
Gita memang percaya kepada Gilang seratus persen, tapi bukan
berarti dia diam saja suaminya di goda dengan Indah. Apa lagi dia pakai pose
****-**** di depan Gilang sungguh ternoda mata Gilang malam itu pikir Gita.
“Melamun saja pagi-pagi.” Seret Gilang dalam pelukannya.
“Siapa yang melamun coba, orang lagi berpikir kok.” Kata
Gita.
“Berpikir apa?”
“Semalam kan sebelum pulang kantor, aku sama yang lain pesta
di kantor. Kira-kira perut mereka aman nggak ya?” Gita terkekeh.
“Pesta?”
“Iya, Kita mukbang.”
“Wah.. kamu curang sekali nggak ngajakin aku mukbang. Kamu
malah sama orang lain.” Gilang mengerucutka bibirnya.
Gita menoleh ke belakang,sebentar lalu kembali lurus. Dia
mencium tangan Gilang yang melingkar di dadanya.
“Makanya jangan meeting mulu.”
“Ya udah sebagai gantinya aku mau nambah lagi
vitaminnya.” Bisik Gilang.
“Loh..loh..kok jadi nambah.” Kata Gita.
“Salah sendiri kemarin senang-senang sediri. Mumpung belum
mandi juga kan.” Goda Gilang.
“Ish.. aku udah capek.” Kata Gita.
“Sekali ya... atau kalau nggak kita mandi bareng saja. Ya...”
Gita hanya bisa pasrah mau diapakan sama Gilang, toh dia juga
tidak bisa menolaknya. Mau nambah sekali, dua kali dan mandi bersama pun pasti
dia akan lakuain.
Gita turun lebih dulu daripada Gilang, dia ketemu Aiden dulu.
Main-main sebentar sebelum dia tinggal kerja lagi.
“Mbak, Mas Gilang tuh aneh banget semalam.” Adu Bani.
“Kenapa? Kamu di suruh cuci mobil?” ujar Gita sambil menyuapi
Aiden makan.
“Iya, Mbak Gita udah tahu?”
“Ya tahu, Kak Gilang juga sudah bilang sama aku.”
“Memanya Mas Gilang habis bawa binatang apaan sih. Kok sampai
minta gatiin semua kursi dengan yang baru. Jadi mau pakai mobil yang satunya
dulu.” Kata Bani.
Gita terkekeh, “Binatang berbisa. Maknaya takut kena jadi
minta ganti yang baru.”
“Bani, kembali ke depan sana. Pagi-pagi udah asyik ngobrol
saja.” Bik Siti menyuruh Bani kembali ke depan untuk mempersiapakan mobil yang
akan dipakai Gilang.
“Iya..iya Bik, sewot amat si bibik.” Bani pergi keluar.
“Semua baik-baik saja kan Mbak?” Bik Siti cemas kalau sampai
ada apa-apa dengan Gilang dan Gita.
“Baik-baik saja Bik, bibik nggak usah khawatir ya.”
Pagi ini Gilang pergi ke kantor bersama Gita dengan di
sopirin Bani. Gilang sedang tidak mood untuk mengemudi sendiri.
Gilang sibuk mengecek berkas lewat ipadnya, sejak masuk ke
mobil dia sudah langsung sibuk.
“Nanti meeting lagi sama dia?” tanya Gita.
“Iya, kamu keberatan?” tanya Gilang. “Kalau keberatan biar
Lila sendiri yang datang. Dan kupastikan ini proyek pertama dan terakhir dengan
perusahaan Pak Gio.” Gilang merelakan
semua hal yang penting Gita tetap bersamanya.
“Tentu saja tidak, aku rasa dia tidak akan seberani semalam.”
Kata Gita dengan sangat yakin.
“Atau kamu ikut aku saja, biar kamu percaya sama aku.” Gilang
ingin mengajak Gita.
“Tanpa aku ikut pun aku percaya, lagian nih ya jadwal aku
sekarang padat sekali. Ini Mas Win sudah tunggui kedatangan aku.”
“Baiklah.”
Gita melipat kedua tangannya seat Gilang bersama rombongan
pergi ke tempat meeting. Kali ini Gilang meminta meeting di kantor saja. Gita
memperhatikan dandanan Indah yang memang tampak menggoda.
“Lo mulai mengajak perang gue ya, ingat jangan menyesal
karena lo sudah membangunkan macan tidur.” Kata Gita sembari tersenyum tipis.
“Hey.. kenapa lo pagi-pagi bengong di depan kantor?” Fara
mengagetkan Gita.
__ADS_1
“Gue lagi emosi, gue ingin mencakar-cakar orang.”
“Wait... siapa nih yang mengganggu lo. Masih pagi juga sudah
ada yang bikin lo emosi. Deebaaak... itu bocah cari mati pasti.” Kata Fara.
