
Gilang menjatuhkan tubuhnya ke kasur, dia menatap langit-langit. Belum juga ada sehari sudah merasa kangen sama Gita dan Aiden.
"Hah.. Gue harus bisa. Sekali-kali gue tidak mencarinya. Sekalian aku mau tahu sebenarnya perasaan dia sama aku seperti apa." Ujar Gilang.
Kali ini Gilang akan menahannya, dia tidak mau buru-buru nyamperin Gita. Meskipun dia sudah rindu dan tak bisa kalau tanpa mereka berdua.
Tok..tok..tok..
"Mas Gilang." Panggil Bik Siti.
"Ya.. Bik." Gilang beranjak dari tempat tidurnya. "Ada apa Bik?" Gilang menongolkan kepalanya.
"Makan dulu mas, udah bibi siapin makanannya." Kata Bik Siti.
"Iya Bik, Gilang bebersih dulu." kata Gilang kembali masuk ke kamarnya.
"Iya Mas."
Selesai bebersih Gilang langsung menuju ke ruang makan. Suasana rumah yang riuh karena kebawelan Gita, suara tawa, tangis Aiden kini hilang menjadi sangat sunyi.
Gilang mencoba membiasakan diri, dia makan sendiri.
"Mas, ini obatnya ya. Jangan lupa di minum." kata Bik Siti.
"Makasih Bik."
Gilang mengambil ponselnya, dia membuka obrolan dengan Vian.
...Gilang...
...Lo dimana?...
...Vian...
...Di jalan, mau balik. Ada apa?...
...Gilang...
...Ke rumah gue gih, atau nongrong kemana gitu....
...Vian...
...Ada apa tumben?...
...Gilang...
...Gabut gue di rumah sendiri...
...Vian...
...Ke club? Ajeb..ajeb gitu...
__ADS_1
...Gilang...
...Jangan aneh-aneh, buruan kesini...
...Vian...
...Meluncur......
Tak lama Vian datang dengan membawa banyak cemilan, dari martabak, roti bakar, dan beberapa snak-snak lainnya.
"Bos, nih buat teman malam kita." ujarnya.
"Lo bawa makanan sebanyak ini buat siapa? Kita cuma berdua." Kata Gilang.
"Kan ada Bani, ada Pak Seno ada Bik Siti. Oiya Lang kenapa lo nggak ajak Raka sekalian?" tanya Vian.
"Raka lagi keluar kota nggak bisa dia."
"Ooo.. Gimana mau dugem?" tanya Vian.
"Dugem...dugem... Udah ps aja yang aman." Kata Gilang.
"Lo takut ya sama Gita, kalau ketahuan dugem?"
"Gue bukan takut, tapi menghargai lagian ya dugem juga nggak ada manfaatnya kali. Yang ada tambah masalah. Lo ya kalau sampai menikah berani dugem, atau ketempat-tempat macam itu gue jamin rumah tangga lo nggak akan bertahan lama." Cerocos Gilang memarahi Vian.
"Iyaa..iya... Orang cuma bercanda ini kok ya di ambil hati. Tapi siapa tahu lo juga mau nyoba." kata Vian yang langsung mendapat lemparan batal sofa.
"Lang.."
"Hmm.."
"Menurut lo, gue boleh nggak sih suka sama Anita?" obrolan yang tadinya ngabrut langsung berubah serius.
"Boleh..boleh saja, tapi lo beneran suka atau cuma karena kasian?" tanya Gilang.
"Ya kalau gue rasa, semakin lama sih gue benar-benar merasa ada sesuatu. Awalnya gue biasa aja, ketika Fara, Gita mencomblangkan gue. Tapi lama-lama gue rasa aneh, ingin juga aku melindunginya ketika mendengar Bayu yang terus saja berusaha menyakitinya." Curhat Vian.
"Menyakitinya?"
"Ya.. Dia terus meneror Anita. Dia ingin kembali sama Anita, emang nggak ada otak kali itu bocah." ujarnya kesal.
