Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Gio setuju


__ADS_3

“Mbak Gita mau berangkat sekarang?” tanya Bani.


“Iya.” Jawabnya singkat dan terdengar sangat malas.


“Ok.” Bani berlari keluar untuk segera menyiapkan mobilnya.


“Nggak sarapan dulu Mbak?” tanya Bik Siti yang sedang


menggendong Aiden sambil menyuapinya.


“Nggak Bik, nanti saja Gita belum lapar soalnya.” Gita


mencium Aiden.


“Sayang, anak ganteng mama berangkat dulu ya. Jangan rewel ya


sama bibik.”  Gita kembali mencium pipi


Aiden kanan kiri.


“Pasti mama,Aiden kan anak baik dan pintar.” Jawab bik Siti


mewakili Aiden yang belum bisa bicara.


“Bik, Gita berangkat dulu ya. Bibik kalau capek nggak usah


ngapa-ngapain. Kalau Aiden tidur ikut tidur saja.” Pesan Gita.


“Siap Mbak.”


Gita melipat kedua tangannya, dia melihat jalan yang sudah


mulai padat. Sekali-sekali mobilnya terhenti karena sudah mulai macat. Gita


mulai boring, dia ingin memejamkan matanya lagi.


Ting..


Suara pesan dari ponselnya nyaring, Gita mengangkat ponselnya


dan membaca sekilas karena nomor baru.


085 xxx xxx


Bu Gita, saya mau membantu anda


Seketika mata Gita langsung terbuka lebar, badanya segar dan


semangat membaca pesan yang pastinya dari Gio. Meskipun dia tidak menyebutkan


nama namun dari isi pesannya dia tahu.


Gita


Baik Pak, kapan kita bisa bertemu?


Gio


Nanti  jam makan siang,


saya akan kirim lokasinya


Gita


Baik Pak


“Yas!” katanya dengan semangat empat lima membuat Bani


lumayan keget.


“Mbak Gita kenapa?” tanya Bani.


“Ah.. tidak apa-apa. Bani lo nggak bisa cari jalan yang lebih


lancar kah? Sekarag saya buru-buru.” Ujar Gita.


“Sebentar Mbak.” Kata Bani.


Sesuai perrmintaan Gita, dia mencari jalan-jalan tikus agar mereka


segera sampai di kantor. Dan benar mereka hanya membutuhkan waktu empat puluh


menit untuk sampai di depan gerbang kantor.


“Ok Bani terima kasih ya.” Kata Gita sambil turun dari mobi.


Gita bergegas menuju ruangannya, dia mencari keberadaan Fara.


Dia sudah tidak sabar lagi untuk memberi tahu kalau Gio sudah bersedia


bergabung membantunya.


“Nit..Fara dimana?” tanya Gita sambil duduk di kursinya.


“Lagi fotocopy dia. Ada apa sih kayaknya serius banget? Oiya kalian


kemarin kemana katanya pergi sebentar kok langsung ngilang sampai jam pulang


kerja.” Kata Anita.


“He-he.. iya, soalnya lagi pusing jadi langsung pulang.” Jawab


Gita.


“Kalian seperti menyimpan sesuatu dari gue?” Anita merasa


aneh dengan sahabat-sahabatnya.


“Iya, gue sedang menjalankan misi sama Fara, gue belum bisa


cerita sama lo.” Kata Gita.


“Apaan sih?” Anita kepo. “Kalian mah gitu main


rahasia-rahasiaan.” Anita kesal karena dia tidak di beritahu sendiri.


“Kalian sudah tidak menganggap gue sahabat lagi ya.” Anita


menarik kursinya,  mendekat komputer. Wajahnya


langsung muram dia merasa di tinggalkan.


“Bukan begitu Nit, gue mau cerita sama lo tapi kan lo  juga sedang ada masalah. Gue takut malah


menambahi masalah lo.” Kata Gita.


