Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Dia milikku


__ADS_3

“Enak ya tiap hari bisa bareng pacar, bahkan satu rumah. Ih berasa suami sitri dong,” ujar Dinda saat Erina bergabung dengan Kyra dan Dinda.


“Ya nggak juga, kan banyak orang ada Luki, Ai, Ibob dan terlebih lagi nenek Wanda. Mana bisa gue mersra-mesraan tiap hari.


“Kalau tidur di nina boboin nggak?” tanya Kyra.


“Heh, kalian ya pikirannya jangan aneh-aneh deh. Meskipun kita satu rumah kalau malam ngobrolnya lewat telepon,” Erina menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Meskipun satu rumah bukan berarti bisa seenaknya.


“Gimana sih pacaran sama Kak Rafa, seru nggak. Kalau dilihat-lihat dia juga hampir sama kayak Kak Ai. Lempeng banget,” ujar Dinda.


“Kata siapa Ai lempeng, dia itu penuh kejutan tahu,” sahut Kyra nggak mau Aiden di katakan cowok dingin tanpa ekspresi ketika dia sudah kenal dekat.


“Kok tahu,”


“Semalam gue kalut banget gara-gara kemarin sepulang sekolah Kris memukuli Aiden.


“Oiya, Rafa juga cerita. Tapi sayangnya dia nggak mau kan di balasin. Nggak boleh serang balik,” kata Erina.


“Yah dia itu baik, hambel meskipun kadang dingin dan cuek. Tapi semalam dia itu manis banget,” Kyra membayangkan saat bersama Aiden.


“Sama mungkin karena mereka sepupuan dan sering bareng sifatnya hampir saja mirip. Kadang cuek kadang manis banget. Kadang juga manja banget,” kata Erina.


Dinda mendengus, dia sendiri yang tidak punya gebetan dan tak bisa menceritakan seperti apa pacarnya.


“O, jadi sekarang Rafa pacaran sama lo. Em hati-hati loh,” kata Sila dengan kaki pincang gara-gara kesleo sewaktu main voly.


“Emangnya mau nyebrang pakai hati-hati segala,” celoteh Dinda.


“Gue kasih tahu ya mantan teman gue, kalau yang disukai Rafa itu gue. Bukan lo, jadi lo itu hanya pelampiasannya saja. Mana ada cowok yang cepat move on dari cinta pertamannya,” Sila mengompori Erina.


“Kata siapa Rafa nggak bisa move on dari lo. Lo itu terlalu pede, lo pikir cewek modelan kayak lo bakalan di damba-dambakan. Di puja-puja, oh tidak nona. Orang kayak lo itu tidak pantes di dapati siapa-siapa,” kata Erina mengejek Sila.


Kyra dan Dinda tepuk tangan melihat teman yang belum lama dikenalnya ini sangat berani.


“Oiya, coba saja nanti lo lihat. Tapi jangan menangis ya kalau Rafa itu hanya menjadikan lo pelampiasannya,” kata Sila sambil meninggalkan mereka bertika.


“Ingin sekali gue jambak-jambak itu rambut yang seperti ijuk. Kalau ngomong suka tidak pakai otak. Kenapa ngeselin!” Dinda geregetan.


“Sabar buk, sabar daripada nanti kena skors repot lagi,” Erina menenangkan Dinda.


*****


Sila melihat kearah Erina yang sedang berjalan sambil bercanda dengan Kyra dan Dinda. Sila menjalankan aksinya, dia ingin menunjukkan kepada Erina kalau Rafa memang masih menyukainya.


Terlebih lagi dia ingin membalas sakit hatinya karena dia meninggalkannya. Dia memilih pergi dari rumahnya dan menggoda Aiden.


Sila berlagak jatuh di samping Rafa yang sedang di tepi lapangan basket. Dia sedang beristirahat.


“Kenapa lo?” tanya Rafa enggan sekali menolong Sila.

__ADS_1


“Rafa, tolongin gue. Gue susah berdiri,” ujarnya.


Rafa menaruh botol minumnya, dia lalu membantu Sila duduk di sebelahnya. Namun dengan sengaja dia sedikit mendorong tubuhnya hingga ingin mendekat dengan tuhuh Rafa.


“Sorry, kaki gue sakit banget.”


“Ya nggak apa-apa,” katanya datar.


Erina melihatnya sangat geram, dia ingin sekali menjambak-jambak rambutnya. Namun dia mau lihat seperti apa permainannya dan juga bagaimana tanggapan Rafa. Sejujurnya dia juga takut kalau hanya dijadikan pelampiasan oleh Rafa.


“Rafa,” katanya dengan suara yang sok manis.


“Ada apa lagi?” ketusnya.


“Gue mau minta maaf sama lo, gue tahu lo marah banget sama gue. Sampai-sampai lo selalu ketus sama gue,” katanya dengan menggeser sedikit duduknya sehingga tidak ada jarak.


Sila menarik tanggan Rafa, dia menggenggam erat tangannya menatap kedua matanya lekat.


“Bisa nggak kita mulai dari awal, gue mau berteman dulu sama lo. Atau kita coba menjalin hubungan,” Sila terus menggoda Rafa.


Rafa tertawa, dia menghempas tangan Sila. Dia tahu kalau Sila hanya menggodanya untuk memanfaatkan dirinya. Agar semua yang dia inginkan tercapai.


