
"Git..tunggu bentar." Vian meminta Gita menunggunya.
"Apa?"
"Beneran Anita mau cerai?" Vian masih belum percaya.
"Iya, orang Anita udah masukin berkas ke pengadilan. Kenapa udah nggak sabar ya mau lamar Anita." Gita menggerak-gerakkan kedua alisnya.
"Huush... Sembarangan lo kalau ngomong. Kalau di dengar orang nggak baik tahu." Vian menjitak kepala Gita.
Gita mengusap kepalanya, "Sakit tahu Vian."
"Salah sendiri mulut lo sembarangan kalau ngomong." Ujar Vian ingin rasanya menjitak kepala Gita lagi.
"Tapi Vian lebih cepat lebih baik loh.." Gita senyum-senyum sembari menyenggol tubuh Vian.
"Gita.. Lo tuh ya bener-bener, kenapa jadi lo ngebet banget gue sama Anita." Vian menggelengkan kepala.
"Ya nggak apa-apa, kalian kan serasi jadi seneng aja gue lihatnya. Apalagi kalian bisa saling membahagiakan."
"Gita, kita itu sahabatan sudah lama. Kita saling keburukan satu sama lain, nanti yang ada kalau ada rasa terus marah malah nggak baik hubungannya."
"Memangnya kenapa kalau sahabatan, gue sama Kak Gilang juga awalnya sahabatan. Tuh Fara sama Raka kurang bestie kayak apa dulu."
"Hah..! Terserah lo lah. Gue capek ngomong sama lo." Vian angkat tangan ngomong sama Gita. Dia menyesal bertanya kepada Gita, harusnya dia tanya langsung sama Anita.
"Heh kalian berdua, mau makan nggak malah gosip aja." Seru Fara.
"Ok, gue kesana."
...----------------...
Deeerrtz....deerttzzz...
Ponsel Gita berdering, dia menggeser nasi kotak pemberian dari Win.
"Kak Bayu, ada apa telpon gue?" batinnya. Gita langsung keluar ruangan agar telponnya lebih leluasa dan tidak di dengar oleh Anita dulu.
"Halo.."
"Git, bisa nggak lo sama Fara jangan ikut campur urusan keluarga gue." Bayu langsung ngegas saat Gita mengangkat telponnya.
"Ikut campur apa?" Gita bingung.
"Lo pasti hasut Anita buat cerain gue kan, dan satu lagi lo pasti jodohin Anita sama Vian. Ngaku lo, jadi orang bisa nggak sih diam nggak perlu urusin orang lain."
"Gue sama sekali tidak pernah memberikan saran apapun kepada Anita. Dia sendiri kok yang mau cerai. Dan untuk masalah Anita dekat sama siapa dan mau si jodohin sama siapa itu bukan urusan lo ya." Gita mulai emosi.
"Ya jadi urusan gue, dia itu masih istri gue."
__ADS_1
"Apa lo bilang istri?" Gita tertawa geli ketika Bayu masih memgatakan Anita itu istrinya.
"Kenapa lo tertawa?"
"Lo terus mengatakan Anita istri lo tapi nggak pernah lo hargai dia. Kak Bayu, lo saja bebas menikah dengan cewek lain meskipun Anita tidak setuju. Kenapa Anita nggak boleh sepertimu, egoia banget lo."
"Itu urusan gue."
"Dan semua orang yang menyakiti Anita jadi urusan gue juga. Kak lo sudah menentukan pilihan lo, jangan ganggu Anita lagi. Biarkan dia bahagia dengan kehidupan sekarang." Gita kesal banget.
Vian mengambil hp di tangan Gita, "Dengar lo Bayu, gue sudah cukup sabar selama ini sama tingkah bejat lo. Jadi cukup jangan ganggu Anita lagi atau gue acak-acak acara pernikahan kedua lo besok." Vian mengancam Bayu.
"Vian, kita sahabatan sudah lama kenapa lo tega menikung gue."
"Nikung, lo lupa kata gue waktu ketemu di rumah Gilang. Kalau lo tidak bisa bahagiakan Anita, jangan salahkan orang lain kalau ada yang membahagiakannya." Ucap Vian sembari mematikan sambungan telponnya.
