
Gita samapi kantor langsung ke ruangan Gilang untuk mengecek dia sudah datang atau belum.
"Mbak Lila, Kak Gilang sudah datang atau belum?" tanya Gita.
"Sudah, sepertinya Pak Gilang tidur di kantor." Kata Lila.
"Ok Mbak. Makasih ya."
Gita buru-buru ke ruangannya, dia mencari Vian.
"Kenapa Git lari-lari gitu?" tanya Fara.
"Lo lihat Vian nggak?" tanya Gita dengan mata yang sibuk mencari keberadaan Vian.
"Belum datang." Sahut Nino.
"Selamat pagi semuanya..." sapa Vian. Pucuk di cinta ulam pun tiba, baru juga diomongin Vian sudah muncul.
"Tuh.. Orangnya." Tunjuk Nino.
"Ada apa nih? Kenapa pada ngelihatin gue kayak gitu?" Vian bingung semua orang memandanginya.
"Vian..Vian... gue mau ngomong sama lo." Kata Gita sambil menarik Vian keluar ruangan lagi.
"Ada apaan sih Git?" Vian semakin bingung.
"Pinjam hp lo." Gita menadahkan tangannya.
"Buat apa?"
"Udah pinjam pinjam bentar doang." Paksa Gita.
"Nih, buat apaan sih. Awas ya buat aneh-aneh, masih pagi Git jangan bikin ulah deh." Vian mendadak cemas kalau Gita bakalan bikin ulah lagi.
"Ngggak, sebentar." Katanya sambil mengetik pesan untuk Gilang. Namun setelah selesai dia kembali menghapusnya. Di mengembalikan lagi hp milik Vian.
"Udah?"
Gita mengangguk, "Nggak jadi." Ujarnya sembari mengembalikan ponsel Vian.
"Kenapa nih, wajah pakai melas gitu?" Vian merasa ada yang disembunyikan.
"Jadi dari kemarin tuh, gue cuekin Kak Gilang. Dan sekarang dia cuekin gue." curhat Gita yang justru di sahut dengan gela tawa Vian.
"Ih.. Lo kenapa ketawa sih!" Gita manyun sambil memukul lengan Vian.
"Ya lo sih lucu, makanya jangan sok-sokan cuek. Di cuekin balik kelabakan lo." ledek Vian.
"Udah deh lo nggak usah ngeledek gue, sekarang lo ke ruangannya kak Gilang. Tanya dia kenapa nggak pulang, dan tidur dimana." Gita meminta Vian untuk mencari tahu.
"Gilang nggak pulang?" Vian kaget.
"Nggak. Sama ini kasih sarapannya ya. Jangan bilang gue yang kasih."
__ADS_1
"Kenapa lo nggak antar sendiri sarapannya, lo kan bisa anter sama perbaiki hubungannya." Kata Vian.
"Udah lo nggak usah banyak ceramah, sana buruan nanti keburu pergi." Gita memberikan bubur ayam lalu mendorong agar Vian lekas pergi ke ruangan Gilang.
"Iya..iyaa... gengsi kok di pelihara. Pelihara tuh kambing, ayam kan menguntungkan." celoteh Vian sambil jalan menuju ruangan Gilang.
...----------------...
"Mbak.. Bos ada?" Vian melongok ke meja Lila.
"Ada."
"Gue masuk ya." Ijin Vian.
"Masuk aja,"
"Ok, makasih." Kata Vian sambil memutar tubuhnya.
Vian mengetuk pintu lalu mendorong pelan pintu ruangan Gilang.
"Masuk."
Vian nyelonong duduk di depan Gilang, sambil menyodorkan bubur.
"Sarapan Lang, lo pasti belum sarapan." Kata Gilang.
"Makasih, tapi gue lagi nggak nafsu makan. Badan gue lagi nggak enak." Jawanya sambil mendorong bubur di hadapan Vian.
"Memangnya lo semalam tidur dimana?" tanya Vian.
"Lo nggak kasian sama Gita?" tanya Vian yang membuat Gilang terkejut.
"Dia pasti cerita sama lo."
"Yah.. Dan gara-gara itu juga gue di cuekin. Dikira gue belain itu cewek. Lang, dengan lo nggak pulang buat dia khawatir."
