
Wanda duduk bergabung sarapan dengan Aiden, Rafa,Luki dan Ibob setelah selesai menyiram tanamannya.
“Kalian semua harus menjauhi anak perempuan sama laki-laki yang kemarin nenek ketemu di sekolah kalian,” Wanda mengingatkan cucu-cucunya.
“Siapa nek?” tanya Ibob.
“Siapa Ai namanya?” Wanda menatap Aiden.
“Kris dan Kyra,” jawab Aiden tanpa melihat neneknya. Dia fokus menyantap sarapannya.
“Kyra?” Rafa menatap Aiden.
“Iya itu siapa namanya nenek nggak tahu, pokoknya nenek nggak mau kalian berteman sama dia. Sekaya apa dia bisa-bisanya memaki cucu nenek,” Wanda kembali menumpahkan kekesalannya.
“Nenek, sudah jangan diingat-ingat lagi. Nanti nenek kepikiran sakit malah. Ai tidak apa-apa Nek,” ujar Aiden. Dia tidak mau neneknya jadi pikiran karena masalh di sekolah.
“Tapi Kyra itu baik loh Nek,” ucap Ibob.
“Nenek nggak mau tahu, mekipun dia baik tapi mamanya sangat sombong. Jadi kalian nggak perlu berteman dengan dia. Ai, kamu mau bawa mobil nenek biar mereka lihat kamu itu juga orang berada,” Omel Wanda.
Aiden memegang tangan Wanda. “Nenek, Ai nggak apa-apa. Lagian yang sombong kan mamanya bukan anaknya. Masa kita membenci orang yang nggak salah apa-apa.”
“Benar nek, Kyra itu anak baik. Ya meskipun mamanya memang sombong. Sering kali mengejek kita. Sama satu itu ketua osis yang songong,” cerocos Ibob yang mendapat tepukan keras di pahanya oleh Luki.
Baru saja Aiden menenangkan neneknya malah di kompori lagi sama Ibob. Ibob meringis mengelus pahanya yang mulai terasa panas dan perih.
“Nenek yang tenang, kita ini anak laki-laki yang tahan banting. Nanti kalau sampai dia menghina lagi Luki berikan pelajaran berharga supaya mulut-mulut mereka itu diam,” ujar Luki.
“Tapi kalian jangan berantem loh, nenek nggak suka kalau cucu-cucu nenek ini pada berantem,” kata Wanda. Dia mengingatkan anak-anak remaja ini yang emosinya masih menggebu-gebu. Takutnya mereka menjadi brutal dengan masalah yang ada.
“Nggak nek, paling cuma Luki yang sering berantem,” adu Ibob.
“Luki, awas ya kamu berantem. Nenek jewer kamu dari sekolah sampai rumah,” ancam Luki.
“Nggak nek, Ibob lo ya cepu banget. Gue beri juga lo biar diam.”
“Lihat nek, Luki mau hajar Ibob,” ucap Ibob manja sama Wanda.
“Luki!”
“Bercanda nek, bercanda.”
Semua langsung tertawa terbahak-bahak, meskipun sangat riweh namun Wanda bahagia. Setelah kepindahan Aiden, Rafa yang serta membawa kedua sahabatnya yang telah dianggapnya cucunya juga.
__ADS_1
Setelah Ai membawa motor tuanya, Luki dan Rafa pun ikut membawa motornya.
“Ai, hp lo kenapa kok nggak bisa di hubungi. Kyra terus menelepon gue,” kata Rafa.
“Iya, lo kayak menghilang di telan bumi saja, dua hari tanpa kabar,” sahut Luki.
“Lagi me time gue,” kata Aiden sambil tersenyum.
“Me time?” Rafa mengerutkan keningnya.
“Ngapain lo? Naik gunung melewati lembah,” ujar Ibob sembari tertawa.
“Berada di tempat ternyaman.” jawabnya penuh teka-teki yang membuat teman-temannya penasaran.
“Di mana?”
“Kasur gue tercinta,” jawabnya sembari menghidupkan motornya. Mereka sudah lama basa-basi di halaman rumah sampai jam sudah menunjukkan setengah tujuh.
“Bocah, jauh-jauh pulang cuma buat hibernasi,” Rafa menggelengkan kepala.
“Kalian ke sekolah dulu ya, gue ada urusan sebentar,” Aiden jalan lebih dulu meninggalkan rumah.
“Makin lama makin aneh saja itu bocah,” tukas Luki.