Gita membisiki Fara siapa orang yang membuatnya ingin
mengamuk di pagi hari ini.
“Wah benar-benar keterlaluan ini orang, kita harus beri
pelajaran tidak bisa tinggal diam seperti ini.” Kata Fara.
“Gue emang sedang memikirkan cara untuk mengatasinya, tapi
gue mau mengatasinya tanpa Kak Gilang tahu. Terlebih lagi gue nggak mau Kak
Gilang memutuskan kerjasamanya dengan perusahaan Pak Gio hanya karena kelakuan
sekretarisnya.” Gita tidak mau semua
orang terkena dampak dari kelakuan Indah.
“Rencana lo apa?” tanya Fara.
“Sekarang kita kerja dulu saja, gue kasih tahu lo nanti
rencana gue.” Gita merangkul Vian.
“Ok siap.”
Di dalam rapat Indah hanya menundukan kepalanya, dia
sebenarnya malu bertemu dengan Gilang dengan apa yang sudah dia lakukan
semalam.
Rasanya canggung, namun dia harus profesional sebagai
sekretaris kepercayaan Gio. Sesekali Indah mencuri pandang dari Gilang, namun
Gilang sama sekali tidak pernah melirik kearahnya.
“Benar-benar gila, Gilang sama sekali tidak tertarik sama
gue. Bahkan dia tidak merasa semalam tidak terjadi apa-apa.” Ujarnya dalam
hati.
“Cukup sekian meeting hari ini, Bu Indah tolong sampaikan
sama Pak Gio untuk meeting dua hari lagi saya harap beliau bisa datang.” Kata Gilang. Indah masih diam saja tidak
menjawab Gilang.
Tuk..Tuk...
“Bu Indah.” Gilang menetuk mejanya dua kali dengan nada yang
sedang.
“Ah.. iya Pak.” Jawabnya gugup.
Meeting selesai, Gilang akan siap melakukan perjalanan yang
lain hari ini. Namun Indah masih saja duduk di sofa meliknya.
“Bu Indah masih mau tinggal disini?” tanya Gilang.
bingung ngomong sama Gilang.
“Kamu mau ngomong apa Bu Indah?” tanya Gilang.
“Pak, saya minta maaf atas kesalahan semalam. Saya sadar
seharusnya saya tidak melakukan semua itu.” Katanya menunduk.
“Baikalah, lupakan saja. Anggap saja itu semua tidak pernah
terjadi.” Jawab Gilang datar.
“Tapi Pak saya tidak enak, bagaimana kalau sebegai
permintamaafan saya. Bapak saya undang makan malam.” Indah masih saja terus
berusaha untuk mencari celah menaklukan Gilang.
“Tidak perlu, Bu Indah kalau memang sudah tidak ada
kepentingan ibu boleh meninggakkan ruangan saya. Karena saya juga akan segera
pergi.” Gilang mulai kesal. Kesabaranyya menghadapi Indah sudah mau habis. Dia masih
bersikap sopan karena dia itu asisteen Gio.
“Baik Pak.” Indah mengambil tasnya, dia berjalan mendekati
Gilang saat mendengar ada orang yang ingin masuk ke ruangannya Indah langsung menjatuhkan
diri di tubuh Gilang.
“Eh..eh.. kenapa Buk?”
“Maaf Pak, ini kepala saya tiba-tiba pusing.” Indah berakting sakit.
“Lila..Lila..!! teriak Gilang.
“Pak...” Indah menarik dasi Gilang hingga wajahnya sangat
mendekat dengan Gilang.
Gilang dengan cepat melepaskan tangan Indah, dan juga
pegangan tangannya hingga Indah terjatuh di lantai.
“Aaa..” Seru Gita.
“Ada apa Pak? Loh... Bu Indah kenapa tiduran disitu?” tanya
Lila, dia memandang Indah sangat aneh.
“Tadi dia bilang pusing, kamu bisa tolong urus dia. Eh..
kasih siapa gitu untuk urus dia. Saya tunggu kamu di mobil.” Kata Gilang sambil
jalan lebih dulu.
“Baik Pak Gilang.”
Lila akan membantu Indah, namun saat Gilang sudah menghilang
dari pandangan Indah langsung bangun.
“Udah gue bisa sendiri.” Kayanya sambil merapikan rambutnya.
__ADS_1
“Loh.. mendadak sembuh?” Lila kembali manatap dengan aneh. Sedangkan
Indah hanya melirik saja lalu pergi meninggalkan Lila.
“Katanya pusing, tiba-tiba jalan sendiri. Emang agak lain sekretaris ini.”
...----------------...
Hari ini Gita ingin memberikan pelajaran untuk Indah, dia
mengikiti kemana saja perginya Indah. Dia sudah meminta ijin kepada Win untuk
membawa Fara.
