
Memang pesta yang sangat mewah, dekorasinya sangat megah. Makanan pun melimpah. Tamu undangan sangat banyak.
"Gila Git, ini mah keren banget." Bisik Fara sambil melihat kanan-kiri.
"Orang kaya kali Vivi, soalnya pas nikah sama Anita biasa aja kan?" julid Gita.
"Iya juga, pasti kaya raya terus mantan mertua Anita minta pernikahan mewah. Dia terlihat mata duitan." Fara semakin julid.
"Yang pasti jangan pas selesai nikah di datangin orang menagih hutang." bisik Gita yang membuat mereka berdua tertawa.
Gilang membalikan badanya, "Kalian berdua jangan aneh-aneh loh."
"Nggak, kita nggak aneh-aneh kok." Jawab Fara cepat.
"Itu kenapa kalian tertawa-tawa begitu." Raka juga curiga dengan Gita dan Fara yang sejak tadi bisik-bisik habis itu tertawa-tawa.
Gilang dan Raka kali ini benar-benar menjaga dengan ketat istrinya agar tidak membuat ulah.
"Orang kita cuman ngobrol, kalian berdua tenang saja. Kita tidak akan berbuat apa-apa." Gita menyakinkan Gilang dan Raka.
Mereka antri untuk bersalam kepada calon pengantin.
"Git, kita nanti mau ngucapin apa sama pengantinya? Masa semoga bahagia, gue nggak mau doain dia bahagia sama langgeng. Enak saja." Fara bingung mau mengucapakan apa saat bersalaman sama pengantinya.
"Selamat saja, selamat anda akan menyesal. Semoga pernikahanya segera kandas." Gita memberitahu Fara.
"Sadis banget lo Git." Fara terkekeh.
"Terus apa? Gue ogah do'a in dia. Orang dia jahat sama Anita." cibir Gita.
Bayu kaget melihat kedatangan Gilang, Raka, Gita dan Fara. Dia sama sekali tidak menginginkan mereka datang dan menyaksikan pernikahannya yang kedua ini.
"Gi-lang." Katanya dengan terbata.
"Bay, selamat ya." Kata Gilang dengan senyuman yang tulus. Meskipun awalnya dia bingung mau memberikan selamat tapi dia pikir lagi mau bagaimana pun Bayu adalah sahabatnya dia harus mendoakan yang terbaik buat Bayu.
"Kalian kok bisa sampai sini?" Bayu bingung. Gilang langsung memandang Raka.
"Kan Kak Bayu sendiri yang undang kami." Kata Gita merasa ada yang aneh.
"Sayang, aku yang undang mereka. Ini kan hari bahagia kita aku juga mau dong sahabat-sahabat kamu datang." Vivi mengundang Gilang dan yang lain tanpa sepengetahuan dari Bayu.
"Aku kan juga mau kenal sahabat-sahabat kamu." katanya sambil menggandeng Bayu.
"Tapi gue nggak mau kenal sama lo." sahut Gita yang langsung mendapat lirikan tajam dari Gilang.
"Oh.. jadi sebenarnya kami ini tidak diundang." Ujar Fara.
"Bukan begitu, gue hanya.."
"Bayu hanya belun sempat, kan gue sudah bilang kemarin karena Bayu sibuk mengurusi pernikahan ini jadi gue yang memberikan undangan." Katanya dengan wajah ngeselin yang membuat Fara ingin menonjoknya.
"Ya terserah deh mau diundang atau nggak sebenarnya. Semoga lo tidak bahagia, dan tempat tidur lo nanti roboh." Kata Fara sambil bergeser. Vivi merengut mendengar doa dari Fara.
"Selamat ya Kak Bayu, selamat menuju penyesalan terbesar dalam hidup lo." Kata Gita saat menjabat tangan Bayu.
"Heh.." Gilang menyenggol lengan Gita.
"Kenapa?" Gita benar-benar tidak merasa bersalah dengan yang dia katakan sama Bayu.
Gilang menarik tangan Gita sehingga dia berada di belakangnya.
"Sorry ya Bay, Gita bercandanya suka keterlauan. Sekali lagi selamat ya buat kalian."
__ADS_1
"Selamat ya Bay, semoga ini menjadi pernikahan lo terakhir." Bisik Raka saat menjabat tangan Sambil merangkulnya.
