
“Mbak Gita mau berangkat sekarang?” tanya Bani.
“Iya.” Jawabnya singkat dan terdengar sangat malas.
“Ok.” Bani berlari keluar untuk segera menyiapkan mobilnya.
“Nggak sarapan dulu Mbak?” tanya Bik Siti yang sedang
menggendong Aiden sambil menyuapinya.
“Nggak Bik, nanti saja Gita belum lapar soalnya.” Gita
mencium Aiden.
“Sayang, anak ganteng mama berangkat dulu ya. Jangan rewel ya
sama bibik.” Gita kembali mencium pipi
Aiden kanan kiri.
“Pasti mama,Aiden kan anak baik dan pintar.” Jawab bik Siti
mewakili Aiden yang belum bisa bicara.
“Bik, Gita berangkat dulu ya. Bibik kalau capek nggak usah
ngapa-ngapain. Kalau Aiden tidur ikut tidur saja.” Pesan Gita.
“Siap Mbak.”
Gita melipat kedua tangannya, dia melihat jalan yang sudah
mulai padat. Sekali-sekali mobilnya terhenti karena sudah mulai macat. Gita
mulai boring, dia ingin memejamkan matanya lagi.
Ting..
Suara pesan dari ponselnya nyaring, Gita mengangkat ponselnya
dan membaca sekilas karena nomor baru.
085 xxx xxx
Bu Gita, saya mau membantu anda
Seketika mata Gita langsung terbuka lebar, badanya segar dan
semangat membaca pesan yang pastinya dari Gio. Meskipun dia tidak menyebutkan
nama namun dari isi pesannya dia tahu.
Gita
Baik Pak, kapan kita bisa bertemu?
Gio
Nanti jam makan siang,
saya akan kirim lokasinya
Gita
Baik Pak
“Yas!” katanya dengan semangat empat lima membuat Bani
lumayan keget.
“Mbak Gita kenapa?” tanya Bani.
“Ah.. tidak apa-apa. Bani lo nggak bisa cari jalan yang lebih
lancar kah? Sekarag saya buru-buru.” Ujar Gita.
“Sebentar Mbak.” Kata Bani.
Sesuai perrmintaan Gita, dia mencari jalan-jalan tikus agar mereka
segera sampai di kantor. Dan benar mereka hanya membutuhkan waktu empat puluh
menit untuk sampai di depan gerbang kantor.
“Ok Bani terima kasih ya.” Kata Gita sambil turun dari mobi.
Gita bergegas menuju ruangannya, dia mencari keberadaan Fara.
Dia sudah tidak sabar lagi untuk memberi tahu kalau Gio sudah bersedia
bergabung membantunya.
“Nit..Fara dimana?” tanya Gita sambil duduk di kursinya.
“Lagi fotocopy dia. Ada apa sih kayaknya serius banget? Oiya kalian
kemarin kemana katanya pergi sebentar kok langsung ngilang sampai jam pulang
kerja.” Kata Anita.
“He-he.. iya, soalnya lagi pusing jadi langsung pulang.” Jawab
Gita.
“Kalian seperti menyimpan sesuatu dari gue?” Anita merasa
aneh dengan sahabat-sahabatnya.
“Iya, gue sedang menjalankan misi sama Fara, gue belum bisa
cerita sama lo.” Kata Gita.
“Apaan sih?” Anita kepo. “Kalian mah gitu main
rahasia-rahasiaan.” Anita kesal karena dia tidak di beritahu sendiri.
“Kalian sudah tidak menganggap gue sahabat lagi ya.” Anita
menarik kursinya, mendekat komputer. Wajahnya
langsung muram dia merasa di tinggalkan.
“Bukan begitu Nit, gue mau cerita sama lo tapi kan lo juga sedang ada masalah. Gue takut malah
menambahi masalah lo.” Kata Gita.
“Gue nggak merasa terbebani kok, masalah gue juga sudah lewat
kan. Sekarang gue udah baik-baik saja. Lo bisa cerita apapun sama gue.” Kata
Anita dengan nada sedikit tinggi. Dia kecewa karena merasa tidak dianggap.
“Oke..oke.. Nit. Maafin gue deh. Gue cerita nih sama lo kalau
sebenarnya gue sedang mau menjebak orang yang terus menggoda Kak Gilang. gue
gedek banget sama cewek itu makanya secara spontan gue mau menjebak dia balik
karena selalu berusaha menjebak Kak Gilang agar mau sama dia.” Kata Gita dengan
jujur.
“Terus?”
“Ya karena gue kemarin ketemunya sama Fara, gue baru cerita
sama Fara. Gue minta dia temani kesana-kemari.” Kata Gita.
“Kak Gilang, Raka dan Vian tahu nggak masalah ini?”
“Tentu saja tidak, lo jangan bilang ya sama mereka terutama
Vian. Nanti bisa gagal rencana gue yang baru mau gue lakuin.” Jelas Gita.
“Ok, tenang saja gue janji bakalan simpan semua rapat-rapat. Gue
juga selalu sedia kalau lo minta bantuan gue.” Kata Anita.
