Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Kecemasan Kyra


__ADS_3

Seminggu telah berlalu hasil tes juga sudah di terima anak-anak, seperti biasa respon Aiden dan yang lain biasa saja.


“Gimana Ky?” tanya Dinda.


“Lumayan, ucapnya sembari menunjukkan hasil dari ulangannya yang nyaris sempurna.


“Keren,” Dinda mengangkat kedua jempol diudara.


“Wah, lo hebat banget sih. Bisa nggak ajarin gue begitu biar nilainya naik,” ucap Erina.


“Benar, harusnya lo beri les kita berdua ya Er.” Dinda menatap Erina meminta persetujuan darinya atas ucapannya.


“Iya, gue setuju,” Erina akan sangat senang bisa belajar dengan mereka berdua. Selain menghemat uang les, Erina bisa semakin dekat dengan mereka berdua.


“Gue sih mau-mau saja, tapi kalian tahukan nyokap gue gimana?”


“Memangnya nyokap lo kenapa?” Erina penasaran.


“Mamanya Kyra itu nggak memperbolehkan ada yang mengganggu belajarnya,” Dinda menjelaskan.


“Tapi kan kita belajar bersama bukan mengganggu.”


“Itu pemikiran kita, kalau pemikiran nyokapnya Kyra berbeda. Beliau maunya Kyra fokus, kalau ada kita kan pasti bercanda-canda juga kan,” ucap Dinda.


“Ah benar,” Erina mengangguk-angguk.


“Yah begitulah nyokap gue.”


“Din, gue punya guru les lain loh. Kalau dia mau kita bisa belajar dengannya,” Erina baru ingat kalau Aiden juga tak kalah pintar sama Kyra.


“Siapa?”


“Ai, dia itu dulu selalu juara terus di sekolah. Kalau sekarang gimana?” ujar Erina.


Dinda berjalan menuju mejanya Aiden, dia mengambil hasil kertas ujian milik Aiden. Matanya melotot, tenyata hasilnya lebih tinggi dari Kyra.


“Ngapain lo melongo kayak begitu, nanti ada kecoak terbang mampir di tenggorokan lo gue sokorin,” cerocos Luki.


“Brisik, Ky coba deh lihat,” Dinda berjalan menuju Kyra berdiri.


Kyra melongo, dia tidak menyangka Aiden memiliki nila yang lebih tinggi darinya. Padahal dia di sekolah hanya tidur, jarang mendengarkan guru mengajar. Dia juga tidak melihat dirinya banyak belajar. Main dan main tapi kenapa dia bisa mendapatkan nilai lebih tinggi darinya.


Muncul rasa kesal dan tidak adil di hatinya, dia masih mati-matian belajar tapi kenapa masih saja di kalahkan sama orang lain.


“Lo nggak apa-apa kan Ky?” Dinda menyenyuh tangan Kyra.

__ADS_1


Kyra tersenyum kecut, dia memberikan kertas milik Aiden. Dia akan dalam masalah kalau mamanya sampai tahu dia kalah dari anak yang tidak pernah melakukan apa-apa.


“Din, Kyra kenapa?” tanya Erina yang masih belum terlalu memahami sahabat barunya.


“Ini pasti menjadi masalah kalau mamanya tahu. Mamanya kan terlalu obsesi terhadap Kyra untuk mendapatkan nilai terbaik,” bisik Dinda.


Aiden merasa aneh dengan Kyra saat dia baru masuk ke kelas. Dia tersenyum namun Aiden melihat lain disorot matanya.


“Selamat ya, nilai lo hampir sempurna,” katanya.


Aiden tidak merespon, dia justru sedang membawa ekspresi wajah Kyra.


“Lo kenapa melihat gue kayak begitu?”


“Lo ada masalah?” tanya Aiden, pagi tadi Kyra tampak semangat namun setelah istirahat dia berubah murung. Meskipun dua mencoba untuk tersenyum.


“Nggak ada?” katanya sambil menggelengkan kepala.


Aiden melihat ketiga temannya, namun mereka langsung mengangkat kedua tangannya bersamaan. Erina menyentuh pundak Aiden dan mengkode untuk kebelakang.


“Ada apa?” tanya Aiden saat sampai di belakang kursi Luki dan Rafa.


“Dinda bilang dia sedih saat mengetahui nilai lo yang lebih tinggi darinya,” ucap Erina.


“Kok bisa?” Ibob heran.