“Gue nggak merasa terbebani kok, masalah gue juga sudah lewat


kan. Sekarang gue udah baik-baik saja. Lo bisa cerita apapun sama gue.” Kata


Anita dengan nada sedikit tinggi. Dia kecewa karena merasa tidak dianggap.


“Oke..oke.. Nit. Maafin gue deh. Gue cerita nih sama lo kalau


sebenarnya gue sedang mau menjebak orang yang terus menggoda Kak Gilang. gue


gedek banget sama cewek itu makanya secara spontan gue mau menjebak dia balik


karena selalu berusaha menjebak Kak Gilang agar mau sama dia.” Kata Gita dengan


jujur.


“Terus?”


“Ya karena gue kemarin ketemunya sama Fara, gue baru cerita


sama Fara. Gue minta dia temani kesana-kemari.” Kata Gita.


“Kak Gilang, Raka dan Vian tahu nggak masalah ini?”


“Tentu saja tidak, lo jangan bilang ya sama mereka terutama


Vian. Nanti bisa gagal rencana gue yang baru mau gue lakuin.” Jelas Gita.


“Ok, tenang saja gue janji bakalan simpan semua rapat-rapat. Gue


juga selalu sedia kalau lo minta bantuan gue.” Kata Anita.

__ADS_1


“Makasih ya, sorry gue udah buat lo jadi merasa tidak


dianggap.” Kata Gita sambil memeluk Anita.


“Gue yang minta maaf, tiba-tiba marah tanpa tahu masalahnya


dulu. Padahal lo sedang menjaga perasaan gue.” Anita membalas pelukan Gita.


Fara yang baru datang heran, melihat Gita dan Anita berpelukan.


Dia menaruh berkas yang baru saja dia fotocopy di mejanya.


“Kalian berdua kenapa?” tanyanya.


“Nggak apa-apa, cuma sedang lepas kangen saja.” Kata Gita


asal.


“Idiih... geli.” Fara bergidik mendengar jawaban Gita.


“Ini gue minta maaf sama Gita karena udah mikir aneh-aneh


sama dia, gue juga mau minta maaf sama lo karena telah berburuk sangka.” Kata


Anita beranjak dan memeluk Fara.


“Nit, lo nggak lagi sakit kan?” ujarnya.


“Nggak, gue udah salah paham sama kalian. Gue pikir kalian


sudah tidak peduli lagi sama gue, karena tidak mau berbagi cerita lagi.” Jelas


Anita.


“Ah.. pasti masalah penggoda ya.” Tebak Fara.


“Yups..”


“Eh Far, Pak Gio tadi chat gue katanya dia mau membatu kita.


Jadi jam makan siang dia akan ajak kita ketemuan.” Kata Gita senang.


“Sip, akhirya berubah pikiran juga.”


“Iya, gue sebenarnya sudah pesimis. Dan mau mencoba datang


meminta kepada dia lagi. Tahu-tahu dia chat mau bergabung.” Kata Gita.


“Syukur deh, ngomong-ngomong rencana kalian memang apaan?”


tanya Anita.


“Selama ini penggoda ingin menjebak Kak Gilang agar mau


mengajaknya kencan atau yah masuk hotel mungkin. Jadi akan gue balik.” Kata Gita.


Anita menggut-manggut, dia salut melihat Gita yang


memperjuangkan suaminya sampai titik darah penghabisannya. Gilang harusnya


sangat bangga dan beruntung mendapatkan istri seperti Gita.


“Terus siapa lelaki yang akan lo jadikan pangganti Kak


Gilang.”


“Ada, gue sudah sewa orang yang akan menggantika kak Gilang


nanti.”


“Baiklah, semoga kalian sukses ya jalanin misi ini. Kita


memang harus membasmi para penggoda biar nasib kalian nggak seperti gue.” Anita


tersenyum tipis, tragis banget nasib dirinya.