__ADS_1
“Makasih ya, sorry gue udah buat lo jadi merasa tidak
dianggap.” Kata Gita sambil memeluk Anita.
“Gue yang minta maaf, tiba-tiba marah tanpa tahu masalahnya
dulu. Padahal lo sedang menjaga perasaan gue.” Anita membalas pelukan Gita.
Fara yang baru datang heran, melihat Gita dan Anita berpelukan.
Dia menaruh berkas yang baru saja dia fotocopy di mejanya.
“Kalian berdua kenapa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa, cuma sedang lepas kangen saja.” Kata Gita
asal.
“Idiih... geli.” Fara bergidik mendengar jawaban Gita.
“Ini gue minta maaf sama Gita karena udah mikir aneh-aneh
sama dia, gue juga mau minta maaf sama lo karena telah berburuk sangka.” Kata
Anita beranjak dan memeluk Fara.
“Nit, lo nggak lagi sakit kan?” ujarnya.
“Nggak, gue udah salah paham sama kalian. Gue pikir kalian
sudah tidak peduli lagi sama gue, karena tidak mau berbagi cerita lagi.” Jelas
Anita.
“Ah.. pasti masalah penggoda ya.” Tebak Fara.
“Yups..”
“Eh Far, Pak Gio tadi chat gue katanya dia mau membatu kita.
Jadi jam makan siang dia akan ajak kita ketemuan.” Kata Gita senang.
“Sip, akhirya berubah pikiran juga.”
“Iya, gue sebenarnya sudah pesimis. Dan mau mencoba datang
meminta kepada dia lagi. Tahu-tahu dia chat mau bergabung.” Kata Gita.
“Syukur deh, ngomong-ngomong rencana kalian memang apaan?”
tanya Anita.
“Selama ini penggoda ingin menjebak Kak Gilang agar mau
mengajaknya kencan atau yah masuk hotel mungkin. Jadi akan gue balik.” Kata Gita.
Anita menggut-manggut, dia salut melihat Gita yang
memperjuangkan suaminya sampai titik darah penghabisannya. Gilang harusnya
sangat bangga dan beruntung mendapatkan istri seperti Gita.
“Terus siapa lelaki yang akan lo jadikan pangganti Kak
Gilang.”
“Ada, gue sudah sewa orang yang akan menggantika kak Gilang
nanti.”
“Baiklah, semoga kalian sukses ya jalanin misi ini. Kita
memang harus membasmi para penggoda biar nasib kalian nggak seperti gue.” Anita
tersenyum tipis, tragis banget nasib dirinya.
“Jangan diingat lagi, nasib lo sekarang lebih baik daripada
waktu sama Bayu. Lo tampak lebih bahagia sekarang.” Ujar Fara.
nggak penting. Dan isi kembali dengan memori yang baru, yang lebih indah.” Kata
Gita.
“Gue kosongin dulu aja memorinya, nanti kalau ada yang
istimewa baru gue rekam biar nggak full.” Ujarnya sambil tekekeh.
“Memangnya belum ada itu memory istimewa.” Fara menatap Anita
dengan senyum-senyum menggoda.
“Nggak ada.”
“Masa sih?” Gita ikutan menggoda Anita.
“Beneran, suer.” Anita mengankat dua jari berbentuk V.
“Anita, jawab jujur ya kemarin pas di jogja tinggal kalian
berdua kan sama Vian. Em.. kalian terjadi sesuatu nggak?” Otak Fara mulai tidak
benar menanyakan hal konyol sama Anita.
“Maksud lo Far, gue nggak ngerti deh.”
“Gini loh..” Gita mengetukkan kumpulan jemari kanan dengan
jemari kirinya. Anita menggelengkan kepala, dia masih tidak mengerti kode-kode
yang di berikan kedua sahabatnya.
“Yaelah... lo depe gitu sama Vian.”
“Plaakkk!” pukulan mendarat dengan mulus di punggung Fara.
“Aa...sakit Anita!” teriak Fara yang membuat Gita tertawa dengan
keras.
“Lo lagian kalau ngomong suka seenak jidat ya. Depe..depe
apann?” Anita manyun.
“Ya depe tipis-tipis bukan depe yang besar. Siapa tahu lo
sedih Vian menennagkan dengan depe tipis-tipis.” Ujarnya masih saja tak masuk
akal.
“Dasar otak mesum.”
“Ih.. kan namanya di pantai ya romantis habis itu menginap di
hotel apa nggak ada percikan cinta yang tipis-tipis.”
“Udah...udah.. masih pagi jangan bikin gue gila. Gue sama dia
di hotel kamar pisah. Nggak ada depe tipis-tipis nggak ada depe besar-besar.” Kata Anita.
“Memangnya depe tipis-tipis itu apaan Far?” Gita nggak paham
juga.
“Lo dari tadi cengar-cengir nggak tahu tuh depe tipis-tipis?”
Fara menggaruk kepalanya. Gita meringis sambil menggelengkan kepalanya.
“Muuah.. muaah..” jawab Fara.
“Olah.. muah..muah..” katanya sambil tertawa.
“Emang elo doang Far yang otaknya mesum disini.” Anita
menggelangkan kepala.
