Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Ngambek II


__ADS_3

“Udah nggak ngambek


kan?” Gilang mengangkat kepalanya hingga berpandangan dengan Gita.


Gita tersenyum saja,


dia juga tidak mungkin bisa ngambek lama-lama yang ada dia mau manja terus sama


Gilang.


“Aku janji nggak akan


ulangi lagi sayang, hp aku akan on selalu dua puluh empat jam.” Gilang


mengangkat dua jari berbentuk V.


“Iya sayang.” Katanya.


“Kan sekarang sudah


tidak marah, aku mau makan siangku dong.” Kata Gilang duduk di sebelah Gita.


“Sarapan? Kak Gilang


belum makan siang?” tanya Gita sambil menengok kanan kiri mencari letak


makanan.


“Belum, bahkan nih


belum sarapan jadi semakin lemas.”


“Kenapa nggak buruan


makan gimana kalau sakit.” Gita beranjak dari sofa untuk menyiapkan makanan


Gilang.


Gilang menahan Gita


agar tidak pergi, “Mau kemana?”


“Siapin makanan buat


kamu.”


Gilang menghela napas


panjang, kemudian mendekat ke telinga Gita, “Aku mau peluk cium kamu yang


sangat enak itu.” Bisiknya membuat wajah Gita langsung memerah.


“Jangan aneh-aneh deh,


ini di kantor.” Kata Gita sambil memukul Gilang pelan.


“Biarin, kantor juga


kantorku sendiri. Lagian kamu sih tadi nggak kasih jadi kan aku lemas sekarang


tak berdaya. Hanya peluk cium kamu yang membuat aku berenergi.” Goda Gilang


membuat wajah Gita semakin memerah.


“Bisa aja.” Gita


menggelengkan kepalanya.


Gilang semakin gemes


banget sama Gita, dia mendekatkan wajahnya dia ingin sekali vitamin yang


membuatnya semakin semangat menjalani harinya. Bibirnya sudah menepel hanya


saja langsung menarik diri lagi setelah ponselnya berdering.


“Ck! Siapa sih ganggu


saja.” Katanya kesal. Sedangkan Gita hanya tersenyum melihat suaminya yang


marah-marah.


Gilang melihat sekilas


lalu menaruh ponselnya, panggilan tak ada nama masuk ke ponsel Gilang.


“Kenapa nggak di


angkat?” tanya Gita. Dia mengambil ponsel Gilang.


“Nggak penting.”


Katanya sambil mengambil ponselnya dari tangan Gita. Dia mereject panggilan


yang masuk lagi.


Gita melipat kedua


tangannya di dada lalu menyenderkan punggungnya. Dia sepertinya tahu siapa orang


yang terus menelpon Gilang. Wajah cerahnya langsung berubah, bibirnya manyun


lagi.

__ADS_1


“Baru juga mau baikan,


udah begini lagi. Gagal lagi deh dapat asupan vitaminya.” Batin Gilang. Dia


ikut menyenderkan punggungnya. Dia menarih tangan Gita.


“Selamanya kamu adalah


perempuan paling cantik, dan tidak akan pernah ada yang menggantikannya. Mau


banyak godaan yang datang aku akan tetap mencintaimu.” Kata Gilang. Dia tidak


mau Gita berpikir aneh-aneh tentang dirinya.


Tok..tok..tok...


“Permisi Pak.”


“Ya Lila, ada apa?”


“Itu Mbak Lia sama Pak


Bimo datang ingin bertemu dengan bapak sekarang, mereka sudah ada di depan.” Kata


Lila.


Gilang menghela napas


panjang, “ Kan saya sudah bilang cancel semua meeting, bilang saja saya sedang


keluar.”  Gilang tidak mau menemui Lia


dan Pak Bimo.


“Suruh masuk saja mbak,


kasian kan sudah datang jauh-jauh.” Gita beranjak dari sofa untuk keluar dari


ruangan Gilang.


“Sayang.” Gilang


mencoba menahan tangan Gina namun Gita melepaskannya.


“Temui dulu cliennya,


kamu harus profesional. Kita disini hanya sebatas karyawan dan bos. Jadi kalau


kamu harus profesional.” Gita mengusap pipi Gilang lalu berjala keluar.


“Hah! Kenapa pakai


acara datang segala sih. Merusak segalanya.” Kata Gilang dengan kesal.


