
Vian melepaskan pelukan Bella, ia lalu menoleh ke kann-ke kiri takut ada yang melihat.
"Bell, kamu jangan seperti ini. Tidak enak kalau di lihat orang." ujar Vian.
"Apa karena Anita?" Bella sedih, sepertinya Vian sudah tidak memiliki perasaan sama dirinya.
"Bukan, ini bukan karena siapa-siapa. Ini kan tempat umum." ujar Vian yang sudah tidak nyaman dengan Bella.
"Dulu kita tidak sungkan bermesraan di depan umum."
"Itu dulu, semua sudah berlalu Bella. Jangan pernah ungkit masa dulu lagi. Aku sudah memberikan beberapa kali kesempatan, namun kamu terus saja menyia-nyiakannya."
"Vian, kamu tahu aku melakukan semua itu kehendak orang tuaku." Bella memohon agar Vian mau memahami kondisinya.
"Lalu, apakah kamu kembali kesini juga kehendak orang tuamu?" ujar Vian yang membuat Bella terbelalak.
"Bell, mau sampai kapan kamu hidup dalam bayang-bayang orang tua kamu. Aku tidak mengajarkan kamu durhaka sama orang tuamu. Tapi, kalau begini terus kamu tidak akan bahagia kalau orang tua kamu terus masuk dalam. Bagaimana kalau nanti kamu sudah menikah, dan meminta kamu cerai apa kamu akan menurutinya?"
Bella terdiam, ucapan Vian kali ini menancap sangat dalam. Semuanya benar, dia hidup hanya menjadi boneka orang tuanya. Semua sudah di tentukan sama orang tuanya. Dia tidak bisa memilih sesuatu yang ia sukai.
"Bella, kamu juga berhak menentukan hidup kamu sendiri." Vian menepuk pundak Bella.
Bella meneteskan air mata, dia ingin sekali melakukanya namun ketakutan yang ada dirinya lebih besar.
"Vian, aku mau keluar dari semua ini. Mau kah kamu menemaniku?"
"Bella, maaf aku sudah tidak bisa berjuang bersama kamu lagi. Aku hanya bisa menemani kamu sebagai sahabat saja."
"Andai saja waktu itu aku tidak pergi, mungkin kita sudah bahagia." ucapnya dengan sesenggukan.
"Sudah jangan ingat-ingat lagi masa itu, sekarang kamu harus mulai menata masa depan kamu. Ayo kita pulang jam makan siang sudah selesai, aku harus kerja lagi." kata Vian sambil melihat jam di tangannya.
"Ya. Vian, ngomong-ngomong teman-teman kamu dimana?" Bella menghapus air matanya.
"Aduh.. Mampus gue, pasti mereka pergi dulu karena lihat gue sama Bella pelukan nih." batin Vian.
Vian mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Anita namun tak di angkat.
"Fixs ini mah. Pasti mereka berpikir aneh-aneh." batinya.
"Gimana?"
"Mereka udah balik duluan, Anita sakit perut katanya.
"Ok, kita balik sekarang."
...----------------...
Setelah Bella pulang, Vian berlari menuju ruangannya mencari Anita, Gita dan Fara. Namun sampai di ruangan mereka bertiga tidak ada.
"Mas Win, tahu trio onar nggak?" tanya Vian kepada Win yang sedang sibuk.
__ADS_1
"Nggak tahu, bukanya tadi pergi sama lo?"
"Iya, tapi mereka balik duluan."
"Kayak tadi mereka bertiga ijin sama bos Gilang." Sahut Nino yang baru saja masuk ruangan membawa cangkir berisikan kopi.
"Ok makasih mas." Vian langsung pergi ke ruangan Gilang.
Vian mengetuk pintu ruangan Gilang, belum ada sahutan dia langsung nyelonong masuk.
"Lang.."
"Lo ada masalah apa lagi sih?"
"Hem?"
"Gita minta ijin tidak masuk setengah hari ini. Lo sama Anita kenapa lagi?"
"Ini semua salah paham Lang."
"Vian, lo harus tegas jadi cowok. Kalau lo masih suka sama Bella ya udah seriusin, dan jangan beri harapan lagi sama Anita. Kasian dia tahu."
"Gue nggak suka sama Bella Lang, gue cuma mau menuntaskan sesuatu yang belum selesai." ujar Vian.
