
Malam tiba Aiden masih menginap di rumah Rafa bareng Luki dan Ibob. Mereka masih terlalu nyaman nangkring di kamar Rafa.
Aiden memainkan gitar dengan lagu ramdom, Luki dan Ibob sibuk main game. Sedangkan Rafa cemas memandangi ponselnya.
Aiden mengerutkan keningnya, ia beranjak dari kasur Rafa lalu menaruh gitar. Dia berjalan pelan tanpa suara, agar Rafa tidak sadar ada dirinya.
Aiden mengintip apa yang ada di ponsel Rafa sehingga membuatnya terlihat cemas.
"Ah.. Pasti nomor cewek tadi." batin Aiden. Ia merebut ponsel Rafa lalu menekan gambar telpon hijau.
"Ai..Ai.. Jangan woi.. Ai.." Kata Rafa gelagapan, ia mengejar Aiden yang sudah kabur menjauh darinya.
"Halo." terdengar suara lembut dari ponsel Rafa.
"Halo, ini gue yang tadi minta nomor lo. Rafa." kata Aiden.
"Hai, ada apa?"
"Rafa mau kenalan...Rafa mau kenalan.." teriak Ibob. Dia menghentikan gamenya lalu berlari mendekati Aiden.
"Ai.. Bawa sini Ai.." Rafa ingin merebut ponselnya namun di hadangi Ibob.
"Simpan ya nomernya, Rafa anak IPS, Gue tutup dulu telponya" kata Aiden.
Gelak tawa renyah memenuhi kamar Rafa, muka Rafa berubah merah padam. Ia merebut ponselnya.
"Lo gila Ai, muka gue mau taruh dimana?" katanya sambil mengirim pesan perminta maafan karena ulah sahabatnya.
"Fa, kalau lo emang suka sama seseorang buruan deh deketin dan tembak. Daripada nanti keduluan sama orang lain." nasehat Luki.
"Tuh dengerin dewa cinta lagi bicara." ujar Ibob yang langsung kena tabokan Luki.
"Pelan-pelan kali, kalau gini muka gue mau di taruh dimana coba."
"Pantat." kata Aiden tanpa dosa, di sahut gelak Luki dan Ibob.
"Sialan lo, dah sono pada balik. Bikin huru-hara lagi." Usir Rafa.
...----------------...
"Ai..bangun sayang. Lihat sudah jam berapa. Kamu tuh ya kalau di bilangin jangan begadang nggak nurut. Giliran bangun pagi susahnya minta ampun." Omel Gita sembari membuka tirai kamar Aiden.
Setelah itu Gita menarik selimut Aiden, agar anak lelakinya itu buruan bangun.
Aiden menggeliat, dia berusaha mencari selimutnya yang sudah menghilang dari badanya.
"Ai.. Bangun. Apa perlu mama panggilin papa." ancam Gita. Namun ancaman itu tak berlaku, Aiden masih saja terlelap.
"Ai mama hitung sampai tiga kamu tidak bangun, uang jajan mama potong satu bulan. Satu..dua.."
__ADS_1
Cup! Aiden bangun lalu mengecup pipi Gita, dan buru-buru kabur ke kamar mandi.
"Mama cantik deh kalau marah-marah, lebih cantik lagi kalau nggak marah-marah." katanya sambil menutup pintu kamar mandi.
Gita menghela napas panjang, kelakuan anak laki-lakinya selalu saja membuatnya pusing.
"Bapak sama anak sama saja." Ujar Gita sembari membereskan tempat tidur Aiden.
Aiden turun dengan malas, matanya masih ngantuk.
"Sekolah yang benar, jangan tidur di kelas." Gita mengambilkan nasi ke dalam piring Aiden.
"Ma, boleh ijin nggak sehari ini saja." Kata Aiden memohon kepada mamanya.
"Ijin apa?" Gita menaruh centong lalu duduk menatap Aiden.
"Ai demam ma." ucapnya dengan ekspresi lemas yang di buat-buat.
Gilang sejak tadi menahan tawa, memperhatikan tingkah anaknya. Yang persis banget sama mamanya dulu. Selalu saja mencari alasan kalau sedang tidak ingin melakukan suatu hal.
