Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Kesal


__ADS_3

Ibob yang bangun duluan mengecek siapa orang yang datang pagi-pagi. Dia mengucek kedua matanya, mengerjapkan beberapa kali memastikan yang dia lihat tidak salah.


Ibob kabur balik lagi ke kamar saat Kyra dan Dinda menyapanya dengan mengangkat tangannya.


Ibob berdiri di balik pintu dengan ketiga sahabatnya yang menaatap aneh.


“Kenapa pagi-pagi kayak lihat depkolektor.” Kata Aiden sembari menaruh selimut yang baru saja di lipatnya di atas bantal.


“Nenek nggak bilang kalau yang datang Kyra sama Dinda, kan gue jadi ternodai keluar pakai kolor sama singlet doang,” omel Ibob.


“Ya kalau tubuh gue itu sixpack, lah bulat begini.” Ibob menunjukkan perut bulatnya.


“Dinda datang?” Luki melongok dari ranjang diatas Aiden. Luki bergegas turun, dan pergi ke kamar mandi. Dia mau mandi cepat dan segera menemui Dinda dengan wajah gantengnya.


“Kesambet apaan sih itu bocah?” Ibob memandang Aiden.


“Kesambet cinta di pagi hari,” ujar Aiden.


Aiden ambil cuci muka lalu pergi untuk menemui Kyra dan Dinda. Senyum merekah dari bibir Kyra saat melihat Aiden sedang menuruni tangga.


“Ada apa nih pagi-pagi pada ke sini?”


“Ini Kyra mau jengukin Kak Ai, cemas semalam sampai nggak bisa tidur?” sahut Dinda yang langsung mendapat jubitan dari Kyra.


“Nggak,” Kyra mendelik kearah Dinda.


“Jadi mau ngapain ke sini?” Aiden menatap Kyra.


Kyra gagap bingung mau jawab apa, dia melihat Dinda malah membuang muka sembari menahan tawa.


“Dinda kok yang ngajakin ke sini,” Kyra bingung.


“Mana ada, kalau memang gue yang ajakin kenapa sampai bawa bekal buat Kak Ai.” Dinda memindah papaer bag yang berisi sarapan dari sofa ke meja depan Aiden.


Kyra mendengus pelah, harus ekstra sabar memiliki teman seperti Dinda. Tidak bisa sedikit kalem, selalu saja di cepuin apa saja yang dikatakannya. Dia senang sekali membuat Kyra malu di depan Aiden.


Aiden tersenyum, dia tahu gadis di depannya masih malu-malu memberikan perhatiannya buat dirinya.


“Makasih ya, perhatian banget sih. Kalau gini cepat sembuh gue.” Aiden mengambil paper bag sembari mengintip sekilas.


“Kok lo bisa jatuh sih?”


“Nggak sengaja disenggol sama mobil,” katanya santai.


“Terus yang nyenggol tanggung jawab apa nggak?” Dinda kepo juga.


“Mungkin buru-buru atau nggak lihat jadi terus jalan.”

__ADS_1


“Itu namanya tabrak lari, kakak masih ingat nggak mobilnya. Kita cari,” ujar Dinda menggebu-gebu.


“Iya, kita laporin saja ke polisi.”


“Tenang-tenang ibuk-ibuk, gue juga nggak kenapa-kenapa jadi nggak usah memperpanjang urusan,” Aiden banyak senyum pagi ini dengan kelakuan dua sahabat ceweknya.


“Pagi,” sapa Luki yang sudah memakai seragam lengkap.


“Widih, tumben sudah mandi. Mau ketemu ayang ya?” goda Aiden.


“Kak Luki sudah punya pacar?” Dinda melongo.


“Belum,” Luki menggerak-gerakan tangannya cepat. “Ai kalau ngomong memang nggak dipikir. Gue kan mau sekolah ya mandi.”


“Lo sekolah atau nggak?”


“Sekolah, nanti lo kangen lagi kalau gue nggak sekolah,” goda Aiden.


“Ngaco deh,” wajah Kyra berubah memerah sepagi ini sudah di gombali sama Aiden.


“Gue mandi dulu,” katanya.


*****


Hari ini mereka berangkat bareng dengan Dinda sekalian, dan di mobil Rafa terus mengomel karena dia bangun paling terakhir sendiri karena tidak di bangunin sama yang lain.


