Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Part Vian & Anita II


__ADS_3

Vian sudah menduga kalau dirinya bakalan di cuekin sama Gita, Fara dan tentunya Anita. Ia sudah hafal dengan tingkah-tingkah mereka. Vian merasa lega Anita tidak kenapa-napa, nampak sehat.


“Nggak profesional.” Ujar Vian saat memasuki ruangannya sembari melirik ke arah Gita,Fara dan Anita.


“Kayak ada yang ngomong nggak sih, kalian dengar nggak?” Gita menatap kearah Fara lalu Anita.


“Wah.. Serem banget lama-lama ruangan ini, ada suara nggak ada orangnya.” Fara bergidik, berakting seolah-olah ia ketakutan.


“Ah.. Nyamuk kali..nging..ngiing..”


“Heh.. Kalian jangan seperti ini. Kasian tahu Vian.” bisik Anita, ia tidak tega Vian di gangguin sama kedua sahabatnya. Ia berharap Gita dan Fara menerima keputusan Vian dalam menilih pasangan hidupnya.


“Udah biarin saja, sekali-kali kasih pelajaran.” Kata Fara.


Vian menghela napas panjang, ia mulai tak betah di cuekin sama sahabat-sahabat rempongnya itu. Sudah beberapa hari tidak ketemu giliran ketemu langsung dicuekin.


“Sebenarnya gue salah apa sih sama kalian, kok dari kemarin cuekin gue.” Vian menggeser kursinya, dan bergabung sama mereka bertiga.


“Nggak ada.” jawab Gita.


“Kalau nggak ada kenapa pada dieemin gue, Anita bantuin gue, mereka kayak mak tiri sama gue.” Vian memegang kedua tangan Anita sembari merengek meminta bantuan.


Anita menatap lekang pegangan tangan Vian, ia merasa perlakuannya sama seperti dulu saat belum saling memiliki perasaan. Vian yang hanya berstatus teman sekelasnya, sahabat baiknya. Dia merasa lega karena persahabatanya terselamatkan. Namun ia sedih karena harus mengubur dalam-dalam perasaanya , entah sampai kapan ia tak tahu.


“Git, Far kalian jangan begitu lah. Kasian loh Vian nanti bisa kurus kering kalian cuekin.” Kekeh Anita. Ia berusaha menjadi Anita yang ceria, untuk menutupi rasa sedihnya karena hanya bisa memandang Vian tanpa bisa memilikinya.


“Dengar itu kata ibu peri yang baik hati, masa para dayang-dayangnya nggak mau menjalankan perintah ibu peri.” meskipun sedang di cuekin masih saja Vian menggoda Gita dan Fara.


“Heh..” Fara mengangkat kepalan tangan di udara.


“Ampun-ampun, gue traktir makan deh nanti siang buat membayar semua kesalahan-kesalahan yang entah apa itu.” Vian mencoba membuju Gita dan Fara dengan mentraktir makan. Biasanya mereka akan langsung tersentuh saat mendengar traktiran makan.


Gita menatap Fara dan Anita, “Gimana?”


“Terserah lo, gue ikut keputusan lo.” bisik Fara.


“Nit?”

__ADS_1


“Udah ikutin saja, lumayan kan makan gratis. Lagian kita juga sudah lama kan nggak makan bareng.” Anita menyetujuhi ajakan Vian, agar kedua sahabatnya itu baikan sama Vian.


Jam makan siang sudah tiba, mereka berempat langsung meluncur mencari restauran terdekat dari kantor.


“Makan apa ini?” tanya Gita.


“Apa saja deh, yang kalian mau gue bayarin sampai kalian kenyang.” ujar Vian.


“Sop buntut, nasi padang atau..”


“Vian..” panggil Bella yang memotong omongan Fara yang sedang list menu makan siangnya. Ia tersenyum, berjalan kearah mobil Vian.


“Kalian mau kemana?” tanyanya.


“Makan siang, lo apa disini?” tanya Vian agak canggung karena ekspresi wajah ketiga sahabatnya langsung berubah.


“Sebenarnya gue mau ajak lo makan siang, lo pasti belum buka pesan dari gue ya.”