"Kalau lo sungguh-sungguh kejar, jangan lepaskan lagi. Lo nggak mau kan kejadian sama Bella terulang lagi." Gilang mengingatkan Vian.
"Ya kalau itu sih di luar kendali gue, dia sendiri yang mau pergi. Tapi Lang, Anita hanya menganggap gue teman. Gue coba dekati juga terus bilang kalau kita sahabat."
"Gimana kalau lo lamar dia langsung aja." Gilang memberikan ide besar.
"Yakin lo, gimana kalau gue di tolak?" Vian minder.
"Itu pikir terakhir, lagian lo cowok cemen amat takut di tolak. Vian gue mau tanya serius sama lo, ini sangat penting buat lo kalau benar-benar mau sama Anita."
__ADS_1
"Apa?"
"Seberapa yakin hati lo buat Anita?"
"Yah kalau sekang bisa di bilang delapan puluh persen sih."
"Lo tahu kan status Anita sekarang apa? Dan saat lo berhubungan dengan Anita maka lo harus menerima semua konsekuensinya. Tak hanya itu,untuk hubungan ke jenjang serius itu tidak hanya melibatkan dua orang saja. Melainkan semua keluarga. Apa bisa keluarga lo menerima Anita dengan baik, apa keluarga lo tidak keberatan dengan status dan sakit yang di derita Anita." Kata Gilang dengan hati-hati, dia tidak mau sahabatnya gegabah mengambil keputusan.
Vian terdiam, Gilang benar berhubungan dengan Anita itu butuh banyak pertimbangan. Bukan pada dirinya namun orang-orang di sekitarnya.
"Kalau lo nggak bisa membuat Anita di terima keluarga besar lo. Please, lebih baik lo mundur saja. Karena itu hanya akan menambah sakit hati Anita."
"Benar juga, gue belum sampai ke pikiran ke tahab itu."
"Gue bukan melarang atau menakuti lo, tapi itu harus di pikirkan sejak awal agar tidak saling menyakiti." kata Gilang.
"Lo benar, gue memang harus mengurus keluarga gue dulu."
"Kalau lo yakin, dan berjodoh lo pasti akan dimudah kan. Dan lo harus bekerja extra."
"Benar." ujarnya sambil berdiri.
"Mau kemana lo?"
"Pulang ketemu mak gue, mau minta kawin." Ujarnya.
"Heh.. lihat noh jam berapa? Minta kawin jam segini dikira ntar lo kesambet." Kata Gilang sambil menunjuk jam dinding. Vian meeringis lalu kembali duduk saat tahu hari sudah menuju pagi.
"Tidur yuk, gue udah ngantuk berat." kata Gilang.
"Ok." kata Vian sambil menguap. "Sini Lang, gue keloni." kata Vian.
"Idiih.. Jijik gue Vian. Geli tahu nggak lo." Gilang bergidik.
"Yaelah.. Daripada gak ada yang kelonin lo." Vian terkekeh.
"Takut gue." Gilang langsung kabur ke kamarnya.
Vian terkekeh, dia mematikan lampu utama mengganti dengan lampu tidur. Dia kembali mencerna semua nasehat dari Gilang.
Status Anita memang sering menjadi masalah. Kalau dia memang sungguh-sungguh harus harus double meyakinkannya.
Antara keluarganya dan pastinya dengan hati Anita yang masih belum terketuk.
Sedangkan Gilang di kamar pun tidak bisa tidur, awalnya dia yang ngantuk berat jadi segar.
Meskipun tidak tegur sapa kalau masih dalam satu rumah, dia bisa tidur nyenyak karena bisa melihat dengan jelas Gita.
"Apa aku bakalan kuat seperti ini?" Ucap Gilang. Dia mengambil ponselnya, dia ingin chat Gita namun dia urungkan lagi.
"Kalau aku chat dulu, nanti pasti Gita merasa kalau omongan aku nggak sungguh-sungguh." Gilang mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Dahlah, tidur saja. Gita harusnya yang telpon aku dulu. Gilang lo harus kuat, demi harga diri lo." katanya sambil menaruh ponselnya. Dia menyelimuti tubuhnya sampai ke kepala.