
Gita memegangi perutnya, ternyata dia sedang mendapatkan tamu bulanan. Gita mulai tidak kuat berdiri, dia jongkok sambil menundukan kepalanya di lift.
Dia mulai menangis, "Kenapa ikutan sakit nih perut. Kan jadi double-double sakitnya." Katanya dengan memegangi perutnya.
Gilang yang hendak masuk lift kaget melihat Gita, Gita yang merasa ada orang langsung mengangkat wajahnya.
Gilang dan Gita saling bertatapan sebentar, kemudian Gita menundukan kepalanya lagi. Dia kembali menangis.
"Lila, ambil ini. Tolong handel meeting sama Pak Gio hari ini." Perintah Gilang.
"Baik Pak."
Gilang menarik pelan tangan Gita agar dia berdiri, setelah itu Gilang langsung menggendong Gita.
"Kamu kenapa menangis disini?" tanya Gilang. Gita bukanya menjawab namun semakin deras saja air matanya.
"Maaf Pak Gio, hari ini saya tidak bisa rapat, karena istri saya sakit. Saya sudah serahkan semua sama sekretaris saya." kata Gilang saat berdiri sejajar dengan Gio.
"Baik Pak Gilang, tidak apa-apa. Semoga istri anda cepat sembuh."
"Terima kasih."
Indah bengong melihat Gilang pergi menggendong Gita, rasanya masih tidak percaya kalau Gita itu benar-benar istri Gilang. Lila tersenyum melihat ekspresi Indah.
Semua orang yang melihat Gita di gendong Gilang langsung heboh. Mereka menjadi iri, dan para cewek-cewek tak sedikit yang halu untuk mendapatkan suami seperti Gilang.
...----------------...
Bik Siti panik saat melihat Gilang turun dari mobil lalu menggendong Gita. Dia bergegas membukakan pintu.
"Mas, Mbak Gita kenapa?" Tanya Bik Siti dengan wajah yang panik.
"Nggak apa-apa Bik, cuma lagi kedatangan tamu saja. Bik, tolong ambilkan air hangat ya buat kompres perut Gita." Pinta Gilang.
"Siap Mas."
Gilang mengendong Gita sampai kamar, dia perlahan menurunkan Gita.
"Sakit banget ya?" Gilang tidak tega melihat yang menangis sambil memegangi perutnya. Dia memberikan wadah kompresan ke perut Gita.
"Jangan menangis terus ya." Gilang memeluk Gita sambil mengusap rambutnya. Gilang bingung kalau Gita hanya menangis tanpa mengatakan apa-apa.
"Atau kita ke rumah sakit saja, biar di periksa dokter."
"Nggak usah Kak.. nanti juga baikan sendiri. Gita nangis bukan karena sakit." Ucapnya dengan suara tersendat-sendat.
"Terus?"
"Karena Kak Gilang cuekin Gita, nggak pulang ke rumah dan nggak mau terima makanan dari Gita. Pasti Kak Gilang benci dan udah nggak sayang lagi sama Gita. Gita takut Kak Gilang bakalan tinggin Gita sama Aiden." Gita menangis semakin jadi.
"Sst.. Kamu ngomong apaan sih." Gilang menaruh jari telunjuknya di bibir Gita.
__ADS_1
"Jangan pernah sekalipun kamu berpikiran seperti itu. Kamu sama Aiden adalah harta paling berharga yang aku miliki." Gilang mempererat pelukannya. Dia mencium kening Gita, rasanya sakit sekali hati Gilang mendengar keluhan Gita kepadanya.
"Maafin aku ya. Aku tidak akan pernah mengulangi lagi." Bisik Gilang. Gita mengangguk, dia mulai nyaman dalam dekapan Gilang.
...----------------...
Gita menggeliat, dia mengelus perutnya yang sudah mulai enakan.
"Sudah bangun?" Gilang mengusap kepala Gita. Gita tersenyum lalu mengangguk, dia menyandarkan tubuhnya ke tubuh Gilang yang bidang.
"Masih sakit nggak?"
"Nggak kok, udah baikan berkat dokter cintaku."
"Jangan ngambek-ngambek laginya, aku bisa gila kalau kamu cuekin aku." Kata Gilang.
"Masa sih?"
"Iya, aku tuh nggak bisa tidur kalau nggak sama kamu."
