
"Ajak dia kesini." Kata Mamanya Vian.
"Ah.." Vian melongo, bingung dan masih belum paham dengan ucapan mamanya.
"Mama bilang ajak Kak Anita ke rumah, gitu aja nggak paham." Kata Miska.
"Beneran Ma?" kedua mata yang sempat ingin menangis ini langsung berbinar.
"Kapan mama bohong sama kamu." Kata Mamanya. Vian langsung memeluk mamanya erat.
"Makasih ma, tapi kenapa mama tiba-tiba mau Anita datang kesini? Mama nggak akan memaki dan meminta Anita jauhin Vian kan?" Vian melepaskan pelukannya.
"Itukan pengalaman kamu sama Bella, jangan samakan ini bukan dejavu." Kata mamanya sambil mengacak rambut Vian.
Vian meringis, dia tidak menyangka kalau mamanya akan dengan mudah menerima keputusanya.
"Akhirnya, kakak Miska yang udah jomblo akut ini mau nikah juga." Kata Miska.
"Jangan kurang ajar, uang saku kakak potong tahu rasa lo." Ancam Vian.
"Kan ada mama. Weekk..." Miska menjulurkan lidahnya.
"Tapi Ma, sebenarnya masih ada masalah satu lagi." kata Vian dengan nada pelan.
"Masalah lagi, ya ampun kak hidup lo isinya masalah doang sih." Cerocos Miska.
"Heh.. Anak masih bau kencur diam lo. Nerocos aja kayak kaleng rombeng." kata Vian.
"Ish...."
"Masalah apa lagi?"
"Anita belum yakin sama Vian, sebenarnya Vian juga tidak tahu dia mau sama Vian nggak." Katanya.
"Loh.. Kamu tuh gimana sih, bisa-bisanya nggak tahu dia mau nggak sama kamu." Mamanya geleng kepala melihat tingkah anaknya yang semalam ini konyol.
"Anita masih belum yakin, dia merasa Vian hanya kasian sama dia. Karena selama ini Vian yang membantunya lepas dari suaminya." ujar Vian.
"Kejar dong Kak, buktikan kalau kakak itu sungguh." Miska memberikan dukungan sama Vian.
"Benar kata Miska, kalau kamu memang sungguh-sungguh tunjunkan sama dia. Dan kamu tuh berbeda dengan mantan suaminya." Ujar Mamanya.
"Iya Ma,"
"Vian, mumpung kamu disini. Yuk, kita kunjungin makam papa." ajak Mamanya.
"Iya Ma, sudah lama juga Vian tidak mengunjungi makan papa."
"Kamu minta restu sama papa kamu, biar semua lancar." Tambah mamanya.
"Iya Ma."
__ADS_1
...----------------...
Vian masuk ke ruanganya langaung menaruh boba di samping Anita.
"Eh.. Kok cuma Anita, buat gue mana?" tanya Fara.
"Nggak ada." Jawabnya singkat yang buat Anita tersenyum.
"Lo ya pelit banget, masa beli cuma satu. Di ruangan ini kan bukan cuma Anita. Ada gue, Gita, Mas Nino, Mas Win." Omel Fara yang tidak mendapatkan boba.
"Memangnya lo mau jadi istri gue?" kata Vian.
"Dasar gila." Fara menabok Vian. "Eh.. Emang Anita udah mau jadi istri lo?" Fara mulai tertarik dengan statmen Vian.
"Kamu nanya..kamu bertanya-tanya.." kata Vian dengan gaya seperti yang sedang viral.
"Gue timpuk lo pakai keyboard." Fara mengangkat keyboardnya.
"Ya nggak tahu, tanya aja Anitanya. Kalau gue mah udah siap lahir batin." ucapnya dengan pede.
"Nit.."
"Em.." Anita bingung mau jawabnya. Dia tidak tahu harus gimana, perasaanya benar-benar di buat kacau sama Vian. Dia sama sekali belum berani memutuskan.
"Ya kalau nggak sekarang nggak apa-apa, sabar kok gue." Kata Vian.
"Mikir apalagi sih Nit, jangan lama-lama loh kesabaran orang ada batasnya." Fara mengingatkan Anita.
"Eh.. Buaya afrika, gue belain lo."
"Buaya Afrika, lo kudanil simbabue."
