
Aiden datang ke sekolah dengan motor kebanggaannya, ia langsung parkir di pojokan karena tak mau membuat masalah dengan Dimas.
“Hai,” sapa Sila.
“Hai,” jawab Aiden.
“Lo nanti siang ada waktu nggak?” tanya Sila hati-hati.
“Nggak ada,” jawab Agil cuek.
Agil meninggalkan Sila yang masih berdiri di samping motor Agil, ia tidak mau terlihat bersama Sila yang akan membuat sepupunya cemburu.
“Agil tunggu,” Sila berlari menyeimbangkan jalannya dengan Agil.
“Lo mau apa?” tanya Aiden dengan datar.
“Gue mau ajak lo jalan,” jawab Sila.
Aiden berhenti, ia menatap Sila dengan aneh kenapa dia mau mengajak jalan Aiden padahal ia sedang dekat dengan Rafa.
“Lo nggak salah?” tanya Aiden.
“Nggak,” jawab Sila.
“Mendingan lo jauh-jauh dari gue,” ujar Aiden sembari berjalan meninggalkan Sila.
“Kenapa?” Sila masih tidak mau menyerah untuk mendekati Sila.
“Sila, jaga perasaan Rafa, lo jangan seperti ini,” Aiden to the poin, ia semakin tahu arah tujuan Sila mendekati dirinya.
“Tapi gue nggak suka sama Rafa, gue sukanya sama lo,” Sila jawab jujur.
Aiden menghela napas panjang, ia terkejut kenapa Sila menjawabnya dengan jelas bahkan tanpa beban. Bahkan dengan berani seorang cewek menyatakan perasaannya tanpa rasa malu.
“Gue nggak suka sama lo, dan nggak akan pernah suka sama lo.”
“Kenapa?” Sila menginginkan jawaban dari Aiden kenapa dia tidak menyukai dirinya. Padahal banyak cowok-cowok di sekolahnya yang menyukainya.
“Apa gue kurang cantik, atau kurang apa?” tanya Sila dengan sedih karena di abaikan oleh Aiden.
“Kurang cinta, dan tak ada cinta,” ucap Aiden dengan dingin.
Aiden tidak memperdulikan Sila, ia meneruskan jalannya menuju ke kelas.
Sila merasa kesal dengan sikap Aiden kepadanya, “Lihat saja, lo nggak akan bisa lepas dari gue. Lo pasti akan bertekuk lutut sama gue.”
Langkah Aiden terhenti ketika Ibob yang entah datang dari mana berdiri di depannya.
“Ada apa?” tanya Aiden sembari menggeser Ibob agar bisa meneruskan jalannya.
“Itu tadi Sila kenapa?” tanya Ibob.
“Nggak tahu,” jawab Aiden tidak mau menjelaskan kepada Ibob apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak mau Ibob salah paham dan mengiranya merebut gebetan saudaranya sendiri.
*****
__ADS_1
Bel istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu tapi Aiden masih saja terlelap. Aiden mengerjapkan matanya perlahan, ia melihat samar-sama melihat cewek di depannya.
“Hai Ai,” sapanya dengan senyuman manis.
Aiden mengangkat tubuhnya, ia menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. Mengucek kedua matanya agar bisa melihat secara normal.
“Lo siapa?” tanya Aiden datar, kesal karena tidurnya ada yang mengganggu.
“Gue Erina,” jawabnya dengan gugup.
“Terus?” katanya dingin di tambah lirikan mata Aiden yang tajam membuat Erina semakin gugup.
“Gue mau nganterin makanan ini dari Sila,” Erina meletakkan makanan cepat saji yang sepertinya di pesan dari luar sekolah.
Erina berlari meninggalkan Aiden, meskipun sering berwajah manis namun Aiden dering terlihat garang kepada orang-orang yang membuatnya kesal.
Aiden melihat ke sekeliling ruangan kelasnya yang tidak ada satu murid pun tersisa.
“Gembel, kenapa nggak ada yang bangunin gue,” ucapnya sembari berdiri.
Aiden pergi ke kantin mencari ketiga sahabat laknatnya yang tidak membangunkan dirinya.
“Ai,” panggil Ibob sembari melambaikan tangan.
“Sialan kalian ya, kenapa nggak ada yang bangunin gue,” omel Aiden.
“Gue kan kasihan sama lo terlihat capek sekali,” jawab Rafa.
