahan."
"Nggak selamanya bagus juga, harusnya gue jalan-jalan yang banyak waktu itu." Ujarnya seperti ada kekecewaan kenapa dia tidak banyak meluangkan waktu.
"Jangan sedih, sampai Jakarta nanti kita akan banyak jalan-jalan."
"Kita?"
"Ya.. Gue.. Lo pastinya juga sama yang lainnya. Kita nikmati saja keseharian kita bersama main, kerja."
"Iya."
Anita terdiam saat lagu Runtuh Fiersa besari di putar, rasanya hati pedih bagai disayat pisau.
Mulut Anita mulai ikut bernyanyi, meskipun tidak begitu jelas. Air matanya yang sudah dia tumpahkan di pantai kini kembali dia teteskan.
"Tak perlu khawatir ku hanya terluka, terbiasa tuk pura-pura tertawa. Namun bolehkah sekali saja ku menangis. Sebelum kembali membohongi diri."
Vian memegang tangan Anita, menggengam erat.
"Kak.." Vian mengangkat tangannya.
"Lo mau ngapain Vian?" tanya Anita.
"Iya."
"Bisa reques lagu nggak?" tanya Vian.
"Bisa dong tentunya, mau lagu apa Kak?"
"Putuskan saja pacarmu bravesBoy. Buat yang meriah ya Kak. Soalnya teman saya baru putus biar dia happy."
"Siap."
Dan lagupun di putar dengan seru, semua orang langsung berjoget. Anita tersenyum melihat Vian yang ikut berjoget dengan asyik.
"Apa?" kata Vian saat dia mengulurkan tangannya.
Vian hanya mengkode Anita, agar dirinya ikut berjoget.
"Gue nggak bisa."
"Udah ayo."
Mereka pun berjoget asik bersama penongon yang lain.
__ADS_1
Hari ini adalah hari terberat namun juga terbahagia bagi Anita. Dia senang karena Vian selalu ada cara untuk membuat dia tertawa.
"Makasih ya Vian, lo emang the best. Gue harap lo mendapatkan pasangan yang baik juga seperti dirimu." Bisik Anita dalam hati.