"Tapi kemarin-kemarin kamu tidur nyenyak tanpa aku." ujar Gita. Dia menatap Gilang untuk mendengar jawaban dari Gilang.
"Kata siapa kemarin aku tidur tanpa kamu." Gilang tersenyum jail.
"Maksud kamu?"
"Udah nggak usah di bahas, aku kangen banget sama kamu." Gilang memciumi Gita.
"Kemana?"
"Ke rumah mama." Gita meringis.
"Liburan kok ke rumah mama sih, kamu kangen sama mama?" Tanya Gilang.
"Iya, Gita sudah lama tidak pergi ke rumah mama."
"Ok, besok kita menginap di rumah mama beberapa hari. Kamu mau cuti?"
Ngomong-ngomong cuti Gita jadi ingat kalau ada kerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.
"Ya ampun, Gita lupa." Dia turun dari tempat tidur mencari laptopnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Gilang bingung.
"Ada kerjaaan yang harusnya aku selesaikan hari ini. Aku udah bilang Anita, kalau kerjaannya mau aku kirim lewat email hari ini." Gita fokus dengan laptop.
Karena dia sakit perut dan tertidur Gita jadi lupa kerjaannya. Gilang berjalan mendekati Gita, lalu duduk di sebelahnya. Dia mengambil alih laptopnya.
"Eh kamu mau ngapain?" tanya Gita.
"Biar aku yang kerjain, kamu duduk diatas saja." Gilang menyuruh Gita duduk di sofa.
__ADS_1
"Nggak usah sayang, aku udah nggak apa-apa kok." Gita mau memgambil laptopnya namun di tahan Gilang.
"Ngeyel ya kalau di kasih tahu." Gilang menggendong Gita lalu menirunkan di sofa. Dia memberikan kompresan di perut Gita.
"Sayang..."
"Udah nurut saja, nih minum teh hangat." Gilang memberikan cangkir berisikan teh hangat.
"Makasih suamiku tercinta."
Gita menyeruput tehnya, beberapa hari ini adalah hari yang berat. Untuk tidak bicara dan bertegur sapa.
Dia sadar kalau egonya memang terlalu besar, tapi dia tidak bisa menahannya. Akhir-akhir ini dia tidak bisa menyembunyikan kekesalan, kecewa yang dia rasa.
Gita menaruh cangkir di atas meja, dia memeluk Gilang dari belakang.
"Makasih suamiku." Gita mencium pelipis kening Gilang.
"Sama-sama, kamu tidur lagi gih."
"Aku mau temani kamu, atau kamu mau makan apa biar aku buatkan." Kata Gita melepaskan pelukannya.
"Tidak usah repot-repot, lagian kamu saja sedang sakit kok mau banyak gerak." Ujar Gilang.
"Terus aku harus ngapain?" Gita bingung mau ngapain. Dia tidak bisa melihat Gilang mengerjakan kerjaannya sedangkan dia bersantai.
"Gimana kalau kamu beri aku vitamin saja, biar aku semangat." Gilang menoleh ke arah Gita.
"Ya, aku ambilkan sebentar." Git hendak beranjak namun di tahan sama Gilang.
"Mau kemana?"
"Ambil vitamin, katanya mau minum vitamin." Gita heran.
"Nggak perlu pergi-pergi vitaminnya udah ada di sini." Gilang tersenyum.
"Mana?" Gita masih tidak paham yang di maksud Gilang.
Gilang menyentuh bibir Gita dengan jari telunjuknya.
"Dasar genit." Gita tersenyum malu, wajahnya memerah.
"Kok genit, ini kalau nggak boleh langsung lemas." Gilang pura-pura lemas. Gita langsung mencium cepat.
Gilang belum puas, dia naik ke sofa dan langsung memdekat ke wajah Gita. Dia mendorong Gita perlahan hingga rebahan di sofa.
Gilang mengusap wajah Gita, merapikan rambut yang ke wajah. Gilang mulai merendahkan tubuhnya dan mulai mengecup perlahan bibir Gita.
Gita memejamkan matanya, menikmati semua kecupan yang di berikan oleh Gilang.
"Rasanya tuh nggak pernah berubah, lembut dan manis." Kata Gilang dengan kembali mencium Gita.
__ADS_1
Beberapa tidak mendapatkan vitamin membuatnya dia haus dan ingin menikmatinya sampai puas.