"Brati lo sekarang sukanya sama Anita, atau sama yang lain."
"Gue bingung."
"Gue takut kecewa lagi, gue takut kalau dia masih menyimpan hati buat Bayu."
"Vian, yang namanya hati itu pasti tidak akan bisa langsung berubah. Tapi kalau memang kamu benar-benar dengan tulus menyukai dia pasti lama-lama akan luluh dan melupakan masa lalunya. Lo ingatkan perjuangan gue dulu dapatin Gita."
"Vian, lo pikir-pikir yang bener dulu deh maunya hati lo gimana. Soalnya Gita bilang Anita mau pindah tempat kerja, jangan sampai lo kehilangan lagi." Gilang menepuk pundak Vian.
"Pindah kemana?"
"Gue juga nggak tahu, Gita cuma bilang kalau Anita nggak bisa lihat lo sama Bella barengan."
...----------------...
pagi ini hati Anita masih saja mendung, membuat kedua sahabatnya pun ikut mendung. Mereka bertiga jadi tidak punya semangat lagi untuk bekerja.
"Hey, kalian berdua kenapa nggak semangat gitu sih?" tanya Anita.
"Lo sendiri kenapa nggak semangat." Gita tanya balik.
"Gue.."
"Lo patah hati, jadinya lo galau dan mau menghancurkan diri lo sendiri. Gitu?" cerocos Fara.
"Bukan gitu, gue itu cuman lagi nggak badan aja."
__ADS_1
"Idih alasan, terus kenapa mau pindah tempat kerja. Katanya lo baik-baik saja."
"Soal itu, kalian pasti tahu kan. Meskipun aku berusaha baik-baik saja kalau lihat tiap hari mana kuat." Anita jujur.
"Eh.. Gimana kalau lo pindah saja ke perusahaan Raka." Gita tiba-tiba punya ide tempat kerja baru buat Anita.
"Iya bener juga, kenapa nggak kepikiran ya. Sekalian nih lo jadi mata-mata gue. Takut si pelakor ganggu Raka lagi." Fara setuju dengan ide Gita, kesempatan juga jadi ada yang ngawasin Raka.
"Yah.. Kalau dekat nanti gue bisa ketemu Vian lagi dong."
"Sayang.." panggil seseorang yang baru keluar mobil. Entah panggilan itu tertuju sama siapa.
Mereka bertiga langsung menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata Bayu.
"Ngapain manusia satu itu kesini?" kata Gita sembari sedikit melangkahkan kaki agar menutupi Anita. Fara pun mengikuti Gita. Mereka berdua menjadi garda terdepan kalau ada yang mau menyakiti Anita.
"Ngapain lo kesini, nggak kapok-kapok ya lo." Maki Fara.
"Far, gue kesini cuma mau bicara sama Anita tidak lebih." Bayu memohon.
"Udah lah Kak Bayu, lo urusin saja istri baru lo. Kenapa sih masih gangguin Anita terus."
"Fara, Gita, please beri gue kesempatan buat ngobrol sama Anita sebentar saja."
Gita menoleh ke belakang, dia menanyakan kepada Anita apakah dia menyetujuhi ajakan Bayu.
Anita menganggukan kepala, "Biarkan saja dia mau ngomong apa."
"Ok." Gita menggeser tubuhnya. "Buruan mau ngomong apa?"
"Gue nggak bisa ngomong disini, dan gue juga mau ngomong berdua saja sama Anita."
"Tidak bisa, kalau mau ngomong ya disini saja." ujar Fara.
"Ini terlalu ramai Git, Far."
"Ya kalau mau sepi di kuburan kali."
"Gue mau kerja dulu Kak, kita ngobrol saja nanti jam makan siang di kafe seberang itu." Anita menunjui kafe di seberang jalan depan kantornya.
"Ok, aku tunggu."
Anita mengajak Gita dan Fara masuk.
"Lo yakin mau ngobrol berdua, nanti kalau Kak Bayu ngapa-ngapain kamu gimana?" Gita cemas.
"Kalain tenang saja, tempatnya kan cuma di depan. Kalau sampai dia berani ngapa-ngapain gue. Tinggal teriak kan, pekerja kafe sana juga sudah kenal gue kan."
"Ok deh, lo harus tetap waspada. Hubungi kita kalau darurat." Kata Fara.
"Siap bestie..bestie ku."
__ADS_1