
Seperti janji Aiden kepada mamanya Kyra, dia akan menjauhi Kyra. Dia tidak mau Kyra semakin menderita karena dirinya.
Kyra hanya bisa melihat Aiden tanpa menyapa, karena dia terus menghindari Aiden.
"Kalian kenapa?" tanya Dinda yang merasa aneh dengan sikap Aiden dan Kyra.
"Ai, menghindari Kyra," Erina membantu menjawab pertanyaan Dinda.
"Loh kenapa?" Dinda kaget, kemrin masih baik-baik saja.
"Kata Ai, biar Kyra nggak susah karenanya."
"Apa dia bilang begitu?" Kyra menatap Erina, dia sekarang bisa menjadi sumber informasi buat Kyra saat tahu Erina tinggal bareng Aiden dan yang lain.
"Iya, kemarin cerita sama anak-anak kalau keputusan menjauhi lo itu yang terbaik. Dia lakukan demi lo agar tidak dimarahi sama nyokap lo," jelas Erina.
Dengan sangat mudah air mata Kyra tumpah, dadanya rasanya sesak. Kenapa cinta dan kebahagiaan tak pernah berpihak kepadanya.
Dulu dia menyukai Rendi malah di selingkuhi, dan sekarang dia menyukai orang tak direstui.
"Kyra, lo kenapa kok menangis?" Dinda panik.
"Ky, apa yang sakit?" Erina pun tak kalah paniknya dengan Dinda.
Kyra memegang dadanya dengan tangan. "Hati gue yang sakit."
Erina dan Dinda saling berpandangan, mereka bingung kalau sudah masalah hati.
"Kenapa hidup gue begini, gue iri sama kalian yang setiap hari bisa bebas melakukan apapun yang kalian mau. Sedangkan gue selalu saja menjadi robot orang tua gue. Semua hal di tentukan sama mereka. Bahkan teman pun gue nggak bisa sembarangan," Kyra memgeluarkan unek-uneknya yang sudah di pendamnya lama.
Dinda menarik Kyra dalam pelukannya, dia juga tidak tega. Namun tidak tahu harus berbuat apa.
"Kyra, lo jangan sedih. Gimana kalau kita buat lo bisa seperti kita. Main, belajar dan senang-senang," kata Erina.
"Gimana caranya?" kata Kyra melepaskan pelukan Dinda.
"Di sekolahkan ada eskul, lo juga les. Lo gunain saja waktu-waktu senggang itu untuk bersenang-senang," usul Erina.
"Tidak semudah itu, Kyra itu selalu di jemput mamanya. Dan lagi di sekolah ini ada tukang ngadunya makanya Kyra nggak bisa bergetak," ujar Dinda.
"Siapa yang tukang cepu?" tanya Erina penasaran.
__ADS_1
"Kris."
"Kris kakak kelas yang jadi osis?" tanya Erina saat dia masuk orang yang harus dihindarinya adalah dia saat di kasih tahu Rafa.
"Iya, dia suka sama Kyra. Jadi dia menjadi tangan kanan mamanya. Ya bisa di bilang dia tukang kompor dan sedang cari muka sama mamanya Kyra."
"Sabar ya," Erina mengelus punggung Kyra. "Gue bantuin deh ngomong sama Ai pelan-pelan. Siapa tahu dia mau memperjuangkannya."
"Oiya, kalian kan tinggal bersama. Tolong bujuk dia."
"Gue coba."
...ΩΩΩ...
Siang ini kelas Kyra kedatangan murid baru lagi. Cowok-cowok langsung berseru heboh saat mengetahui anak barunya adalah cewek.
"Sila?" ucap Ibob yang membangunkan Aiden.
"Ada apa Bob?" tanya Aiden saat melihat Ibob yang tampak shock.
"Itu kenapa Sila jadi pindah ke sekolah ini juga?" tunjuk Ibob denyan jari telunjuk kanannya.
"Mau sampai kapan pindah-pindah, paling aman lo pindah ke pedalaman. Kalau keluar negeri pun ke kejar sama dia."
Sila di depan senyum-senyum sama Aiden, sudah lama dia tidak bertemu. Jadi sangat girang bisa bertemu lagi.
"Fa, apa Erina kasih tahu kalau gue sekolah di sini?" Aiden menoleh ke belakang.
