
Gita meregangkang
kedua tangannya, dia melihat ke samping Gilang sudah tidur di sampingnya. Dia
mencium Gilang lalu beranjak dari kasurnya. Gita menyuiapkan baju untuk Gilang
ke kantor. Gita juga menyiapkan air hangat untuk Gilang, rutinitas setiap
harinya.
“Bik, udah bikin sarapan untuk Kak Gilang?” tanya Gita.
“Sudah dong pastinya Mbak.”
“Bik, besok-besok bangunin Gita pagi ya soalnya kan Gita udah
cuti kerjanya jadi biar bantuin bibi.” Kata Gita sembari membuatkan teh hangat
untuk Gilang.
“Mbak Gina udah cuti, wah seneng deh akhirnya mbak Gina bisa
istiraht juga.” Kata Bibi.
“Iya bik, pokoknya bibi harus temani Gita.”
“Pasti Mbak Gina.”
“Sayang..” panggil Gilang.
“Iya. Sebentar ya Bik.”
“Iya Mbak, hati-hati.”
Gita mendorong pintu kamarnya, “Ada apa sayang?”
“Tolong benerin dasi aku dong.” Gilang nyengir.
“Manjanya suami aku.” Kata Gita sembari nyamperin Gilang.
“Kapan lagi bisa manja-manjan sama kamu di pagi hari,
biasanya kita sibuk sendiri-sendiri.” Kata Gilang.
“Iya juga, em semalam pulang jam berapa?” Kata Gita dengan
masih merapikan dasi Gilang.
“Jam dua kalau nggak salah.”
“Larut banget ya pulangnya.” Kata Gita dengan sangat pelan.
“Kenapa? Kamu nggak percaya kalau aku benar-benar kerja.”
Gilang was-was kalau Gita tidak percaya sama dia.
Gita tersenyum, “Tentu saja aku percaya sama kamu. Kamu jangan
pulang larut terus, kamu juga harus jaga kesehatan.” Gita mengusap rambut
Gilang selesai merapikan dasinya.
“Iya sayang, pasti aku usahakan.”
“Kalau begitu sekarang kau sarapan, kalau ada waktu untuk
tidur di mobil tidur saja jangan bekerja terus. Pasti kamu kurang tidur
akhir-akhir ini.” Kata Gita.
“Iya sayangnya aku.” Gilang mencium perut Gita.
Gilang sudah berangkat kerja, Gita mulai bingung mau ngapain
di rumah. Dia sudah mulai gabut meskipun masih pagi. Gita pergi ke dapur
melihat piring masih menumpuk di wastafel Gita berinisiatif untuk membantu bik
Siti.
“Mbak Gita, mau ngapain?” langsung di tahan sama Bik Siti.
__ADS_1
“Mau cuci piring.” Kata Gita.
“Ini kerjaan Bik Siti, Mbak Gita duduk-duduk saja nonton tv
atau rebahan sambil main hp saja.” Bik Siti menggandeng tangan Gita dan di bawanya
ke sofa.
“Kalau Mbak Gita membutuhkan sesuatu, panggil saja bibik
nanti bibik datang.” Kata Bik Siti sembari kembali ke dapur.
“Bik Siti mah, terlalu memanjakan Gita.” Gita beranjak dari
sofa untuk mencari sesuatu yang bisa dia kerjakan.
Gita tersenyum melihat sapu dan pel, dia menoleh kanan kiri
agar tidak di lihat oleh Bik Siti. Tangannya gatal sekali ingin melakukan
aktivitas. Baru saja selesai sapu dan mau mulai mengepel udah ketahuan Bik Siti.
“Mbak Gita jangan bandel deh, ini semua itu pekerjaan bibik
jangan di ambil dong. Nanti bibik makan gaji buta lagi.” Bik Siti langsung
merebut pel di tangan Gita.
“Bik biarin Gita bantuin bibi ya, please. Gita gabut banget
mau ngapain coba.” Gita memohon.
“Mbak Gita itu istirahat saja, menikmati secangkit teh sama
cemilan. Nanti kalau Mas Gilang tahu bibik bisa di marahin loh. Mas Gilang
sudah pesan kalau Mbak Gita nggak boleh ngapa-ngapain.” Kata Bik Siti.
