
Gita tengak-tengok mencari celah agar bisa berbicara kepada Vian. Dia tersenyum ketika Gilang sedang asyik dengan Aiden.
"Vian, sini deh." Kata Gita pelan, dia meminta Vian duduk lebih dekat dengannya.
"Apa?" katanya masih saja belum bergerak.
"Ck! Udah buruan sini. " Gita tidak sabar takut Gilang keburu gabung lagi sama mereka.
"Apaan sih lo, modelan begini nih yang buat gue takut." Kata Vian masih enggan mendekat dengan Gita.
"Emang gue mau ngapain, orang cuma mau ngobrol doang. Buruan deh, kesel nih gue lama-lama." Kata Gita.
Dengan hembusan napas pelan dia duduk lebih dekat dengan Gita.
"Lo pasti mau aneh-aneh kan, gue nggak mau." Vian curiga dengan Gita.
"Nggak aneh-aneh, gue serius kali ini." Kata Gita dengan mantap agar Vian percaya dengan dirinya.
"Iya keseriusan lo itu bikin gue ketar-ketir, mana bisik-bisik lagi."
"Diam deh, lo dengerin gue dulu. Gue itu cuma mau tanya pendapat lo tentang Anita. Itu aja nggak aneh kan." jelas Gita.
"Pendapat yang mana nih?" tanya Vian.
"Ya semuanya."
"Bukan hak gue juga kali berpendapat tentang kehidupan Anita." Vian enggan memberikan pendapat soal Anita.
"Lo kok gitu sih, kan Anita sahabat kita. Masa lo diam saja." Gita kesal karena tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Ya emang kita sahabatnya, tapikan bukan berarti kita bisa berpendapat senaknya orang kita nggak tahu yang sebenarnya. Lo jangan cari masalah lagi deh. Gilang udah lupa masalah ini jangan diungkit lagi." Vian menasehati Gita.
"Vian, gue cuma mau minta pendapat sama lo doang. Kenapa sih susah amat." Gita kesal meninggalkan Vian pergi bersama Gilang dan Aiden.
"Lah ngambek tuh bocah, memangnya gue salah ngomong apa?" Vian garuk-garuk kepala.
"Sepertiya Vian tidak bisa jadi kandidat Anita. Apa gue jodohin aja sama Mas Nino. Dia kan juga jomblo, baik pula." Gita memutar otak.
"Kenapa diam begitu?" tanya Gilang.
"Ah.. Nggak kok."
...----------------...
__ADS_1
Vian menuruni tangga dan langsung ingin mengending Aiden tapi Gita langsung merebutnya.
"Jangan gendong bayi gue." Kata Gita sambil berjalan ke kamarnya. Vian hanya geleng kepala melihat sikap Gita kepadanya.
"Gita.. Pelit banget sih lo."
"Biarin, kalau lo nggak mau kasih pendapat. Lo nggak akan bisa sentuh Aiden." Gita melet.
"Idih, maksa banget."
Gita adalah orang yang kekeh, kalau dia belum mendapatkan yang dia mau pasti akan melakukan segala cara.
Dan cara yang dia lakukan sekarang adalah ngambek sama Vian.
"Gita,"
"Hem.."
"Vian bilang lo ngambek sama dia?" Tanya Fara.
"Iya."
"Kenapa?" Fara heran.
"Gimana gue nggak bete coba. Gue kan minta pendapat sama dia tentang Anita masa nggak di jawab. Kan kesel." Kata Gita.
"Iyalah, mereka tuh kayaknya tuh cocok loh."
"Em.. Kalau gue pikir-pikir iya sih. Daripada Anita mikirin Kak Bayu yang tidak tanggung jawab itu lebih baik sama Vian."
"Nah.. eh kalau Vian nggak mau kita coba deketin sama Mas Nino gimana?" Gita menyampaikan ide kepada Fara.
"Boleh juga, Mas Nino nggak jelek-jelek amat kok." Fara langsung setuju aja.
Sedang asyik ngobrolin perjodohan Anita, Vian datang-datang duduk manyun diantara Gita dan Fara.
"Ngapain lo?" Fara mengerutkan keningnya.
"Gita, lo kenapa ngeselin banget sih. Apa-apa gue nggak boleh." Vian menatap Gita tajam. Dia tidak bisa makan, minum, menginap dan banyak lagi.
"Makanya jawab dulu. Semua akses akan di buka lagi buat lo."
"Dasar gila. Buruan apa yang lo tanya?"
__ADS_1
"Masih sama gimana pendapat lo tentang Anita."
"Nggak ada pendapat gue, cuma berharap yang terbaik saja buat dia."
"Lo tertarik nggak sama Anita?" Fara langsung ke inti tujuannya.
"Maksud lo gimana? Gue nggak ngerti nih?"
"Maksudnya, kalau gue sama Fara jodohin kalian berdua gimana? Lo suka nggak sama Anita?" Gita menjawab lebih jelas lagi.
"Busyeet dah kalian berdua, bisa-bisanya berpikiran begitu. Kalian mau gue di bantai sama Bayu, Gilang sama Raka. Emang otak kalian ngadi-ngadi ya.Main jodoh-jodohin aja jelas-jelas Anita masih punya suami." Vian syok mengetahui maksud dan tujuan dari kedua sahabatnya itu.
"Suami macam apaan, sejak kejadian kemarin juga nggak ada tuh datang menemui Anita. Ya seenggaknya telpon atau wa gitu." Gita kesal mengingat Bayu.
"Eh.. Meskipun begitu kalian nggak boleh main jodoh-jodohin. Kecuali kalau Anita itu sudah benar-benar singgel."
"Ini juga otw singgel, lo persiapan aja. Daripada lo nyesal nanti Anita gue jodohin sama yang lain." Kata Gita.
"Siapa yang mau di jodohin?" Gilang masuk gabung diikuti Raka.
"Gue, mereka gila masa mau jodohin gue sama A...a.....!" Kaki Vian di injak Gita dan Fara.
"Eh gila sakit tahu." Vian meringis kedua kakinya diangkat ke sofa.
"Kalian pada nyembunyiin apaan?" Gilang menatap Gita curiga.
"Nggak ada, Vian mah lebay." Kata Gita sembari melebarkan kedua matanya. Dia mengancam kalau sampai ngadu ke Gilang.
"Vian."
"Mereka mau menjodohkan gue sama janda anak lima. Ngadi-ngadi kan mereka." Vian cari aman.
"Kalian jangan aneh-aneh kenapa, udah jadi ibu-ibu juga kelakuan kok nggak berubah." Raka menyeramahi Gita dan Fara.
"Kita tuh baik tahu mikirin Vian, memangnya nggak kasihan apa dari dulu nggak ada pasangan. Kita udah cariin kandidat yang sangat terpercaya malah nggak mau." Omel Gita.
"Kamu yang benar saja sayang, masa iya janda anak lima."
"Kayak nggak ada cewek singgel aja." Raka geleng kepala.
"Ya mau gimana...." Mata Gita melebar saat melihat postingan instagram milik Bayu.
Gita mengirim pesan ke pada Fara, untuk membuka instagram milik Bayu. Mereka sibuk mengirim pesan. Sesekali saling berlandangan.
__ADS_1
"Kalian kenapa? Apa yang kalian rencanakan lagi?" Raka curiga. Dia tahu banget adik dan istrinya itu, trik-trik mereka bisa di baca jelas olehnya.
"Nggak, ih.. Suka menuduh." Jawab Gita.