Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Overthingking


__ADS_3

Rutinitas pagi Gita


sebelum pergi ke kantor yaitu menyiapkan baju dan sarapan untuk Gilang. Meskipun


bukan murni dia yang masak, dia hanya membuatkan teh manis untuk Gilang.


Gita memegangi


pingganya, sembari menyipakan kemeja untuk Gilang. Gita mulai tertarik dengan


ponsel milik Gilang yang terus berbunyi. Selama ini dia tidak pernah kepo sama


ponsel Gilang namun semenjak munculnya Lia, Gita menjadi sedikit cemas. Dia menoleh


ke arah kamar mandi, merasa Gilang masih lama Gita mencoba cek ponsel milik


Gilang.


Selamat


pagi Pak Gilang, hari ini kita ada meeting kan


 Jangan lupa sarapan ya


See


you


Mood Gita langsung


hancur saja pagi ini melihat pesan tidak ada naman yang perhatian sama suaminya


itu. Gita langsung menaruh ponsel milik Gilang saat mendengar pintu kamar mandi


terbuka.


Gita memandangi Gilang


yang memakai handuk setengah badan dengan tangan yang sibuk mengeringkan


rambutnya.


“Kira-kira Kak Gilang


akan tergoda tidak ya, atau sebenarnya memang mereka sudah dekat.” Batin Gita. Dia


langsung overthingking dengan pasan yang baru di bacanya.


“Sayang, kamu lagi-lagi


ngelihatin aku kayak begitu. Ada apa sih?” Gilang merasa ada yang aneh dengan


istrinya sejak kemarin.


“Nggak, kamu ganteng


banget jadi suka ngelihatnya.” Gita tersenyum untuk menyembunyikan kecurigaan


Gilang.


“Kan ganteng juga udah


dari dulu, baru sadar sekarang nih.” Gilang berjalan mendekati Gita. Dia mendaratkan


ciuman di kening Gita lalu perut buncit Gita.


“Pagi sayangnya papa,


kapan nih mau ketemu papa? Masih betah aja di perut mama.” Bisik Gilang di


perut Gita.


“Ya kan belum waktunya


ya kan sayang.” Gita mengelus perutnya.


“Ok..ok, papa tunggu


loh.” Katanya dengan tidak sabar.


Gita duduk di kasur


menunggu Gilang ganti baju, dan seperti biasa Gilang akan menekuk lututnya di


depan Gita agar di pasangkan dasinya.


“Sayang, aku mau tanya


sama kamu.” kata Gita sambil membenarkan dasi Gilang.


“Iya.”


“Kamu menyesal nggak


menikah sama aku?” tanya Gita membuat Gilang heran, dia pikir pertanyaan Gita

__ADS_1


ini pasti ada sangkut pautnya dengan Gita yang aneh.


“Tentu saja tidak, aku


selalu bersyukur bisa menikah sama kamu. Apalagi kalau kita dikaruniai anak


yang sangat banyak.” Kata Gilang.


“Benar?”


“Apa yang perlu kamu


ragukan dari aku?”


“Nggak ada sih.”


“Terus?”


“Em, cuma aku pikir tuh


kamu sangat sempurna dan aku jauh dari kata itu. Istri yang bisanya cuma


ngerepotin kamu, dan bikin malu.” Kata Gita yang membuat Gilang menghela napas


panjang.


“Sayang, di dunia ini


tidak ada yang sempurna. Kamu pun tahu aku banyak kekurangan, dan begitu pula


dengan kamu. Dan kita saling melengkapi apa yang kurang dari diri kita


masing-masing. Sebenarnya apa yang memngangu pikiran kamu sampai kamu ngomong


aneh-aneh?” Gilang menatap tajam Gita. Dia mulai tidak suka kalau istrinya itu


meragukan ketulusan dan kesetiaannya.


“Tidak ada. Aku hanya


berpikir saja.”


“Please sayang, jangan


pernah berpikir seperti itu. Aku benar-benar sayang sama kamu. dan perasaan ini


tak kan pernah berubah sampai kapanpun.”


