Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Gebetan


__ADS_3

Aiden menguap, lalu mengucek kedua matanya. Ia masih ngantuk sekali setelah begadang main band dan di lanjut game. Dia menyandarkan tubuhnya di gerbang besi rumah Rafa.


“Fa, lo kenapa sih ngajakin jogging. Gue masih ngantuk.” kata Ibob dengan menguap.


“Iya, mata gue ini nggak mau kebuka. Lengket kayak kena lem.” Keluh Aiden.  Dia hanya ingin menghabiskan hari minggunya dengan rebahan, kalau bisa tidur dan bangun lagi pagi hari.


“Lo kira-kira kenapa Fa, gue habis balapan, band terus main game masih saja di suruh jogging. Nggak ada ahlak benar lo.”  Luki berusaha membuka matanya yang sama dengan Aiden dan Ibob.


“Kalian tu ya, remaja-remaja jompo, lemah. Masa baru begitu saja sudah mengeluh, lagian ini ya jogging pagi hari ini membuat kita sehat. Biar imbang dengan apa yang di lakukan kemarin setelah begadang kita harus olah raga.” cerocos Rafa yang di abaikan dengan ketiga sahabatnya itu.


“Udah ayo.” Rafa berlari duluan, ketiga sahabatnya mengekor.


Setelah lima belas menit berlari mereka sampai di taman yang jaraknya tidak jauh dari perumahan Rafa. Rafa sibuk melakukan pemanasan, sedangkan Aiden langsung merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang di sediakan oleh taman. Luki dan Ibob mengikuti Aiden, mereka duduk di lantai di bawah Aiden, dengan bersandar di kursi yang di tiduri Aiden.


“Kalian kenapa malah tidur sih?” Rafa menggerakan tangan, ia melirik kearah sahabatnya.


“Udah lo lanjut saja joggingnya nggak usah pedulikan kami.” Ujar Aiden.


“Iya benar, “ sahut Ibob.


Udara pagi yang sejuk, sangat nyaman untuk melanjutkan tidur namun matahari tak bersahabat pagi ini dengan Aiden. Cahayanya sampai ke wajah Aiden, dia mengerjap-ngerjabkan matanya karena silau. Alhadil dia bangun dari tidurnya, dia duduk bersila di kursi.


Baru saja ia mau mengajak pulang Rafa, langsung ia urungkan niatnya saat melihat Rafa yang senyum-senyum dengan masih melakukan peregangan padahal sudah hampir lima belas menit peregangan dan masih pada bagian tangan.


Aiden mengarahkan pandangannya seperti dengan Rafa, ia melihat dua cewek yang sedang peregangan sambil bercanda-canda.


“Heh..bangun,” Aiden menggoyangkan Pundak Ibob dan Luki.


“Ada apa Ai?” tanya Ibob dengan suara serak.


“Gue tahu kenapa Rafa semangat banget jogging,” ujar Aiden.


“Apa?” Ibob melihat wajah Aiden.


“Noh..” Aiden menunjuk dengan jari telunjuknya.


“Ah.. Pantas banget kalau rajin jogging, ada inceranya ternyata.” kata Luki.


Luki meminta Aiden dan Ibob mendekat lalu berbisik. Aiden dan Ibob mengangguk-angguk.


Luki dan Ibob langsung bergerak melancarkan ide yang sudah di sepakati.


"Rafa, balik yok." ajak Aiden.


"Bentar, belum juga satu jam disini mau apa sih buru-buru pulang." Rafa menoleh kearah Aiden sembari menghentikan gerakannya.

__ADS_1


"Gue udah lapar nih,"


"Ya sebentar lagi, lima belas menit. Oiya, Luki sama Ibob kemana?" tanya Rafa saat saat dua sahabatnya sudah menghilang dari belakangnya.


Aiden menunjuk dengan dagunya, pandangan Rafa langsung menuju kearah yang di tunjuk Aiden.


"Eh.. Busyet, kenapa mereka ada disana?" Rafa kaget, Luki dan Ibob sedang nyamperin cewek yang selama ini dia incar, sampai rela jogging setiap hari libur demi melihatnya.


"Samperin ah.." Aiden berlari ikut samperin Luki sama Ibob.


"Eh.. tunggu." Rafa nggak mau ketinggalan.