“Sabar Pak, ini ujian.


“Ck, udah suruh mereka


masuk.” Katanya sambil duduk ke kursinya.


Gita berjalan sambil


ngedumel, karean semenjak kehadiran Lia dia dan Gilangsering banget berantem,


lebih tepatnya Gita di buat kesal tiap hari.


“Dasar perempuan genit


tidak tahu diri, memangnya di negara yang penduduknya padat ini nggak ada apa


cowok singgel yang dia suka sampai-sampai suami orang di incer juga.” Omelnya


sambil melirik kearah Lia saat mereka bediri sejajar.


“Permisi.” Lia


menghentkan langkah Gita.


“Iya.”  Jawab Gita senatural mungkin agar dia tidk


terlihat kalau dia jengkel sama perempuan yang mengincar suaminya itu.


“Anda ini karyawan


disini kan?”


“Kalau gue disini tentu


saja gue karyawan sini.” Batin Gita ingin sekali dia teriak di telinga Lia. “Iya,


kenapa ya mbak?”


“Tidak, kenapa


perusahaan ini masih memperkerjakan orang yang sedang hamil tua. Harusnya kamu


sudah ambil cuti atau resign, biar nggak jadi beban perusahaan.” Nyinyirnya,


dia ingin Gita lekas tidak di kantor agar dia bisa datang dengan bebas menemui


Gilang di kantor.


“Untunya perusahaan ini

__ADS_1


masih punya hati, perusahaan ini hanya tidak memperkerjakan perempuan gatel


saja.” Katanya sambil jalan meninggalkan Lia tanpa permisi.


“Sialan!” umpatnya yang


di dengar Gita. Gita puas biasa membalas telak Lia.


“Bersyukur aja nggak


ada Fara, bisa-bisalo di cakar-cakar kalau ada dia.” Gumam Gita.


Gita pulang lebih awal,


dia sudah tidak mood bekerja. Gita pun memilih pulang ke rumah mamanya daripada


kerumah Gilang. Dia ingin menenangka diri.


“Mama.” Kata Gita saat


turun dari taksi.


“Sayang, pelan-pelan


jangan lari-lari nanti cucu mama kenapa-kenapa lagi.” Wanda langsung menyambut


putrinya itu.


“Kok kamu kesini naik


taksi kemana suami kamu?” tanya Wanda sembari menggandeng putrinya itu.


“Ada di kantor, itu


tadi Gita pulang duluan, Kak Gilang masih ada meeting.” Ujarnya.


“Oh, kamu mau makan apa


biar mama bikinin?” kata Wanda.


“Gita mau minum jus


mangga, sama mau makan nasi goreng bikinan mama.” Katanya sambil merebahkan


tubuhnya.


“Baiklah, tunggu ya


mama buatin.”


“Makasih mamaku


tersayang sepanjang masa. Oiya ma, Rafa kemana kok sepi banget?” Gita celingukan


mencari keponakannya.


“Lagi ke rumah neneknya,


nanti sore palingan baru pulang.”


“Ma, Gita mau nginep


sini deh.” Kata Gita sambil berjalan mendekati mamanya.


“Ya nginep saja. Kamu udah


bilang sama Gilang?” tanya Wanda.


“Belum sih.” Gita


sedang malas berbicara dengan Gilang.


“Ya kalau begitu kamu


telpon dulu Gilang, bilang kalau mau menginap. Nanti kamu bikin panik semua


orang loh kalau nggak pamit.” Kata Wanda.


“Iya Ma. Gita boleh


nggak tidur sama mama malam ini.” Gita melihat mamanya yang sedang memasak.


“Ya boleh, papa kamu


juga sedang keluar kota. Kamu kok tumben sih mau manja-manja sama mama?” Wanda


heran.


“Iya, lagi kangen. Gita


kangen banget ngumpul sama Mama, Papa, Kak Genta, Kak Qila, Raka. Gita kangen


banget masa-masa kecil Gita.”  Kenangan


,ulai terlukis di benak Gita. Rumah yang sangat nyaman, dan bikin dia


merindukan kehangatannya.


“Kamu nggak sedang ada


masalah sama Gilang kan sayang.” Wanda menatap cemas putrinya yang bertingkah


sangat aneh.

__ADS_1


“Nggak Ma, Gita sama


Kak Gilang baik-baik saja kok. Gita cuma kangen.” Ujarnya.


__ADS_2