
Sesuai janjinya Anita datang menemui Bayu. Anita mengatur napas dalam-dalam, mempersiapkan diri agar tidak menangis dan tidak baper. Dia harus kuat untuk menghadapi Bayu dengan cool.
Baginya kisahnya benar-benar harus selesai. Dia tidak mau dalam bayang-bayang pernikahanya dulu yang atas nama cinta namun hancur juga. Yang hanya akan menjadi penghalang kebahagiaanya.
"Kak.." sapa Anita saat sudah berada di meja tempat Bayu duduk.
"Hai sayang, ayo duduk." Bayu mempersilahkan Anita duduk.
"Kak,mulai sekarang jangan panggil Anita dengan sebutan sayang lagi." pinta Anita.
"Kenapa?"
"Nggak enak kalau di dengerin orang, apalagi kalau istri kamu dengar. Dia pasti akan sakit hati nanti." jelas Anita.
"Aku tidak peduli sama semua orang, terserah mau bilang apa, karena aku masih sayang kamu."
"Aku peduli Kak, pasti mereka akan menuduhku pelakor atau apalah itu. Kak biarkan hidup Anita tenang, kita jalani hidup masih-masing." Anita memohon. Anita menangis, dia capek menjalani semua ini.
Bayu masih sama egoisnya, dia hanya memikirkan perasaanya sendiri.
"Anita, aku masih sayang banget sama kamu. Aku akan ceraikan dia, aku tidak bisa hidup tanpa kamu." Bayu memegang kedua tangan Anita.
"Aku sama sekali belum menyentuhnya, hanya kamu. Tolong beri kesempatan aku sekali lagi." Bayu beranjak dari kursinya dan berlutut di hadapan Anita.
"Kak jangan seperti ini, ayo bangun." Anita menoleh kanan kiri melihat sekitar. Karena semua orang melihat kearahnya. Dia tampak menjadi orang yang jahat.
"Kak jangan seperti ini,"
"Aku akan melakukan apapun asal kamu mau kembali sama aku." Bayu masih memohon kepada Anita.
"Maaf Kak, Anita sudah tidak bisa." Anita semakin hancur saja, kalau di tanya masih cinta tentu saja. Tapi dia tidak mau melakukan kesalahan yang sama lagi.
"Kenapa? apa kamu sudah melupakan semua kenangan kita, perjuangan kita. Atau karena Vian?" Bayu langsung teringat omongan Gita kalau Anita mau menikah dengan Vian.
"Jangan menyalahkan orang lain yang tak ada hubunganya. Aku pernah memberikan kesempatan sama kamu. Tapi kamu mengabaikanya, saat ibu kamu menghinaku kamu diam saja, saat aku di katai apa kamu pernah membelaku? Tidak kan." Bayu terdiam, selama itu dia membiarkan Anita tersiksa sendiri.
__ADS_1
"Dulu aku terima semua penghinaan keluarga kamu karena ada kamu di sampingku. Namun saat kamu menyetujuhi pernikahan itu, kamu tutup mata saat aku di perlakukan tidak adil disitulah semua perasaan sama kamu berakhir." mengingat semua kenangan pahit itu membuka luka lama yang baru saja mau sembuh.
"Aku tahu aku salah Anita, aku minta maaf tolong beri kesempatan sekali lagi. Aku janji tidak akan pernah melakukannya lagi. Kita akan hidup bahagia berdua."
"Maaf Kak.. Nggak bisa, kamu sudah punya istri sekarang. Lakukan saja itu sama pasangan kakak." Anita melepaskan pegangan tangan Bayu, ia mengusap air matanya yang sudah membasahi seluruh wajahnya.
"Anita gue mohon, sekali ini saja lagi,"
"Kalau sudah nggak mau jangan di paksa." Vian yang datang langsung menepis tangan Bayu yang hendak memegang tangan Anita.
"Ngapain sih lo kesini, ganggu saja." Bayu kesal dengan kedatangan Vian yany mengganggu usahanya untuk mendapatkan hati Anita lagi.
