
“Udah nggak ngambek
kan?” Gilang mengangkat kepalanya hingga berpandangan dengan Gita.
Gita tersenyum saja,
dia juga tidak mungkin bisa ngambek lama-lama yang ada dia mau manja terus sama
Gilang.
“Aku janji nggak akan
ulangi lagi sayang, hp aku akan on selalu dua puluh empat jam.” Gilang
mengangkat dua jari berbentuk V.
“Iya sayang.” Katanya.
“Kan sekarang sudah
tidak marah, aku mau makan siangku dong.” Kata Gilang duduk di sebelah Gita.
“Sarapan? Kak Gilang
belum makan siang?” tanya Gita sambil menengok kanan kiri mencari letak
makanan.
“Belum, bahkan nih
belum sarapan jadi semakin lemas.”
“Kenapa nggak buruan
makan gimana kalau sakit.” Gita beranjak dari sofa untuk menyiapkan makanan
Gilang.
Gilang menahan Gita
agar tidak pergi, “Mau kemana?”
“Siapin makanan buat
kamu.”
Gilang menghela napas
panjang, kemudian mendekat ke telinga Gita, “Aku mau peluk cium kamu yang
sangat enak itu.” Bisiknya membuat wajah Gita langsung memerah.
“Jangan aneh-aneh deh,
ini di kantor.” Kata Gita sambil memukul Gilang pelan.
“Biarin, kantor juga
kantorku sendiri. Lagian kamu sih tadi nggak kasih jadi kan aku lemas sekarang
tak berdaya. Hanya peluk cium kamu yang membuat aku berenergi.” Goda Gilang
membuat wajah Gita semakin memerah.
“Bisa aja.” Gita
menggelengkan kepalanya.
Gilang semakin gemes
banget sama Gita, dia mendekatkan wajahnya dia ingin sekali vitamin yang
membuatnya semakin semangat menjalani harinya. Bibirnya sudah menepel hanya
saja langsung menarik diri lagi setelah ponselnya berdering.
“Ck! Siapa sih ganggu
saja.” Katanya kesal. Sedangkan Gita hanya tersenyum melihat suaminya yang
marah-marah.
Gilang melihat sekilas
lalu menaruh ponselnya, panggilan tak ada nama masuk ke ponsel Gilang.
“Kenapa nggak di
angkat?” tanya Gita. Dia mengambil ponsel Gilang.
“Nggak penting.”
Katanya sambil mengambil ponselnya dari tangan Gita. Dia mereject panggilan
yang masuk lagi.
Gita melipat kedua
tangannya di dada lalu menyenderkan punggungnya. Dia sepertinya tahu siapa orang
yang terus menelpon Gilang. Wajah cerahnya langsung berubah, bibirnya manyun
lagi.
__ADS_1
“Baru juga mau baikan,
udah begini lagi. Gagal lagi deh dapat asupan vitaminya.” Batin Gilang. Dia
ikut menyenderkan punggungnya. Dia menarih tangan Gita.
“Selamanya kamu adalah
perempuan paling cantik, dan tidak akan pernah ada yang menggantikannya. Mau
banyak godaan yang datang aku akan tetap mencintaimu.” Kata Gilang. Dia tidak
mau Gita berpikir aneh-aneh tentang dirinya.
Tok..tok..tok...
“Permisi Pak.”
“Ya Lila, ada apa?”
“Itu Mbak Lia sama Pak
Bimo datang ingin bertemu dengan bapak sekarang, mereka sudah ada di depan.” Kata
Lila.
Gilang menghela napas
panjang, “ Kan saya sudah bilang cancel semua meeting, bilang saja saya sedang
keluar.” Gilang tidak mau menemui Lia
dan Pak Bimo.
“Suruh masuk saja mbak,
kasian kan sudah datang jauh-jauh.” Gita beranjak dari sofa untuk keluar dari
ruangan Gilang.
“Sayang.” Gilang
mencoba menahan tangan Gina namun Gita melepaskannya.
“Temui dulu cliennya,
kamu harus profesional. Kita disini hanya sebatas karyawan dan bos. Jadi kalau
kamu harus profesional.” Gita mengusap pipi Gilang lalu berjala keluar.
“Hah! Kenapa pakai
acara datang segala sih. Merusak segalanya.” Kata Gilang dengan kesal.
“Sabar Pak, ini ujian.