Gita beranjak dari kursi yang di dudukinya, ia memegang kening Aiden.
"Nggak panas kening kamu, bohongin mama kan."
"Memangnya demam harus panas ya ma, nggak kan?"
"Pa.." Aiden minta tolong sama papanya, siapa tahu bisa membantunya.
"Ai.. Masa baru berapa kali sekolah mau bolos sih nak."
"Dengar tuh papa. Papa itu selama sekolah nggak pernah bolas, mana sekolahnya pinter lagi." cerocos Gita.
"Iya deh. Jadi mama suka sama papa dulu gara-gara ganteng sama pinter ya?" tanya Aiden.
"Nggak, bukan mama dulu ya suka tapi papa."
"Benera Pak?" Aiden seperti tidak percaya kalau papanya lah dulu yang suka sama mamanya.
"Iya, Papa dulu yang ngejar-ngejar mama. Capek banget lama ngejarnya. Papa aja sampai mau putus asa. Kamu kalau mau cari pacar yang benar-bener baik contohnya seperti mama. Meskipun bukan cewek yang paling cantik tapi mama itu sangat istimewa."
Gita awalnya senyum-senyum menengar pujian Gilang. Namun lama-lama memudar saat mendengar tidak cantik.
"Ooo jadi aku tidak cantik ya." Gita ngambek.
"Bukan begitu sayang." Gilang panik.
"Ai nggak ikut-ikutan lo Pa." Aiden langsung kabur dari tempat makan. Ia tidak mau ikut campur perdebatan papa dan mamanya.
Cowok ganteng cool pasti saja naik mobil mewah ataupun mobil mewah. Namun beda dengan Aiden. Dia memilih memakai motor tua. Astrea grand dengan keranjang di depannya.
__ADS_1
Awalnya dia meminjam milik Beni supir di rumahnya, lama-lama ketagihan dan meminta papanya membelikan untuk kado ulang tahunya.
Aiden memarkirkan motornya bersanding dengan motor-motor mewah di sekolahnya. Anak-anak yang melihat saling berbisik, karena motor tua Aiden.
"Ganteng banget sih, tapi sayang motornya butut." bisik salah satu cewek kepada temanya saat melewati Aiden.
Beberapa murid laki-laki berdiri di depan Aiden, di lihat dari gelagatnya adalah Senior Aiden.
Aiden tak gentar, dia santai menunggu yang lain datang.
"Heh! Minggir lo!" seorang mengusir Aiden.
Aiden masih diam, dia justru makin asik memainkan ponselnya.
Braakk... Motornya di tendang olehnya.
"Lo budek ya!" bentaknya.
"Kalian ngomong sama gue?" Aiden menunjuk dirinya sendiri.
"Memangnya selain lo siapa disini?!" ucapnya kesal. Aiden menoleh sekitaran dirinya.
"Nggak ada sih." jawabnya masih santai.
Senior-seniornya menjadi semakin kesal dengan tanggapan Aiden yang santai bukanya takut.
"Pergi lo." usirnya pelan penuh penekanan.
"Ok." Jawab Aiden sembari membawa tas uang tadi ia taruh di kernjang depan motornya.
"Motor lo bawa bego!" ucapnya geregetan.
"Kan gue mau sekolah kenapa bawa motor segala?"
"Pindah motor lo, bikin merusak pemandangan saja."
"Buruan bawa pergi ini motor atau gue bakar disini juga. Motor lo ini nggak level bersanding dengan motor-motor kita."
"Baiklah." Aiden nurut saja apa yang di katakan seniornya.
Ia memakai helm lalu mengendarai motornya, ia memindah motornga parkir lumayan pojok.
"Itu baru benar, motor butut taruh dekat tempat sampah. Cocok tuh." serunya lalu pergi meninggalkan tempat parkir.
"Pada kenapa sih orang-orang itu, aneh banget." kata Aiden.
"Motor anggun, lucu nan imut itu kok di katain sampah." Aiden menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak tersinggung di katai oleh seniornya.
"Anak-anak mana sih, jam segini masih belum datang." Aiden celingukan memcari keberadaan ketiga sahabatnya.
__ADS_1