Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Menjenguk


__ADS_3

Kyra memandangi ponselnya, dia mendengus lalu melempar pelan ponselnya. Dia menunggu jawaban dari Aiden.


“Apa Ai benar-benar mau menjauh sama gue sampai-sampai nggak mau balas pesan gue,” ujarnya. Bibirnya manyun terus, mood hari ini benar-benar down.


Dia bahkan tidak bisa berpikir sampai meilih untuk tidur dari pada belajar. Kyra meraba-raba ponselnya, dia mengecek sekali lagi, namun pesannya masih saja belum dibaca.


“Apa gue telpone saja ya?” ujarnya.


“Tapi gue mau ngomong apaan kalau telepon, kayak agresif banget gue telpon-telpone dia.” Kyra menaruh ponselnya.


Kyra mengubah posisi tidurnya dari telentang lalu tengkurep, pikirannya penuh, dia menjadi yang kasmaran.


“Kenapa gue jadi begini sih?” desahnya.


Ponsel Kyra berdering, namun dia enggan mengangkatnya. Saat ini dia hanya butuh balasan chat dari Aiden agar bisa tidur dengan nyenya. Setelah mati beberapa detik, ponselnnya kembali berdering. Kyra membalikan tubuhnya lalu mengangkat telponya.


“Kyra! Lama anget sih angkatnya!”


Kyra menarik sedikit menjauh ponsel dari telingannya karena Dinda teriak-teriak di telepon.


“Ada apa sih, teriak-teriak. Telinga gue bisa budeg tahu,” omel Kyra.


“Lo lagi apa sih lama amat angkat telponya.”


“Tidur.”


“Oiya, lo tahu nggak?”


“Nggak.”


“Dengerin dulu makanya, gue mau menyampaikan pesan penting sama lo. Jadi nggak mood gue.”


“Iya,iya ada apa?”


“Nggak jadi, nggak mood.”


“Dih, begitu saja ngambek. Buruan mau ngomong atau nggak, gue tutup teleponya,” ancam Kyra.


“Ya sudah tutup, tapi jangan kesal kalau nggak tahu berita Kak Ai yang terbaru.”


“Apa?”


Kyra langsung duduk, dia menempelkan ponselnya di telinga agar suara Dinda terdengar jelas.


“Nggak jadi.”


“Ih, lo jangan bikin gue penasaran.” Kyra gemes karena Dinda nggak jadi memberi tahu.


“Biar saja deh, besok saja ceritanya.” Dinda memutus sambungan teleponnya.


“Dinda, lo ngeselin banget sih.” Kyra menelepon balik Dinda, dia semakin tidak bisa tidur kalau belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Dinda, lo kebangetan ya. Buruan apaan, gue sudah nggak bisa tidur gara-gara tungguin chat gue yang nggak di balas sama dia,” cerocos Kyra.


“Lo chat apaan?”


“Ya gue minta maaf, karena tadi mama gue menghina Aiden,” ucapnya dengan nada lemas.


“Ya ampun. Masih saja ya mama lo, pasti ini gara-gara Kak Kris yang membujuki nyokap lo kan?” Dinda menuduh Kris.


“Ya siapa lagi, gue jadi nggak bisa tidur tahu mikirin dia. Takutnya dia benar-benar menjauh dari gue,” ucapnya.


“Lo kayaknya sudah jatuh cinta ya sama Kak Ai, sampai takut begitu Kak Ai menjauh.” Dinda bukanya segera memberi tahu tujuannya tadi telepon malah menggoda Kyra.

__ADS_1


“Din, tapi yang lo katakan benar. Kok gue jadi yang merasa kelimpungan sendiri ya. Kesel banget pesan gue nggak dibaca.”


“Ini benar tanda-tanda sih, mantap kan saja hati lo. Jadi kalau lo beneran bisa jadian dan bonus jalan-jalan ke singapur.”


“Dan tahu nggak yang lebih aneh, Nara bilang suka sama Ai. Masa mau bersaing sama gue.”


Tawa Dinda terdengarnyaring di telinga Kyra, sampai terdengar ngik-ngik pula.


“Puas banget lo tertawa,” Kyra kesal.


“Ya habis ada-ada saja. Oiya, Ky mungkin pesan lo nggak di balas karena Kak Ai masih sakit. Tadi dia jatuh dari motor sehabis nganterin lo pulang. Dia diserempet sama mobil.”


“Apa?” Kyra kaget. “terus dia sekarang di rawat di mana?” Kyra cemas.


“Di rumah sih, katanya cuma lecet-lecet. Sebentar gue minta kirm foto sama Kak Rafa dulu. Ya sudah ya gue matiin dulu telponnya.


“Ok.”


Kyra meringis melihat luka-luka di kaki Aiden dan juga siku tangannya.


“Pasti ini perih,” gumamnya lirih.


Kyra mengambil ponselnya, dia tidak gengsi lagi menelepon Aiden. Dia ingin tahu secara lebih detail dari mulut Aiden.


“Lo baik-baik saja kan?”


“Ya, memangnya kenapa?”


“Lo jatuh kan, kenapa nggak ngabarin gue?”