“Ngomel mulu sih lo Raf, pms lo?” ujar Luki yang ada di sampingnya.


“Salah lo pada nggak bangunin gue, kan jadi belum sempat sarapan gue.”


Aiden, Luki dan Ibob terlalu asyik dengan Kyra dan Dinda sampai lupa kalau Rafa belum bangun dari tidurnya. Mereka ingat ketika sudah mau berangkat sekolah. Jadi Rafa buru-buru, mungkin mandi saja tidak ada sepuluh menit.


“Nih makan,” Aiden memberikan kotak bekal kepada Rafa.


Kyra kecewa, dia memasak pagi-pagi hanya khusus buat Aiden tapi malah di berikan sama Rafa.


“Makasih ya, lo memang saudara terbaik,” Rafa bisa tersenyum.


“Gue kan adik yang sangat pengetian sama kakaknya,” ujarnya dengan bangga.


Kyra menatap ke jendela, matanya berkaca-kaca karena perjuangannya bangun pagi-pagi tidak di hargai sama Aiden.


Begini nih, kalau cinta sendirian. Gue buat makanan untuknya saja malah di kasih orang. Nggak tahu apa gue mengurangi jatah tidur hanya untuk menyiapkan sarapan, omel Kyra dalam hati.


Kyra mengusap ujung matanya yang sedikit berair, agar tidak ketahuan sama Dinda. Bisa di cepuin lagi kalau dia ketahuan nangis. Bisa-bisa keki kalau ketahuan Aiden sama yang lain.


Turun dari mobil Kyra langsung jalan duluan tanpa menunggu yang lain. Dia sudah keburu kesal.

__ADS_1


“Ky, lo kenapa kok buru-buru!” teriak Dinda.


“Kebelet kali,” sahut Aiden.


“Iya, belum berak kali tadi pagi. Gue lihat mukanya tegang banget,” tambah Ibob.


Perubahan drastis dari Kyra, dia diajak ngobrol hanya diam saja. Padahal pagi tadi masih haha hihi.


“Lo kenapa?” tanya Dinda.


“Kesal gue.”


“Masalahnya?”


“Gue sudah siapin makanan buat Ai dari pagi buta malah di berikan sama Rafa,” mulutnya manyun.


“Biar gue tegur Kak Ai,” Kyra langsung menahan Dinda yang hendak menoleh dan menegur Aiden.


“Jangan, lo ah apa-apa di cepuin. Kan gue jadi malu,” Kyra tambah mengomel.


“Gue bilang kan biar Kak Ai tahu. Dia kan bukan paranormal yang bisa tahu apa dan kenapa diri lo. Apalagi kalian itu masih temenan bukan pacaran mana peka Kak Ai,” ujar Dinda.


Kyra mendengus, mendengar ucapan Dinda yang benar seratus persen. Status yang masih berteman memangnya mau mengharapkan sikap Aiden yang seperti apa.


“Benar juga, tapi lo jangan bilang. Harga diri gue tahu.”


“Hah!”


Aiden menendang-nendang kaki kursi Kyra, dia merasa ada yang janggal dengan gadis itu. Sejak dari turun mobil dia tidak mau diajak ngobrol. Kyra pura-pura tidak mendengarkannya. Dia terus menatap lurus ke depan, fokus sama pelajaran untuk mengalihakan semua pikirannya.


Bel berbunyi istirahat berbunyi, semua langsung bergegas ke kantin. Kyra menarik tangan Dinda untuk segera kabur dari kelas.


“Dia kenapa sih?” Aiden menggaruk-garuk kepalanya.


“Kenapa gimana?” ujar Ibob.


“Kyra sejak turun dari mobil diam saja, nggak ada mau ngomong. Gue tanya diam saja.”


“Lo punya kali sama dia,” Luki merangkul Aiden.


“Cewek itu memang aneh ya, tadi ceria sekarang tiba-tiba diam seribu bahasa.” Aiden menggelengkan kepalanya.


“Itulah wanita, susah di tebak apa maunya.”


“Benar, gue saja kadang pusing sama Erina. Nggak tahu apa maunya tiba-tiba ngambek saja,” jelas Rafa.


“Makhluk paling menakutkan dan juga menggemaskan,” tambah Luki.

__ADS_1


“Sudahlah lupakan, nanti juga baikan sendiri. Sekarang kita ke kantin gue sudah lapar,” Ajak Rafa.


__ADS_2