Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Keputusan


__ADS_3

Kyra melemparkan tasnya ke lantai, kemudian menjatuhkan diri ke kasur tanpa melepaskan atribut sekolahnya. Dia capek, terus di tekan kepada orang tuannya untuk mendapatkan nilai yang terbaik di sekolah.


Dia senang mendapatkan nilai tertinggi, namun dia juga tidak suka harus terus belajar tanpa ada bermain. Dia ingin seperti teman-temannya yang lain. Bisa menikmati masa-masa sekolahnya dengan bahagia.


“Kyra!” panggil mamanya.


Mamanya membuka pintu kamar Kyra, namun Kyra tak bergerak sama sekali. Dia tidur dengan telungkap untuk menyembunyika dirinya yang sedang menangis.


“Kyra, kamu kebiasaan kalau mama sedang ngomong pasti lari ke kamar. Memangnya dengan begini nilai kamu masih bisa stabil?” maki mamanya.


“Ma, cukup. Kyra capek.” Kyra bangun dari tidurnya, wahanya sudah di penuhi air mata.


“Kamu cuma sekolah yang bener saja capek, kamu nggak mikirin mama sama papa yang setiap hari cari uang buat kamu dan Nada.”


Kyra sudah kalah tak bisa membantah mamanya lagi kalau sudah menyangkut pekerjaan, dia memang belum bisa mendapatkan uang sendiri. Masih bergantung sama orang tuannya.


“Kyra, mama itu cuma pingin kamu sukses, kamu lihat saudara-saudara kita semua hidup enak,” mamanya terus membandingkan dengan keluarga besarnya yang semua hidup mapan. Makanya dia menekankan kepada anak-anaknya agar bisa hidup lebih mapan.


“Ma, tapi kira juga mau menikmati masa muda Kyra.”


“Bukannya kamu juga sudah menikmatinya, memangnya mau yang seperti apa?” tanya mamanya.


“Ma, Kyra juga butuh main sama teman-teman. Butuh sosialisasi sama mereka,” jelas Kyra.


“Tinggalkan semua yang tidak penting untuk kesuksesan masa depan kamu,” tegas mamanya.


Kyra menangis semakin menjadi saat mamanya meninggalkan kamarnya, dia tidak bisa melawan kehendak mamanya. Kyra mengambil ponselya, dia melihat pesan masuk dari Aiden.


Dia tersenyum melihat pesan dari Aiden, dia pun langsung membalasnya.


Aiden


Semangat ya, lo pasti bisa melewatinya


Kyra megusap air matanya, dia kaget melihat jawaban Aiden yang mendadak menyemangati dirinya.


“Apa Ai tahu soal ini, tapi tadi dia sudah pulang. Sebenarnya dia siapa sih, paranormal?” Kyra terheran-heran.


*****


Seperti ucapan mamanya, Kyra diantar dan juga di jemput mamanya sehingga tidak ada celah untuk dirinya pergi main.


“Selamat pagi Tante,Ky” sapa kris.


“Pagi, Kris.”


Kyra mengabaikan sapaan Kris, dia masih kesal karena ulahnya dia sama sekali tidak punya kesempatan untuk bermain.


“Dinda,” panggil Kyra saat melihat Dinda turun dari mobilnya.

__ADS_1


Dinda melambaikan tangan dan berlari mendekati mereka bertiga.


“Selamat pagi tante Selfi.” Dinda mengambil tangan Selfi lalu mencium tangannya.


“Pagi Dinda,” jawabnya.


“Kok tumben dianterin tante, apa Pak Herman cuti tante?” tanya Dinda.


“Nggak Din, memang setiap hari sekarang tante yang akan antar jemput Kyra.”


Dinda menatap Kyra, Kyra mengedipkan kedua matanya.


“Kalau begitu kalian buruan masuk,” suruh Selfi.


Kris tidak ikut jalan saat tahu kedatangan Aiden dan teman-temannya. Dia siap menjatuhkan keempat orang itu sehingga jauh-jauh dari Kyra.


“Tante, keempat orang itu yang mengajak Kyra main. Mereka itu sering mendapat hukuman. Takutnya kalau dia terus dibiarkan bermain sama Kyra akan mempengaruhi belajarnya.”


Selfi menghentikan langkah keempat anak itu, mereka yang sedang bercanda gurau langsung diam.


“Kalian teman sekelasnya Kyra?” tanya Selfi.


“Benar tante, ada yang bisa kami bantu?” tanya Aiden.


“Kamu siapa namanya?”


“Saya Aiden, ini Ibob, Luki dan Rafa.” Aiden memperkenalkan teman-temannya.


“Maksud tante apa ya?” tanya Rafa.


