Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Obrolan di meja makan


__ADS_3

Kyra menunggu Aiden di perpustakaan, dia meminta Aiden menemuinya saat pulang sekolah. Jadi dia bisa bebas berbicara tanpa gangguan Kris ataupun mamanya saat tahu kalau dia sedang di perpustakaan.


Kyra melambaikan tangannya saat melihat Aiden yang sedang mencari keberadaannya.


"Ada apa?" tanya Aiden sama Kyra.


"Gue mau minta maaf soal kemarin, lo sama nenek lo pasti sakit hati kan karena omongan mama gue," ujarnya dengan mata yang terpaku kearah Aiden.


Dia berharap Aiden berbesar hati mau memaafkan mamanya. Dan masih mau berteman sama dia.


"Gue tahu pasti berat untuk memaafkan, tapi gue benar-benar memohon maaf. Gue masih mau berteman sama lo," Kyra meraih tangan Aiden.


Kedua mata Aiden menuju ke tangan, Kyra yang sadarpun langsung menariknya.


"Gue sudah maafin lo kok, tenang saja kita tetap berteman," kata Aiden sambil senyum setelah dia berekspresi datar sejak datang.


"Tapi gue harap lo juga menuruti mama lo."


"Maksud lo?" Kyra bingung, dia baru saja mengatakan mau berteman namun kenapa meminta dirinya untuk mengikuti kemauan mamanya yaitu menjauhinya.


"Lo jangan dekat-dekat sama gue, takutnya lo ketularan gue. Gue kan orang miskin, jadi lebih baik lo berteman saja sama Kris," ujar Aiden.


Kedua mata Kyra berkaca-kaca, bukan itu yang dia mau. Dia tetap mau berteman dengan Aiden dan yang lain.


"Tapi gue lebih suka bermain sama lo, lagian apa bedanya berteman sama si kaya ataupun si miskin. Semua orang sama di mata Tuhan," ucapnya pelan.


Dadanya mendadak sesak, dia sedih saat Aiden memintanya untuk menjauhinya. Setelah dia di sakiti Rendi dia baru saja mendapatkan kenyamanan dari seorang laki-laki yang meskipun dia tidak tahu perasaanya terhadapanya dan juga sifatnya yang mudah di tebak.


Aiden menarik pelan tangan Kyra, dia membuka telapak tangan Kyra yang tadinya mengepal. Aiden memberikan coklat kecil di telapak tangan Kyra.


"Lo jangan cemas, meskipun kita tidak terlalu dekat. Tapi gue akan selalu ada di sekitar lo," ujarnya.


"Tapi --," Kyra tidak bisa berkata-kata, sebenarnya dia ingin mengatakan kalau Aiden jangan dekat dengan perempuan lain.


"Tapi kenapa?" tanya Aiden sembari mengakat dagu Kyra yang tertunduk.


"Nggak."


"Lo belajar yang benar, dapatkan nilai yang bagus biar mama lo senang. Jangan berpikir yang aneh-aneh." Aiden menggenggam tangan Kyra bersama coklat yang di tangannya.


"Berarti kita baikan?" tanya Kyra hati-hati.


"Memangnya kita marahan, nggak kan?" Aiden mengernyitkan keningnya.


"Kemarin lo nggak bisa di hubungi, mana nggak merespon semua pesan dan telpon gue. Datang-datang bawa cewek cantik."


"Soal itu, hp gue mati gue mager aja casnya. Dan soal cewek itu kan sudah jelas dia pacar Rafa. Sudah jangan berpikir yang aneh-aneh. Sekarang lo pulang, nyokap lo pasti sudah lama menunggunya," Aiden meminta Kyra segera pulang.


Kyra masih ingin ngobrol berdua sama Aiden. Dia sangat bijak, asyik membuatnya nyaman dan betah ngobrol berdua.


Meskipun mereka tidak ada hubungan spesial, namun Kyra merasa senang. Merasa kalau Aiden itu miliknya.


Aiden memperlambat langkahnya agar berjarak dengan Kyra. Dia tidak mau membuat mama Kyra marah lagi karena dia berdekatan dengan putrinya.


"Kyra, kamu lama banget sih," ujar Selfi sembari mengipasi tubuhnya dengan kipas lipat.


"Cari bukunya kan nggak cuma satu ma," Kyra beralasan.

__ADS_1


Selfi menatap sinis Aiden yang baru lewat sembari membungkukan tubuh tanda dia menyapanya.


"Masih sok baik, kenapa sekolahan tidak mengeluarkan dia," katanya sembari melihat Aiden yang bergabung dengan saahabat-sahabatnya.


"Ma, kenapa sih mama ngomong begitu terus," Kyra kesal, dia langsung masuk ke mobil.


...Aiden...


...Jangan cemberut, tetep senyum ya....


...Kyra...


...Tapi mama ngeselin, kenapa terus menghina lo...


...Aiden...


...Nggak apa-apa, nanti juga bakalan baik sama gue. Lo jangan manyun-manyun, nanti cantiknya hilang....


"Ai, ngapain lo senyum-senyum sendiri?" tanya Luki.


"Seneng soalnya," Katanya sambil memakai helmnya.


"Senang kenapa?" tanya Rafa.