Dan tentu saja, alasan ijin yang sangat konyol dan Win hanya
mengiyakan setelah membawa-bawa nama
Gilang. Win sama sekekali tidak bisa melawan Gita kalau sudah menyebut
suaminya.
“Lo yakin mau ikutin Indah kemana saja?” tanya Fara yang
terus berusaha menjaga jarak aman agar mobilnya tidak ketinggalan dengan Indah.
“Tentu saja, gue mau tahu tujuan dia sebenarnya apa menggoda
Kak Gilang.” Katany greret.
Gita juga tahu kejadian sebelum Indah pergi, yang pura-pura
sakit. Untung saja Gilang langsung mengabaikannua kalau tidak bisa ngamuk Gita
tadi di tempat.
Indah berhenti di sebuah kafe, dia masuk seperti sudah di tunggu oleh seseorang.
Gita dan Fara sedikit megendap-endap dan celingukan seperti mau maling masuk
Kafenya.
Mereka berdua duduk tpat di belakang Indah, “Ini terlalu
dekat apa dia tidak akan melihat kita?” tanya Fara.
“Tenang saja, dia tidak begitu kenal dengan kita jadi tidak
pasti tahu wajah kita. Tetap pakai kacamata hitamnya.”
“Ok.”
“Hay.. sorry gue habis dari kamar mandi. Lo mau pesan apa?”
“What?! Indah bertemu dengan Lia?!” Gita benar-benar di buat
kaget dengan kedatangab Lia.
Orang yang sejak dulu ingin sekali mengambil Gilang darinya.
“Permainan apa yang sedang lo mainkan Lia?” Gumam Gita.
“Ada informasi apa? Lo sudah bikin Gilang melakukan
kesalahan?” tanya Lila tidak sabar.
“Lia, gue berhenti. Mending lo saja yang melakukannya. Gue udah
nggak bisa lagi.” Kata Indah sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Kenapa?”
“Lia, Gilang tidak seperti lelaki lainnya. Dia sangat setia
sama istrinya. Dan gue rasa mau di goda kayak apapun dia juga nggak akan
mempan.” Kata Indah.
“Indah, lo jangan menyerah begitu. Bantuin gue, masa lo nggak
mau bantuin sahabat lo sendiri.” Lia memegang tangan Lia. Dia memasang wajah melas.
“Hanya lo yang bisa melakukannya, gue udah punya ide lagi.
Ini bakalan menjadi yang terakhir.” Kata Lia dengan yakin.
“Lo lakuin saja sendiri, gue nggak mau kehilangan pekerjaan
gue. Gue sudah takut Pak Gilang mengadu sama Bos Gio.” Indah sudah menolak dia
tidak mau melakukan permintaan Lia.
“Sekali ini saja, lo ajak dia ketemu apa alasanya nanti buat
dia tidur dan bawa ke hotel yang sudah gue booking.” Kata Lia.
“Lia, apa itu sudah tidak keterlaluan.”
“Gue sakit hati banget sama Gilang, makanua gue membalas semua sakit hati yang dia lakkan sama gue.”kata Lia.
“Gue nggak bisa bantu.” Kata Indah kembali menolak.
“Please lah Indah, atau jangan-jangan lo sendiri suka sama Gilang?” Lia curiga dengan gelagat Indah.
“Tentu saja, wanita mana yang tidak akan jatuh cinta sama lelaki seperti Gilang.” Katanya dengan santai.
“Indah, lo gimana sih mau teman-makan teman. Bisa banget lo bilang suka sama Gilang di depan gue.”
“Lo tadi kan tanya, makanya gue jawab. Lo lakuin saja itu
renana lo, gue nggak ikutan. Pemainan lo terlalu berbahaya Lia, gue bisa
kelabuhi banyak lelaki tapi tidak dengan Gilang.
Gita dan Fara menganga mendengar pembicaraan Indah dan Lia,
tidak disangka semua ini jebakan yang di buat oleh Lia yang ternyata masih mengincar Gilang.
“Dia sudah gila.”
“Far, kita ikutin saja semua permainan dia.” Kata Gita.
“Maksud lo?”
“Kita buat Kak Gilang benar-benar datang sesuai dengan apa rencana dia.” Gilang ingin membalikan keadaan. Bukan Gilang yang di jebak melainkan Lia sendiri lah yang masuk ke jebakan yang dia buat.
“Caranya?”
Gita meminta Fara mendekat dia langsung membisiki rencana yang akan dia buat.
“Apa kita perlu Indah untuk ini?” tanya Fara.
“Sepertinya gue perlu dia, sekalian gue akan memberikan sedikit pelajaran agar doa tidak seenaknya.”
Meskipun Indah hanya orang yang di suruh Lia, namun dia rasa dia juga suka dengan Gilang. Jika Gilang benar-benar tergoda pasti dia juga
__ADS_1
akan merebut Gilang dari tangan Lia.