"Ha.. Serba salah gue Vian. Dulu gue mikir kalau Gita nggak sayang karena nggak ada cemburunya. Sekarang kalau cemburu bikin gue pusing." Jelas Gilang.
"Ah.. Sebenarnya Gita itu cemburu cuman dia menyimpanya. Mungkin karena dia sudah punya anak, dia pikir pasti jelek dan tubuhnya tidak sebagus dulu, insecure dia. Jadi Gita pasti mikir lo akan berpaling." Jelas Vian dengan pemikiran cewek yang sudah mempunyai anak dan suaminya ganteng.
"Gue hampir setiap hari bilang kalau gue tidak akan pernah meninggalkan dia." Sampai mau bosan Gilang ngomong seperti ini kepada Gitam
"Namanya juga perempuan. Lo bener nggak mau ini bubur. Gita loh yang siapin kusus buat lo." Kata Vian sambil mau ambil lagi.
"Bohong kan lo."
"Iya kalau nggak percaya, ya sudah. Gue balik dulu." kata Vian sambil pergi.
Vian membawa bubur ke bali, dia berniat mau memakannya dulu sebelum ke ruangannya agar Gita tidak sedih karena di tolak Gilang.
"Vian..Vian..." Gita lari mendekati dirinya.
"Aduh..ini bocah kenapa pakai acara kesini pula." Vian memundurkan tangan kanannya di belakang.
__ADS_1
"Gimana?"
"Gilang tidur di kantor, sudah terlalu malam takut mengganggu kalian." ujar Vian.
"Biasanya juga pulang, itu apa?" tanya Gita. Dia berusaha melihat namun Vian berusaha menyembunyikannya.
"Bukan apa-apa, buruan yuk masuk." Vian mendorong dengan tangan kirinya.
Karena Gita kepo, dia tidak mau dan terus berusaha tahu yang di bawa Vian.
"Git.."
Gita berhenti kepoin, "Itu pasti bubur gue kan." katanya dengan wajah kecewa.
"Bukan." Kata Vian lembut.
"Bohong." Gita langsung mewek.
"Loh..loh kok nangis. Git jangan nangis dong.. Iya.. Ini bubur punya lo. Gilang sudah sarapan." Vian bohong lagi.
"Kak Gilang udah nggak sayang Gita ya, dia kenapa jadi marah sama Gita. Kenapa cuekin Gita sampai makanan dari Gita saja tidak mau." Katanya dengan nada terbata-bata.
"Nggak, Gilang itu cuma udah sarapan tadi."
"Nggak percaya gue."
"Gita..Gita.. Bingung gue sama lo, kemarin cuekin sekarang di cuekin balik lonya kelabakan." ujar Vian.
"Ya kan harusnya tidak di cueki balik, tapi di baikin. Ngerti nggak sih. Dasar cowok itu memang nggak peka ya." Gita mengusap air matanya lalu meninggalkan Vian.
"Lah..gue lagi yang jadi sasaran. Nasib..nasib." Vian menggelengkan kepala sejak SMA sampai jadi suami istri tetap saja Vian selalu jadi sasaran.
...----------------...
Gita memegangi perutnya yang mendadak sakit banget. Dia pun kembali meneteskan air mata membuat Vian menghela napas dan mendekatinya.
"Lo kenapa lagi Git, belum selesai nangisnya?" tanya Vian.
"Vian." Anita memukul punggung Vian. "Lo kenapa Git?"
"Perut gue sakit banget deh." katanya masih memegangi perutnya dengan tubuh sedikit membungkuk.
"Pulang aja deh Git, gue anterin yuk." Anita menawarkan diri mengantar Gita.
"Nggak usah Nit, kerjaan lo kan masih banyak. Gue pulang sendiri saja. Sama nanti kerjaan gue kirim lewat email saja." Kata Gita mengambil tasnya.
"Ok, gue anterin sampai depan yuk."
"Nggak usah Vian, kerjaan lo juga lagi banyak. Mas Win bentar lagi balik nanti di tanyain lo belum kelar bisa di marahin. Udah gue bisa sendiri kok." Kata Gita meyakin kan kedua temannya kalau dia baik-baik saja dan bisa pulang sendiri.
"Beneran?"
"Iya, udah ya balik dulu."
__ADS_1
"Ok, hati-hati."