
Kyra menggeliat lalu membuka matanya perlahan, dia melihat Dinda dan Erina senyum merekah kepadanya. Kyra menoleh sekeliling.
“Gue di UKS?” tanya Kyra. Dinda dan Erina mengangguk pelan.
Kok gue bisa tidur di sini, bukanya gue tadi sama Ai. Apa tadi mimpi?” batinya.
“Kenapa lo diam saja, sakit?” tanya Erina sembari mengecek kening Kyra.
“Nggak kok, tapi kok gue bisa tidur di sini ya? Apa gue pingsan atau semacamnya?” Kyra lupa bagaimana dia bisa tidur di uks. Seingat dia tadi berada di pelukan Aiden.
“Lo tidur, kecapean mungkin.”
“Lo terlalu banyak belajar kali ya, sampai tertidur begini,” tambah Erina.
Berarti Aiden datang hanya dalam mimpi gue, tapi gue rasa sangat nyata. Dia memeluk erat gue, batinnya.
“Ky, bengong terus nanti kesambet lo,” Erina menyenggol lengan Kyra.
“Yuk, ke kantin kita makan. Biar lo ada tenaga,” Dinda menarik tangan Kyra.
“Gue nggak lapar Din,” Kyra menolak diajak makan.
“Tapi gue sama Erina lapar.” Dinda nggak mau tahu, dia tetap akan membawa Kyra ke kantin. Seperti kata Aiden, dia tidak boleh sendirian.
Meskipun ikut ke kantin Kyra tidak memesan makanan apa-apa, dia sama sekali nggak mood makan. Sampai bingung Dinda dan Erina.
Kyra mengangkat bahu kiri sedikit mendekat ke pipi, saat minuman dingin menempel di pipinya.
“Kenapa nggak makan?” kata Aiden sambil duduk di samping Kyra.
“Nggak lapar,” ucapnya pelan. Dia masih tidak percaya kalau orang yang di dekatnya ini beneran.
Kyra mendadak mencubit lengan Aiden, Aiden menoleh kearah Kyra.
“Lo kenapa tiba-tiba mencubit gue?” Aiden menatap heran. Kyra menggeleng kepala sembari tersenyum.
“Maaf,” ujarnya.
“Bob, tolong pesenin bakso ya,” seru Aiden saat melihat Ibob di depan ibu kantin.
Aiden menggeser bakso yang baru saja Ibob pesan. “Makan,” pinta Aiden.
“Gue nggak lapar Ai,” ujarnya.
Aiden menarik mangkoknya, dia mengambil satu bakso ukuran kecil lalu meniupinya.
“Aaa,” Aiden menyodorkan ke mulut Kyra.
“Gue nggak mau --,”
“Aaa,” Aiden memaksa Kyra untuk mau makan. Aiden tahu Kyra pasti tidak mau makan, jadi dia harus memaksanya mumpung bisa bertemu.
Kyra pun membuka mulutnya perlahan, dia melihat kearah teman-temannya yang tersenyum. Wajah Kyra memerah, dia malu menjadi tontonan teman-temannya.
__ADS_1
Aiden mengambil mie dan siap menyuapi lagi, namun Kyra langsung menolaknya.
“Gue bisa sendiri,” Kyra menarik mangkok dan mengambil sendok di tangan Aiden.
“Pinter,” Aiden mengacak-acak rambut Kyra.
Dinda mengangkat jempol ke arah Aiden, dia senang bisa membujuk Kyra.
“Boleh gabung nggak?” Sila datang membawa nampan berisikan pesananya.
“Lo nggak lihat ini sudah penuh,” ujar Rafa ketus.
“Erina, minggir lo!” usir Sila seenaknya.
“Kenapa lo jadi suruh minggir Erina,” Rafa nggak terima.
“Rafa dia itu nggak pantas gabung sama kalian,” katanya tanpa berpikir.
“Makan yang banyak,” bisik Aiden ke telinga Kyra. “Sil, lo mau duduk?” tanya Aiden,
“Iya.” wajahnya berbinar. Dia merasa mendapat perhatian dari Aiden.
“Duduk sini gih,” Aiden berdiri.
“Terus lo duduk mana?” Sila menatap Aiden sembari menaruh nampannya. Dia duduk tanpa ragu disamping Kyra.
“Luk, cabut,” ajak Aiden saat tahu makanan dia sudah habis. Luki mengangkat jari berbentuk ok.
“Dia pergi karena lo yang nggak tahu diri, bisa-bisanya mau mengusir orang,” ketus Rafa. Dia semakin benci kepada cewek yang pernah menolaknya itu.
