
Kris menarik tangan Kyra dari parkiran rumah sampai dalam rumah. Sama yang di lakukan sebelum sampai rumah.
“Lepasin Kyra!” Kyra memberontak setelah dia tanpa perlawanan saat di sekolah.
“Lo itu masih saja berdekatan dengan Aiden,” maki Kris.
“Memangnya apa urusannya sama kak Kris, terserah dong gue mau dekat sama siapa saja. Itu bukan urusan lo.”
“Gue nggak suka lo dekat-dekat sama dia mana mesra-mesraan lagi,” kata Kris.
“Memang lo siapa, sampai mengatur gue.”
“Gue itu calon pacar lo, lebih tepatnya segera akan menjadi pacar lo. Jadi lo nggak boleh berteman dengan cowok manapun.” Kata Kris dengan pede kalau Kyra benar-benar akan menjadi pacarnya.
Kyra tertawa mendengar ucapan Kris, obsesinya memilikinya sudah naik level.
“Kak, siapa juga yang mau menjadi pacar lo. Belum apa-apa saja sudah banyak ngatur, kasar, bagaimana kalau sampai jadi pacar. Bisa-bisa kurus kering gue” ujar Kyra.
“Gue kasar karena lo ngeyel, kalau lo nurut juga gue nggak akan seperti ini,” Kris membuat pembelaan. Dan kembali menyalahkan Kyra, semua yang itu terjadi karena Kyra.
Selfi yang mendengar ribut-ribut pun keluar dan nyamperin Kyra dan Kris.
“Ada apa ini ribut-ribut, dari dalam terdengar keras banget?” tanya Selfi sembari melihat Kyra lalu Kris.
“Tante, Kyra masih saja terus dekat sama si anak miskin itu.” Kris mengadu kepada Selfi.
Kyra memegangi pipinya yang terasa panas saat telapak tangan kanan mamanya mendarat dengan sempurna. Bekas merah dan perih mulai muncul. Selfi lepas kendali, karena sudah kesal mendengar Kyra yang masih berteman dengan Aiden.
“Mama tega ya sama anak sendiri,” Kyra mulai menitikan air mata, bibirnya tersenyum pahit.
“Sayang, maafin mama. Mama nggak sengaja,” Selfi ingin menyentuh pipi Kyra yang jelas membekas lima jarinya di pipi Kyra.
Kyra memundurkan tubuhnya. “Kyra kecewa sama mama, ternyata mama memang nggak sayang sama Kyra.”
Kyra berlari masuk sambil menangis, Selfi menatap tangan kanannya penuh dengan penyesalan. Selama ini dia sama sekali tidak pernah main tangan sama anaknya. Namun hanya masalah kecil ini dia sampai melakukannya.
“Tante,” panggil Kris saat Selfi diam beberapa menit.
“Iya Kris, kamu boleh pulang dulu. Makasih yan sudah mengantar Kyra,” katanya lemah.
“Iya tante.” Kris langsung saja pergi meskipun dia sebenarnya masih mau banyak ngobrol tentang rencanannya.
*****
Kyra menelukapkan tubuhnya di kasur tanpa mencopot atribut sekolahnya. Bahkan dia masih memakai sepatu dan tas di punggungnya. Dia menangis sesenggukan. Tidak pernah terpikir dalam benaknya kalau mamanya sampai melakukan itu hanya karena orang lain.
“Kyra, bukakan pintu. Mama mau masuk,” Selfi mengetuk-ketuk pintu kamar Kyra.
__ADS_1
Kira menutup telingannya, dia tidak mau mendengar suara mamanya. Dia masih kecewa berat.
“Kyra mama minta maaf, mama tadi khilaf sayang. Kyra buka pintunya ya,” Selfi terus mengetuk pintu, dia terus membujuk putrinya agar mau membuka pintu kamarnya dan memaafkan kekhilafan dirinya.
Tapi bujukannya kini tidak mempan, Kyra sama sekali tidak mendengarkan mamanya.
Waktu sudah menjelang malam, semua sudah siap di meja makan hanya kurang Kyra. Selfi terus menatap kearah tangga, berharap Kyra akan turun ikut makan.
“Ma, Kyra mana?” tanya suaminya.
“Kakak di kamar nggak mau keluar,” kata Kinara menjawab pertanyaan papanya yang di tujukan kepada Selfi.
“Kenapa?”
“Mama tadi tampar kakak,” kata Kinara dengan sangat jujur. Dia tidak rela kakaknya di perlakukan seperti itu sama mamanya hanya karena Kris yang orang luar.
“Ma, benar yang di katakan oleh Nara?” wajah suaminya itu berubah muram.
“Maaf Pa, mama khilaf. Soalnya Kyra bandel banget dikasih tahu. Dia terus bermain sama anak miskin. Itu membuat nilai Kyra turun,” meskipun mengaku dia tetap membuat pembelaan untuk dirinya sendiri.
