
"Mama.." Gita terkejut melihat Wanda sudah ada di meja makan dan sudah menggendong Aiden.
"Hai sayang..."
"Mama kok ada disini?" ucapnya yang masih berdiri mematung.
"Memangnya kenapa kalau mama kesini, mama kan kangen sama cucu mama. Masa nggak boleh?" kata Wanda.
"Bukan begitu, mama datangnya mendadak banget mana nggak bilang sama Gita." Gita berjalan mendekati Wanda dan langsung cium tangan Wanda.
"Mama udah keburu kangen, kamu sih katanya mau datang tapi nggak datang-datang."
"Gita..." panggil Gilang dari suara tinggi merendah.
"Pagi Gilang."
"Pa-gi.. Ma." Kata Gilang kaget melihat mertuanya. Dia langsung mencium tangan Wanda.
"Mama kok tumben pagi-pagi udah kesini?"
"Kalian berdua pada kenapa sih? Memangnya nggak boleh Mama kesini."
"Boleh dong ma, kan Gilang cuma tanya."
"Oiya Ta, kamu hari ini kerja nggak? Kalau kerja cuti dong temani mama." kata Wanda.
"Ya di rumah, papa kan lagi keluar kota seminggu mama kesepian di rumah sendiri." kata Wanda.
"Ya Gita sih mau-mau aja Ma, cuma ya nggak tahu suami Gita ngijinin nggak. Kan katanya kalau pergi-pergi harus ijin suami." Gita melirik ke arah Gilang.
"Gimana Gilang boleh ya?" tanya Wanda.
Gilang terdiam sebentar, awalnya dia kekeh tidak mengijinkan Gita. Namun ini mertuanya yang meminta dia jadi tak bisa mengelak.
"Iya Ma, boleh kok." katanya sambil senyum kecut.
"Tuh kan boleh, Gilang kan emang mantu idaman mama. Oiya Gilang kalau kamu mau kan juga bisa pulang ke rumah mama sekalian biar makin rame. Nanti Raka sama Fara juga mama suruh ke rumah."
"Baik Ma."
"Kak Gilang kan sedang sibuk Ma, kalau harus pulang ke rumah nantinya pasti ke ganggu." Kata Gita, dia tidak mau Gilang ikut ke rumah mamanya.
"Ya udah deh, kalau memang sibuk. Oiya, Gilang sekalian ya mama mau bilang. Kalau beberapa hari mama mau ajak Gita sama Aiden ke surabaya."
"Ada acara apa Ma?"
__ADS_1
"Cuma menemui saudara yang baru pulang, nanti kita sekalian pulangnya bareng sama papa." kata Wanda.
"Iya Ma."
"Kalau gitu kita sekarang aja ke rumah mama." Ajak Gita.
"Kamu nggak tungguin Gilang berangkat dulu." Wanda mengernyitkan keningnya.
"Udah mau berangkat kok."
Gilang kesal banget, tapi dia tahan karena ada mama mertuanya. Gita pun membawa pakaian dan juga perlengkapan milik Aiden. Rasanya seperti mau pindahan.
Kali ini Gita tidak pamit sama Gilang, dia hanya menatap sekilas langsung berjalan menggandeng mamanya.
"Ma, memangnya kita ke surabaya mau ketemu siapa?" tanya Gita sambil berjalan keluar.
"Ke rumah Tante Hana."
"Tante Hana, mama Kak Arkan?"
"Iya, Arkan kan baru pulang dari Jepang. Pasti seru kalau kalian bertemu."
"Ih.. Sekarang kayak apa ya wajah Kak Arkan. Pasti ganteng banget, ngomong-ngomong udah nikah belum Ma?" Gita girang akan bertemu teman lamanya.
Sedangkan Gilang yang samar-samar mendengar Gita menyebut Arkan ganteng dan menanyakan udah menikah atau belum membuat dia kesal.
"Kesenengan Gita, mau gue larang tapi nggak emak sama Mama." katanya sambil duduk.
Sedangkan Gita sangat bersyukur dengan kedatangan mamanya yang dadakan, jadi dia bisa tetap pergi ke rumah mamanya dengan ijin Gilang. Meskipun dia tahu kalau Gilang memberikannya secara terpaksa.
