Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Pindah Sekolah?


__ADS_3

Sila keluar menemui Aiden, ia tersenyum manis meskipun dia tahu kalau Aiden datang bukan untuk menemui dirinya.


“Hai Ai, akhirnya lo datang juga ke rumah gue,” ujarnya.


Aiden hanya diam, ia memainkan ponselnya tidak menghiraukan sapaan dari Sila.


“Masuk dulu yuk,” ajak Sila.


“Jangan cuma Ai dong yang diajakin masuk, kan masih ada kita bertiga,” Ibob menyahuti ajakan Sila. Mereka bertiga hanya dilewati saja.


“Sorry, nggak kelihatan tadi,” katanya sembari senyum sebentar.


Aiden sedikit bergeser dari Sila ketika mendapatkan telepon, Sila yang kepo put tak mau melewatkannya. Ia ingin tahu siapa orang yang di teleponya.


“Halo beb,” Aiden menemelkan ponsel di telingannya.


“Beb?” Sila melogo, kesal banget. Ia pikir orang yang di teleponnya pasti ceweknya.


“Iya sayang, nanti dijemput,” Aiden mematikan sambungan teleponnya.


Sila manyun, ia berjalan mendekati Ibob, Luki dan Rafa.


“Aiden sudah punya pacar?” tanya Sila dengan ketus. Mereka bertiga kompak dengan mengangkat pundaknya.


“Kalian kenapa sih jahat banget sama gue?” tanya Sila.


“Loh, kita jahatnya di mana?” Ibob bingung.


“Guys, gue cabut dulu ya,” Aiden pamit.


“Mau kemana?” tanya Rafa.


“Panggilan dari ibu negara, nanti gue menyusul,” Aiden melambaikan tangan. Ia memakai helmnya dan segera jalan.


Sila mendengus kesal, ternyata gebetannya itu sudah memiliki pacar. Sila pergi masuk rumah dengan muka yang sudah di lipat-lipat.


“Kita nggak jadi diajak masuk?”


“Masuk saja ke kandang singa, lo juga sana pergi. Dasar manusia tidak tahu diri,” ucapnya sembari membanting pintu.


*****


Aiden duduk santai di kosan milik Rafa, ia menunggu kedatangan ketiga sahabatnya dan juga Erina.


“Mas Ai, kok sendirian yang lain kemana?” tanya Pak Dul penjaga dan tukang bersih-bersih kos-kosan milik keluarga Rafa.


“Mereka sedang menuju ke sini Pak. Oiya, Rafa sudah bilang Pak Dul belum kalau kamar yang kosong mau di pakai orang?” tanya Aiden.


“Sudah kok Mas, semua sudah rapi. Memangnya yang kos siapa Mas kok sampai Mas Rafa yang meminta sendiri?”


“Itu teman sekolah kita,” jelas Aiden.


“Itu dia mereka, panjang umur baru juga diomongin sudah datang,” kata Pak Dul.


“Sore Pak Dul,” sapa Luki dan Ibob bersamaan.

__ADS_1


“Sore, eh kok sampai dijemput ke sininya. Sepertinya istimewa ini,” ujar Pa Dul sembari mendekati mobil Rafa.


Sedangkan ketiga orang yang baru di tinggalkan Pak Dul itu langsung menggelengkan kepala.


“Memang yang dijemput dianterin itu istimewa, bagaimana dengan abang gojek apa iya semua penumpangnya istimewa,” cerocot Ibob.


“Istimewa dong, kan bayar,” sahut Aiden.


Erina merasa tersanjung, meskipun secara tidak langsung seperti di ratuan saja sama mereka berempat.


“Makasih ya,” katanya malu-malu.


“Sama-sama,” jawab Rafa.


“Gimana kalau gue traktir makan sebagai ucapan terima kasih gue sama kalian?” tutur Erina.


“Nggak usah kok, kita ikhlas,” kata Aiden.


“Sorry, ini mungkin agak kelewatan permintaan gue sama kalian. Tapi boleh nggak gue berteman sama kalian?” tanya Erina ragu-ragu.


“Boleh, cuma ya lo harus tahu diri. Jangan lo memanfaatkan kita untuk mencari keuntungan,” kata Luki to the poin. Dia tidak mau Erina memanfaatkan kebaikan mereka.


“Heh, mulut lo tajem amat ya,” Ibob menabok lengan Luki,


“Yang di katakan Luki benar, kita nggak suka orang seperti itu,” Aiden menegaskan kalau memang mereka tidak menyukai jenis teman seperti itu.