“Sila, lo nggak usah menggoda gue. Gue nggak akan tergoda,” katanya sambil menggeser tubuhnya hingga berjarak sekitaran tiga puluh centi.


“Gue nggak menggoda lo, gue mengatakan yang sebenarnya. Gue menyesal telah melakukan semua itu sama lo. Selama ini cinta lo sama gue berarti nggak sungguh-sungguh. Begitu cepat lo melupakan gue, dan memilih yang lain,” Sila masih tidak mau menyerah.


“Memangnya siapa lo sampai gue nggak bisa move on dengan cepat. Lagian kenapa harus mengenang yang pahit-pahit selama yang manis ada. Lebih baik lo jauh-jauh, gue takut Erina cemburu sama gue.” Rafa mengusir Sila.


“Cinta pertama itu akan indah jika mejdadi cinta terakhir. Terus buat apa kalau jadi cinta pertama tapi hanya menjadi kenangan pahit. Sudah lah, lo mau ngomong apapun gue nggak peduli.”


“Lo bohong kan, pasti lo hanya menjadikan Erina pelampiasan lo karena nggak mendapatkan gue. Lo menjadikan dia pacar lo biar gue cemburu kan?”


“Sila-sila, lo kenapa nggak ngerti-ngerti sih. Lo itu tidak sepenting itu, kenapa gue harus buat lo cemburu. Dasar gila!” Rafa beranjak untuk main lagi. Istirahanya sangat terganggu.


Sila yang kesal karena gagal menggoda Rafa langsung mencium pipi Rafa di depan umum. Semua orang berseru saat melihatnya. Erina sudah tidak kuat lagi menahan emosinya.


Dia menampar pipi kanan Sila keras, sampai pipi putih Sila memerah.


“Lo gila ya!” Sila memegangi pipinya.


“Lo yang gila! Dasar pelakor bisa-bisanya cium cowok orang di sepan umum!” seru Erina.


Semau anak yang ada di lapangan berkerumun, mereka sangat senang melihat drama live.


“Apa yang salah, dia sukanya sama gue bukan sama lo,” ujar sila dengan tak tahu malu.


Aiden melipat kedua tangannya, melihat ratu akting yang sedang beraksi. Setelah melihat Aiden dia menjadi gelimpungan sendiri.


“Dan gue juga nggak sengaja kok,” katanya mendadadk berubah.

__ADS_1


“Nggak sengaja, gue bahkan lihat dengan kedua mata kalau lo terus menggoda Rafa.”


“Gue juga bisa menjadi saksi kalau lo itu cewek gatel, bisa-bisanya lo godain cowok seperti itu. Lo nggak laku ya.” ejek Dinda.


“Sayang,” Rafa memegang tangan Erina namun langsung di lepaskannya.


“Sekarang siapa cewek yang murahan di sini!” ejek Erina.


Anak-anak bersorak kearah Sila, dia sangat malu dan kesal. Sila menarik rambut Erina, dan langsung di balas dengan Erina.


“Sayang, lepaskan! Jangan ribut di sini!” seru Rafa namun tidak di dengarkan oleh Erina.


Emosinya sudah meluap, tidak bisa reda begitu saja. Dia cukup sabar selama ini dengan Sila. Mendengar Rafa tidak main-main dengannya membuatnya dengan semangat menjambak Sila.


“Bubar!” teriak Kris yang datang setelah mendapat pengaduan dari salah satu murid. Kris menarik tangan Erina sampai dia terjatuh.


“Lo bisa pelan nggak!” bentak Rafa.


“Lo nggak terima?” tanya Kris.


“Tentu saja tidak, lo buat pacar gue jatoh,” Rafa mendorong Kris.


“Sudah-sudah, sabar Rafa,” Aiden menarik Rafa mundur. Kris membawa Erina dan Sila ke Bk.


Bu Ariyani akhir-akhir ini banyak sekali menangani masalah pertengkaran dari kelas Aiden.


“Ada apa lagi ini?” tanya Bu Ariyani.


“Mereka berdua berkelahi buk,” kata Kris.


“Benar?” Bu Ariyani melihat arah Erina lalu Sila.


“Dia yang buly saya buk. Dia tiba-tiba tampar saya lalu menjambak rambut saya. Jadi saya nggak terima dan membalasnya.” kata Sila.


“Erina benar yang dikatakan Sila?”


“Benar buk,” jawabnya jujur.


“Apa alasan kamu menampar Sila, kamu itu anak baru kenapa membuat onar?” tanya Bu Ariyani.


“Buk maaf, tapi semenjak kepindahan anak-anak baru di kelasnya sering terjadi perkelahian. Mereka itu biangnya buk, apa perlu saya panggil mereka.”


“Nggak perlu, mereka nggak ada sangkut pautnya sama ini. Erina katakan?”


“Sila saya hanya kesal saja dengan tingkahnya yang sangat mengganggu.”


“Lo kali yang menggangu gue, kenapa bisa jadi gue yang pengganggu. Rafa itu suka sama gue, jadi apa masalahnya kalau gue deketin dia,” cerocos Sila.


“Jadi ini masalah hati?” Bu Ariyani menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Kris panggil Rafa, bawa dia menghadap kepada ibu,” suruh Bu Ariyani.


__ADS_2