“Jangan diingat lagi, nasib lo sekarang lebih baik daripada


waktu sama Bayu. Lo tampak lebih bahagia sekarang.” Ujar Fara.


nggak penting. Dan isi kembali dengan memori yang baru, yang lebih indah.” Kata


Gita.


“Gue kosongin dulu aja memorinya, nanti kalau ada yang


istimewa baru gue rekam biar nggak full.” Ujarnya sambil tekekeh.


“Memangnya belum ada itu memory istimewa.” Fara menatap Anita


dengan senyum-senyum menggoda.


“Nggak ada.”


“Masa sih?” Gita ikutan menggoda Anita.


“Beneran, suer.” Anita mengankat dua jari berbentuk V.


“Anita, jawab jujur ya kemarin pas di jogja tinggal kalian


berdua kan sama Vian. Em.. kalian terjadi sesuatu nggak?” Otak Fara mulai tidak


benar menanyakan hal konyol sama Anita.


“Maksud lo Far, gue nggak ngerti deh.”


“Gini loh..” Gita mengetukkan kumpulan jemari kanan dengan


jemari kirinya. Anita menggelengkan kepala, dia masih tidak mengerti kode-kode


yang di berikan kedua sahabatnya.


“Yaelah... lo depe gitu sama Vian.”


“Plaakkk!” pukulan mendarat dengan mulus di punggung Fara.


“Aa...sakit Anita!” teriak Fara yang membuat Gita tertawa dengan


keras.


“Lo lagian kalau ngomong suka seenak jidat ya. Depe..depe


apann?” Anita manyun.


“Ya depe tipis-tipis bukan depe yang besar. Siapa tahu lo


sedih Vian menennagkan dengan depe tipis-tipis.” Ujarnya masih saja tak masuk


akal.


“Dasar otak mesum.”


“Ih.. kan namanya di pantai ya romantis habis itu menginap di


hotel apa nggak ada percikan cinta yang tipis-tipis.”


“Udah...udah.. masih pagi jangan bikin gue gila. Gue sama dia


di hotel kamar pisah. Nggak ada depe tipis-tipis nggak ada depe besar-besar.”  Kata Anita.


“Memangnya depe tipis-tipis itu apaan Far?” Gita nggak paham


juga.


“Lo dari tadi cengar-cengir nggak tahu tuh depe tipis-tipis?”


Fara menggaruk kepalanya. Gita meringis sambil menggelengkan kepalanya.


“Muuah.. muaah..” jawab Fara.


“Olah.. muah..muah..” katanya sambil tertawa.


“Emang elo doang Far yang otaknya mesum disini.” Anita


menggelangkan kepala.


Dengan Anita mengerti cerita yang Gita dan Fara dia bisa

__ADS_1


membantu di kantornya untuk mencari alasan ketika Win atau yang lain bertanya


keberadaannya.


Setelah jam makan siang tiba, dan Gita sudah mendapatkan


alamat dari Gio dia langsung bergegas kesana. Dia sudah tidak sabar untuk


menjalankan misinya.


Untung saja Gio mencari tempat yang dekat dengan kantor jadi tidak


memakan waktu banyak untuk menjumpainya.


“Far, lo mau ikut atau disini?” tanya Gita.


“Gue pantau disini saja lah. Biar kalian lebih enak


negosiasinya.” Kata Fara.


“Ok.”


Gita turun sendiri menemui Gio, dia kembali mengatur


napasnya. Dan siap bernegosiasi dengan Gio.


“Selamat siang Pak Gio, maaf sudah menunggu lama.” Kata Gita


sambil duduk di depan Gio.


“Selamat siang, saya juga baru datang kok. Ibu mau pesan apa


biar saya pesankan.” Kata Gio.


“Tidak usah Pak, saya sudah makan dan juga minum. Kita


langsung saja ke tujuan kita bertemu.”  Kata


Gita. Gita sebenarnya belum makan siang, dan pastinya perutnya sangat lapar


namun dia sudah tidak sabar dengan rencananya.