"Habis ngobrol sama ndoro putri," sahutnya sambil menghidupkan motornya.


"Ndoro putri siapa kakang prabu, hamba tidak paham dengan perkataan kakang prabu?" tanya Ibob dengan bahasa mengimbangi Aiden.


"Ini apaan sih, malah kayak lagi main drama kerajaan," Erina menggelengkan kepala.


"Iya, kerajaan cinta," ujar Ibob sambil tertawa.


"Yang tadi cemburu," jawab Rafa sembari memakaikan helm di kepala Erina.


"Dinda?"


"Bukan, itu mah gebetan Luki," sahut Ibob.


"Ah, cewek cantik yang diam aja itu."


Aiden hanya tersenyum, dia kemudian menjalankan motornya. Yang diikuti teman-temannya.


...ΩΩΩ...


Rafa membawa Erina untuk di kenalkan sama neneknya. Dia mau wanda mengenalnya supaya tidak seperti Aiden, dilarang dekat-dekat dengannya.


"Nenek," panggil Rafa.


"Ya sayang, ada apa?" Wanda mengusap tangannya yang basah.


"Nenek, kenalin ini pacar Rafa," ucapnya dengan jelas. Rafa selalu lebih terbuka daripada Aiden. Dia ingin semua tahu kalau Erina miliknya.


Erina mencium punggung tangan Wanda. Wanda belum merespon apa-apa dari perkenalannya.


Erina menatap Rafa, dia merasa neneknya tidak menyambutnya.


"Nenek, seperti nggak senang Rafa mengenalkan Erina," ucap Rafa.

__ADS_1


"Nenek, tidak semua orang sama," Aiden memegang tangan neneknya.


"Itu perasaan kalian saja, kalian belum pada makan kan. Ayok pindah ke tempat makan," ajak Wanda.


"Baik nek," jawab serentak.


"Apa nenek kamu nggak suka sama aku?" tanya Erina dengan wajah cemas.


"Kamu tenang saja, nenek pasti suka sama kamu," Rafa menggandeng tangannya.


"Iya calon ipar, lo perlu siap-siap saja nenek membrondong pertanyaan," ujar Aiden yang justru membuat Erina gugup sampai gemetaran.


"Ai, lo bikin takut Erina tahu. Udah kamu tenang saja nanti aku bantu jawab," Rafa menenangkan Erina.


Makanan sudah tersusun rapi di meja, semenjak kedatangan para cucunya Wanda menjadi sering memasak lagi. Menyiapkan makan untuk mereka.


"Erina, kamu tinggal di mana?" pertanyaan pertama meluncur.


"Kos nek," jawabnya gugup.


"Memanagnya rumahnya mana kok kos?"


"Rumahnya di kampung nek, jadi ngekos,"


"Kamu tinggal sendiri di sini?" tanya Wanda.


"Iya nek, tapi sejak ada mereka Erina jadi nggak sendirian karena punya teman." jawab Erina dengan senyuman bangga kepada teman-temannya, terutama Rafa yang mau menerimanya apa adanya.


"Kamu nggak masalah kalau Rafa dan teman-temannya hidup sederhana. Mereka nggak punya apa-apa?" tanya Wanda.


Erina bingung, kenapa nenek Wanda bertanya seperti itu. Padahal cucu dan teman-temannya itu anak-anak orang mampu daripada dirinya.


"Apa kamu nggak bersedia?" tekan Wanda.


"Bukan begitu nek, sebenarnya kaya atau miskin sama saja kan. Kita nggak boleh membedakan satu sama lain," jawab Erina yang mendapatkan senyuman lebar dari Wanda.


"Makan yok, keburu dingin ngobrol saja kita."


Mereka langsung bernapas lega saat Wanda menyudahi mewawancarai Erina. Suasana tegang sudah mencair, Luki dan Ibob sejak tadi diam tak bercuit sedikit pun. Mereka tidak ikut menimbrung masalah obrolan keluarga besar Rafa dan Aiden. Mereka cukup mendengarkan, menjadi penonton.


"Erina, kenapa kamu nggak pindah di sini saja. Kan masih ada kamar kosong bekas mamanya Aiden. Atau di ruang tamu juga kosong."


"Emang boleh nek?" Rafa kegirangan bisa dekat terus sama Erina.


"Ya boleh, biar meringankan Erina juga. Kan nggak perlu bayar kos. Biar buat tambah-tambah dia jajan," tambah Wanda.


"Gimana sayang?" tanya Rafa.


Erina menatap Wanda lalu teman-temannya. Mereka mengangguk menyetujuhi Erina pindah ke rumah neneknya.


"Baik nek, besok Erina pindah sini."


"Kesenengan Rafa ini mah, pacaran terus," bisik Luki.


"Iya, pamer kemesraan terus pasti," timpal Ibob.


"Iri bilang bos," kata Rafa mengejek kedua temannya.

__ADS_1


"Tenang saja kalian berdua, nanti kalau Rafa mau mesra-mesraan aduin aja sama nenek, biar di marahin," ujar Aiden dengan mengulurkan tangannya untuk tos sama Ibob dan Luki.


"Pada jahat ya, nggak bisa lihat sahabat sendiri senang," omel Rafa.


__ADS_2