
Aiden menikmati liburan di rumahnya, bahkan dia juga tidak menghidupkan ponselnya. Dia sedang ingin menghabiskan waktu tanpa gangguan dari orang-orang.
“Ma, Ai ikut mama ke kantor ya?” Aiden sedang ingin nempel sama mamanya terus.
“Tumben ada apa?” tanya Gita. Dia memberikan roti yang baru saja di olesi selai coklat.
“Pingin saja.” Kata Aiden sembari menggigit rotinya.
Gita menatap Aiden heran, anak ini berbeda semenjak kepulangannya kemarin. Gita mendadak takut anaknya itu sakit namun menutupinya.
“Kamu sakit?” Gita menaruh roti yang di tangannya. Dia mengecek kening Aiden.
“Ai nggak sakit ma, sehat kok,” Aiden menurunkan tangan mamanya. Dia menatap sembari tersenyum untuk meyakinkan sama mamanya kalau dia baik-baik saja.
“Kita periksa ya, mama nggak mau kalau kamu bohongi mama. Jangan-jangan kamu sakit keras tapi nggak mau bilang sama mama,” Gita terlalu cemas, dia tidak biasa melihat anaknya yang terlalu manja.
“Ada apa sayang?” Gilang menarik kursi lalu duduk serta mempethatikan istrinya yang wajahnya tegang.
“Sayang, ayo kita ke rumah sakit buat cek Ai," ajak Gita.
“Kamu sakit nak?” Gilang melihat ke arah Aiden. Namun Gilang tak melihat wajah anaknya itu sakit, dia tampak fresh dan sehat.
“Nggak pa, mama aja yang aneh. Orang Ai nggak apa-apa kok mau di bawa ke rumah sakit,” ujar Aiden.
“Sayang, kamu kenapa sih kok tiba-tiba mau cek ke rumah sakit. Atau kamu yang sakit?” Gilang balik mencemaskan Gita.
“Nggak sayang, habis Ai aneh dari kemarin pulang. Manja banget sama aku, aku takut kalau Ai sakit keras,"tuturnya.
“Mama mah kebanyakan nonton drama,” Aiden menggelengken kepala.
“Benar Ai," Gilang setuju. Gita memang tal berubah sejak sekolah sampai sudah punya anak masih suka nonton drama.
“Memangnya kenapa sih, orang cuma mau memastikan anakku,cintaku ini sakit apa enggak.”
Aiden berdiri lalu memeluk mamanya. “Ai, sehat mama. Mama jangan cemas.”
Gilang pun beranjak memeluk anak dan istrinya. “Papa kan juga mau di peluk. Masa kamu pelukin mama terus, haruskah punya anak cewek biar juga dekat sama papa.”
“Papa ngomong apa sih, kita berdua sayang sama papa kok,” Gita tiba-tiba mewek.
“Iya Pak, Ai sayang kok sama papa. Buktinya Ai suka minta uang sama papa.”
“Kamu itu ya,” Gilang mengacak-acak rambut Aiden.
“Tapi Pa, kalau mau buat adik perempuan Ai setuju loh.”
__ADS_1
“Udah-udah, sekarang makan. Nanti papa telat ke kantornya.” Gita mengalihkan pembicaraan.
Baru saja mereka duduk untuk meneruskan sarapan Bik Siti datang, mengatakan bahwa ada teman Aiden. Aiden pun bergegas keluar.
“Erina ada apa?” tanya Aiden.
“Ai, bisa ngobrol sebentar nggak. Gue ngganggu lo sarapan nggak?”
“Nggak. Duduk gih. Lo mau minum apa?”
“Nggak usah, gue cuma mau ngomong sebentar kok.”
“Ya. Apa?”
“Em, gue mau pindah sekolah sama lo dan Rafa. Bisa nggak lo bantuin gue pindah ke sana?” ucap Erina harap-harap cemas.
“Kenapa? Ada yang menindas lo lagi ya.”
“Nggak ada, gue cuma mau lebih dekat sama Rafa.”
“Lo sudah bilang Rafa kalau mau pindah?”
“Belum sih, cuma kemarin waktu telpone katanya lo lagi di sini. Jadi gue samperin saja. Mau buat kejutan kalau lo bisa bantuin gue pindah.”