“Baik Buk, saya setuju memantu anda.”


“Ok, tapi kalau boleh tahu apa yang membuat anda itu brubah


pikiran? kemarin anda kekeh membela karyawan anda.”  Kata Gita.


“Yang Bu Gita bilang kemarin ternyata benar, dia telah


mengkhianati saya. Sehingga saya rugi berjuta-juta. Saya ingin menuntut balas


dia dan menjebloskan dia ke penjara.” Kata Gio dengan geram.


Setelah dia cek di keuangan perusahaan, banyak sekali terjadi


korupsi yang di lakuakan oleh Indah, dengan tak sadar semua asetnya akan di


kuasi dengan dirinya.


Dia mau mebantu Gita, karena setelah video yang dia tunjukan


membuka matanya tentang karyawannya.


“Apa bapak menginginkan imbalan lain dari membantu saya?”


tanya Gita.


“Tidak. Saya hanya mau lepas saja dari karyawan tak tahu


diri. Dan saya Cuma mau kerjasama sana dengan Pak Gilang awet. Tidak ada gangguan


seperti ini.”


“Baikla Pak, terima kasih sebelumnya dan maaf merepotkan Pak


Gio.”


“Rencana Bu Gita apa?”


“Saya hanya mau meminta tolong sama Pak Gio untuk mengajak


makan malam suami saya. Dan tentu saja ajak Indah.”


“Makan malam?”


“Iya, makan malam saja. Dan di tengah makan Pak Gio pura-pura


saja permisi pulang atau ada acara apa. Lalu meminta Indah untuk menemani suami


saya. Setelah itu saya yang akan urus, bapak bisa pulang.” Gita menjelaskan


rencananya secara terperinci.


“Hanya itu saja?” tanya Gio.


“Ya hanya itu saja, mudah kan Pak. Nanti saya akan memberikan


hasilnya kepada Pak Gio.”


“Baiklah, kapan Bu Gita mau menjalankan rencana ini.”


“Malam ini kalau suami saya bisa, tidak masalah.” Kata Gita.


“Ok sebentar, saya kan mencoba menghubungi Pak Gilang.” Kata


Gio sambil membuka layar ponselnya.


Gio menunggu beberapa saat sampai telponnya terangkat, “Halo


Pak Gilang.”


“Iya Halo Pak, maaf tadi saya sedang meeting. Ada yang bisa


di bantu?”


“Begini Pak, saya mau mengundang makan malam. Apa bapak bisa?”


tanya Gio.


“Makan malam, kapan?” tanya Gilang.


“Nanti malam, pukul tujuh bagaimana bisa Pak? Ada yang ingin


saya tanyakan kepada bapak,”


“Ok tunggu sebentar Pak. Sebnetar lagi saya hubungi Pak Gio.”


“Baik Pak Gilang.” sambungan telpon pun terputus.


Dan tak lama pesan masuk ke ponsel Gita, ternyata Gilang


mengirim pesan ijin untuk makan malam sama Gio.


Gita tersenyum, suaminya memang  the best dia bertanya dulu padanya baru akan


menjawab Gio. Gita pun menjawab dengan cepat, dia mengijinkannya.


“Baik Bu Gita, Pak Gilang sudah setuju nanti malam pukul


tujuh kita akan bertemu di resto hotel Purnama.”


“Baik Pak. Terima kasih.”


Kesepakatan pun sudah deal, Gita akan mulai menyusun rencana


setelah Gio pura-pura ada acara nanti. Gita bergegas menuju ke mobil.


“Bagaimana?” tanya Fara.


“Deal. Kita bisa menjalankan rencana kita malam ini.” Kata


Gita.


“Ok, kita set dulu tempat makannya. Kita booking tempat dulu.”


Kata Fara.

__ADS_1


__ADS_2