
Vian menghentikan langkahnya, melihat seorang cewek dengan senyuman yang manis. Senyuman yang sudah lama sirna kini kembali lagi. Senyuman yang masih sama, wajah yang sama sekali tidak berubah. Hanya saja mungkin hatinya yang berubah.
Jantung Vian berdetak, napasnya tiba-tiba sesak. Rasanya ingin menangis, ingin lari memeluk gadis itu, namun sayangnya kakinya terasa berat. Ada hal yang melarangnya untuk memeluk erat gadis itu.
"Vian.." teriaknya lalu berlari ke arahnya. Ia memeluk erat tubuh Vian. Seperti udara yang segar, dadanya terasa longgar.
"Vian aku kangen banget sama kamu." Ucapnya dengan tetesan air mata yang membasahi baju Vian.
Anita yang hendak nyamperin Vian untuk ngobrol langsung terdiam. Hatinya rasanya sakit, namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa berputar arah, kembali dengan sia-sia.
Dia sudah terlambat, kemarin ia menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan Vian. Andai saja dia lebih cepat menghampiri Vian mungkin keadaan akan berubah. Namun kini dia harus menerima kenyataan kalau Vian sudah menemukan tambatan hatinya.
Anita yang awalnya membuat janji langsung membatalkan dengan alasan dia mendadak ada urusan. Sekalian membuat kesan tidak baik agar Vian semakin tidak suka dengannya.
"Kita cari makan yuk, aku lapar." ajak Bella. Vian mengangguk, mengiyakan ajakan Bella.
Bella tak berhenti senyum, ia seakan menemukan kebahagiaanya kembali. Awalnya ragu Vian akan menerimanya, namun ia memberanikan diri mencoba menemuinya.
"Vian, kenapa kamu banyak diam. Apa kamu nggak suka dengan kedatangan ku?" tanya Bella. Ia merasa hanya dirinya yang antusias dengan bertemunya kembali mereka setelah bertahun-tahun.
"Senang kok." jawab Vian di bubuhi senyum tipis. Ia terlalu fokus mengemudi dan tentunya ia kepikiran perkataan Gita saat memergoki dirinya berpelukan dengan Bella.
"Pasti Gita akan ngadu sama Anita." batinya resah.
"Oiya, katanya Pak Gilang sama Bu Gita udah punya baby ya?" Bella membuka topik pembicaraan.
"Iya." jawabnya singkat.
"Cewek apa cowok?"
"Cowok, namanya Aiden. Dia sangat lucu, orang yang melihatnya pasti gemes."
"Kamu mau ajak aku kesana?" Bella ingin melihat Aiden. "Aku tuh suka berhalu bisa memiliki anak mungil yang lucu." tambahnya.
Vian diam tidak mengerti maksud ucapan Bella. Dan dia juga tidak mau menafsiran terlalu dalam perkaaanya.
"Apalagi kalau anaknya dari kamu pasti akan sangat lucu." katanya malu-malu. Bella berharap mendapatkan imbal balik yang baik dari ucapanya.
Vian menghentikan mobilnya, ia menatap Bella tajam. Bella langsung di buat bingung.
"Ada apa Vian?"
"Bell, boleh nggak aku tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Ya," Bella cemas.
"Kalau kamu yang ada di posisiku waktu itu, bagaimana perasaan kamu?" tanya Vian sungguh-sungguh. Ia ingin mendengar jawaban Bella yang sejujurnya.
"Maksud kamu?"
"Yah, aku meninggalkan kamu, meninggalkan kamu yang sedang cinta-cintanya." Kata Vian tanpa berkedip.
Bella menunduk tidak berani menatap Vian, dia tahu maksud Vian sekarang dan dia menyadari benar kesalahanya.
"Pasti aku marah, sangat marah. Dan pastinya aku kacau."
"Dan saat aku kembali lagi, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku tidak tahu." jawabnya, air matanya mulai menetes.
Vian menatap lurus kedepan menyenderkan tubuhnya.
"Itulah yang aku rasakan waktu itu dan saat ini." kata Vian. Ia tak mau berjalan terlalu jauh hari ini.
