
Aiden melihat Kyra dari spion yang mengipasi tubuhnya dengan tangan saat berhenti di lampu merah. Hari ini memang sangat panas, bahkan angin pun enggan bertiup.
Setelah lampu hijau Aiden memilih menepikan motornya di bawah pohon yang rindang di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti?" tanya Kyra.
"Gue cariin taksi aja ya buat lo," ujar Aiden.
"Kenapa?" Kyra bingung kenapa mendadak Aiden mau mencarikannya taksi.
"Kasihan gue sama lo, jadi kepanasan begini." Aiden melepaskan helmnya lalu turun dari motor setelah Kyra turun.
"Lo tunggu di sini," ujar Aiden.
Kyra menarik tangan Aiden. "Nggak usah, gue nggak apa-apa kok."
Aiden menatap Kyra lekat, netra mereka saling beradu. Kyra memutus lebih dulu kontak matanya. Dia gelagapan dipandang Aiden tanpa berkedib.
"Gue nggak masalah kok naik motor, lagian kalau pas jalan jadi sejuk nggak panas lagi," ujarnya dengan melihat kendaraan yang berlalu lalang.
"Lo yakin?" Aiden kembali memastikan, takutnya Kyra terpaksa.
"Iya."
"Lo nggak terpaksa kan?"
"Nggak Ai, gue dengan sadar menyatakan kalau mau naik motor lo tanpa paksaan siapa-siapa," ucapnya sambil nyengir.
Pipi Aiden mengembang saat tersenyum. "Cewek idaman banget sih." Aiden memakaikan helm Kyra yang sempat dicopotnya.
Kyra berdiam diri, tubuhnya mendadak kaku seperti patung manekin.
"Ayo naik," kata Aiden.
"Eh,ya." Kyra bergegas naik ke belakang motor Aiden.
Kyra tidak sadar kalau Aiden sudah selesai memakaikan helmnya. Hari ini dia bertujuan pulang bareng Aiden untuk menggaetnya. Namun justru dia yang di buat jatuh hati.
sepanjang jalan mereka berdua hanya diam, bingung mau membahas apa karena memang selama ini hanya sebatas teman satu kelas. Bukan sahabat akrab, yang setiap hari saling berkabar.
"Mau makan dulu nggak?" tanya Aiden.
"Boleh," jawab Kyra. Dia memang sudah sangat lapar, dia ingin makan yang enak dan banyak untuk mengembalikan tenaganya.
"Mau makan apa?" Aiden melihat Kyra dari spion.
__ADS_1
"Terserah lo, gue ngikut saja," jawab Kyra.
Yah, jawaban semua cewek sama saja kalau diajak makan. Pasti jawabnya terserah, membuat kepala Aiden puyeng juga.
"Beneran nih terserah?"
"Iya, asal masih bisa dimakan gue mau semua kok," ujar Kyra. Kyra termasuk cewek yang mudah hampir semua masakan dia suka. Nggak pilih-pilih makanan.
Aiden memilih makan bakso dan mie ayam yang ada di pinggir jalan. Kyra lumayan shock diajak makan di pinggiran jalan. Aiden tersenyum tipis melihat ekspresinya, dia paham kalau biasanya pasti dia makan di mall dan tempat-tempat yang mahal.
“Mau pindah tempat?” tanya Aiden.
“Nggak kok,” ujar Kyra sembari membuat senyuman lebar di bibirnya.
Dalam hati sih Kyra ingin sekali pindah tempat, namun takut kalau Aiden tersinggung. Dia mengira kalau Aiden memiliki keuangan yang mepet.
“Beneran?”
“Iya Ai.” Kyra menggandeng tangan Aiden agar segera masuk ke warung mie ayam dan bakso. Dia tidak ingin membuat Aiden merasa bersalah kepadanya karena makan di pinggiran.
“Mau bakso apa mie ayam?” tanya Aiden.
“Bakso tanpa sayur,” jawab Kyra.
“Ok, di tunggu ya.”
“Ayo duduk,” ajak Aiden.
Kyra mengangguk, dia mengamati ruangan yang sempit. Ada empat meja dengan kursi panjang yang saling berhadapan.
Mereka berdua hanya duduk diam sampai pesanan datang, Kyra menjadi sibuk dengan ponselnya.