"Kalain nikmati makanan yang ada, nanti gue samperin lagi kalian." kata Bayu. Dia ingin mengobrol banyak dengan Gilang.
"Ok."
...----------------...
Bayu terus memandangi pintu masuk, dia merasa kalau Anita pasti bakalan datang kalau yang lain juga datang.
Hatinya pun gelisah, dia tidak tahu harus berbuat apa. Namun setelah lebih dari lima belas menit tidak menyusul dia lumayan tenang.
"Kamu kenapa melihat ke arah pintu keluar? Ada yang di tunggu?" tanya Vivi.
"Tidak. Kamu ngapain undang sahabat-sahabat aku tanpa meminta persetujuan aku." Kata Bayu.
"Karena kamu tidak pernah mengijinkannya, aku kan juga berhak tahu siapa saja sahabat kamu." kata Vivi.
Bayu lumayan kesal dengan sikap Vivi, dia yang ingin menyembunyikan pernikahan ini jadi gagal. Bayu turun mendekati Gilang yang sedang ngobrol sama Raka.
Dan Vivi yang tidak mau di tinggal langsung nyusulin Bayu.
"Ini anak lo Lang?" Bayu menyentuh pipi Aiden.
"Iya Bay."
"Udah gede banget ya, dulu terakhir gue lihat sama A..." Bayu menghentikan ucapannyan.
"Masih bayi kan, pas lo jenguk sama Anita." Gita sengaja memperjelas.
Vivi langsung muram mendengar kata Anita, namun dia berusaha untuk tidak tepancing.
"Sayang, nanti kita buat yang seperti dia ya. Lucu banget, gemes deh."
"Anita!" panggil Gita sambil melambaikan tangannya.
Dan seperti perkiraan Vian, Anita jadi perhatian di pesta. Dia menjadi pembicaraan karena kecantikannya.
Bayu antara kaget, kagum terpesona dengan Anita. Selama ini dia tidak pernah memakai baju yang **** dan mencolok.
"Kamu..."
"Selamat ya Kak Bayu atas pernikahan yang kedua ini. Semoga tidak akan penyesalan." Anita mengulurkan tangannya. Namun Vivi langsung menyambutnya.
"Terima kasih, tidak akan pernah ada penyesalan buat Kak Bayu. Ini adalah langkah yang tepat untuk masa depannya yang cerah. Bukan sama cewek mandul macam lo."
Interaksi yang mulai tidak kondusif itu menjadi perhatian para orang-orang yang datang.
"Setidaknya wanita ini tidak merebut suami orang." Bela Vian dengan wajah sinis. Gita dan Fara sudah greget ingin samperin Anita namun di tahan suami masing-masing.
Semua orang langsung berbisik, saat tahu Vivi adalah perebut suami orang.
"Oiya, gue datang kesini tidak dengan tangan kosong kok. Gue punya hadian yang bakalan bikin kalian happy banget." Kata Anita sambil mengambil amplop coklat ukuran sedang.
"Ambil lah." kata Anita lagi.
"Sekali lagi selamat ya, semoga pilihan Kak Bayu kali ini tepat." Anita bergeser berdekatan dengan Gita dan Fara.
Dengan ragu Bayu mengambilnya, dia membuka amplop itu di dengan sangat cepat.
"Apa-apaan ini!" seru Bayu.
"Sudah jelas tertera disitu kan, kita sudah resmi cerai jadi kamu bebas menikah tanpa beban." Kata Anita.
__ADS_1
"Sayang, bukan seperti ini yang aku mau." Bayu memegang tangan Anita. Dia sudah tidak memperdulikan bagaiaman orang-orang memandangnya.
"Lalu seperti apa?" Anita menahan tangis yang luar biasa.
"Aku mau kamu bersabar, ini tak kan lama."
"Bayu, maksud kamu apa?" Vivi menarik tangan Bayu dan mengandengnya.
"Sudahlah Bay, lepasin Anitaa toh lo sudah punya istri. Anita sekarang sudah jadi mantan lo." kata Vian.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut malu tahu di lihat sama orang-orang." Mama Bayu datang ingin membubarkan keributan.
"Ooh... Jadi kamu biang keributan ini. Siapa sih yang memgundang kamu. Atau jangan-jangan kamu kesini sengaja mau bikin pernikahan Bayu rusuh." Mantan mama mertua Anita langsung nerocos menyalahkan Anita.