Gilang tahu kalau Gita tidak akan bisa diam di rumah, makanya
dia berpesan sama Bik Siti untuk mengawasi Gita.
melakukan apa-apa. Dia hanya membolak-balikkan tubuhnya di kasur.
“Mau ngapain ya, mau telpon sama teman-teman juga pasti sibuk
kerja. Telpon Kak Gilang juga sibuk.” Gita menghela napas panjang.
Dia menatap langit-langit, seakan mencari ide apa yang bisa
dia lakukan di kegabutannya.
“Eh.. udah lama juga gue nggak telpon sama Anita. Sekarang keadaan
dia bagaimana ya?” Gita mengingat Anita. Dia mengambil ponselnya lalu menelpon
Anita.
“Halo,” tak selang lama telpon Gita pun langsung tersambung.
“Halo Anita, apa kabar?”
“Baik Git, lo gimana?”
“Baik, em ngomong-ngomong lo ada dimana sekarang?”
“Ada di rumah.”
“Jogja?”
“Nggak, di rumah lama gue. Lo nggak kerja?”
“Gue udah cuti, lo ada waktu nggak? Atau lo sedang sibuk apa
gitu?” tanya Gita.
“Gue lagi nggak ada kerjaan kok, kalau begitu kita ketemu
yuk.” Ajak Anita.
“Ayo, ketemu dimana?”
__ADS_1
“Terserah lo aja mau ke mana gue ngikut.” Kata Anita.
“Ok..ok, gue nanti share ya tempatnya. Sekarang gue siap-siap
dulu.” Gita mematikan sambungan telponya dan bergegas untuk siap-siap pergi.
Semenjak mereka lulus SMA jarang sekali bertemu, Anita yang
meninggalkan kota dan tinggal bersama Bayu di jogja menjadi batasan mereka
bertemu. Mereka hanya sesekali bertukar kabar, dan ketika ada kesempatan Gita
langsung mengambilnya.
“Bik..bibik.” Panggil Gita.
“Iya mbak Gita. Loh.. mbak Gita mau kemana?” Bik Siti
mengerutkan keningnya saat melihat Gita sudah rapi.
“Mau ketemu teman Bik. Gita pergi dulu ya.”
“Tunggu, Mbak Gita nggak naik mobil sendiri kan?” tanya Bik
Siti.
“Memangnya kenapa kalau Gita bawa mobil sendiri Bik?” Gita
heran.
“Kata Mas Gilang nggak boleh, kalau Mbak Gita mau pergi harus
di antar Bani.” Jelas Bik Siti.
“Gita masih bisa kali bik, biarin saja Bani istirahat di
rumah dulu. Pasti capek kan semalam pulang larut malam.”
“Nggak bisa, kalau mbak Gita nggak mau diantar Bani, bibik
akan bilangin sama Mas Gilang dan pastinya Mbak Gita nggak boleh pergi.” Ancam Bik
Siti.
“Idih, tukang aduan sih. Ya udah Gita pergi sama Bani.” Kata
Gita sambil manyun. Dirumah ini semuanya jadi posesif banget sama Gita.
Gita memilih dianterin sopir daripada tidak dapat ijin
keluar, “Bani, kita ke mall ya.”
“Baik Mbak Gita.”
“Bani, kamu hati-hati mengemudinya jangan negbut-negbut. Awas
ya kalau sampai mbak Gita kenapa-kenapa kamu saya bejek-bejek.” Bik Siti
mewanti-wanti Bani.
“Iya Bude, tenang saja. Aku itu sudah profesional.”
“Bibik mah semua di marahin. Udah ah Gita pergi dulu.” Gita
masuk ke dalam mobil.
...Gita...
...Sayang, aku izin pergi ke mall ya...
...Aku pergi sama Bani kok, tenang saja kamu nggak usah khawatir...
...Love you...
Gita mengirim pesan Gilang, dia tidak melupakan perizinan
meskipun dia berangkat dulu baru ijin. Soalnya kalau ijin dulu belum tentu di
bolehkan. Jadi Gita sering banget start baru ijin yang mau tidak mau Gilag akan
mengijinkan Gita.
__ADS_1