“Maksud tante itu, kalian semua jauh-jauh dari Kyra. Modelan kalian itu hanya membuat sengsara. Sudah miskin nggak ada semangat belajarnya,” ejek Kris.


“Jaga omongan lo.” Luki menarik kerah baju Kris.


“Lihatkan tante mereka seperti apa, nggak pantas kan mereka berteman dengan Kyra,” ujar Kris. Dia senang kalau mereka berempat terpancing emosi maka dia bisa memenangkan hati mamanya Kyra.


“Maaf tante, kita saja tidak temenan sama Kyra. Kita anak baru yang datang ke sini belum genap satu bulan,” jelas Rafa.


“Kamu jangan bohongin tante, kemarin kalian ajakin Kyra main kan,” tuduh Selfi.


“Tante, itu --,”


“Maaf tante, kami pemisi dulu,” Aiden memotong omongan Ibob saat bel berbunyi nyaring.


“Kris, kamu awasi kalau mereka main sama Kyra. Tante permisi dulu.”


“Siap, hati-hati tante.”


Kris penuh kemenangan, dia memiliki kesempatan untuk mendekati Kyra dan menjauhkan semua orang yang akan main sama Kyra dengan embel-embel perintah dari Selfi mamanya kyra.

__ADS_1


*****


“Dasar penjilat,” ucap Aiden kembali berjalan setelah mendengarkan pembicaraan Kris dan mamanya Kyra.


“Ai, kita pindah saja lah,” kata Rafa.


“Pacar lo saja yang suruh pindah, atau kalau lo mau pindah boleh. Tapi gue mau stay di sini,” ujar Aiden. Setelah berpikir panjang Aiden akan tetap tinggal di sekolah barunya.


“Apa karena Kyra?” tanya Luki.


“Sebagian kecil,” jawabnya dengan meninggalkan mereka bertiga.


“Eh, lo suka sama Kyra?” Ibob sedikit berlari agar bisa berjaan sejajar dengan Aiden.


“Belum.”


“Lalu apa alasan besar lo tetap mau di sini?” Ibob kepo.


“Pertama gue mau temani nenek yang sendirian, kedua bukannya lo nggak mau pindah Bob, dan yang ketiga sepertinya ada orang yang membutuhkan gue,” jelasnya.


“Ngomong saja lo mulai tertarik kan dengan Kyra, pakai alasan lain,” cetus Rafa.


“Ya bagus deh, apapun alasanya lo bakalan tinggal di sekolah ini kan,” Ibob senang jadi dia nggak jadi pindah sekolah lagi.


Aiden berhenti di depan kelas meraka, dia menatap ketiga sahabatnya.


“Gue tetap bakalan stay di sini bersama Ibob. Kalian berdua bisa kembali ke sekolah lama kalau kalian memang mau,” kata Aiden.


“Gimana kita bisa pindah kalau kalian saja masih di sini,” ujar Rafa. Dia juga ingin satu sekoalah dengan Erina tapi dia juga mau bareng teman-temannya.


“Itu tidak masalah kali, lagian kita keluarga masih bisa saling bertemu kan meskipun beda sekolah. Tapi sama Erina lo akan jarang bertemu kalau jarak jauh seperti ini,” jelas Aiden.


Rafa menggaruk kepalanya, dia bingung mau meneruskan sekolah di mana. Luki mengacak-acak rambutnya dia juga semakin bingung.


“Guys, sebenarnya tujuan kalian sekolah apaan sih?” tanya Aiden.


“Belajar.” jawab mereka bertiga serentak.


“Kalau memang tujuan kalian belajar, kita kesampingkan dulu masalah di luar itu. Kita sudah memilih sekolah ini waktu lalu, jadi kita harus lulus di sini dengan segala keadaannya.”


“Lo enak, orang yang lo sayang ada di sini,” Rafa manyun.


“Ya sudah lo cari lagi saja yang di sini,” ucap Ibob. Rafa mendelik mendengar perkataan Ibob, dia buka tipikal orang yang tidak setia.


“Luk, cewek cantik di sini kan nggak cuma Dinda. Lo bisa kan cari yang lain, jangan terlalu lemah lah,” kata Aiden.


“Benar, kalian main pindah-pindah saja. Apa nggak capek memenuhi berkas-berkasnya,” timpal Ibob.


“Aiden, Luki, Ibob, Rafa. Kenapa masih di sini, masuk!” perintah Bu Intan.

__ADS_1


“Iya Buk,” jawabnya sembari berlari masuk.


Mereka terlalu asyik berdiskusi sampai nggak sadar sudah hampir lima belas menit berdiri di depa pintu.


__ADS_2