Gita sedang ingin menberikan waktu untuk diri sendiri agar lebih tenang. Dia akan memikirkan semuanya, dia tak mau emosi berlarut-larut.
...----------------...
Mood Gilang sedang hancur, wajahnya di tekuk mulu. Tidak ada yang berani menegurnya. Saat meeting pun dia marah-marah, sampai semua karyawan heran. Mereka melihat bahwa itu bukan Gilang yang biasanya.
"Kalian bagaimana sih, begini saja tidak becus. Saya mau ulangi berkas ini dan bawa sebelum jam makan siang." bentak Gilang.
"Baik Pak." jawab karyawan sambil keluar ruangan Gilang.
Lila pun terkejut, selama menjadi asisten Gilang dia belum pernah melihat Gilang marah sama karyawannya sampai segitunya.
"Vian..sini." Panggil Lila saat melihat Vian lewat.
"Ada apa Mbak?" tanya Vian.
__ADS_1
"Bos lagi kenapa ya? Kok sejak tadi marah-marah mulu. Bentak-bentak karyawan, mana semua salah nggak pernah ada yang benar." jelas Lila.
"Lagi pms kali." Jawab Vian masih dengan bercanda.
"Gue beneran Vian, malah lo bercanda." Lila memukul Vian.
"Terus gue harus gimana Mbak?"
"Ya tanya atau apa lah, kan lo selain karyawan juga sahabat dekatnya. Kali aja lagi ada masalah." kata Lila.
"Hhm.. Iya deh nanti gue balik dulu ke ruangan. Ini di tungguin Mas Win berkasnya. Gue bisa di maki-maki kalau nggak kesana-kesana." jelas Vian.
Jam istirahat sudah tiba, Vian jadi ingat kata-kata Lila kalau Gilang sedang marah-marah. Dia pikir pasti ada hubungannya dengan Gita karena dia tidak datang.
Vian mengetuk pintu ruangan Gilang,lalu mendorongnya perlahan saat mendapat jawaban dari Gilang yang lumayan datar.
"Bos.. Masih sibuk?" tanya Vian diambang pintu.
"Masuk saja."
"Ok." Vian masuk dan langsung duduk berhadapan sama Gilang.
"Ada apa?" tanya Gilang.
"Udah jam makan siang, makan bareng yuk." ajak Vian.
"Gue lagi males makan. Lo makan saja duluan, gue nanti." Gilang menolak, dia sedang tidak mau makan. Dia hanya ingin diam sendirian menikmati kekesalan hatinya.
"Lang, lo kan masih nggak enak badan. Lo nggak boleh telat makan."
"Kata siapa gue nggak enak badan, orang gue sehat-sehat saja." Kelak Gilang.
"Kata ibu negara lah, kemarin dia pagi-pagi molor di kantor katanya habis jagain lo. Sekarang dia nggak masuk apa dia sakit?" tanya Vian.
"Nggak, dia lagi di rumah mama."
"Em..kalian nggak lagi berantem kan?" tanya Vian sambil menatap Gilang lekat. Dia merasa janggal dengan jawaban-jawaban Gilang yang datar banget.
"Nggak, Arvian... Lo kalau mau makan buruan makan gih jangan gangguin gue." kata Gilang.
"Makan bareng yuk Lang.. Gue gabut nggak ada yang bisa diajak makan.Anita sama Fara ketemu klien Mas Nino sama Mas Win juga lagi di luar. Gita nggak masuk." bujuk Vian.
"Ok deh, lo mau makan dimana?" Tanya Gilang sambil beranjak dari kursinya.
"Terserah lo aja deh gue ikut, kalau perlu cari yang ada bening-beningnya biar bisa cuci mata."
__ADS_1
"Cuci mata di kamar mandi sono, cuci mata di tempat makan. Mau pakai sambel apa air kobokan." tukas Gilang.
"Ish...nggak asik. Sekali-kali lah lihat cewek bening. Bosan kan gue lihatnya Gita sama Fara, muka-muka dzolim." ujarnya. Gilang hanya menjawab dengan dengusan lalu berjalan lebih dulu.