“Ck, udah suruh mereka
masuk.” Katanya sambil duduk ke kursinya.
Gita berjalan sambil
ngedumel, karean semenjak kehadiran Lia dia dan Gilangsering banget berantem,
lebih tepatnya Gita di buat kesal tiap hari.
“Dasar perempuan genit
tidak tahu diri, memangnya di negara yang penduduknya padat ini nggak ada apa
cowok singgel yang dia suka sampai-sampai suami orang di incer juga.” Omelnya
sambil melirik kearah Lia saat mereka bediri sejajar.
“Permisi.” Lia
menghentkan langkah Gita.
“Iya.” Jawab Gita senatural mungkin agar dia tidk
terlihat kalau dia jengkel sama perempuan yang mengincar suaminya itu.
“Anda ini karyawan
disini kan?”
“Kalau gue disini tentu
saja gue karyawan sini.” Batin Gita ingin sekali dia teriak di telinga Lia. “Iya,
kenapa ya mbak?”
“Tidak, kenapa
perusahaan ini masih memperkerjakan orang yang sedang hamil tua. Harusnya kamu
sudah ambil cuti atau resign, biar nggak jadi beban perusahaan.” Nyinyirnya,
dia ingin Gita lekas tidak di kantor agar dia bisa datang dengan bebas menemui
Gilang di kantor.
“Untunya perusahaan ini
__ADS_1
masih punya hati, perusahaan ini hanya tidak memperkerjakan perempuan gatel
saja.” Katanya sambil jalan meninggalkan Lia tanpa permisi.
“Sialan!” umpatnya yang
di dengar Gita. Gita puas biasa membalas telak Lia.
“Bersyukur aja nggak
ada Fara, bisa-bisalo di cakar-cakar kalau ada dia.” Gumam Gita.
Gita pulang lebih awal,
dia sudah tidak mood bekerja. Gita pun memilih pulang ke rumah mamanya daripada
kerumah Gilang. Dia ingin menenangka diri.
“Mama.” Kata Gita saat
turun dari taksi.
“Sayang, pelan-pelan
jangan lari-lari nanti cucu mama kenapa-kenapa lagi.” Wanda langsung menyambut
putrinya itu.
“Kok kamu kesini naik
taksi kemana suami kamu?” tanya Wanda sembari menggandeng putrinya itu.
“Ada di kantor, itu
tadi Gita pulang duluan, Kak Gilang masih ada meeting.” Ujarnya.
“Oh, kamu mau makan apa
biar mama bikinin?” kata Wanda.
“Gita mau minum jus
mangga, sama mau makan nasi goreng bikinan mama.” Katanya sambil merebahkan
tubuhnya.
“Baiklah, tunggu ya
mama buatin.”
“Makasih mamaku
tersayang sepanjang masa. Oiya ma, Rafa kemana kok sepi banget?” Gita celingukan
mencari keponakannya.
“Lagi ke rumah neneknya,
nanti sore palingan baru pulang.”
“Ma, Gita mau nginep
sini deh.” Kata Gita sambil berjalan mendekati mamanya.
“Ya nginep saja. Kamu udah
bilang sama Gilang?” tanya Wanda.
“Belum sih.” Gita
sedang malas berbicara dengan Gilang.
“Ya kalau begitu kamu
telpon dulu Gilang, bilang kalau mau menginap. Nanti kamu bikin panik semua
orang loh kalau nggak pamit.” Kata Wanda.
“Iya Ma. Gita boleh
nggak tidur sama mama malam ini.” Gita melihat mamanya yang sedang memasak.
“Ya boleh, papa kamu
juga sedang keluar kota. Kamu kok tumben sih mau manja-manja sama mama?” Wanda
heran.
“Iya, lagi kangen. Gita
kangen banget ngumpul sama Mama, Papa, Kak Genta, Kak Qila, Raka. Gita kangen
banget masa-masa kecil Gita.” Kenangan
,ulai terlukis di benak Gita. Rumah yang sangat nyaman, dan bikin dia
merindukan kehangatannya.
“Kamu nggak sedang ada
masalah sama Gilang kan sayang.” Wanda menatap cemas putrinya yang bertingkah
sangat aneh.
__ADS_1
“Nggak Ma, Gita sama
Kak Gilang baik-baik saja kok. Gita cuma kangen.” Ujarnya.