Dengan Anita mengerti cerita yang Gita dan Fara dia bisa
__ADS_1
membantu di kantornya untuk mencari alasan ketika Win atau yang lain bertanya
keberadaannya.
Setelah jam makan siang tiba, dan Gita sudah mendapatkan
alamat dari Gio dia langsung bergegas kesana. Dia sudah tidak sabar untuk
menjalankan misinya.
Untung saja Gio mencari tempat yang dekat dengan kantor jadi tidak
memakan waktu banyak untuk menjumpainya.
“Far, lo mau ikut atau disini?” tanya Gita.
“Gue pantau disini saja lah. Biar kalian lebih enak
negosiasinya.” Kata Fara.
“Ok.”
Gita turun sendiri menemui Gio, dia kembali mengatur
napasnya. Dan siap bernegosiasi dengan Gio.
“Selamat siang Pak Gio, maaf sudah menunggu lama.” Kata Gita
sambil duduk di depan Gio.
“Selamat siang, saya juga baru datang kok. Ibu mau pesan apa
biar saya pesankan.” Kata Gio.
“Tidak usah Pak, saya sudah makan dan juga minum. Kita
langsung saja ke tujuan kita bertemu.” Kata
Gita. Gita sebenarnya belum makan siang, dan pastinya perutnya sangat lapar
namun dia sudah tidak sabar dengan rencananya.
“Baik Buk, saya setuju memantu anda.”
“Ok, tapi kalau boleh tahu apa yang membuat anda itu brubah
pikiran? kemarin anda kekeh membela karyawan anda.” Kata Gita.
“Yang Bu Gita bilang kemarin ternyata benar, dia telah
mengkhianati saya. Sehingga saya rugi berjuta-juta. Saya ingin menuntut balas
dia dan menjebloskan dia ke penjara.” Kata Gio dengan geram.
Setelah dia cek di keuangan perusahaan, banyak sekali terjadi
korupsi yang di lakuakan oleh Indah, dengan tak sadar semua asetnya akan di
kuasi dengan dirinya.
Dia mau mebantu Gita, karena setelah video yang dia tunjukan
membuka matanya tentang karyawannya.
“Apa bapak menginginkan imbalan lain dari membantu saya?”
tanya Gita.
“Tidak. Saya hanya mau lepas saja dari karyawan tak tahu
diri. Dan saya Cuma mau kerjasama sana dengan Pak Gilang awet. Tidak ada gangguan
seperti ini.”
“Baikla Pak, terima kasih sebelumnya dan maaf merepotkan Pak
Gio.”
“Rencana Bu Gita apa?”
“Saya hanya mau meminta tolong sama Pak Gio untuk mengajak
makan malam suami saya. Dan tentu saja ajak Indah.”
“Makan malam?”
“Iya, makan malam saja. Dan di tengah makan Pak Gio pura-pura
saja permisi pulang atau ada acara apa. Lalu meminta Indah untuk menemani suami
saya. Setelah itu saya yang akan urus, bapak bisa pulang.” Gita menjelaskan
rencananya secara terperinci.
“Hanya itu saja?” tanya Gio.
“Ya hanya itu saja, mudah kan Pak. Nanti saya akan memberikan
hasilnya kepada Pak Gio.”
“Baiklah, kapan Bu Gita mau menjalankan rencana ini.”
“Malam ini kalau suami saya bisa, tidak masalah.” Kata Gita.
“Ok sebentar, saya kan mencoba menghubungi Pak Gilang.” Kata
Gio sambil membuka layar ponselnya.
Gio menunggu beberapa saat sampai telponnya terangkat, “Halo
Pak Gilang.”
“Iya Halo Pak, maaf tadi saya sedang meeting. Ada yang bisa
di bantu?”
“Begini Pak, saya mau mengundang makan malam. Apa bapak bisa?”
tanya Gio.
“Makan malam, kapan?” tanya Gilang.
“Nanti malam, pukul tujuh bagaimana bisa Pak? Ada yang ingin
saya tanyakan kepada bapak,”
“Ok tunggu sebentar Pak. Sebnetar lagi saya hubungi Pak Gio.”
“Baik Pak Gilang.” sambungan telpon pun terputus.
Dan tak lama pesan masuk ke ponsel Gita, ternyata Gilang
mengirim pesan ijin untuk makan malam sama Gio.
Gita tersenyum, suaminya memang the best dia bertanya dulu padanya baru akan
menjawab Gio. Gita pun menjawab dengan cepat, dia mengijinkannya.
“Baik Bu Gita, Pak Gilang sudah setuju nanti malam pukul
tujuh kita akan bertemu di resto hotel Purnama.”
“Baik Pak. Terima kasih.”
Kesepakatan pun sudah deal, Gita akan mulai menyusun rencana
setelah Gio pura-pura ada acara nanti. Gita bergegas menuju ke mobil.
“Bagaimana?” tanya Fara.
“Deal. Kita bisa menjalankan rencana kita malam ini.” Kata
Gita.
“Ok, kita set dulu tempat makannya. Kita booking tempat dulu.”
Kata Fara.
__ADS_1