"Gue nggak tahu, coba nanti gue tanya," ujar Rafa.
"Tapi kalau di logika sih nggak mungkin. Soalnya kan pasti sebel kan orang dulu Sila gebetannya Rafa," tukas Luki.
"Benar juga, tapi dia tahu dari mana gue sekolah di sini," tanya Aiden. Mereka bertiga menggelengkan kepalanya.
Sila masih Sila yang sama tidak mempunyai perasaan. Dia datang ke tempat Aiden tanpa memikirkan perasaan Rafa.
"Hai, Ai sudah lama ya nggak ketemu," katanya dengan tersenyum lebar.
"Lo dari mana tahu gue sekolah di sini?" tanya Aiden dingin. Dia bukanya mendapatkan sambutan hangat tapi malah mendapatkan pertanyaan ketus.
"Ai, lo kok gitu sih. Kan gue kangen sama lo. Kok lo malah ketus sama gue?" Sila manyun, raut wajahnya berubah sedih.
__ADS_1
"Gue sudah bilang berkali-kali, gue nggak suka sama lo. Jadi jangan dekat-dekat sama gue," Aiden beranjak dari kursinya.
Dia ingin segera menjauh dari cewek yang terus saja mengejarnya.
Kyra menatap Sila, lalu Aiden yang keluar kelas di buntuti sama sahabat-sahabatnya.
"Sila itu suka sama Aiden, tapi Aiden tidak suka." Kata Erina memberi tahu Kyra dan Dinda untuk menjawab rasa penasarannya.
"Gue nggak tahu kok dia bisa menemukan sekolah ini. Padahal mereka pindah sekolah gara-gara menghindari Sila," tambah Erina.
"Tapi kenapa sampai sebenci itu?" tanya Kyra.
"Dulu yang suka sama Sila itu Rafa, mereka sering jogging hanya untuk menemani Rafa ngecengin Sila. Tapi Sila malah sukanya sama Aiden. Aiden sudah menolaknya namun dia tetap mengejarnya, menyatakan di depan Rafa kalau dia memilih Aiden. Tanpa memikirkan perasaan Rafa." Kata Erina sembari melihat kearah Sila mantan sahabatnya dan juga mantan gebetan pacarnya.
"Tidak punya perasaan," Dinda memicingkan matanya. Dia mendadak tidak menyukai Sila.
"Hai, mantan sahabat," Sila berjalan dengan angkuh mendekati Erina, Kyra dan Dinda.
"Mantan sahabat?" Dinda menatap Erina.
"Kalian nggak tahukan kenapa gue ngomong seperti itu. Itu karena dia orang yang nggak tahu berterima kasih. Hati-hati ya, nanti kalian bisa dimanfaatkan," nyinyir Sila.
Dia mulai menyebar kebencian kepada Kyra dan Dinda. Dia ingin semua orang membenci Erina.
"Dimanfaatkan?"
"Asal kalian berdua tahu, dia itu benalu. Sudah miskin nggak tahu diri pula. Dia dulu dekat sama gue, sudah gue anggap saudara malah mengkhianati gue," maki Sila.
"Wah cocok nih di gabungin sama Kris." Bisik Dinda ditelinga Kyra.
"Terserah lo mau ngomongin apa, cuma gue dulu di tempat lo juga nggak hanya diam. Gue sudah seperti pembantu. Dan satu hal lagi, gue nggak pernah mengkhianati lo. Gue nggak pernah suka sama Ai, tapi memang dia yang nggak suka sama lo," tukasnya.
Erina memilih pergi menyusul Rafa dan yang lain daripada debat dengan Sila yang nggak ada habisnya. Sedangkan Kyra dan Dinda hanya diam mendengarkan drama siang hari dari anak baru.
"Dasar nggak tahu diri memang. Kalian ingat ya jangan dekat-dekat sama dia. Gue ingetin sebelum menyesal," Sila menghasut Kyra dan Dinda.
"Kita permisi dulu ya sebelum menyesal karena nggak makan siang," kata Dinda sambil menarik tangan Kyra.
Sila kesal merasa di cuekin sama Kyra dan Dinda.
"Anak-anak kampung sombong, bisa-bisanya mengabaikan gue," ucapnya geregetan.
__ADS_1