Kedua cewek yang sedang di wawancarai Luki dan Ibob, shock melihat dua cowok tampan lagi yang menghampirinya. Tatapanya lurus, seperti membeku tidak berkedip sedikitpun.


"Ah.. Sila,Erina, kenalkan ini Aiden dan Rafa." Luki memperkenalkan Aiden dan Rafa.


"Hai." Aiden melambaikan tangan, sedangkan Rafa menunduk malu, namun dia senang sekarang tahu nama cewek yang sudah diincarnya selama hampir satu bulan. Bisa di katakan jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Seperti yang qgue bilang tadi, ada yang mau kenalan sama lo Sila." kata Luki.


Rafa langsung mengangkat kepalanya, Aiden pun langsung menunjuk ke arah Rafa takutnya salah paham karena Sila memandanginya terus.


"Bukan gue, tapi dia." Aiden menarik lengan Rafa dan memposisikan Rafa di depannya.


"Hai.."


"Sila, bisa minta nomor telponya, ya siapa tahu pertemanan kita bisa lanjut." kata Luki.


"Benar, kita kan satu sekolah yah." Kata Ibob.


"Satu sekolah?" Aiden keluar dari balik badan Rafa.


"Iya, Rafa mah fans berat cuma nggak mau bilang." kata Luki membuat Rafa malu, ia mengusap tengkuknya. Wajahnya memerah, rasanya mau kabur saja. Namun sayang disia-siakan bisa sedekat itu sama Sila.


"Kalau gitu bagi donk." Aiden mengambil ponsel Rafa di kantong celananya.


"Baiklah." kata Sila tanpa keberatan. Sebenarnya diantara tidak keberatan sama takut.


Setelah memberikan nomornya, Sila dan Erina berpamitan pulang lebih dulu.


"Ok kalian hati-hati." seru Ibob.


Aiden, Luki dan Ibob langsung memandangi Rafa.


"Kenapa kalian menatap gue seperti itu." Rafa makin canggung.

__ADS_1


"Hey boy, kenapa nggak bilang dari kemarin." kata Aiden.


"Bener, mana segala pakai acara jogging." sahut Ibob.


"Gue malu tahu, gue kan mau usaha sendiri." ucapnya.


"Usaha apa ngelihatin doang, keburu di ambil orang kali. Dah bali yuk, gue lapar plus ngantuk." Aiden menguap.


"Yok..yok.." Ibob pun setuju, dia juga sudah lapar.


"Makan sambil tidur bisa nggak sih." kata Aiden.


"Lo kayak orang sakit aja makan sambil rebahan." Ujar Luki.


"Luki, gue kan mau menghemat waktu. Jadi kalau kata pepatah sambil menyelam minum air."


"Kembung ntar lo," sahut Rafa mempercepat larinya.


Sesampai di rumah Rafa, mereka langsung masuk ke kamar. Rasa ngantuknya lebih mendominasi sehingga mereka berempat memilih tidur dulu.


"Anak-anak, sarapan dulu. Jangan tidur lagi." Fara membangunkan Aiden, Rafa, Luki dan Ibob di depan pintu kamarnya.


"Iya tante." jawab Ibob dengan membalikan badan.


sedangkan Aiden,Luki dan Rafa sama sekali tidak bergerak. Mereka sudah berada di alam bawah sadar. Merangkai mimpi-mimpi si pagi hari.


"Anak-anak bangun, atau tante siram kalian dengan air." seru Fara karena tidak ada respon dari keempat anak itu.


"Iya tante, bangun." mereka berempat langsung duduk.


"Ma, kita tuh tidak lapar. Kita ngantuk." kata Rafa.


"Iya Tante, nih mata kita kayak di lem." Aiden menunjukan kedua matanya.


"Tante nggak peduli, sekarang kalian pergi ke meja makan. Setelah makan baru kalian boleh tidur lagi."


"Baiklah." Ucap mereka berempat lemas.


"Buruan, nanti Om Raka marahin kalian loh. Om sudah menunggu lama di meja makan."


"Iya..iya.." mereka langsung bergegas ke meja makan.


Mereka berempat, memasukan nasi, sayur dan lauk ke piring cepat. Makannya pun sangat cepat biar bisa segera tidur.


Fara menggeleng kepala melihat kelakuan anak remajanya bersama teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2