
Vian berjalan pelan saat masuk ruangan kantornya yang sangat
sepi. Hanya ada Anita dan Nino itu pun sedang sibuk sama komputer
masing-masing.
“Dimana nih dua bocah ubur-ubur.” Kata Vian sambil meletakkan
boba di meja Anita.
“Em, ketemu klien.” Jawab Anita.
“Ah.. sepi juga dua biang onar nggak disini.” Dia duduk di
kursi Gita yang dekat dengan Anita.
“Makasih ya.” Kata Anita sambil mengakat bobanya. Vian
mengangguk sambil tersenyum.
“Giliran ada lo berantem pingin ngusir mereka giliran nggak
ada lo kangenin.” Ujar Nino.
“Ya begitulah Mas, hidup tanpa mereka berdua itu hampa.”
Jawabnya sambil tertawa.
“Vian, hari ini gue juga mau ketemu klien. Ntar gue langsung
pulang ya.” Pamit Nino.
“Ok Mas.”
Anita kembali fokus ke komputernya, sedangkan Vian yang nggak
punya kerjaan menjadi gabut.
“Nit, lo nggak mau ketemu klien juga?” tanya Vian random.
“Ketemu klien?” Anita menoleh ke arah Vian.
“Iya semua orang hari ini ketemu klien lalu pulang, lo nggak
mau kayak mereka juga?” tanya Vian.
“Ada-ada aja lo ah, ya pastinya kan kepetingan orang
beda-beda. Dariapada lo nggak ada kerjaan terus gabut, mending lo main game aja
sambil temani gue kerja disini.” Pinta Anita.
“Bosen gue main game, Nit nanti pulang kerja ada acara
nggak?” tanya Vian.
“Nggak, kenapa?”
“Nongkrong yuk, atau lo mau kemana gitu biar gue anterin. Gue
gabut banget malam ini.”
“Oke, gue juga nggak ada rencana apa-apa kok malam ini.”
Malam ini Vian dan Anita pergi jalan-jalan, mereka pergi ke
basar jajanan saja sambil menikmati indahnya malam.
Mereka hanya diam tak saling bicara, lidah Vian menjadi kelu
ketika sudah keluar kantor. Tadi dia masih bisa ngobrol banyak, bercanda.
__ADS_1
“Lo mau makan apa?” tanya Vian.
“Apa saja deh.” Kata Anita menjadi bingung juga.
“Sosis mau?”
“Boleh.” Katanya.
“ Lo tunggu disini ya, gue beliin dulu.” Vian meminta Anita
menunggu di kursi panjang yang ada di area bazar makanan.
Anita memegangi dadanya yang berdetak kencang, dia pun
menjadi sangat gugup.
“Gue kenapa ya? Sakit? Jantung gue sudah lama rasanya tidak
seperti ini.” Katanya.
“Tapi kenapa gue begini kalau dekat sama Vian, apa benar gue
mulai ada rasa sama dia. Ah.. tapi ini kan baru beberapa hari, gimana kalau gue
Cuma baper.” Gumam Anita sambil mendengus. Dia takut salah mengartikan apa yang
dia rasakan saat ini.
“Ta...ra ini sosinya.” Vian datang mengagetkan Anita. Vian
membawa dua buah sosi besar dan juga kopi hangat. “Ini sosisnya, dan ini kopi
hangatnya.” Kata Vian.
“Makasih Arvian.” Kata Anita memanggil nama lengkap Vian.
“Sama-sama, makan gih mumpung masih hangat.” Kata Vian.
Anita sangat menyukainya. Dia tak berhenti tertawa, banyolan-banyolan dari Vian
pun berhasil membuat dia tertawa sampai menangis.
“Lo makan kayak anak kecil sih gelepotan.” Kata Vian saat
melihat Anita makan gelepotan.
Vian memajukansedikit tubuhnya, dia mengusap sisa-sisa saus
di area bibir Anita. Anita menjadi
semakin kaku, jantungnya berdegup semakin keras, suhu tubuhnya meninggi.
Di tambah lagi Vian yang menatap bola matanya lekat,
membuatnya semakin ingin meleleh.
“Udah.” Kata Vian dengan santai, dia tidak tahu telah
meporak-porandakan hati anak orang.
“Nit?” Vian memegang pundak Anita sehingga dia kaget dan
kopinya tumpah mengenai tanganya.
“Aaaa...” Ringiik Anita.
“Nit lo nggak apa-apa?” tanya Vian. Dia mengambil tangan
Anita, langsung meniupinya.
“Panas ya, maaf gue nggak sengaja mengagetkan lo.” Kata Vian.
__ADS_1
Dia terus meniupi tangannya.
“Nggak apa-apa, memang gue saja yang ceroboh.”
“Sebentar, gue cariin air dingin dulu.” Vian mecari air
mineral dingin untuk mengopres tangan Anita yang memerah.
“Udah nggak usah, gue udah nggak apa-apa kok.” Kata Anita.
“Nggak apa-apa gimana orang merah begini.” Vian tetap kekeh
mencari air mineral untuk mengkompres tangan Anita.
Hari semakin malam, Vian pun mengantarkan Anita untuk pulang.
“Makasih ya, lo sudah mau temani gue.” Kata Vian.
“Gue yang harusnya makasih, udah diajak jalan-jalan, di
beliin makan.” Katanya.
“Kalau begitu kita sama-sama aja, nggak usah acara teriima
kasih – terima kasih. Udah gih masuk sana, tidur jangan begadang.” Vian
mengusap kepala Anita dari dalam mobil.
“Iya, lo hati-hati ya.”
Anita masuk dengan wajah senyum-senyum, dia tidak bisa
membohongi dirinya lagi kalau dia sedang bahagia.
“Ehhem... senyum-senyum aja nih anak mama. Memangnya pulang
diantar sama siapa?” tanya Tari mama Anita.
“Ih.. mama kepo.” Kata Anita sambil meneruskan jalannya.
“Ya nggak kepo, mama senang aja sekarang kamu sudah bisa tersenyum lagi.” Kata Tari.
Beberapa bulan yang lalu Tari juga merasakan kesedihan yang
dalam melihat Anita sedih, uring-uringan dan menangis terus. Dan sekarang
melihat dia senyum tuh rasanya hatinya tenang.
“Mama.. Anita kan selalu tersenyum.” Kilahnya.
“Siapa dia kenalin deh sama mama sama papa.” Kata Tari.
“Siapa yang mama mau kenal itu?”
“Ya cowok yang buat kamu tersenyum-senyum itu.”
“Ma, tadi itu yang nganterin aku Vian. Masa mama mau kenalan
sama Vian.” Ujar Anita.
“Vian..Arvian teman SMA kamu.”
“Iya ma, siapa lagi. Nggak Cuma teman tapi juga sahabat Anita.”
Kata Anita. “Udah ah Ma, Anita mau istirahat dulu.” Anita masuk ke kamarnya.
“Kalau Vian memang bisa bikin kamu bahagia, mama setuju kok.”
Seru Tari.
“Mama! Jangan aneh-aneh deh.” Seru Anita dari kamarnya.
__ADS_1