"Eh.. Apaan sih kalian berdua. Ngomong-ngomong Gita kok lama ya perginya." Anita mengalihkan pembicaraan.
"Gita pergi temani mamanya ke Surabaya. Kemarin sih ajak gue juga tapi kerjaan gue numpuk. Daripada gue pergi masih mikir kerjaan mending gue kerja aja." kata Fara.
"Berapa lama?" tanya Vian.
"Semingguan."
"Ah.. Pantesan Gilang minta ditemani terus. Tapi mereka nggak sedang berantem kan?" tanya Vian. Dia merasa aneh karena Gilang sering marah-marah seperti waktu Lila memberitahunya.
"Memangnya kenapa?" tanya Anita.
"Dari kemarin tuh Gilang marah-marah terus. Semua karyawan di marahin biasanya kan tidak pernah marah dia." Kata Vian.
"Benar juga, gue lihat tadi wajahnya juga di tekuk mulu. Kak Gilang nggak akan seperti itu kalau sedang baik-baik saja sama Gita." Fara.
Sedang asyik membahas Gilang dan Gita ponsel Anita berdering kencang sampai mereka bertiga kaget.
"Astaga Nit, itu nada dering apa suara toa kenceng amat." Fara mengelus dadanya.
__ADS_1
"Nggak tahu kenapa bisa keras begini." Katanya sambil melihat layar ponselnya. Dia langsung reject.
"Kenapa dimatikan?" tanya Vian.
"Nggak penting." jawab Anita.
"Pasti dari Kak Bayu kan?" tebak Fara.
"Em."
"Kenapa sih masih saja ganggu, gemes banget gue, rasanya mau gue santet dari sini." kata Fara.
"Heh.. Mulut lo. Gue bantuin deh, cari dukun yang terbaik." kata Vian.
"Sama saja."
"Hiss kalian berdua tuh ya."
Saat ponsel Anita berdering lagi Fara langsung saja mengangkatnya.
"Far..Fara...." Anita ingin mengambil ponselnya namun Fara langsung pergi.
"Halo.."
"Halo sayang, kamu kenapa mematikan telponya."
"Gue Fara, ngapain lo telpon-telpon Anita. Jangan pernah ganggu dia lagi." Anita memaki Bayu.
"Ngapain lo angkat telpon Anita. Berikan sama dia."
"Apa hak lo suruh-suruh gue, lagian Anita nggak ada dia lagi pergi sama Vian. Oiya.. Sebentar lagi Anita sama Vian mau menikah jadi lo berhenti gangguin dia." Kata Fara.
"Nggak mungkin, Anita itu setia sama gue mana ada dia menikah sama Vian. Lo pasti ngarang kan."
"E.. Lihat saja nanti. Udah ya urusin saja istri baru lo. Jangan gangguin dia!" Fara mematikan ponselnya.
"Far.. lo kok ngomong begitu sih. Lo jangan sembarangan deh. Gimana kalau Kak Bayu mikir gue yang aneh-aneh. Lo jangan seenaknya, ini hidup gue jangan terlalu ikut campur." Anita merebut ponselny, dia marah karena Fara mengatakan dia akan menikah dengan Vian.
"Nit, lo marah sama gue karena ngomong gitu. Dan lo masih takut Bayu mikir macam-macam sama lo, bukankah itu harusnya bukan urusan lo lagi. Ah.. Kalau lo memang masih berharap, atau masih ingin bersamanya tak perlu cerai. Sorry kalau gue terlalu ikut campur." Ucap Fara dengan nada tinggi, emosinya mendadak meladak saat Anita memarahinya.
"Gue rasa juga sudah mendapatkan jawaban tak perlu satu minggu. Gue mewakili Fara minta maaf karena terlalu ikut campur urusan hidup lo." Vian berlari keluar ruangan mengejar Fara yang sedang marah besar.
"Fara tunggu!" teriak Vian.
Seketika Anita terduduk di kursinya, mencerna yang terjadi beberapa menit lalu. Dia membentak Fara yang selama ini membantunya hanya karena takut Bayu salah paham.
Ting.. Satu pesan masuk ke ponselnya, Anita melihat sekilas.
...Bayu...
...Anita, sayang.....
__ADS_1
...Aku tahu, pasti semua itu karangan Fara kan, Dia pasti mau memisahkan kita...