“Ah.. Iya, gue belum sempat.”


“Haah! Ini hama tumbuhan satu tiba-tiba saja nongol.” gumam Gita.


“Iya loh, bikin nggak mood saja.” sahut Fara.


Vian benar-benar berada di situasi yang tidak menguntungkan, belum juga ada setengah hari baikan sudah mau huru-hara lagi. Tapi di satu sisi dia juga tidak enak menolak Bella, rasanya sangat jahat kalau dia mengusir Bella.


“Kalau kalain sudah janjian pergi saja, kita bertiga makan di kantin dulu. Nanti gampang lah traktir di lain hari saja. Ya nggak Far, Nit.” Gita memilih membatalkan acara makan siang bersama untuk menjaga perasaan Anita.


“Bell, sorry banget gue sudah janji sama mereka bertiga, mungkin lain kali saja.” Vian lebih memilih makan bersama Gita,Fara dan Anita. Memang dia lebih dulu berjanji untuk traktir mereka. Bella sebenarnya kecewa, tapi ia tidak bisa memaksa juga.


“Gimana kalau kita makan siang bareng saja, kasian kan Bella sudah sampai sini juga.” Anita merasa tidak enak, ia takut kalau hubungan yang baru saja membaik harus retak kembali gara-gara dirinya.


Gita dan Fara langsung menatap Anita, mereka berusaha menghindari acara makan bareng demi perasaanya tapi Anita malah mengajaknya makan bareng.


Anita tersenyum sembari menganggukan kepala mengisyaratkan kalau dirinya baik-baik saja.


“Nggak apa-apa ini gue gabung sama kalian?”

__ADS_1


“Iya nggak apa-apa kok, yuk buruan kita berangkat keburu habis jam makan siangnya.” ajak Anita.


Vian bergegas masuk ke mobil, begitu juga Bella yang langsung naik di depan samping Vian.


“Dasar hama satu ini tidak tahu diri, bisa-bisanya duduk di sebelah Vian.” Fara kesal.


“Fara, jangan begitu ah...”


Sepanjang perjalanan mereka hanya dia, Vian yang tadinya berpikir makan siangnya akan seru justru jadi sunyi, bingung dan canggung.


“Kita mau makan apa?” Vian menoleh ke belakang sebentar lalu fokus lagi ke depan.


“Gimana kalau kita makan sate maranggi, itukan makanan kesukaan kamu. Kangen banget aku makan sama kamu disana.” Kata Bella. Ia ingin nostalgia bersama Vian di tempat yang dulu sering dia datangi.


Fara melipat kedua tangannya, wajahnya langsung serem. Vian langsung memutar otak supaya tidak terjadi peperangan di mobil.


“Em, kayaknya tadi pada mau makan sop buntut kan, bagaimana kalau kita makan sop buntut.” Vian benar-benar ingin kabur dari situasi itu.


"Sop buntut?" Bella tidak menyukai sop buntut.


"Iya, kita mau makan sop buntut, lo nggak suka?" tanya Fara agak ketus.


"Ya sebenarnya gue nggak suka sih, cuma ya nggak apa-apa gue mau coba." Bella tersenyum, namun membuat hati Fara semakin nggak suka.


"Kalau lo nggak mau kita bisa kan makan sate, kita semua masuk kok." Anita masih saja memikirkan perasaan Bella.


"Nit, lo kenapa sih belain dia terus." Fara makin di buat kesal.


"Kasian kan kalau nanti dia nggak makan." bisik Anita.


"Udah sup buntut aja, gue tiba-tiba pingin banget. Nggak bisa ganti menu kayaknya. Sorry ya Bella, apa bawaan jabang bayi nih kayaknya." ceplos Gita.


"Lo hamil?" Fara dan Anita terkejut mendengar kalau bawaan bayi.


"Beneran nih gue bakalan dapat ponakan baru?" Vian sampai menghentikan mobilnya.


"Ya gue belum cek sih, cuma gue udah telat lebih seminggu." kata Gita.

__ADS_1


Dan kehebohan pun terjadi, suasana yang awalnya tegang jadi damai.


__ADS_2