Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Kesal


__ADS_3

Mulai hari ini sekolahan Aiden sedang disibukan dengan ulangan tengah semester. Semua anak sedang sibuk belajar. Kantin pun dipenuhi dengan anak-anak yang sedang makan sambil belajar.


"Kepala mereka apa nggak panas ya?" tanya Ibob sama keempat sahabatnya melihat fenomena yang berbeda dengan sekolahnya dulu.


"Mereka dayanya besar, kalau lo mungkin udah konslet," ujar Aiden sambil tertawa.


"Udah membara api di kepalanya," tambah Rafa.


"Kayak kalian nggak aja," omel Ibob.


"Raf, Erina ikut Kyra sama Dinda ya, kok nggak kelihatan?" tanya Luki.


"Iya, ikut sindrome anak-anak sini ,"ujarnya.


Dan mereka berempat terlalu santai menjalani hidupnya. Mereka tidak terlalu peduli dengan nilai-nilainya.


Bel berbunyi, mereka hanya boleh membawa masuk bolpen saja. Tas dan ponselnya di kumpulkan di depan kelas agar tidak ada yang mencontek.


Aiden menaruh coklat di depan Kyra, dia tersenyum sembari mengedipkan mata kirinya yang membuat Kyra salah tingkah.


"Semangat," ucapnya lirih sembari berlalu ke tempat duduknya.


Kyra membuka coklat dan langsung memasukkan kedalam mulutnya. Coklat yang di berikan Aiden menjadi sumber energi Kyra, agar semakin semangat.


"Gimana, sudah mau tembak belum. Sudah ada sinyal-sinyal loh," senggol Dinda.


"Belum berani gue," bisik Kyra.


"Tinggal dua minggu waktu lo untuk mendapatkan tiket," Dinda mengingatkan Kyra.


"Iih, kok cepet banget sih," Kyra merasa baru beberapa hari ternyata sudah berjalan dua minggu dia mengenal Aiden.


"Ehem," Bu Intan berdeme. Kyra dan Dinda langsung duduk lurus, menatap soal di depannya.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, semua anak-anak berhamburan keluar dari kelas.


"Wah, kepala gue bisa botak mendadak nih," keluh Ibob setelah menyelesaikan soal-soal matematika.


"Benar, gue butuh makan banyak untuk tenaga," sahut Luki.


"Kenapa materi sama soal yang keluar berbeda. Mau menangis gue rasanya," ujar Dinda dengan menyenderkan kepalanya di pundak Kyra.


"Sayang, makan yuk lapar," Rafa menggandeng Erina.


"Gandeng terus, kayak mau nyeberang aja sih," celetuk Luki.


"Biar, orang ada yang di gandeng. Emang tangan lo penuh ke hampaan," ejek Rafa.

__ADS_1


Mereka langsung tertawa mendengar ejekan Rafa.


"Sialan lo," umpat Luki.


"Makan di restoran depan sekolah aja, selain menunya banyak kan makananya enak," rekomendasi dari Dinda.


"Ok, gue mah setuju. Gimana dengan kalian?" tanya Ai.


"Setuju," jawab serentak kecuali Kyra.


"Gue nggak ikut ya, soalnya ada les," kata Kyra. Dia sebenarnya mau ikut, tapi dia takut kalau mamanya marah yang akan semakin mengekangnya kemana-mana.


"Nggak apa-apa, kapan-kapan saja kalau lo mau ikut," ucap Dinda memahami sahabatnya itu.


"Gue duluan ya," Kyra melambaikan tangan sembari jalan duluan saat melihat mobil mamanya datang.


Kyra melihat ke spion, dia sangat iri karena tidak bisa seperti mereka. Bisa bermain bebas seimbang dengan belajarnya.


"Orang-orang seperti mereka itu yang akan gagal dimasa depan karena tidak menggunakan dimasa remajanya dengan serius. Terlalu banyak bercanda, melakukan hal-hal tak berguna," Kata Selfi. Dia memeperhatikan anaknya semenjak naik mobil.


"Setidaknya mereka bebas berpendapat dan melakukan apa yang mereka suka," jawabnya sembari melihat ke luar jendela.


"Memangnya mama pernah melarang kesukaan kamu?" ucap Selfi.


Perdebatan sepulang sekolah terjadi kembali. Dan tidak pernah ada solusinya, karena Kyra sendirian tak punya dukungan.