“Harus ya?”


Kyra menggit bibir bawahnya, benar juga kata Aiden memangnya dia harus mengabarinya. Kan dia bukan siapa-siapanya kenapa harus ngabarin.


“Ok deh kalau gue ke mana-mana harus laporan. Gue bakalan laporan kok,” katanya yang terdengar bersama dengan tertawa kecil.


“Ng-nggak gitu juga?”


Kyra menggigit bibir bawahnya, dia semakin dibuat bingung sama perkataannya sendiri yang terus di balikan sama Aiden.


“Gue nggak apa-apa kok, cuma lecet kecil. Lo tadi chat ya, sorry belum sempat balas.”


“Iya nggak apa-apa kok, apa sudah di obati?”


“Sudah, lo nggak usah cemas begitu dong. Ini pasti kerjaan Dinda kan yang buat lo cemasin gue.”


“Nggak cemas kok. Ai, gue mau minta maaf sama lo. Karena tadi mama menghina lo,”


“Lupakan, udah biasa gue.”


“Apa lo bakalan jauhin gue?”


“Nggak lah, kita kan berteman kenapa harus saling menjauh.”


“Makasih ya.”


“Untuk?”


“Karena lo masih mau berteman sama gue.”


“Udah nggak perlu dibahas, sekarang lo tidur sudah malam. Begadang nggak baik buat kesehatan.”


“Iya, selamat malam.”

__ADS_1


“Selamat malam.”


Sambungan telepon terputus, Kyra senang akhirnya bisa tidur dengan tenang meskipun masih mencemaskan luka Aiden.


*****


Pagi-pagi Kyra sudah sibuk di dapur membuat sarapan untuk Aiden. Kyra memasak telur gulung, sayur cha. Kyra membuat sendiri tanpa bantuan pembanunya. Dia ingin Aiden memakan bekal yang diracik oleh tangannya sendiri.


Kyra meminta pembantunya untuk menyampaikan kalau dirinya sudah berangkat kepada mamanya. Hari ini dia mau ke rumah Aiden dulu sebelum ke sekolah. Jadi dia pergi bersama dengan Dinda.


“Din, balik saja yuk,” Kyra mendadak malu untuk memberikan perhatian kepada Aiden.


“Tanggung kali Ky, orang sudah sampai depan rumah juga.” Dinda menahan Kyra agar tidak berbalik ke mobil.


“Gue malu, kenapa gue tiba-tiba datang pagi-pagi. Bawa bekal lagi, padahal gue bukan siapa-siapanya,” celoteh Kyra.


“Makanya buruan jadiin siapa-siapa, biar bebas mau datang kapan saja.”


“Mulut lo ya, gambang banget kalau ngomog.”


Obrolan Kyra dan Dinda yang lumayan keras sampai terdengar oleh pemilik rumah yaitu nenek Wanda.


“Dinda.” Panggil Wanda sembari berjalan perlahan memastikan kalau yang di lihatnya itu beneran Dinda.


“Iya Nek.” Dinda berlari ke teras agar Wanda tidak terlalu berjalan jauh.


“Tumben kamu pagi-pagi sudah ke sini?” tanya Wanda.


“Iya Nek, mau jenguk Kak Ai. Katanya kemarin jatuh.”


“Iya, tapi masih pada tidur itu anak-anak,” ucap Wanda sembari melihat Kyra lekat.


“Ah, ini Kyra Nek. Teman sekelas Dinda sama Kak Ai juga.”


“Kyra, Nek.” Kyra mencium punggung tangan Wanda.


“Ayo masuk, biar nenek bangunkan anak-anak,”


Kyra mengekor Dinda dan segera duduk di sofa setelah di persilahkan. Kyra mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Rumah yang sangat rapi dan bersih. Kyra iseng mengambil album foto sembari menunggu Aiden sama yang lain keluar.


“Itu foto kedua orang tua Kak Ai bersama teman-temannya. Termasuk nyokap sama bokap gue,” papar Dinda.


“Itu pasti nyokap sama bokapnya Ai ya?” Kyra menujuk foto di lembar kedua.


“Yang cewek nyokapnya, namanya tante Gita. Kalau cowoknya bokapnya Kak Rafa namanya Om Raka.”


“Terus papanya yang mana?”


Dinda membalik albumnya. “Nah, ini namanya Om Gilang, papanya Kak Ai.”


Pandangan Kyra terkunci melihat foto Gilang, ternyata wajah tampannya Aiden di dapat dari papanya. Dia hampir mirip dengan masa muda papanya.


“Ganteng banget kan Om Gilang, selain itu Om Gilang juga pandai. Makanya Kak Ai genius.”


“Oiya.”


“Iya, dulu kan orang tua kita satu sekolah makanya gue tahu. Dan sebab itu juga mereka berdua mengangap gue adik.”


“Sekarang orang tua Aiden di mana?”


“Luar kota, Kak Ai memilih pindah sekolah gara-gara mau samaan sama papa mamanya.”


Kyra mengangguk-angguk mendapatkan informasi seputar keluarga Aiden. Meskipun hanya sedikit-sedikit.

__ADS_1


__ADS_2