Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Berat 3


__ADS_3

Hari ini Kyra dijemput sama sopir karena mamanya ada rapat. Namun itu tidak membuatnya bebas pula untuk pergi. Sopirnya juga tidak mau melawan majikannya. Bisa-bisa dia dipecat.


Kyra masuk ke rumah sudah ditunggun sama mamamya. Selfi melipat kedua tangannya, menatap Kyra tajam.


"Sini kamu!" panggilnya galak.


Kyra nurut saja, dia melangkah mendekati mamanya. Dia sudah tahu mamanya akan marah gara-gara nilainya.


"Apa-apaan kamu Kyra, lihat nilai kamu. Apa yang kamu lakukan selama ini. Bisa-bisanya berkurang dari nilai-nilai kamu kemarin. Kamu mau sukses atau nggak!" teriak mamanya.


Kyra menahan sesak didada, dia ingin teriak sekencangnya namun dia tahan. Dia tidak bisa, dia takut dicap menjadi anak durhaka. Dan dia juga tidak ada tempat tinggal kalau sampai diusir.


"Kyra, jawab mama. Pasti ini semua karena teman miskin kamu kan. Mama sudah bilang dia itu membawa pengaruh buruk sama kamu. Masih ngeyel saja dekat-dekat sama dia!" maki Selfi. Dia terus menyalahkan Aiden dkk dengan turunnya nilai Kyra.


"Ai nggak salah ma, memang Kyra yang nggak fokus kemarin jadi nilainya turun," jawabnya pelan.


"Kyra, kalau nilai kamu masih saja menurun mama nggak akan memberiakan kamu kelinggaran lagi main sama teman kamu. Mama akan pindahkan ke sekolah lain agar jauh dari dia," ancam Selfi.


"Mama nggak usah repot-repot. Ai sudah menepati janjinya. Dan asal mama tahu siapa orang yang ada di peringkat satu saat ini adalah Aiden. Dia genius meskipun setiap hari tidur di kelas. Dia bisa menyelesaikan semua pelajaran dengan sempurna. Kyra tidak ada apa-apanya dengan dia," ucap Kyra.


Kyra berlalu meninggalkan mamanya yang terdiam. Rasanya tidak mungkin Kyra di kalahkan sama anak kampung dan miskin itu.


Kyra duduk di depan meja belajarnya, melihat coklat pemberian Aiden. Dia mengambil satu lalu memekannya.


Air matanya kembali mengalir, dia semakin tidak kuat harus menjalani hidupnya. Satu demi satu coklat masuk ke dalam mulutnya namun belum juga mengembalikan moodnya.


"Memangnya gue siapa yang harus berharap banyak agar Ai memperjuangkan gue. kenapa juga harus berharap untuk dia membujuk gue," Kyra menelungkapkan kepalanya di meja. Saat ini kehadiran Aiden bisa menjadi obat untuknya. Tapi dia terlalu patuh sampai dia mengikuti ucapan mamanya. Dia beda dengan yang lain.


"Harusnya gue mengakhiri hidup gue kemarin. Memang tidak ada yang gue harapkan dari hidup gue ini," ujarnya dengan penuh keputusasaan.


Kinara hanya berani melihat kakaknya di depan pintu. Dia tahu kalau emosi kakaknya pasti sedang tidak stabil.


"Maafin Nara kak, nggak bisa bantuin apa-apa," ujarnya sembarin menutup pintu kamar Kyra.


...ΩΩΩ...


Hal yang tidak disangka-sangka adalah mamanya mendatangi sekolah menanyakan siapa yang mendapatkan nilai tertinggi di sekolah.


Dan benar dia shock, ternyata omongan Kyra bukan bohong belaka. Aiden lah yang mendapatkan nilai tertinggi.


"Maaf Buk, kenapa nilai Kyra menurun ya?" tanya Selfi.


"Nilai Kyra sama sekali tidak menurun buk. Stabil hanya saja Aiden ini lebih tinggi nilainya," jelas Bu Intan.

__ADS_1


"Bukanya anak itu yang ketahuan membawa rokok ke sekolah kan. Kenapa bisa mendapatkan nilai tertinggi. Harusnt dia mendapatkan pengurangan nilai," protes Selfi.


"Tidak bisa buk, ink sudab kebijakan kami. Lagian Buk kuota beasiswa masih ada tempat. Lima kuota, asal Kyra bisa mempertahankan nilai sampai dua tahun kedepan," jelas Bu Intan.