“Makasih ya, maaf ngerepotin lo.”
“Nggak. Lo sudah bilang ke sekolah, dan menyiapkan berkas-berkasnya belum.’
“Sudah kok, gue tinggal pindah saja.”
“Kalau begitu, lo siap-siap dulu saja. Nanti gue samperin ke kosan,” pinta Aiden.
“Ok, Ai. Gue balik ke kos dulu ya.”
Setelah kepulangan Erina, Aiden langsung bersiap untuk balik lagi ke rumah neneknya.
“Sayang, kamu jadi mau ikut mama nggak?” tanya Gita yang sudah siap pergi ke kantor.
“Nggak ma, Ai mau ke rumah nenek sekarang.”
“Loh, loh kenapa?” Gita di buat bingung sama Aiden. Kemarin bilang mau manja-manja dan tidur sama mamanya tiba-tiba mau pulang ke rumah neneknya.
“Yes, akhirnya kamar aku kembali lagi. Jadinya aku bisa tidur sama kamu,” ucap Gilang girang.
“Ih, sayang kamu kok nggak ada cemas-cemasnya sih sama AI.” Gita manyun.
__ADS_1
“Ai kan anak cowok, sudah dewasa pula pasti kan tahu apa yang harus dia kerjakan. Jadi kamu jangan banyak cemas,” kata Gilang.
“Kamu mah selalu saja begitu.”
“Benar kata papa ma, kalau Ai sudah besar. Ai juga nggak ada masalah apa-apa jadi mama jangan cemas. Ai cuma mau nganterin teman Ai pindah sekolah yang sama.”
“Beneran?”
“Iya mama sayang, makanya mama buruan buat adik biar mama ada teman baru,” Ai mencium pipi Gita. Kemudian mencium punggung tangan Gilang dan memeluknya.
“Ai, berangkat dulu. Besok kalau liburan Ai pulang lagi.” Aiden berlari sembari melambaikan tangan.
“Anak kita sudah besar, aku merindukan Ai yang terus mengikuti aku,” ucap Gita dengan memandangi anaknya yang sudah remaja.
Bagi Gita waktu berjalan sangat cepat, kemarin seperti baru saja bisa merangkak, kini sudah remaja.
“Sudah jangan mewek lagi, apa kita batalin saja ke kantornya. Kita bikin adik buat Ai?” Gilang menggoda Gita.
“Nggak ada, ayo buruan ke kantor.” Gita mengambil tas yang dia taruh di atas meja.
Gilang menarik tangan Gita. “Semalam kan aku belum dapat jatah gara-gara Ai.”
“Sayang jangan aneh-aneh deh, malu tahu dilihatin Bik Siti sama Beni. Sudah yuk di kantor banyak kerja,” Gita menarik balik tangan Gilang agar segera ke mobil.
“Nggak mau, mau minta vitamin dulu sama kamu.”
“Udah nanti malam saja, kan Ai juga nggak pulang,” kata Gita.
“Ok, nanti malam doubel sampai pagi,” ujar Gilang sembari menggandeng Gita.
Gita hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang kadang-kadang aneh.
*****
Aiden mencarikan kos yang terdekat dengan rumah neneknya, dia tidak mungkin membawa Erina menginap ke rumah neneknya. Karena isinya cowok-cowok semua meskipun ada neneknya.
“Lo yakin nggak mau ngabarin Rafa sekarang?” tanya Aiden.
“Nggak ah, gue mau bikin suprize di sekolah saja,” ujar Erina. Dia sudah membayangkan wajah kaget, senengnya Rafa kalau dia pindah ke sekolahnya.
“Baiklah, kalau gitu gue tinggal balik dulu ya. Sudah selesai semua kan?” tanya Aiden sembari menegcek barang bawaan Erina sudah di bawa masuk semua atau belum.
“Sudah kok, oiya nih gue beliin makanan tadi sebelum ke sini. Ini kesukaan Rafa, tolong kasiihin ya,” Erina memberikan dua kantong plastik berbeda. Satu untuk Aiden, Luki dan Ibob yang satunya untuk Rafa.
“Ok, thanks ya.”
__ADS_1