
Gita menaruh kepala di mejanya, dia ngantuk banget. Matanya seperti tidak bisa terbuka lebar.
"Git.. Lo kalau mau tidur tadi nggak usah berangkat aja." kata Win sambil menepuk pundak Gita lumayan keras.
Gita langsung bangun, dia meregangkan tangannya sambil menguap.
Gita membukan berkas disampingnya, dia kemudian mengerjakannnya lagi.
"Lo kelihatan lemas banget Git, kenapa sakit?" tanya Anita.
"Nggak, gue cuma kurang tidur aja." katanya.
"Begadang mesti lo sampai jam berapa lo, sampai-sampai jam segini ngantuk. Lo lembur sampai pagi." Fara menoel tangan Gita sambil senyum-senyum.
"Ngeres lo pasti, Kak Gilang sakit jadi gue nungguin semalaman." katanya masih setia dengan menguap.
"Oalah... Gue kira begadang enak-enak." ujar Fara sambil merenges.
"Bos Gilang sakit?" Win memutar kursinya.
"Iya Mas, pasti kecapean dari kemarin meeting pulang malam terus." kata Gita.
"Lo kenapa kerja kalau Kak Gilang sakit?" tanya Anita.
"Ini kerjaan yang bakalan kerjain siapa, ini kan juga tanggung jawab gue yang tidak bisa gue tinggalin." kata Gita.
"Iya sih.."
"Udah lo ngopi sana dulu, biar fresh." Suruh Fara.
"Iya, gue harus ngopi biar ngantuknya ilang." Gita beranjak dari kursinya mau ke pantri. Gita membuat beberapa kopi dan dia bawa ke ruangannya.
"Wuih.. Lo bikin banyak banget. Lo mau menghajar lambung lo atau menantang sakit mah datang?" tanya Win melihat Gita membawa satu nampan full cangkir kopi.
"Ya nggak kali Mas Win, ini buat kalian juga biar pada fresh." Kata Gita sambil menaruh nampan di meja kecil tempat mereka menaruh cemilan.
Gita mengambil satu cangkir lalu membawanya ke tempat duduknya. Dia segera menyeruput kopi hangat yang benar-benar bereaksi kepada dirinya.
"Tumben lo baik." kata Vian.
__ADS_1
"Wah.. sembarangan. Biasanya kurang baik apa gue sama lo." Gita berkacak pinggang.
"Memangnya lo Vian, baik kalau ada maunya doang." sahut Nino yang ikut menyeruput kopi.
"Wah.. Mas Nino jangan komopor. Gue ini anak yang sangat baik, tak pamrih lo." kata Vian.
"Masa.."
"Nino, lo lebih parah dari Vian kali. Lo baik sama gue juga kalau mau pinjam duit." Win ikut nimbrung.
"Habis itu melupa ya Mas." sahut Vian sambil tertawa.
"Betul." jawab Win sambil menagkat jempolnya satu.
"Enak saja, mana ada gue melupa. Gue cuma belum punya waktu untuk membayarnya." Nino ngeles.
Suasana menjadi sangat riuh, hingga rasa kantuk Gita menghilang. Dia pun bisa mengerjakan berkas-berkas dengan cepat.
...----------------...
Jam sudah menunjukan pukul enam sore, Gita yang tinggal sendirian di ruangan langsung bergegas beberes.
Dia meninggalkan sedikit kerjaanya, jadi besok dia tidak perlu buru-buru berangkat dan pulang lambat seperti hari ini.
"Ban, udah disini dari tadi lo?" tanya Gita saat masuk ke mobil.
"Iya Mbak, Mas Gilang yang menyuruh jemput Mbak Gita jam empat. Tapi hp mbak Gita nggak bisa dihubungi jadi Bani tidur di mobil saja menunggunya." Jelas Bani.
"Maaf ya Ban, Gita nggak tahu, soalnya nggak melihat kalau ada telpon atau pesan." Jelas Gita, sejak berangkat Gita terlalu fokus sama kerjaanya.
"Iya mba, santai kalau sama Bani."
Mobil sudah terparkir rapi, Gita bergegas masuk. Dia mengecek Gilang ke kamar.
"Sayang.." Panggil Gita.
"Ini jam berapa? Kenapa baru pulang?" kata Gilang dengan wajah kesal. Ternyata Gilang memang sudah menunggu kepulangan Gita.
"Gita lembur." jawab Gita pelan.
__ADS_1
"Lembur? Aku kan sudah bilang kamu boleh kerja asal tidak lembur. Kamu sebenarnya menghargai aku nggak sih?" Gilang marah besar.
"Kak.. Gita kan cuma lembur sebentar."
"Kamu lupa perjanjian awal kamu boleh kerja, tidak ada lembur. Kenapa kamu ngeyel, kamu selalu saja berlaku semau kamu."
"Kak, Gita lembur juga karena memang Gita harus tanggung jawab dengan pekerjaan Gita. Dan semua kerjaan yang menumpuk itu semua karena Kak Gilang yang meminta Gita libur dadakan kan." Gita tidak mau di salahkan.
"Mulai besok kamu di rumah saja, kamu tidak usah bekerja lagi." Gilang kembali melarang Gita kerja.
"Kenapa Kak Gilang seperti ini, Gita nggak bisa kalau harus diam di rumah."
"Sebenarnya apa yang kamu cari? Kamu takut kalau aku tidak bisa menafkahi kamu?"
"Bukan seperti itu, aku sangat percaya sama kamu yang bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga kecil kita. Tapi Gita itu juga butuh kegiatan."
"Kamu butuh kegiatan? ada Aiden kamu bisa kan merawatnya. Bukan malah seperti ini menelantarkannya. Kamu itu harusnya yang ada setiap saat buat Aiden."
Percekcokan pun tak bisa di hindari lagi, Gita yang kekeh untuk tetep bekerja membuat Gilang marah sama dia.
"Aku juga setiap hari ada buat Aiden, aku masih memberinya asi. Aku masih bermain sama dia, kamu saja yang nggak ada waktu sama Aiden jangan malah salahin aku saja." ucap Gita.
"Terserah kamu lah, aku sudah tidak mengerti lagi harus ngomong apa. Kamu memang tidak pernah nurut sama aku, selalu seenaknya seperti yang kamu mau." Kata Gilang sambil meninggalkan kamar. Dia membanting pintu sampai Gita kaget.
"Kak Gilang kenapa sih? Ini kan juga baru sebentar." Ucapnya sambil mengusap air matanya yang menetes. Dadanya rasanya sakit mendengar Gilang membating pintu.
Gita bergegas bebersih diri, dan segera mengambil Aiden dari Bik Siti.
...----------------...
"Bik, biar Aiden sama saya." kata Gita.
"Mbak Gita kan baru pulang, udah biar saja sama bibik. Mbak Gita istirahat saja, jangan mikirin Aiden."
"Nggak apa-apa Bik, Gita kangen sama Aiden mau tidur bareng." Ucapnya.
"Baiklah Mba, tapi nanti kalau Mbak Gita merasa terganggu bangunin bibik ya."
"Iya Bik. Mas Gilang sudah makan Bik?"
__ADS_1
"Sudah Mbak."
"Minum obatnya juga angan lupa ya Bik. Di ingetin, soalnya susah juga Kak Gilang minum obat." Gita masih saja perhatian meskipun sedang di marahan sama Gilang.