"Kenapa di matikan sih, gue belum puas memaki dia." Kata Gita sambil merebut ponselnya.
"Kapan sidang di mulai?"
"Hah?!" Gita melongo.
"Iya, kapan di proses perceraiannya?" Vian ingin tahu kapan perceraian Anita di proses. Setelah telpon dengan Bayu dia langsung naik darah.
"Belum tahu gue, kan juga baru beberapa hari kemarin. Lo kenapa jadi ngebet gini?" Gita mengerutkan keningnya.
"Gue kesel saja sama Bayu, seenak jidadnya mempermainkan Anita." Ujar Vian.
"Ya."
"Kalian kenapa disitu, mana makananya juga belum di habisin."
"Anita, gue mau ngomong sama lo sebentar."
"Ada apa Vian, kelihatanya serius amat?"
"Lo beneran yakin mau cerai?"
Wajah Anita berubah jadi muram, dia sebenarnya tidak ingin membahas masalah itu. Kalau ingat itu dia akan sedih dan langsung menangis.
"Anita, kalau lo memang yakin gue dukung lo. Dan kalau lo mau balas dendam sama Bayu gue bakalan bantuin lo." Kata Vian.
"Maksud lo?" Anita tidak tahu tujuan Vian ngomong seperti itu kepadanya.
"Anita, lo tidak boleh terlihat lemah. Lo harus tunjukin ke Bayu dan keluarganya kalau lo baik-baik saja bahkan lebih bahagia tanpa dia. Lo datang ke pernikahannya nanti."
"Nggak mau gila saja, mana bisa gue datang."
"Bisa Anita, gue yang akan temani lo."
__ADS_1
"Tapi kan kesana juga harus pakai undangan Vian, nggak mungkin langsung datang sesuka hati. Bisa-bisa kita di usir satpam."
"Git, kita semua bakalan dapat undangan pernikahan Bayu. Karena apa istri barunya tidak akan mungkin diam saja. Dia akan menunjuka kepada kita terutama Anita kalau dia sekarang milik Bayu." jelas Vian.
"Ih.. Tumben pinter banget." Gita salut sampai tepuk tangan.
"Apa gue bisa?"
"Lo pasti bisa, ada gue lo tenang saja." Vian menepuk pundak Anita.
"Ada kita semua Anita." Gita ikut menguatkan Anita.
...----------------...
Jam sudah menunjukan waktu pulang kerja, Gita mengambil tasnya lalu pergi ke ruangan Gilang.
"Gue cabut dulu ya teman-teman." kata Gita sambil melambaikan tangannya.
"Ok, hati-hati bu bos."
Gita mengangkat jarinya berbentuk ok, dia sudah tidak sabar bertemu dengan Aiden. Dia selalu di buat kangen sama Aiden semenjak mulai kerja.
"Mbak Lila, Kak Gilang ada?" tanya Gita sebelum masuk.
"Ada, tapi sedang ada klien." Kata Lila.
"Masih lama nggak ya Mbak kira-kira?" Gita duduk di samping Lila.
"Belum tahu juga." Kata Lila.
"Yah.." Gita melipat kedua tangannya diatas meja lalu menaruh kepalanya.
"Git, gue tinggal sebentar ya mau ke toilet." Lila mendadak kebelet.
"Ok, gue jagain."
Gita mulai mengantuk, matanya lengket tidak kuat untuk terjaga. Mulutnya terus menguap.
Tuk..! Tuk..!
Gita kaget dan langsung terbangun, dia duduk tegak. Dia melihat perempuan seumuran dengannya berdiri di depannya dengan wajah yang terlihat judes.
"Kamu itu masih jam kerja kok tidur."
"Tapi kan ini sudah jam pulang kantor."
"Jawab lagi, sana beliin kopi empat. Tadi Pak Gilang yang suruh."
"Ok." Jawab Gita sambil beranjak membelikan kopi.
__ADS_1
"Pegawai macam dia kenapa di pekerjakan, sekretaris modelan kayak dia jadwal bisa berantakan semua." Gumamnya.
"Siapa sih dia, main suruh-suruh udah gitu ngomel-ngomel lagi. Kalau bukan karena Kak Gilang, ogah gue di suruh beliin kopi juga." Gita menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan perjalanannya.