Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
keluarga


__ADS_3

 Aiden tidur di pangkuan mamanya, dia sedang mencari ketenangan diri setelah kejadian yang menimpa dirinya.


“Ai, apa ada masalah?” Tanya Gita dengan mengelus rambut Aiden lembut.


“Ada.”


“Apa?” Gita mulai cemas.


“Ai mau punya adik perempuan,” ucapnya sambil tertawa.


“Heh!” Gita menepuk punggung Aiden pelan.


Aiden terkekeh. “Ai nggak ada masalah ma, cuma kangen kan sudah lama nggak manja-manja sama mama.”


“Benar juga, sudah lama ya kita nggak pergi bareng-bareng.” Gita mengingat pergi bertiga itu suda sekitaran satu tahun lalu saat Aiden masih smp.


“Oiya, kenapa kamu kemarin tiba-tiba pergi nggak bilang sama mama dan papa?”


“Mama sama papa kan sibuk, Ai nggak mau mengganggu.” Kata Aiden dengan pelan, suaranya mulai menghilang. Dia sudah mulai nyaman sehingga membuatnya mengantuk.


Sebagai ibu Gita merasa bersalah karena tidak mempunyai waktu untuk Aiden lagi, bukan lagi namun semenjak kecil dia juga sudah sering di tinggalnya bekerja.


“Apa kamu mau liburan sama mama dan papa?” tanya Aiden.


Aiden menggelengkan kepala, dia tidak mau mamanya terbebani. Aiden menguap, dan kembali mencari posisi yang aman dengan memeluk mamanya.


“Begini saja sudah seperti liburan,” ujarnya.


Gita merasa ada yang tidak beres dengan Ai, dia tahu persis putranya ini. Kalau dia sedang ingin bermanja-manja dengannya pasti ada hal yang membuatnya tidak senang.


Gilang mendorong pintu agak keras, langsung dimarahin sama Gita takut Aiden terbangun.


“Kak, jangan kenceng-kenceng nanti kebangun anaknya,” ujar Gita.


“Mana aku tahu sayang, lagian kenapa Ai tidur di sini?” Gilang menaruh tasnya lalu berjalan mendekati Aiden dan Gita.


“Lagi kangen katanya, tapi aku rasa dia sedang ada masalah Kak,” Gita menatap Gilang cemas.


“Nggak usah cemas, dia sudah besar pasti dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.” Kata Gilang dengan mengusap kepala Aiden.


“Kata siapa dia sudah gede, dia tetap anak kecilku. Kamu itu kebiasaan nggak ada sayang-sayangnya sama anak sendiri,” Omel Gita.


“Bukan nggak sayang, tapi kan dia sekarang harus bisa menyelesaikan masalah yang ada. Tidak bisa bergantung sama kita terus.” Gilang memberikan pengertian kepada Gita kalau anaknya sudah harus belajar mengatasi semua masalahnya.

__ADS_1


“Bangunin deh sayang suruh pindah,” kata Gilang. Dia juga butuh rebahan di samping Gita. Sedangkan tubuh bongsornya Aiden menguasai kasur karena dia tidur dengan posisi miring sehingga tidak ada tempat untuk Gilang rebahan.


“Kamu tidur di kamar Ai saja, biarkan malam ini aku tidur sama Ai.”


“Loh, nggak bisa gitu dong. Aku kan maunya tidur sama kamu,” Gilang tidak mau tidur sendirian.


“Masa kita mau tidur bertiga, kasurnya nggak cukup sayang.”


“Ya makanya Ai di bangunin. Sudah gede kok masih mau tidur sama mamanya,” ujar Gilang. “Ai, sayang bangun. Pindah ke kamar kamu sana.” Gilang menggoyangkan tubuh Ai namun Ai tidak bergeming. Dia sudah terlalu jauh masuk ke dalam dunia mimpi sampai tidak berasa.


Gita menepuk lengan Gilang pelang. “Jangan bangunin Ai, sudah sana kamu tidur di kamar Ai. Anaknya juga lagi kangen sama mamanya.”


“Kan aku juga kangen sama kamu,” Gilang manyun.


“Kita kan setiap hari bertemu dan tidur bareng, kalau Ai kapan lagi mau tidur sama aku. Pokoknya nggak boleh bangunin Ai, atau aku ngambek,” ancam Gita.


