Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Surprize


__ADS_3

 Gita


duduk menatap komputer di depannya, tangannya mengelus perutnya. Pikirannya


jauh melayang, jika dia berhenti dari kantor maka dia tidak bisa melihat apa


yang di lakukan oleh Gilang, lebih tepatnya dia tidak bisa mengawasi Gilang


dari perempuan Genit.


“Pagi-pagi sudah melamun saja.” Kata


Vian memegag pelan pundak Gita. Gita hanya tersenyum, dan kembali dengan


pikirannya yang melalang buana.


“Mikirin apaan sih lo? Apa lo mau


lahiran?” Vian panik.


“Nggak, belum hplnya masih agak lama


juga.” Jawab Gita dengan senyum lagi.


“Lo senyum-senyum kayak begitu


sepertinya sedang tidak baik-baik saja nih, masih marahan sama Gilang.”


“Nggak, kita udah baikan. Em Vian lihat


gue?” Gita berdiri agar Vian bisa melihat dirinya dengan sepenuhnya.


“Lo kenapa sih? Aneh banget deh.” Vian


mengerutkan kening melihat tingkah Gita yang aneh pagi ini.


“Gue jelek ya?”


“Hah?” Vian benar-benar bingung


pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan oleh Gita.


“Jelek kan, nggak mungkin kan gue sexy


dengan tubuh gendut gini. Pasti orang yang mengatakan itu hanya untuk menghibur


gue kan?” Kata Gita sambil duduk kembali.


“Lo kerasukaan apaan sih? Lagian kenapa


lo ngomong seperti itu, siapa yang berani mengganggu lo, biar gue bantai.”


“Nggak ada yang mengganggu, gue cuma


meminta pendapat lo tentang gue.”


“Git, lo akan selalu cantik dimata orang


yang sayang sama lo. Pasti lo lagi inscure kan?” Vian mulai paham arah


pembicaraan dari Gita.


“Vian, kira-kira kalau gue cuti, Kak


Gilang bakalan bersama cewek itu nggak ya?” katanya pelan sambil tolah-toleh


takut ada yang mendengarnya.


“Ya ampun Git, lo nggak percaya sama


Gilang?”


“Bukan nggak percaya, cewek yang


menggodanya kan lebih cantik, sexy dan juga pintar dari gue. Gimana kalau Kak


Gilang tergoda.” Gita semakin murung.


“Gita, please deh. Seantero raya juga


tahu kalau Gilang itu cinta mati sama kamu. Bagaimana bisa dia tergoda dengan


cewek yang baru dia kenal. Lagian ya kalau dia mau selingkuh pasti dari dulu.”


“Tapi kan..”


“Git, keretakan rumah tangga itu di


mulai dari tidak ada rasa percaya, di tambah lagi kecurigaan yang tanpa bukti.


Yang akan semuanya akan runyam.” Vian menasehati Gita.


“Gita, selama ini apa pernah Gilang

__ADS_1


melakukan hal-lah aneh-aneh, nggak kan. Dia itu benar-benar tulus, lo tenang


aja, selama lo cuti kan ada gue. Gue yang akan jagain Gilang. Percaya kan lo


sama gue?” Ujar Vian.


“Hah.. lo benar Vian, Kak Gilang nggak


pernah aneh-aneh, justru gue yang selalu aneh-aneh.”


“Jangan terlalu di pikirkan, yang


penting sekarang lo persiapkan diri untuk kelahiran keponakan gue.” Vian menepuk


pundak Gita. Gita mengangguk pelan, gelisah hatinya mulai memudar setelah


menceritakan kepada Vian.  Dan Vian


selalu saja menjadi pendengar yang baik untuk Gita.


*****


Tok..tok...


Vian mengetuk pintu ruangan Gilang.


“Masuk.” Kata Gilang dengan masih sibuk


dengan kerjaannya.


“Ganggu nggak gue masuk?” tanya Vian


yang masih berada di ambang pintu.


“Nggak, masuk aja.” Gilang menghentikan


aktivitasnya, dia meminta Vian duduk. “Ada hal penting yang ingin lo


sampaikan?”


“Gini Lang.. ini soal Gita.” Vian


menarik kursi dan langsung duduk.


“Ada apa dengan Gita?” Gilang langsung


terlihat serius.


luang yang banyak untuk Gita.”