"Tentu saja aku diundang ma sama menantu kesayangan mama ini. Aku kesini juga nggak mau rusuh." Jawab Anita.
"Apa itu!"
"Itu surat cerai dari Anita Ma." Jawab Vivi.
"Bagus lah, akhirnya wanita ini sadar diri juga. Wanita mandul yang tidak bisa di harapkan."
"Cukup Ma."
"Diam kamu bayu, memang benarkan wanita yang tidak subur itu apa yang bisa di banggakan. Lagian dia berani-beraninya cerai siapa yang bakalan mau menikahinya. Pastinya akan jadi janda tua."
Anita di permalukan habis-habisan oleh mantan mama mertuanya. Anita melangkah mundut, dia tak bisa menjawabinya. Apalagi di tambah dengan tatapan orang-orang yang datang.
"Gue yang akan menikahinya. Aku yang akan menemaninya sampai akhir hayat." Vian meraih tangan Anita lalu mengangkat tinggi-tinggi. Anita kaget, air matanya rasanya sudah tak bisa di tahan lagi.
"Bocah bodoh, kamu pertaruhkan masa muda mu hanya untuk menjaga wanita tak berguna ini."
"Gadis ini memang dideteksi belum bisa hamil, bukan tidak bisa hamil. Tante, anda kan seorang perempuan kenapa mulut anda lemes banget tidak bisa menghargai perasaan orang lain. Dan untuk kalian semua yang datang, bisakah kalian menyimpulkan mana yang masih mempunyai harga diri." Vian memberikan pernyataan.
"Lebih mulia mana, perempuan yang di kata mandul memilih cerai memberikan kebebasan suaminya mencari perempuan lain. Atau perempuan yang datang-datang entah dari mana merusak rumah tangga orang. Di tambah lagi mertua yang selalu ikut campur rumah tangga anaknya." kata Bayu panjang lebar.
Semua orang terdiam, tidak ada yang menjawab Vian. Meskipun membuat Mama mertua Vivi dan Vivi emosi. Namun dia sudah malu jadi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kalian pergi dari sini..pergi!" usir Mama Bayu.
"Tak perlu diusir kami juga bakalan pergi. Bay, ingatkan kata gue. Sekarang gue ambil alih untuk membahagiakan Anita. Jangan pernah datang kembali ke kehidupannya. Dan untuk keluarga ini Anita sudah tidak ada sangkut pautnya lagi. Jadi jangan pernah bawa-bawa dia dalam masalah keluarga kalian."
Vian membuka jasnya lalu memakaikan ke tubuh Anita. keseksian Anita hanya sebatas ini untuk memukau orang-orang saja.
"Waow.. Keren." Kata Gita sambil tersenyum dia mengajak Gilang untuk pergi.
"Mamam tuh.." Kata Fara mengikuti Gita pergi.
Bayu berlari mengejar Anita, namun sayangnya dia sudah jauh lebih dulu naik ke mobil.
"Gilang...Gilang... Tunggu." Bayu menahan Gilang.
"Ya, ada apa Bay?"
"Gilang, tolong bantuin gue. Bilang sama Gita supaya membujuk Anita jangan menikah dengann Vian.Please." Bayu memohon.
"Sorry Bay, gue nggak bisa." Gilang menolak permintaan Bayu.
"Lang, kita kan sahabat masa lo nggak mau bantuin gue."
"Benar kita sahabat, tapi untuk masalah ini tidak ada hubungannya dengan persahabatan kita." Ujar Gilang.
"Ini adalah keputusan lo yang pastinya sudah lo pikirkan matang-matang bukan. Bay, bukan gue mau menyalahkan atau apa lo saja membela Anita di depan keluarga lo nggak bisa masih berharap membujuk. Anita kembali. Tidak akan pernah bisa kembali Bay. Mungkin Anita masih cinta sama lo, tapi rasa sakit, kecewa, dan malu yang lo tunjukan kali ini membuat rasanya mati." Jelas Gilang panjang lebar.
__ADS_1
"Sekarang lo urusin saja rumah tangga lo yang baru, hiduplah dengan baik. Biar kejadian kali ini tidak terulang lagi." Gilang menasehati Bayu, sedangkan Bayu hanya menunduk dan menyesali apa yang sedang terjadi dalam hidupnya.
"Gue balik dulu. Sampai jumpa lagi lain waktu ya." Gilang menepuk pundak Bayu.