Gilang berdecak, dia juga ingin bermanja-manja sama Gita. Namun dia kalah bersaing kalau sama Aiden. Karena Gita pasti akan memilih Aiden daripada dirinya. Aiden adalah saingan terbesarnya dalam hidup.


“Gue masukin ulang kamu Ai lama-lama,” cerocos Gilang.


“Nggak usah manyun begitu, orang sama anaknya sendiri kok nggak mau ngalah.”


“Iya,iya.”


Aiden menggeliat, perlahan dia membuka mata saat merasa pegal di lehernya, diaa buru-buru bangun saat melihat mamanya tidur dengan duduk memangku dirinya. Aiden tidak berencana untuk tidur di kamar mamanya.


Aiden membenarkan posisi tidur mamanya lalu mencium keningnya . “Pasti mama pegel kan tidur begini,” gumam Aiden pelan.


“Papa belum pulang ya? Biar aku tidur sini saja deh sampai papa pulang.” Aiden tidur di samping mamanya sembari memeluknya.


*****


“Sayang, ayo bangun,” Gita mencium lembut pipi Aiden.


Aiden hanya menggeliat, dia belum mau bangun dia justru menaikkan selimutnya.


“Sudah pagi, ayo sarapan. Semalam kamu nggak jadi makan kan gara-gara tidur,” bisik Gita.


“Mama nggak ke kantor?” Aiden duduk sembari mengucek kedua matanya yang masih ngantuk.


“Nanti siangan.”


Aiden melihat sekitar kamarnya, yang tidak nampak papanya.

__ADS_1


“Papa nggak pulang ma?” kedua mata Aiden langsung terbuka lebar.


“Pulang.”


“Di mana? Kok nggak tidur di kamar. Papa suka begini ya?” Aiden curiga kalau papanya nggak pulang.


“Papa pulang, ada itu di kamar kamu,” kata Gita sembari melipat selimut.


“Jadi mama sama papa tidurnya pisah selama Ai nggak di rumah? Ma kalau papa macem-macem bilang sama Ai.”


“Mana ada macem-macem, gara-gara kamu tidur di sini jadi papa harus ngungsi di kamar kamu,” sahut Gilang yang baru saja masuk ke kamar.


Aiden nyengir, di kiranya papa dan mamanya tidak baik-baik saja karena tidur terpisah. Tapi karena dia yang tidur sama mamanya jadi papanya ngungsi.


“Kan nggak setiap hari juga, masih saja manyu. Kapan lagi coba aku bisa tidur sama anak bujangku ini,” Gita memeluk dan mencium Aiden.


“Ma, Ai kan sudah gede. Jangan cium-cium gini malu kalau di lihatin teman-teman.” Aiden sudah tidak mau di manja-manja sama mamanya.


“Kamu itu tetap anak kecil mama sampai kapan pun,” Gita bukannya melepaskan pelukannya tapi semakin erat.


“Gini ini nasib kalau anaknya pulang, akunya di anggurin,” keluh Gilang.


“Sayang, kamu masih saja cemburu. Setiap hari juga kamu aku peluk sama cium.”


“Pelukan mama memang the best. Ma boleh nggak Ai tidur sama mama terus?” goda Aiden.


“Kamu jangan ngelunjak Ai, mau tidur terus sama mama. Sekarang kamu mandi makan, biar papa manja-manja dulu sama mama.” Gilang melepaskan pelukan Aiden.


“Ma, lihat papa. Masa anaknya di tarik-tarik tangannya.”


“Sayang, kamu apaan sih. Biarin saja Ai manja-manja sama aku mumpung di rumah.” Gita menepuk tangan Gilang.


“Tuh kan, kamu mah begitu nggak adil.” Gilang duduk di sofa dengan mulutnya masih manyun.


Aiden melet kearah papanya, dia bukanya buru-buru bangun tapi malah memeluk erat mamanya dan mencium pipinya berkali-kali. Aiden senang sekali menjaili papanya ketika mode manja sama mamanya.


“Ai, buruan keluar atau papa masukin ke perut mama lagi,”


“Ma itu ma, papa mengancam Ai.”


“Sayang, kenapa sih masih saja ribut. Kamu buruan mandi, nanti telat lagi ke kantor.”


Gilang mendengus, batinya dalam hati dia lagi yang kena.

__ADS_1


__ADS_2