“Lo risih ya gue ajak makan di sini?” Aiden membuka percakapan karena bosan.
“Ng-ngak kok,” Kyra gugup.
“Sorry deh, kapan-kapan gue ajak ke tempat yang mahal deh,” ujar Aiden.
Hari ini Aiden bisa saja mengajak ke restauran mahal, namun karena Kyra bilang terserah dan perutnya sudah keroncongan makannya dia berhenti di tempat yang paling dekat.
“Lo ngomong apaan sih, memangnya tampang gue ini suka di tempat-tempat yang mahal?”
“Iya.” jawab Aiden cepat, jelas singkat dan padat.
Kyra terperanjat, Aiden ternyata bukan cowok yang to the point. Sama sekali tidak ada niatan menyanjung dirinya. Atau pura-pura seneng dengan jawabannya.
__ADS_1
Aiden memang beda dari cowok yang beda dari yang lain, dan Kyra belum tahu sebenarnya Aiden itu orang yang seperti apa. Terlalu sering berubah-ubah, namun satu yang pasti dia tahu kalau Aiden itu tegas.
Kyra menelan bakso yang masih belum lembut sempurna melihat mangkok Aiden yang sudah bersih. Hanya tinggal sedikit kuah saja dalam waktu kira-kira sepuluh menit. Sedangkan dia baru saja makan satu bakso dan beberapa sendok mie saja.
“Nggak usah buru-buru, gue tungguin lo kok,” ucap Aiden setelah menghabiskan es tehnya.
Kyra mengangguk, namun dia jadi gugup makannya karena terus di lihatin sama Aiden. Berasa seperti sedang ujian dan di tungguin guru yang membuatnya tidak bisa bergerak.
“Lo sering makan di sini?” tanya Kyra untuk mengurangi rasa gugupnya.
“Nggak juga, ini juga baru pertama sama lo. Kan gue baru saja pindah ke sini,” jawab Aiden.
“Ah, benar juga.” Kyra menggigit bibir bawahnya.
Kyra, bego juga lo ya kan Aiden baru di kota ini, batinnya.
“Tapi mungkin akan menjadi tempat favorit gue,” ujarnya lagi.
“Iya juga, baksonya enak loh dari pada di tempat-tempat yang mahal,” ucap Kyra. Dia setuju kalau akan menjadi tempat favorit. Selain enak baksonya juga murah, sangat pas di kantong anak sekolahan seperti Aiden dan Kyra.
“Itu alasan kedua.”
“Terus alasan pertamanya apa?” Kyra menatap Aiden.
“Alasan pertamanya, karena ini tempat makan pertama gue sama lo,” kata Aiden dengan senyum-senyum malu.
“Uhuk!” Kyra batuk hampir saja kunyahan bakso mencrat kalau saja dia nggak menutupi dengan tangannya. Segera dia mengambil gelas di sampingnya untuk mengguyur tenggorakannya yang tersumbat kunyahan bakso yang terpaksa di telannya.
“Gue bilang kan pelan-pelan,” Aiden menepuk-nepuk pundak Kyra agar berhenti batuk.
Gue boleh lambaikan tangan nggak sih jalan sama dia, bisa-bisanya dia terus gombalin gue. Gimana kalau gue bisa suka beneran sama Aiden, batinya penuh keresahan.
“Bang, minta es teh satu lagi ya,” pesan Aiden.
Aiden memindah gelas yang kosong milik Kyra dan menggantinya yang baru. “Minum lagi gih,” ucapnya saat Kyra masih batuk-batuk.
“Lo mau mampir lagi atau mau pulang?” tanya Aiden.
“Pulang.” Ucap Kyra sembari menaruh gelas yang sudah tinggal setengah. Kyra mendorong mangkok yang masih ada sekitar tiga bakso. Dia sanggup menghabiskan satu mangkok bakso hari ini.
“Ok, lo nggak habisin baksonya?”
“Nggak sudah kenyang,” ucap Kyra berbohong.
Aiden langsung menuju ke rumah Kyra, dan kembali lagi terjadi keheningan di perjalanan. Kyra menikmari sejuknya naik motor dengan isi kepala yang bergemuruh.
__ADS_1