“Meskipun aku tak


cantik lagi?”


kamu tidak cantik buat mereka. Tapi kamu selalu cantik di mataku. Jadi jangan


pernah berpikir macam-macam.” Gilang mencium kening Gita.


“Sayang, boleh nggak


aku ikut rapat kamu pagi ini?” tanya Gita ragu-ragu.


“Meetingnya agak jauh


sayang, nanti kamu kecapean. Lebih baik kamu di kantor saja aku nggak akan lama


kok.” Kata Gilang.


“Ok.” Jawab Gita dengan


wajah kecewa.


“Ya udah yuk kita


berangkat.” Ajak Gilang.


Di kantor Gita  cemas, dia memikirkan Gilang yang tidak-tidak


dengan cewek yang diajak meetinga. Dia mengecek ponselnya berkali-kali namun


tidak ada balasan dari Gilang.


“Bumil, kenapa sih lo


kelihatan kusut banget.” Tanya Vian.


“Nggak apa-apa,”


“Bohong lo.”


“Em, Mbak Lila.”


Panggil Gita saat lihat Lila melintas di koridor ruangannya.


“Ya Bumi.”


“Em, Pak Gilang udah

__ADS_1


pulang?” tanya Gita.


“Belum, palingan sore


soalnya jauh tempatnya.”


“Oya, makasih.”


“Kenapa sih? Tumben lo


tanyain Gilang terus dari tadi. Ada masalah?” Vian curiga dengan Gita.


“Nggak ada, Cuma pesan


aku kok belum di balas udah dari pagi.” Kata Gita.


“Kalian nggak lagi


berantem kan?”


“Ish.. nggak lah.”


Gita terus mengecek jam


di tangannya, hari sudah menjelang sore namun Gilang juga belum pulang. Bahkan dia


hanya membalas pesannya dengan singkat saja.


“Bumil, ayo pulang gue


anterin.” Kata Vian.


“Gue nungguin Kak


Gilang aja deh.” Kata Gita.


“Eh Bumil, suami lo itu


sibuk banget. Jadi belum tahu kapan pulang, meetingnya nggak cuma sebiji. Tadi udah


tanya Mbak Lila suami lo meetingnya lima tempat. Udah yok, gue anterin.” Vian


membantu Gita bangun darik kursinya.


Gita menatap luar


jendela, pikiranya sudah di bawa melayang dengan overthingkinnya. Rasa takut


menyelimuti dirinya.


“Vian, menurut lo


perasaan seseorang itu bisa berubah nggak?”


“Bisa. Kenapa?”


“Nggak apa-apa, cuma


tanya aja. Menurut lo, orang bisa berpaling nggak karena pasangannya itu tidak


lagi cantik.”


“Tergantung.”


“Tergantung gimana?”


“Iman. Kalau imannya


kuat nih mau digoda kayak apapun nggak akan pernah berpaling. Dan juga


kesetiaannya, tapi nih kalau pada dasarnya orang itu nggak setia nggak di goda


pun dia yang akan maju menggodanya.”


Gita diam mendengar


jawaban Vian,sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah apakah iman dan


kesetiaannya pada dirinya itu kuat kalau disuguhi cewek-cewek cantik dan bening.


“Gue yakin kok kalau


Gilang itu sangat setia dan imannya kuat.” Ceplos Vian yang membuat Gita keget.


“Maksud lo?”


“Nggak usah pura-pura,


gue tahu kok apa yang lo pikirkan. Gilang itu tidak akan mungkin tergoda. Percaya


sama gue. Gita dalam hubunga itu harus ada rasa saling percaya, kalau kamu


mencurigainya yang ada nanti bikin hubungan kalian renggang. Coba bicara empat


mata apa yang mengganjal di hati kamu. itu akan lebih baik daripada kamu terus

__ADS_1


curiga sama dia.” Vian menasehati Gita. Gita hanya diam, dia tahu itu tapi


takut untuk melakukannya.


__ADS_2