"Memangnya mama tahu apa yang Ky suka?" Kyra menoleh kearah mamanya.


...ΩΩΩ...


Kyra menaruh tasnya, dia duduk di kursi dengan di depannya tumpukan buku-buku materi untuk ulangan besok.


Kyra mendengus, dunianya ini hanya tentang belajar dan belajar. Dia juga ingin istirahat, reflesing, dan kumpul-kumpul bersama teman-temannya.


"Kyra," panggil mamanya.


Kyra diam tidak menyahut mamanya, dia masih kesal.


"Ky, ayo makan dulu baru belajar lagi." Kata mamanya diambang pintu.


"Kyra nggak lapar," jawabnya tanpa menoleh.


"Kalau gitu nanti kalau sudah lapar turun ya, jangan lupa makan. Nanti kamu sakit, besok kan masih ulangan." Wanda menutup kembali pintunya.


Kyra menelungkapkan kepalanya di meja, air matanya mengalir. Mamanya sama sekali tidak memahami dirinya. Setelah perdebatan di mobil pun, tetap saja tidak berubah.


Kyra belajar sambil menangis, dadanya sesak mengingat hidupnya yang bagai terpenjara. Kyra buru-buru memngusap air matanya saat mendengar pintu kamarnya terbuka.

__ADS_1


“Kak, Nara boleh masuk?” Kinara meminta izin untuk masuk.


“Hem,” jawabnya dengan berat. Dia berusaha sekuat mungkin agar suaranya seperti biasa.


“Kakak nggak lapar?” Nara naik di kasur, dia rebahan sembari membawa buku pelajarannya.


“Nggak.” Kyra menjawab semua pertanyaan dengan singkat, dia sedang tidak mau berbicara dengan siapa-siapa. Dia ingin sendirian merenungi semuanya.


“Nanti kakak sakit, Bik Imah masak kesukaan kakak loh,” Nara mencoba membujuk Kyra.


Kyra hanya diam, seenak apa pun masakannya tidak akan mengembalikan moodnya saat ini.


“Mau Nara bawakan ke sini?” Nara menawarkan diri untuk melayani kakaknya yang sedang ngambek nggak mau makan dengan senang hati.


“Nggak perlu.”


Kinara menghela napas panjang, segala usahanya membujuk kakaknya makan tidak mempan.


“Atau kakak mau sesuatu, biar Nara bawakan ke sini?” Kinara masih terus berusaha.


“Nggak usah repot-repot, kamu belajar yang benar saja. Nanti kalau nilai kamu jelek bisa di marahin mama,” katanya dengan masih sibuk membolak-balik buku dihadapannya.


“Kak Kyra marah sama Nara?” Nara menaruh bukunya.


“Kenapa harus marah, memangnya kamu salah apa?” ujarnya.


Nara melihat ponsel Kyra yang bergetar, dia ngecek siapa yang menlponnya ternyata telepone masuk dari Kris.


“Kak, ada telpone dari Kak Kris,” kata Nara.


“Biarkan saja,” Kyra tidak mau mengangkat telponnya.


Nara menaruh ponsel Kyra, dia mengacak-acak rambutnya. Bagaimana cara membuat kakaknya mood lagi. Dia tidak mau di cuekin kakaknya. Telpone kembali berdering namun dengan nama yang beda. Kali ini panggilan dari Aiden.


“Kak, telpone --,”


“Biarkan saja,” Kyra memotong ucapan Nara. Dia kesal adiknya terlalu banyak bicara malam ini.


“Tapi ini Kak Aiden,” katanya sembari meletakkan ponselnya.


“Ai,” ucapnya sembari membalikan badan. Kyra beranjak mengambil ponselnya setelah melihat anggukan Kinara.


“Iya Ai, ada apa?” katanya sembari menempelkan telepon di telingannya.


“Gue ada di bawah, lo bisa keluar sebentar?” kata Aiden.


“Iya, gue keluar sekarang,” ucap Kyra sembari memutus sambungan teleponnya. Dia bergegas turun untuk menemui Aiden.

__ADS_1


Kinara sekarang tahu siapa yang mengembalikan semangat kakaknya itu, orang yang bisa membuar matanya berbinar lagi setelah sejak pulang sekolah muram.


“Jadi Kak Aiden moodbooster kakak,” ujarnya mengangguk-anggukkan kepala. Kinara ikut berlari keluar melihat seperti apa orany yang membuat kakaknya langsung happy.


__ADS_2