Aiden menoleh kearah Kyra, ternyata bebannya semakin bertambah sejak kedatangannya di sekolah ini.


“Ai, jangan-jangan Kyra mendekati lo karena nilai lo yang bagus. Dia mau mencuri strategi belajar lo,” ucap Ibob.


“Itu nggak masalah, dalam belajar nggak ada persaingan bagi gue. Harusnya kita kan saling bantu.” Aiden tak peduli Kyra mau mencuri strategi belajarnya seperti apa. Yang dia pikirkan sekarang adalah mental anak itu.


“Haruskah gue bikin nilai gue turun?” Aiden tanya kepada teman-temannya.


“Jangan lah Ai, lo cinta boleh tapi bego jangan. Ini adalah masa depan lo juga. Kenapa lo jadi nggak bijak seperti ini?” Rafa tidak suka dengan ide Aiden untuk mengurangi nilai yang dia dapat demi mewujudkan nilai Kyra yang di bawahnya.


“Bener Ai, kalau soal ini gue nggak setuju.” Luki pun tidak menyetujui tindakan Aiden sama saja dia menghancurkan masa depannya.


“Kan masih ada cara lain Ai, lo memberikan strategi belajarnya.”


Dinda yang penasaran melihat Aiden dan yang lain ngobrol langsung bangun dari duduknya. Dia ikut nimbrung siapa tahu mendapatkan informasi-informasi yang berguna untuk dirinya.


“Ada apa ini kumpul-kumpul, mau nyerang sekolah mana?” kata Dinda yang langsung mendapat tempelengan dari Luki.


“Apaan sih lo, kasar banget sama cewek,” omel Dinda.

__ADS_1


“Makanya jadi cewek jangan sembarangan, bisa-bisanya sedang musyawarah keluarga besar malah di katain mau tawuran.” Luki ingin sekali menyentil kening Dinda keras-keras sayangnya dia cinta maskipun tidak ada balasannya.


“Din, Kyra sedih ya?” tanya Aiden.


“Ya, lumayan. Setelah melihat hasil nilai ulangan lo.”


Aiden duduk di kursinya dan membuat semua teman-temannya bubar. Mereka langsung duduk di kursinya masing-masing. Aiden memikirkan cara agar nilai Kyra setara dengannya atau lebih tinggi darinya.


Aiden menendang kaki kursi Kyra sampai Kyra menoleh ke belakang.


“Ada apa?” tanya Kyra.


“Nanti kita makan dulu yuk sebelum pulang?” ajak Aiden.


“Nggak bisa.” Kyra langsung menolak ajakan Aiden.


“Lo bukanya masih punya utang sama gue, katanya mau ajak gue makan. Sekarang gue tagih.” Aiden menggunakan ini sebagai alat agar Kyra mau diajaknya pergi.


Kyra bingung, dia tidak mungkin bisa pergi karena dijemput mamanya. Dia tidak tahu harus gimana.


"Lo kenapa cemas amat?"


"Ai ngajakin gue makan, gimana dong?"


"Ya bagus dong, jadi lo bisa lebih dekat."


"Tapi nyokap gue gimana, gue kan dijemput terus. Mana lagi gue harus les kan."


"Benar juga," Dinda juga nggak bisa memberikan solusi kepada Kyra. Karena memang mamanya Kyra sangat ketat.


Aiden menarik tangan Kyra, di tidak membiarkan Kyra pulang terlebih dahulu.


"Ai, gue kan sudah bilang kalau nggak bisa" ucap Kyra.


"Sekali ini saja, atau kalau nggak kita ke perpustakaan saja." Aiden baru saja mendapatkan ide, sejak tadi nggak kepikiran.


"Aiden!" teriak Kris dari ambang pintu. Dia melepaskan tangan Kyra.


"Lo ngapain pegang-pegang tangan Kyra." Kris mendorong dada Aiden sampai mundur beberapa langkah.


"Apa urusannya sama lo," jawab Aiden sembari mendekati Kris.


"Urusan gue menjaga Kyra di sekolah, jadi kalau ada yang macam-macam sama Kyra itu urusan gue." Ucapnya ketus.


"Ingat ya jangan dekat-dekat dengan Kyra, atau lo tahu akibatnya. Dasar miskin nggak tahu diri!" ucapnya sembari menarik tangan Kyra.

__ADS_1


"Haruskah gue bawa rubicon gue," ujarnya sembari mengacak-acak rambutnya.


__ADS_2