“Memangnya kenapa? Apa dia ada masalah


yang nggak gue tahu?”


“Lang, dia kan sedang hamil besar pasti


butuh waktu lo lebih banyak. Sekarang ini dia banyak overthingkingnya gue takut


kalau mempengaruhi janin di kandunganya, di tambah lagi kan dia udah mau


lahiran.”jelas Vian.


“Overthingking? Pasti gara-gara Lia.”


“Bisa jadi, dia sangat tidak pede dengan


dirinya sendiri sampai-sampai membandingkan dirinya dengan Lia. Bahkan dia


sampai ketakutan kalau-kalau lo bakalan ke goda dengan Lia dan meninggalkan


dirinya.”


“Ya ampun Gita, apa masih kurang


penjelasan gue selama ini. Gue udah sering bilang kalau gue tidak pernah


tertarik dengan cewek lain.” Gilang mengusap wajahnyanya.


“Namanya juga perempuan Lang, mainya


perasaan apa lagi ada orang yang terang-terangan suka sama lo. Pastinya


hidupnya tidak akan tenang meskipun dia memasang wajah biasa saja. Padahal dalam


hati kebakaran.”


Gilang mengangguk-anggukan kepalanya,


yang di katakan Vian benar. Dia harusnya memberikan perhatian lebih agar Gita


tidak terus overthingking dan terus merendahkan dirinya.


*****

__ADS_1


Gita berusaha bangkit dari kasur saat


melihat ponselnya terus berbunyi. Bibirnya langsung tersenyum melihat sang


suami menelponnya.


“Halo, sayang ada apa?” kata Gita sambil


menempelkan ponsel di telingannya.


“Halo sayang, kamu bisa keluar nggak?”


Gilang menelpon Gita setelah mobilnya terparkir di garasi rumahnya.


“Kamu sudah di depan?” Tanya Gita.


“Iya sayang, aku ada bawaan banyak nih.”


“Iya sayang, sebentar aku segera turun.”


“Iya, hati-hati ya sayang nggak usah


buru-buru.” Ucap Gilang sambil mematikan ponselnya.


Tok..tok... Gita mengetuk kaca mobil


Gilang, dengan senyuman lebar Gilang langsung membuka mobil. Gita melihat Gilag


dari atas sampai bawah, lalu dia mengintip di dalam mobil.


“Barang apa?” Gita heran karena Gilang


tidak membawa apa-apa, bahkan  di mobil


pun tidak ada apa-apa.


“Ada di belakang, tolong ambilin ya.”


Kata Gilang. Gita mengangguk sambil tersenyum, dia sama sekali tidak keberatan


dengan permintaan Gilang. Meskipun agak aneh karena selama ini Gilang melarang


Gita saat dia ingin membawakan barang-barang miliknya.


Gita membuka bagasi mobil milik Gilang,


matanya langsung melebar bibirnya melongo melihat balon- balon muncul dari


bagasi tak hanya itu ada bunga warna merah besar sekali.


“Sayang..” Gita melihat kearah Gilang,


matanya berkaca-kaca melihat kejutan yang di berikan oleh Gilang.


“Aku nggak lagi ulang tahun loh.”Kata


Gita sambil melihat lekat Gilang yang sedang tersenyum kearahnya.


“Memangnya harus kamu ulang tahun dulu


kalau aku mau kasih surpize sama kamu.” Ujar Gilang. Gita menitihkan air mata,


dia benar-benar terharu dengan kejutan Gilang.


“Maksih sayang.” Gita langsung memeluk


Gilang, dia benar-benar terharu sampai meneteskan air matanya.


“Kamu senang?”


“Sangat.”


“Kalau senang kenapa kamu menangis?”


Gilang mengusap air mata yang menetes di pipinya.


“Aku hanya terharu, aku pikir kamu sudah


berubah.”


“Denga ya, aku tidak akan berubah. Kamu


akan selalu menjadi wanita satu –satunya dalam hidup aku.” Gilang mengecup


kening Gita lalu memeluknya erat.


Gita mengambil bunga mawar yang


berjumlah seratus tangkai, Gilang bela-belain pulang lebih awal dan memilih


bunga lalu menghias bagasi mobilnya dengan balon. Dia mengikuti saran dari


Vian, dia tidak mau Gita terus insecure dan merasa di abaikan olehnya.

__ADS_1


__ADS_2