“Gue janji,” ucapnya dengan mengangkat kedua tangannya.


*****


“Apa?”


“Lo nggak ingin gitu pacaran,” tanya Rafa.


Aiden mengambil toples berisikan keripik kentang, perlahan ia memasukan satu persatu keripik kedalam mulutnya.


“Eh, buset. Ini bocah di tanyain malah makan,” Rafa melempar beberapa kacang ke tubuh Aiden.


“Belom ada yang sreg gue, pindah sekolah saja yuk cari cewek cantik,” celetuk Aiden tanpa mikir.


“Enteng banget lo ngomong,” Rafa menggelengkan kepala.


“Habisnya sekolah kita nggak seru,” jawabnya dengan mulut penuh keripik.


“Eh, gimana kalau pindah ke sekolah nyokap kalian dulu. Mungkin di sana kita akan menemukan banyak keseruan,” ajak Ibob.


“Ayok, kan gue jadi satu sekolah sama Dinda,” Luki semangat bisa sekolah bareng Dinda.


“Jauh kali,” jawab Rafa.


“Ya kita kos berempat, itung-itung kita mandiri,” jelas Ibob.


“Gimana Ai?” tanya Rafa.


“Nggak tahu deh, nyokap dan bokap gue belum tentu memberikan izin,” Aiden nggak yakin kalau orang tuannya bakalan mengizinkan dia pergi jauh dari rumah.

__ADS_1


“Dasar anak mama lo,” ejek Luki.


“Bodo,” Aiden sama sekali tidak mau di katakan anak mama. Ia senang saja bisa berkumpul dengan keluarganya.


“Maklum lah anak satu-satunya, pewaris perusahaan Om Gilang satu-satunya,” cicit Ibob.


“Kalian nggak usah iri, kalian kan memang bukan anak kesayangan makanya nggak di bebasin,” Aiden menjulurkan lidahnya.


“Sialan lo,” maki Luki.


“Ai, tapi kalau lo pindah bisa menghindari Sila loh,” Luki membujuk Aiden.


“Benar juga, Ai lo bisa bebas, lepas,” Ibob ikut membujuk Aiden.


“Fa, lo nggak mau pindah cari cewek cantik lagi di sana?” Luki mengompori Rafa. Kalau saja mereka bertiga pindah pasti saja Aiden akan ikut pindah.


“Gue ikut Ai saja,” jawab Rafa sembari menatap ke Aiden.


Ternyata Luki lupa, kalau semua keputusan tetap sama Aiden meskipun tiga banding satupun.


“Dahlah, jangan terlalu berharap lo,” Luki rebahkan tubuhnya sepertinya keinginanya nggak bakalan terwujud bisa satu sekolah sama Dinda.


“Kenapa nggak lo saja yang pindah Luk?”


“Ai, kalau gue seorang yang pindah terus gue main sama siapa?” Luki manyun.


“Sama Dinda, itu ya kalau mau,” kekeh Ibob yang disahuti Aiden dan Rafa.


“Ai, ngomong-ngomong lo tadi telepon sama siapa? Lo sudah punya pacar?” tanya Ibob.


“Nyokap, gue balik dulu ya. Gue ngomong dulu sama nyokap kalau mau pindah sekolah,” Aiden mengambil jaketnya.


Luki langsung beranjak dario sofa, “Perlu gue kawal lo nggak?”


“Lo kesurupan?” Aiden melihat Luki heran.


“Saking senengnya mau satu sekolahan sama gebetan,” Ibob menggelengkan kepala melihat temannnya yang kaku, dingin itu bisa terlihat sangat girang dan lebay.


“Jangan senang dulu lo, ntar kalau nggak jadi pindah meriang,” Goda Rafa.


“Iya, keberhasilan hanya satu persen dan kegagalanya sembilan puluh sembilan persen,” kata Aiden.


“Ck,” Luki berdecak.


“Makanya doanya yang khusuk, biar di belehin sama nyokap,” ujar Aiden.


“Ai, gue ikutan ya ke rumah lo,” Ibob mendadak ingin ikut juga.


“Pada mau ngapain coba?”


“Buat bujukin Om Gilang sama Tante Gita,” jawab Ibob.


“Bujukin tante Fara dulu sana, gue mah gampang.”


“Benar juga, nyokap lo kan gampang-gampang susah Fa,” ujar Luki.

__ADS_1


“Asal Aiden di bolehin sama Tante Gita, pasti gue juga boleh. Tenang saja,” jawab Rafa.


__ADS_2