Kyra menunggu Aiden di tempat parkir, dia ingin berbicara langsung dengan Aiden setelah pesan dan teleponya tidak di respon.
“Rafa, Ai mana? Hari ini dia masuk sekolah kan?” Kyra berjalan mendekati Rafa yang baru saja turun dari motornya.
“Masuk, tapi katanya ada urusan sebentar.” jawabnya.
“Kita masuk dulu saja, mungkin bakalan telat Aiden,” ajak Ibob.
Kyra pun mengikuti saran Ibob, dia memang ingin menemui Aiden. Tapi dia juga tidak mau membuat masalah lagi dengan mengabaikan tata tertib sekolahnya yang akan mengurangi poinnya.
Baru jalan kira-kira dua meter dari parkiran Aiden datang memboncengkan cewek. Kyra melebarkan kedua matanya, hatinya berdebar tidak karuan.
“Dia siapa?” tanya Kyra sama Ibob.
“Gue juga nggak tahu,” jawabnya. Dia juga nggak tahu siapa yang ada di boncengannya.
“Pacar Aiden?” Luki melihat kearah Rafa. Rafa mengangkat kedua bahunya.
“Eh tunggu,” Rafa melihat dengan lebih teliti, dia seperti mengenali cewek yang di bonceng Aiden. “Erina bukan sih?” ujarnya.
__ADS_1
Luki dan Ibob pun kembali melihat dengan seksama untuk memastikan siapa cewek yang bersama Aiden.
“Iya, itu Erina.”
Kyra menatap penuh cemburu kepada gadis cantik berkulit putih yang sedang melambaikan tangan kepada Rafa, Luki dan Ibob. Mereka bertiga pun berlari menuju Aiden dan Erina, meninggalkan Kyra yang berdiri penuh pertanyaan.
Rafa memeluk erat Erina, dia rindu berat dengan kekasihnya yang sudah hampir satu bulan tidak di temuinya.
“Kamu kok bisa di sini?” tanya Rafa sembari melepaskan pelukannya.
“Iya, aku pindah ke sini.”
“Beneran, nggak bohong?” kedua mata Rafa berbinar, dia senang sekali sampai tidak bisa berkata apa-apa.
“Iya sayang.” Rafa kembali memeluk Erina, akhirnya keinginannya terkabul juga.
“Fa, bisa gantian nggak pelukannya. Kita kan juga mau,” kata Ibob.
“Benar, yang kangen bukan cuma lo. Kita juga kangen loh,” ujar Luki.
“Berani lo peluk Erina, gue panggang hidup-hidup lo,” ancam Rafa.
“Kalau gue gimana?” Aiden merangkul Erina.
“Wah, perang saudara kalau ini namanya,” ucap Luki sambil terkekeh.
Rafa menepuk tangan Aiden, lalu melepaskan tangan Aiden dari rangkulan Erina.
Kyra dari kejauhan merasa sedih, mungkin ini cewek yang di sukai sama Aiden. Seperti yang di katakan Ibob dan Luki. Cewek yang selama ini diidamkan oleh Aiden.
Kyra memilih pergi tidak jadi bicara dengan Aiden, hatinya sudah perih. Bahkan kalau dia mau menjauhi dirinya lebih baik. Supaya ceweknya tidak cemburu.
“Kenapa lo, pagi-pagi sudah kayak cucian belum di setrika. Kusut amat.” Dinda menatap Kyra yang baru saja duduk di sampingnya.
“Gue sekarang sudah tahu siapa cewek yang di sukai Ai,” ucapnya pelan.
“Siapa?” Dinda memutar tubuhnya sampai menghadap ke tubuh Kyra.
“Gue nggak tahu namanya, tapi samar-samar gue dengar cewek itu bakalan sekolah di sini,” Katanya sembari menelungkapkan kepalanya.
“Tapi sudah pasti dia cewek Kak Ai?” Dinda tidak yakin kalau Aiden sudah memiliki pacar.
“Tadi gue lihat dia merangkul cewek itu, mana wajahnya sumringah lagi. Beda dari biasanya yang dingin. Tahu nggak gue patah hati sebelum jadian. Gue kalah Din, gue nggak bisa mendapatkan keduanya. Aiden dan juga tiket ke singapur dari lo.”
__ADS_1
“Lo jangan sedih dulu deh, kan belum pasti juga dia ceweknya Kak Ai. Dia itu susah loh di deketin sama cewek,” Dinda mencoba menghibur Kyra supaya jangan menyerah dulu.