“Iya, lo begadang ya?” tanya Luki.
“Emang nggak di marahin tante Gita?” tanya Rafa. Tumben-tumben sekali Aidden bisa begadang semalam itu selain hari libur.
“Boleh lah,” Aiden memakan gorengan entah siapa yang pesan.
“Keren, gue juga mau lah,” ujar Rafa.
“Pinter dulu makanya, lo bakalan bebas deh mau melakukan apa saja,” jawab Luki.
“Oiya, lo dapat makanan dari Sila,” kata Aiden.
“Oiya, mana?” mata Rafa langsung berbinar.
“Di kelas.”
“Nih, bakso ini masih perawan belum gue sentuh sama sekali. Dan sudah gue bayar makan saja,” Rafa mengangkat mangkok ke depan Aiden.
“Ok,” jawabnya dengan senang.
“Wah, kemajuan pesat nggak lama lagi pasti bakalan jadian,” kata Ibob senang sahabatnya bakalan lepas masa jomblonya.
“Ai, gue tadi lihat di parkiran ngobrol sama Sila,” tanya Luki.
Luki melihat Aiden sama Sila namun ia tidak sempat untuk nimbrung karena perutnya sakit. Ia melihat keanehan karena wajah Agil sangat datar.
“Iya, dia bilang suka sama gue,” jawab Aiden akhirnya jujur sama Ibob dan Luki.
__ADS_1
“Apa?” Luki dan Ibob kaget.
“Kok bisa?” Luki terheran-heran, jelas-jelas Rafa yang mendekati Sila tapi malah Aiden yang mendapatkan hati Sila.
“Gue juga nggak tahu.”
“Jadi pagi tadi dia bengong, setelah menyatakan cinta sama lo?” tanya Ibob dengan menelan bakso yang di kunyahnya.
“Iya, kalian harus jaga rahasaia ini jangan sampai Rafa tahu,” pinta Aiden.
“Terus makanan yang lo bilang dari Sila untuk Rafa?” tanya Luki.
“Tadi temannya yang memberikan sama gue,”Aiden menaruh sendoknya setelah menghabiskan bakso pemberian Aiden.
“Terus enaknya gimananih?” tanya Ibob.
“Pelan-pelan saja ngomongnya sama Rafa, dia juga bakalan sakit hati kalau tahu gue yang jadi saingannya,” jelas Aiden.
“Tapi lo nggak suka sama Sila kan?” Luki menanyakan perasaan Aiden.
“Tentu saja tidak, gue bahkan tidak tertarik dengannya,” jawabnya dengan tegas.
Aiden belum menemukan cewek yang masuk di hatinya, bahkan dimatanya Sila sangat biasa saja.
*****
Pulang sekolah Sila sudah menunggu Aiden di parkiran, bahkan sengaja dia memparkirkan mobilnya di dekat Aiden.
“Sila, makasih ya,” ucap Rafa dengan malu-malu.
“Untuk?” Sila bingung, ia tidak memberi atau melakukan apa-apa untuk Rafa.
“Makanannya, enak banget,” jawab Rafa dengan wajah yang sumringah.
Sila menatap Aiden, dia kecewa ternyata makanan pemberiannya justru di berikan kepada Rafa.
“Sil,” panggil Rafa.
“Iya,” jawabnya pelan.
“Lo kenapa, sakit?” Rafa cemas, melihat Sila mendadak tidak punya semangat.
“Anterin ke rumah sakit gih, atau anterin pulang sekalian,” kata Aiden.
“Benar, anterin saja Raf. Bahaya loh kalau nyetir sendiri,” sahut Luki.
“Nggak usah terima kasih, gue nggak apa-apa kok,” jawab Sila.
“Gue balik dulu ya, mau beresin kebun dulu takut nggak selesai bisa di marahin nyonya besar gue,” Aiden berjalan menuju ke motornya.
“Gue bantuin deh Ai,” Ibob nyelonong ikut dengan Aiden.
“Jadi lo mau gue anterin atau tidak?” tanya Rafa.
“Ya, boleh deh.”
__ADS_1
Sila ahirnya mau diantar Rafa, namun bukan karena dia suka sama Rafa melainkan ingin menggali informasi lebih banyak tentang Aiden sama Rafa. Sebenarnya seperti apa Aiden dan juga kehidupannya.