"Baik Buk."


"Bu saya harap jangan terlalu di paksakan, saya takut Kyra tidak mampu menerimanya, dia cukup pintar dari teman-teman sekolahnya," ujar Bu Intan.


"Iya Buk, kalau begitu saya permisi dulu.


Selfi keluar kantor sudah di tunggu sama Kyra.


"Mama ngapain sih ke sekolahan Kyra?"


"Ikut mama kamu," Selfi membawa Kyra ke parkiran mobil.


"Ada apa ma?"


"Kyra, mama nggak mau tahu. Kamu harus mendapatkan nilai yang lebih baik dari anak miskin itu."


"Ma, Kyra sudah berusaha yang terbaik. Dan hanya itu kemampuan Kyra. Ma Kyra capek," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Capek apa, mama juga nggak pernah menyuruh kamu apa-apa. Hanya belajar kok capek. Ingat ya kalau sampai nilai kamu menurun lagi."


Dia menatap ikan yang berenang, mendengatkan gemricing air yang menenangkan.


Dia mengingat air kolam renang yang menenangkan kemarin itu. Otaknya berpikir rumit.


Kyra menolah saat telapak tangannya ada yang membukanya. Dan satu butir coklat ada di telapak tangannya.


"Ai," gumamnya lirih. Kyra langsung menangis melihat Ai yang tersenyum kepadanya.


Aiden menarik Kyra dalam pelukannya, mengelus lembut rambut Kyra. Dia pasti sangat butuh pelukan hangat dari seseorang.


"Menangislah," ucapnya di telinga Kyra.


"Gue pikir lo bakalan menjauhi gue, lo nggak mau berteman lagi sama gue," ucapnya dengan sesenggukan.


"Gue selalu bersama lo, meskipun tidak dekat. Jadi jangan pernah berpikir gue meninggalkan lo." kata Aiden.


Tangisanya semakin pecah mendengar kata-kata dari Aiden. Aiden pun merasakan sesak didada. Dia menyaksikan sendiri seorang ibu yang ambisius sama anaknya.


Bel sudah meraung-raung namun Aiden dan kyra belum beranjak. Aiden membiarkan Kyra tenang dulu.

__ADS_1


Kyra merasakan kenyamanan sampai dia tertidur lelep dalam dekapan Aiden. Aiden lalu menggendong membawanya ke uks agar dia bisa tidur lebih nyenyak.


Wajahnya yang tampak lelah itu membuat Aiden tidak tega untuk membangunkannya.


"Lo harus kuat, tidak boleh menyerah ya," Aiden mengusap air mata yang masih tersisa di wajahnya.


...ΩΩΩ...


"Ai, lo dari mana saja sih?" tanya Sila saat Aiden masuk ke kelasnya.


"Bukan urusan lo," jawabnya sambil melewatinya.


"Ai, gue kan masih belum punya teman di sini --,"


"Ya sudah balik saja ke sekolah awal," potong Aiden. Dinda dan Erina tertawa mendengrnya.


"Ai, lo mau kan nganterin keliling sekolahan ini. Gue belum tahu tempat-tempatnya."


"Keliling aja sendiri, jangan ganggu gue lagi." katanya lalu menelungkepkan kepalanya.


Sila pergi dari tempat Ai dengan kesal, respon Aiden masih sama dingin seperti dahulu.


"Eh, ngomong-ngomong Kyra ke mana?" tanya Erina yang tak kelihatan.


"Iya, apa dia ikut pulang mamanya ya?" Dinda tanya balik. Erina mengangkat kedua bahunya.


"Gue coba deh telpone dia," Dinda mencoba menghubungi nomor Kyra.


"Gimana tanya Erina?"


"Berdering tapi nggak ada jawaban," kata Dinda sembari menelpinny lagi. "Apa mamanya marah-marah lagi ya.


"Kyra ada di UKS," kata Aiden sambil mengangkat kepalanya saat mendengar ucapan mereka.


"Kyra sakit?" tanya Dinda cemas.


"Tidak, dia hanya butuh istirahat saja," tukasnya.


"Din, Erina kalian jagain dia ya. Kasuh dia suport. Gue takut dia melakukan hal-hal yang aneh."


"Aneh gimana?" Dinda bungung.


"Lo tahu kan kalau orang depresi?"

__ADS_1


"Ya,ya. Gue paham."


__ADS_2