"Aku tahu semua ini memang salahku, meninggalkan kamu demi impian mama aku. Bahkan aku tak memberikan penjelasa apapun langsung pergi begitu saja. Makanya aku kembali untuk menebus semuanya Vian. Please, beri aku kesempatan sekali lagi." Bella memegang kedua tangan Vian.
"Aku janji, akan menjaga cinta kita. Aku akan memperjuangkannya."
...Ya kalau lo mau balik lagi sama Bella berarti bego, udah di tinggalin masih mau sama dia....
Tiba-tiba saja terngiang ucapan Gita, kalau ia menerima Bella kembali berarti dia bodoh dan nggak ada harga dirinya lagi.
"Kenapa kamu diam, apa kamu tidak mau menerima aku lagi?" tanya Bella.
"Gue anterin pulang ya." Vian tidak menjawab Bella. Ia langsung mengantar Bella pulang ke rumahnya.
"Tapi aku tidak mau pulang sekarang. Aku mau jawaban kamu." paksa Bella agar Vian menjawab pertanyaanya.
"Bella, lo belum pulang ke rumah. Pasti orang rumah bakalan tungguin lo. Kasian mama lo." Vian langsung menghidupkan mesin mobilnya. Ia membawa kembali Bella, acara makan mereka pun gagal.
...----------------...
Disisi lain, Anita sangat gusar ia yang sekarang memendam cinta buat Vian harus kandas juga.
"Anita, lo bego banget sih. Kalau aja lo cekatan pasti nggak bakalan kehilangan Vian." Anita menepuk-nepuk jidatnya.
Ia mengambil bantal untuk menutup wajahnya saat mengingat Vian sedang pelukan sama Bella.
__ADS_1
"Hah.. Pastinya dia akan memilih Bella bukan, daripada gue. Bella lebih segalanya dari gue, cantik, pinter mana masih lajang lagi. Sedangkan gue sudah janda." ujarnya.
"Gue harus tahu diri, gue nggak mungkin kan merusak kebahagian orang lain." keluhnya.
Derrzz...deerrrzzz..
Ponsel Anita berbunyi, ia mengambil dengan cepat. Namun ia tak kunjung memngangkatnya. Ia bingung harus ngomong apa.
Anita menaruh ponselnya lagi, tak kuasa rasanya kalau harua berbicara dengan Vian. Sedangkan dia sedang merasakan sesak bisa-bisa ia menangis.
Ponselnya tak kunjung berhenti berdering, ia akhirnya mengangkat ponselnya.
"Iya Vian ada apa?" tanya Anita dengan suara yang dia buat seperti biasanya.
"Lo kenapa tidak jadi datang."
"Ah.. Itu mendadak gue nggak enak badan." jelas Anita.
"Tadi lo bilang ada urusan lain?" Vian merasa curiga sama Anita.
"Iya, tadi ketemu sama klien sebentar lalu pulang soalnya nggak enak badan."
"Sudah minum obat?" Vian mendadak perhatian sama Anita.
"Iya.. Sudah."
"Sudah makan?"
"Sudah, Vian lo ada yang mau di omongin lagi nggak? Kalau nggak gue mau istirahat dulu." kata Anita. Ia ingin cepat-cepat menutup telepon.
Ia tak kuasa menahan sesak di dadanya, rasanya ingin menangis sejadinya. KenapanVian harus peduli disaat orang yang disayangnya bukan dirinya.
"Gue ke rumah lo sekarang ya?" Vian ingin menemui Anita.
"Jangan, gue baik-baik saja kok tinggal buat istirahat aja." Anita menolak Vian yang akan menemuinya.
"Baiklah, selamat istirahat. Besok kita ketemunya."
"Sepertinya sudah tidak ada yang mau gue bicarakan Vian. Jadi kita tidak perlu ketemu lagi. Gue tutup ya. Selamat malam." Anita langsung menutup teleponya.
Anita langsung berusaha menghindari Vian, ia tak akan membahas masalah hatinya lagi.
Ia akan berusaha sekuat tenaga membuang perasaan yang ia punyai. Dan menjadi Anita dan Vian yang dulu. Cukup persahabatan tanpa adanya yang namanya cinta.
__ADS_1