Sebenarnya Aiden bukan pergi karena Sila, namun dia melihat Kris yang masuk ke kantin. Dia tidak mau membuat masalah lagi, yang akan membuat Kyra semakin menderita.
“Boleh gabung?” ucap Kris yang sudah berada di meja Kyra bersama dengan satu teman kelasnya.
“Tambah satu lagi,” bisik Dinda di telinga Erina.
Rafa mengkode Ibob untuk pergi. “Duluan ya,” kata Rafa sembari memandang Erina. Erina mengangguk dia paham kalau mereka tidak menyukai kakak kelasnya itu.
Dengan kepergian Ibob dan Rafa, dia langsung duduk bersama temannya.
Mood makan Kyra yang baru mau naik sudah menurun lagi, lelaki di depannya itu adalah sumber masalah yang belum bisa dia hilangkan.
“Kyra, lo kok makannya sedikit. Lo sakit?” tanya Kris. Kyra hanya menggelengkan kepalanya.
“Eh, lo anak baru kah? Kok gue belum pernah lihat?” perhatian Kris tertuju kepada Sila yang masih asing.
“Iya, gue baru masuk hari ini. Perkenalkan nama gue Sila,” Sila mengulurkan tangannya.
“Kris, ketua osis sekolah ini,” ujarnya sembari menyambut tangan Sila.
“Lihat miripkan,” bisik Dinda.
“Hati-hati, kalau mereka bersejutu bisa bahaya. Sama-sama licik soalnya,” balas Erina.”
__ADS_1
Kyra mendorong mangkoknya, “Gue duluan ya,” ujarnya sambil berdiri yang diikuti Erina dan Dinda.
“Lo usah selesai Ky?”
“Udah Kak, gue ke kelas dulu ya. Ada tugas yang belum kelar.”
“Ok, nanti gue tunggu di parkiran ya. Nyokap lo minta gue anterin pulang soalnya sedang rapat,” kata Kris.
Kyra mengangguk pelan, dan berlalu pergi.
“Ky, kenapa lo nggak menolak sih?” Dinda menggandeng Kyra.
“Lo kan bisa bareng sama Dinda. Atau dianterin anak-anak yang lain,” Erina menggandeng di sisi lain.
“Biarkan saja mama gue puas dengan apa yang dilakukannya,” jawab Kyra. Dia enggan melawan mamanya saat ini.
Kyra menatap Dinda dan Erina saat melihat kantong plastik berisi jajanan. Erina mengambil kantong dan menuang ke meja. Kyra tertarik dengan kertas kecil, sepertinya dia tahu dari mana jajanannya berasal.
Tetap semangat ya, jangan menyerah.
Kalau lo butuh bahu untuk bersandar,
dan telinga untuk mendengar gue selalu siap
Senyumnya semakin melebar, tebakannya benar kalau itu dari Aiden. Dinda kepo, dia mengambil kertas dan membacanya dengan pelan.
“Apa ini dari Kak Ai?” Dinda menatap kearah Kyra. Kyra menganggukkan kepala.
“Kok lo tahu?” tanya Erina.
“Tulisan ini sama seperti yang kemarin dia kirim ke gue,” katanya dengan senyum lebar.
“Sweet banget sih Ai, tadi gendong lo ke UKS sekarang memberikan makanan seperti ini,” ujar Erina.
“Iri kan lo, masih mending sih lo punya pacar. Lah gue jomblo gini makin iri kan,” celoteh Dinda.
“Makanya lo buruan punya pacar, eh Din, Luki itu suka sama lo sudah lama loh. Sejak kalian ketemu.”
“Masa?” Dinda tidak percaya.
“Iya, beneran. Jadi mereka itu pindah ke sini itu yang merokomendasikan adalah Luki. Dia minta pindah ke sini gara-gara ada lo.”
“Bohong kan lo, di sogok apaan sama Luki buat ngarang cerita ini?” dinda tidak percaya dengan omongan Erina.
“Sumpah, nggak. Sebenarnya gue juga di ceritain sama Rafa. Dan nggak boleh ngomong sama lo,” tukas Erina.
“Udah jadian saja, kan lebih baik jadian sama orang yang mencintai kita, daripada kita yang mencinta,” kata Kyra.
“Brati lo harus menerima Kris, dia kan mencintai lo,” balas Dinda.
“Kalau ada yang saling mencinta kenapa harus sepihak. Gue bilang begitu sama lo karena kualifikasi dia bagus. Bukan orang jahat, ngerti nggak maksud gue,” Kata Kyra.
“Iya.”
__ADS_1