"Lo yang ganggu nggak puas apa bikin hidup orang hancur."
"Vian, gue nggak ada urusanya sama lo. Jadi silahkan pergi dari sini." Bayu mengusir Vian dengan nada yang masih sopan meskipun dengan nada penekanan.
"Semua yang menyangkut dengan Anita menjadi urusan gue juga. Lo lupa kata-kata gue saat pernikahan kedua lo?" kata Vian.
Anita sedang mencerna ucapan Vian, apa maksudnya dia memajukan tubuhnya hingga dekat bahunya menempel di bahu Bayu.
"Cukup kalian berdua." seru Anita. Dia tidak mau ada perkelahian antara Bayu dan Vian. Dia tak mau ada yang terluka karena dia.
"Vian apa-apaan sih lo? Lepasin tangan Anita."
"Lo yang lepasin Anita, tidak sopan banget lo bawa pergi dia di depan calon suaminya." kata Vian dengan jelas.
Pernyataan Vian membuat Anita semakin tidak karuan.
"Gu-e tidak salah dengarkan?" batinya dengan memandangi Vian. "Anita sadar Anita, Vian pasti hanya asal ngomong hanya demi membantu lo." batinya lagi, ia menyadarkan dirinya agar tidak berharap lebih dengan ucapan Vian.
"Jangan sembarangan lo, Anita itu hanya milik gue. Dia cuma cinta sama gue"
"Siapa bilang?" Anita menarik tangannya dari Bayu. Dia memilih berakting dengan Vian agar tak di ganggu lagi dengan Bayu.
"Tuh, dengar. Anita aja sudah nggak suka sama lo. Masih saja di paksa-paksa. Urusin saja rumah tangga lo, jangan pernah gangguin calon istri gue lagi. Atau gue akan menghancurkan lo sampai akar-akarnya." ancam Vian.
__ADS_1
"Kak, mari kita hidup bahagia dengan jalan masing-masing. Kak Bayu dengan istri, dan aku dengan Vian." pinta Anita.
"Dengar tuh, makanya selagi aja jangan pernah di sia-siakan." Vian menepuk pundak Bayu.
Vian menggandeng tangan Anita membawanya pergi keluar kafe itu.
Sesampai di depan kantor Anita langsung menarik tanganya Vian takut dilihat orang-orang.
"Makasih ya sudah bantuin gue." Kata Anita.
"Sama-sama."
"Kalau gitu gue masuk dulu ya." pamit Anita.
"Jadi cuma makasih doang nih?"
"Em?" Anita menoleh ke arah Vian.
"Traktir gue makan dong sebagai ucapan terima kasih lo. Gue lapar, gara-gara bantuin lo jadi belum sempat makan." kata Vian.
"Benar, dia adalah Vian sabahat gue. Bukan Vian yang mencintai gue." Batin Anita. Dia merasa yang ada di hadapanya adalah Vian yang dulu. Vian yany dia kenal bertahun-tahun.
"Mungkin kemarin hanya khilaf." batinya lagi.
"Anita, kok malah bengong sih." Vian menyadarkan lamunan Anita.
"Ya udah lo mau makan dimana?" Anita pun bersikap seperti dulu saat masih bersahabat.
"Nanti saja, ini kan sudah jam kerja. Pulang kerja nanti gue tagih ya." Vian tersenyum lalu berjalan lebih dulu.
"Ah.. Kenapa perasaan gue jadi begini sih. Vian lo ya benar-benar, gue udah menghindar agar lupa pakai minta traktiran lagi. Dasar nggak berprikemanusian banget deh." omel Anita.
"Nit, ngapain masih disitu ntar di gangguin lagi sama Bayu. Calon suami lo ini nggak bisa setiap saat di samping lo." seru Vian.
"Heh.." Anita keget lalu tengak-tengok. "Sembarangan aja lo kalau ngomong. Gimana kalau anak-anak pada tahu." Anita panik.
__ADS_1
"Ya syukur kalau mereka udah tahu, jadi nggak perlu buat pengumuman." katanya enteng banget.
"Vian..." Anita mengejar Vian.