“Ma, meskipun seperti itu kamu tidak boleh main tangan sama anak sendiri. Biarkan saja anak kita menjalani hidupnya, jangan terlalu ikut campur kita cukup mengawasinya.”
“Nggak bisa begitu dong pa, semua ini demi masa depan anak kita. Mana bisa mama tidak ikut campur. Memang anak miskin itu yang terus cari masalah. Katanya mau jauhi Kyra tapi bohong, memang orang miskin itu tidak bisa di pegang omongannya.” Selfi memaki Aiden, dia terus menjelekkannya padahal sama sekali tidak mengenalnnya secara dalam.
“Ma mekipun miskin tapi Kak Ai itu peringkatnya diatas kak Kyra. Peringkat pertama,” ujar Kinara.
“Memangnya kenapa tidak mungkin, orang mungkin apa nggak boleh mendapatkan peringkat satu. Apa orang miskin tidak boleh pintar?” kata Kyra sambil berjalan menuruni tangga.
Kyra turun dengan masih menggunakan seregam lengkap bahkan sepatunya saja masih dipakai.
“Apa dimata mama itu orang yang baik yang kaya, yang pintar. Apa mereka yang tidak seberuntung kita ini tidak baik?” Kyra menatap mamanya tajam.
“Kyra, dunia itu kejam. Nggak ada yang benar-benar baik. Dia itu hanya memanfaatkan kamu,” mamanya masih saja kekeh nggak mau mengalah.
“Apa bedanya sama mama, yang dimanfaatkan Kris. Tapi mama menutup kedua mata dan telinga karena dia kaya. Mama nggak tahu kan dia seperti apa. Bagaimana keluarganya, mama hanya melihat dia sekilas kan. Coba mama mengenal Aiden, biarkan dia datang ke sini. Perlakukan yang sama dengan Kris. Baru bisa mama menilainya,” ujar Kyra sembari kembali naik lagi. Dia yang awalnya mau makan langsung hilang lagi selera makannya.
Selfi terdiam, semua terdiam mendengarkan jeritan hati Kyra. Memang benar, Selfi tidak mengenal Aiden, dia hanya mendengar cerita dari Kris, dan melihat sekilas motor yang di pakainya dan langsung mengecap kalau dia itu miskin, pembuat onar dan harus dihindari.
Kyra mengambil ponselnya, dia menelepon Aiden. Dia mau menanyakan keadaan Aiden setelah dipukuli Kris.
Panggilan berderin namun tak kunjung diangakat. Air mata Kyra semakin deras.
"Apa sekarang lo marah lagi sama gue?" ucap Kyra baru saja mereka baikan haruskan dia marahan kembali.
Kyra mengusap air matanya, mangambil coklat dan segera melahapnya untuk menenangkan hatinya yang gundah gulana.
Ponselnya berdering, dengan sigap Kyra mengangkatnya saat tahu itu dari Aiden.
__ADS_1
"Ky, lo nangis ya?"
"Nggak kok,"Kyra segera mengusap air matanya.
"Bohong, kenapa menangis?"
"Nggak apa-apa, oiya gimana luka lo? Udah di obati belum?" Kyra tidak mau Aiden tahu kalau masalahnya.
"Udah di obatin sama nenek, besok juga sudah sembuh kok," kata Aiden sambil tersenyum.
"Maaf ya,"
"Kenapa minta maaf?"
"Gara-gara gue lo jadi babak belur. Apa lo bakalan menjauhi gue?"
"Lo nggak perlu minta maaf, lo nggak salah apa-apa. Gue akan selalu ada di dekat lo." kata Aiden yang membuat Kyra menangis.
"Eh, jangan menangis."
"Kenapa semua orang jahat sama lo ya, kenapa mereka nggak bisa mengerti," Kyra menangsi semakin jadi.
"Ky, udah jangan nangis. Gue nggak apa-apa semua orang boleh menghina gue. Bebas," katanya sambil tertawa.
Baginya tidak masalah dia dihina,dimaki asalkan jangan pernah menghina orang-orang terdekatnya.
"Lo pasti belum makan kan?"
"Gue nggak selera."
"Gimana kalau nanti sakit?"
"Gue nggak peduli, gue mau mati saja."
"Loh,loh kok gitu kalau lo mati gimana sama gue. Haruskan gue sendirian seumur hidup."
Kyra menangis di barengin tawa, Aiden membuatnya senang saat mendengar gombalanya.
"Sudah sekarany hapus air mata lo, makan dan tidur. Nanti gue datang."
"Datang ke sini?"
"Ke mimpi lo lah, memangnya sudah siap ditemenin di situ?" canda Aiden.
"Eh, ya udah deh gue tutup dulu. Met malam."
"Malam."
__ADS_1
Kyra meletakkan ponselnya, hatinya sedikit tenang, moodnya mulai naik.